
Setelah dari rumah mendiang mamanya, Kafka pergi ke Apartment Yohan. Seharian dia ada disana, pulang juga untuk apa? Bunga sudah dia siram, toko sudah dijaga karyawan. Yang ada dia hanya kesepian di rumah, dan ujung-ujungnya dia akan kembali menangisi kepergian Anggi.
Saat ini sudah pukul empat sore. Kafka baru selesai belajar beladiri. Ya, walaupun baru beberapa hari belajar beladiri Kafka sudah cukup hebat. Dia sudah bisa menguasai beberapa teknik tendangan, pukulan, dan juga tangkisan yang diajarkan oleh Yohan.
"Han. Mama Lo masih lama pulangnya?" tanya Kafka.
Yohan melihat ke arah jam. "Masih." jawab Yohan singkat. Kemudian cowok itu mengambil minuman kaleng dari kulkas dan melemparkannya kepada Kafka.
"Thank sobat!" ucap Kafka.
Yohan hanya menatap Kafka, kemudian ikut duduk di samping cowok itu sambil meminum minumannya.
"Kalau Tante Anya pulangnya masih lama, gue disini lebih lama boleh nggak?" tanya Kafka dengan tatapan memohon. "Kalau di rumah sepi, gak ada ibu." ucap Kafka lagi sambil tersenyum getir.
"Terserah." jawab Yohan. Cowok dingin itu pertama kalinya merasa kasihan dengan orang lain. Padahal tanpa bertanya sekalipun, dia pasti akan mengizinkan Kafka untuk tetap dirumahnya lebih lama lagi.
Disisi lain, Anya yang baru pulang dari rumah sakit mampir ke rumah mendiang Vadya untuk mengisi token listrik sekaligus untuk membersihkan rumah sahabatnya itu. Wanita itu mengerutkan keningnya kala melihat pintu jejak sepatu di halaman rumah tersebut.
"Tadi ada orang kesini?" gumam Anya.
Tidak mau ambil pusing, Anya segera mengisikan token listrik dan mulai membersihkan rumah Vadya. Ya, wanita itu membersihkan rumah sahabatnya seminggu sekali bergantian dengan saudara kembarnya Fanya.
Setelah membersihkan area ruang tamu, Anya membersihkan ruang tengah dan dapur. Rumah kosong tersebut masih terawat di bagian dalamnya seperti masih ditinggali. Hanya bagian depan rumah yang tidak terawat. Setelah selesai membersihkan ruang tengah dan dapur kini Anya beralih ke kamar Vadya.
Anya menghela napasnya menahan sesak di dadanya. Kamar ini adalah kamar penuh kenangan antara dirinya dengan sahabatnya. Dimana dia, Vadya, dan juga Fanya dahulu sering bermain disini.
"Demi apapun, gue kangen Lo..." gumam Anya.
__ADS_1
Anya mulai membersihkan kamar tersebut, tapi dia tidak memindahkan sama sekali benda-benda yang ada di kamar tersebut. Bahkan, pulpen terakhir yang digunakan Vadya untuk menulis surat kepada Kafka yang diletakkan di meja dalam kondisi terbuka juga tetap di tempatnya.
Kita kembali ke Kafka dan Yohan. Mereka berdua bersantai di depan televisi. Tiba-tiba mereka dikagetkan dengan pintu rumah yang dibuka dengan keras. Ternyata itu adalah Yora yang datang dengan air mata berlinang.
"Yohaaannn.." Cewek itu merentangkan tangannya meminta untuk dipeluk, tapi dengan jahatnya Yohan malah melengos.
Melihat hal itu Kafka tertawa kecil, kemudian menarik tangan Yora agar duduk diantara dirinya dengan Yohan. Dia tidak bertanya apa-apa, dia akan membiarkan Yora selesai menangis agar perasaannya bisa sedikit lega. Setelah Yora berhenti menangis, barulah Kafka menanyakan masalah sahabatnya tersebut.
"Kenapa?" tanya Kafka dengan lembut.
"Orang tua gue cerai." ucap Yora sambil menundukkan kepalanya.
Mendengar hal itu Yohan langsung menatap sepupunya tersebut. Tangannya tergerak mengelus lembut Kepala Yora. Begitu juga dengan Kafka, cowok itu menepuk-nepuk pundak Yora untuk menyalurkan kekuatan.
"Gue, gak tahu apa alasan mereka cerai. Tiba-tiba mama telepon gue dan bilang kalau mereka cerai. Dan, gue pulang tadi barang-barang mereka udah gak ada." ujar Yora menceritakan semuanya.
"Semangat ya, gue tahu Lo kuat. Seenggaknya mereka masih sehat. Lo masih punya sahabat yang sayang sama Lo." kata Kafka menyemangati Yora.
"Udah, jangan nangis terus. Ayo jalan-jalan gue beliin es krim." ajak Kafka sambil menyeka air mata Yora.
"Gue boleh nggak sih anggap Lo kakak?" tanya Yora.
Kafka tersenyum lalu mengangguk. Mereka memang berbeda satu tahun. Sekalipun mereka satu angkatan Kafka lebih tua satu tahun daripada Yohan dan Yora.
Tepat disaat mereka turun mereka berpapasan dengan Anya yang baru saja pulang.
"Loh? Yora? Kamu kenapa?" tanya Anya.
__ADS_1
Tanpa berkata-kata Yora langsung memeluk tantenya tersebut. Orang yang memberikan kasih sayang kepadanya ketika orang tuanya sendiri selalu mementingkan pekerjaannya dibandingkan dirinya.
"Mama dan papa cerai.." ucap Yora lirih.
Anya terdiam. Dia tahu perasaan Yora, karena pernah mengalaminya. Orangtuanya juga bercerai karena ayahnya berselingkuh.
"Tante akan coba bicara sama mama kamu." kata Anya sambil melepaskan pelukannya.
Kemudian wanita itu berbalik keluar dari Apartemen, dia akan mencari keberadaan saudara kembarnya karena dia tahu pasti Fanya tidak ada di apartemen sekarang.
"Ayo, kita ke kedai es krim." ajak Kafka.
Mereka berjalan beriringan dengan Yora di tengah, Yohan di sisi kanan, dan Kafka di sisi kiri Yora. Kafka sejak tadi menggandeng tangan Yora, begitu juga dengan Yohan yang tumben-tumbenan mau menggandeng tangan Yora.
"Tumben banget Lo mau gandeng gue?" tanya Yora kepada Yohan.
Yohan hanya menatap Yora sebentar lalu menatap kedepan lagi. Sebenarnya hati cowok itu lembut, hanya saja tertutup dengan sikap kaku dan dinginnya. Makanya Yohan terkesan kasar dan tidak berperasaan.
"Jangan sedih-sedih lagi oke? Lihat, si kutub jadi ikut sedih noh." ucap sambil menunjuk Yohan dengan dagunya.
"Mata Lo!" semprot Yohan kesal.
Yora langsung tertawa. Sesaat rasa sedihnya menghilang berkat kehadiran Kafka dan Yohan.
"Makasih ya, Lo juga jangan sedih-sedih terus. Kayak kata Lo tadi masih ada kita yang sayang sama Lo." ucap Yora kepada Kafka. Sedangkan Kafka hanya tersenyum menanggapinya.
Kemudian cewek itu beralih menatap sepupunya. "Dan makasih juga. Sekalipun Lo agak nyebelin, dan kayak patung tapi Lo masih perhatian ke gue disaat kayak gini." kata Yora kepada Yohan yang kemudian di angguki cowok dingin tersebut.
__ADS_1
...***...
...Bersambung......