
Keesokan harinya sesuai dengan percakapan Kafka dengan Yohan kemarin mereka akan pergi bersama ke kantor papanya Kafka. Hanya Kafka dan Yohan, yang lainnya tidak tahu menahu soal ini karena Kafka belum yakin dengan semuanya.
Setelah menyiram bunga dan membuka toko, Kafka pergi ke perempatan tempat dimana Yohan menunggunya dengan menggunakan motornya. Kebetulan sekali Yohan ternyata berhenti tepat di samping rumah Kaila.
"Udah lama?" tanya Kafka sambil membuka kaca helmnya.
Yohan menggelengkan kepalanya, kemudian cowok itu menutup kaca helmnya dan hendak memutar gasnya. Tapi Kafka segera menghentikannya.
"Bentar." kata Kafka sambil melihat ke arah rumah yang tertutup rapat.
Yohan mengerutkan keningnya lalu ikut melihat ke arah yang dilihat Kafka. Kemudian beralih menatap Kafka, mata Sahab itu terlihat berharap agar seseorang keluar dari rumah yang tertutup rapat tersebut.
"Orangnya gak ada." ujar Yohan tiba-tiba.
"Darimana Lo tahu?" tanya Kafka.
Yohan tidak menjawab dan malah kembali menghadap ke depan dan melajukan motornya. Kafka yang melihat hal itu langsung menurunkan kaca helmnya dan segera menjalankan motornya mengikuti Yohan, karena dia yang tahu alamat A'z.n Group.
Ya, sekalipun perusahaan itu sangat terkenal tapi Kafka yang sangat jarang keluar rumah sudah tentu tidak tahu alamat perusahaan besar tersebut. Bahkan cowok itu tidak terlalu hapal dengan jalan-jalan di kotanya. Menggunakan GPS jelas tidak bisa.
"Masih jauh?" tanya Kafka sambil mensejajarkan laju motornya dengan Yohan.
Yohan hanya melirik sekilas, tapi tidak menjawab pertanyaan Kafka. Cowok dingin tersebut malah melajukan motornya lebih cepat dari sebelumnya, hingga Kafka tertinggal di belakang.
"Yash, sialan." desis Kafka kemudian segera menambah kecepatannya agar tidak tertinggal.
Walaupun Yohan tidak menjawab, tapi Kafka mengerti jawaban Yohan atas pertanyaannya tadi. Artinya perusahaan A'z.n Group masih jauh, karena Yohan mempercepat laju motornya. Tidak mungkin kan jika sudah dekat Yohan malah melajukan motornya lebih cepat?
Setelah berkendara sekitar 25 menit, akhirnya mereka berdua sampai di gedung perusahaan A'z.n Group yang letaknya ada di pusat kota. Tapi sayang, ternyata perusahaan tersebut tutup karena hari Minggu. Hanya ada satpam yang berjaga di pos depan gerbang.
"Ada urusan apa dek?" tanya satpam tersebut.
"Mau cari Pak El." jawab Kafka.
Wajah satpam tersebut terlihat terkejut mendengar jawaban Kafka. "Mau ngapain cari Tuan El?" tanya satpam tersebut dengan wajah terheran-heran. Apalagi Kafka menyebut CEO perusahaan besar itu dengan sebutan 'Pak'.
"Karena dia pa--"
__ADS_1
Sebelum Kafka menjawab, Yohan terlebih dahulu memotong kalimat Kafka. "Personal affair." jawab Yohan dengan ekspresi datarnya.
Satpam tersebut tersenyum kikuk setelah menatap wajah Yohan. Seolah wajah dingin Yohan membius dirinya. "Kalau boleh tahu, urusan apa itu?" tanya satpam.
"Mau bilang kalau saya an--"
Dan lagi-lagi sebelum Kafka menyelesaikan kalimatnya, Yohan memotong kalimat cowok tersebut. "Bapak wartawan?" tanya Yohan dengan nada dingin dan juga tatapan datarnya.
Satpam tersebut dibuat mati kutu dengan sikap dingin seorang Yohan. "Beritahu dimana alamat rumah El Hasan Anzalion!" ucap Yohan dengan tatapan tajam dan mengintimidasi satpam tersebut.
"Rumah Tuan El di perumahan Green River , blok 3, rumah no 9. Tapi kalian tidak bisa menemui beliau, karena beliau sedang ke luar negeri bersama keluarga besarnya baru berangkat kemarin sore." ujar sang satpam dengan cepat.
Setelah mendengar jawaban dari satpam, pundak Kafka merosot lesu. Akhirnya mereka memutuskan untuk pergi ke sebuah Kafe memikirkan apa yang akan mereka lakukan kali ini.
Kafka yang sudah lelah meletakkan kepalanya di meja kafe. Sedangkan Yohan meminum minumannya dengan santai menunggu apa yang akan Kafka lakukan setelah ini.
"Han." panggil Kafka seraya menegakkan tubuhnya.
Yohan tidak menjawab, cowok dingin itu hanya menatap Kafka.
"Lo udah capek belum?" tanya Kafka.
Ya, walaupun sebenarnya dia juga sudah lelah apalagi cuaca juga sudah mulai panas karena semakin siang. Tapi memilih berbohong karena tahu Kafka akan mengajaknya ke suatu tempat lagi, tidak mungkin dia akan membiarkan Kafka pergi sendirian, karena dia tahu sahabatnya itu tidak tahu jalanan.
"Lo tahu alamat ini nggak?" tanya Kafka sambil menuju sebuah alamat surat yang dituliskan oleh mendiang mamanya.
Yohan diam sebentar kemudian mengangguk tanda dia memang tahu alamat tersebut.
"Kita coba kesana, cari keluarga mendiang mama." ajak Kafka.
Sesudah menghabiskan minumannya, mereka berangkat ke alamat yang ditunjukkan oleh Kafka. Jln. Cendrawasih rumah nomor 6. Bukannya menemukan rumah keluarga mamanya, Kafka malah mendapati rumah kosong yang tidak terawat.
"Salah alamat nggak sih?" tanya Kafka sambil mengamati alamat di surat. "Nggak kok, benar." ucap Kafka lagi setelah memastikan alamat yang didatanginya sudah benar.
Melihat Kafka dan Yohan yang mondar-mandir di depan pagar rumah kosong tersebut, seorang warga yang kebetulan lewat menghampiri mereka.
"Ngapain dek mondar-mandir di sini?" tanya warga tersebut.
__ADS_1
"Maaf, pemilik rumah ini kemana ya Bu?" tanya Kafka kepada wanita tersebut.
"Oh, rumah ini. Rumah ini sudah lama kosong. Mungkin sudah ada 16 tahun. Yang punya rumah ini sudah meninggal." jawab wanita itu.
"Kalau boleh tahu siapa nama pemiliknya?" tanya Kafka.
"Siapa ya..." Wanita itu tampak berpikir mengingat-ingat siapa nama pemilik rumah kosong di depannya tersebut.
"Oh, iya namanya Vadya dek." cetus wanita itu.
Kafka tersentak kaget mendengar penuturan wanita tersebut. Dilihatnya lagi rumah kosong di depannya tersebut. Pekarangan rumah tersebut lebih luas jika dibandingkan dengan pekarangan rumahnya yang sekarang. Di pekarangan rumah tersebut terdapat bunga-bunga yang sudah layu. Terlihat jika mendiang mamanya juga menyukai bunga.
"Tapi, adek ini siapa ya?" tanya wanita tersebut.
Kafka menatap Yohan karena bingung akan menjawab apa, tapi Yohan mengangguk artinya dia menyuruh Kafka untuk mengatakan yang sebenarnya kepada wanita tersebut.
"Saya anaknya Mama Vadya, Bu." jawab Kafka.
Wanita tersebut manggut-manggut, lalu pamit pergi dari sana.
"Kok aneh di kasih tahu?" gumam Kafka.
"Lo mau lihat kedalam?" tanya Yohan sambil menunjuk rumah kosong itu dengan dagunya.
Kafka berpikir sebentar. Kemudian cowok itu mengangguk, dia ingin melihat-lihat rumah mendiang mamanya. Mungkin saja di dalam rumah tersebut, dia bisa menemukan petunjuk lain tentang keluarganya.
Ketika memasuki pekarangan, Kafka menoleh ke kanan kirinya. Banyak sekali bunga yang sudah kering. Rumput di pekarangan rumah tersebut juga berwarna coklat. Akhirnya cowok itu memutuskan masuk ke dalam rumah mendiang Vadya.
Dia agak kaget melihat barang-barang yang masih tersusun rapi. Barang-barang di sana ditutup kain putih agar tidak berdebu. Sekalipun sudah lama kosong lampu di rumah itu masih bisa dinyalakan. Artinya masih ada orang yang merawat rumah mendiang mamanya tersebut.
Matanya beralih ke sebuah foto yang tergantung di dinding. Foto mamanya bersama seorang pria bersetelan jas.
"Itu El Hasan." ucap Yohan tiba-tiba.
"Ayo pergi aja." ajak Kafka.
...***...
__ADS_1
...Bersambung......