Cherophobia

Cherophobia
Gagal Jantung Kronis


__ADS_3

Keesokan harinya. Kafka berdiri termenung di depan pintu kamar ibunya. Cowok itu merasa bersalah karena membuat ibunya marah. Dia berniat meminta maaf pagi ini sebelum berangkat sekolah.


Cowok itu menghela napasnya, kemudian mengetuk pintu kamar ibunya tiga kali.


"Bu, buka pintunya dong. Kafka mau ngomong." ucap Kafka.


Sekitar satu menit Kafka menunggu. Tapi ibunya belum juga membukakan pintu. Hingga dia hendak maaf karena semalam telah membuat ibunya itu marah.


"Maaf Bu, semalam Kafka buat ibu marah." ucap Kafka seraya melepaskan pelukannya.


Anggi menggelengkan kepalanya. "Enggak kok, kamu gak salah. Kemarin ibu yang terlalu sensitif." kata Anggi. Wanita itu berjalan ke dapur dan melihat kotak bekal yang belum sempat di cuci. Dan dia juga belum memasak karena tadi bangun kesiangan. Anggi buru-buru mencuci kotak bekal Kafka. Raut wajah wanita itu tampak panik.


Kafka yang melihat ibunya panik, segera menghampiri ibunya dan mengambil kotak bekalnya yang sedang di cuci.


"Nggak usah Bu, ibu istirahat aja. Kayaknya kondisi ibu lagi nggak sehat." ujar Kafka sambil menyelesaikan mencuci kotak bekalnya tadi.


"Tapi, nanti kamu bekalnya bagaimana?" tanya Anggi.


"Di kantin ada jatah makan gratis kok Bu. Kalau mau antre." jawab Kafka.


Setelah selesai mencuci kotak bekalnya. Cowok itu mengelap tangannya dan meraih tangan ibunya untuk bersalaman pamit sebelum berangkat sekolah. Diciumnya punggung tangan Anggi sebagai bentuk bakti seorang anak kepada ibunya.


"Kafka berangkat Bu."


"Iya hati-hati."


Kafka berangkat sekolah dengan hati yang senang karena sudah melihat senyuman dari malaikat tidak bersayap yaitu ibu. Padahal kemarin dia sudah takut jika hari ini ibunya masih marah kepadanya.


Cowok itu terus mengayuh sepedanya. Ketika sampai di sebuah perempatan, tepatnya di depan rumah Kaila. Kafka menghentikan sepedanya sebentar. Dilihatnya Kaila yang sudah naik mobil akan berangkat ke sekolah.


Kaila yang sudah di dalam mobil, langsung turun kembali karena melihat Kafka ada di depan gerbang. Gadis kecil itu berlari menghampiri Kafka dengan senyum cerianya.


"Kak Kafka!"


"Kenapa turun lagi? Nanti kamu terlambat ke sekolah." ucap Kafka.

__ADS_1


Kaila menggelengkan kepalanya. Gadis itu mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Sebuah boneka kucing yang terbuat dari kain flanel. Kaila menyodorkan boneka tersebut kepada Kafka sambil tersenyum.


"Untuk kakak?"


Kaila mengangguk.


"Woah, makasih. Kaila yang buat?" tanya Kafka seraya menerima boneka kain tersebut.


"Iya, kemarin ada pelajaran seni budaya terus disuruh buat karya dari kain flanel. Aku buat boneka kucing karena ingat kakak pas buat jadi aku buat tiga. Yang satu di kumpulkan. Yang satu untuk aku. Yang satunya untuk kakak." ucap Kaila menceritakan kegiatannya kemarin dengan ceria.


Kafka tertawa kecil. Tangan cowok itu terangkat mengacak pelan rambut Kaila. "Besok kakak buatin sesuatu juga buat Kaila." ucap Kafka sambil tersenyum.


"Janji loh ya?! Besok aku tagih janjinya!"


Kafka menganggukkan kepalanya. Kemudian melihat orang tua Kaila yang sudah menunggu di mobil. "Sana berangkat sekolah. Nanti terlambat." ujar Kafka.


Kaila mengangguk cepat. Lalu merentangkan tangannya ke arah Kafka sambil tersenyum. Kafka mengedipkan matanya beberapa kali. Cowok itu tertawa gemas kemudian ikut merentangkan tangannya agar Kaila bisa memeluk dirinya.


"Kaila! Ayo! Nanti kamu telat!" panggil mamanya.


Kafka tertawa kecil melihat Kaila yang melambaikan tangannya lewat jendela mobil. Setelah mobil menjauh. Cowok itu melihat boneka kucing yang diberikan oleh Kaila. Lalu dipasangnya boneka kucing itu sebagai gantungan di resleting tasnya.


"Gadis imut." gumam Kafka. Kemudian segera mengayuh sepedanya agar tidak terlambat ke sekolah.


Disisi lain Anggi datang ke rumah sakit lagi untuk mengetahui hasil pemeriksaannya kemarin. Betapa terkejutnya wanita itu ketika mendapatkan jawaban dari sang dokter.


"Detak jantung tak teratur, kelelahan ketika hanya kerja ringan, kesulitan bernapas, dan penurunan berat badan drastis adalah kondisi dimana itu adalah gejala gagal jantung stadium akhir. Apalagi ibu merasakan gejala tersebut sepanjang waktu bahkan ketika ibu sedang beristirahat. Ibu harus segera melakukan rawat inap, untuk di operasi transplantasi jantung secepat mungkin. Karena tubuh ibu tidak dapat merespons secara baik terhadap pengobatan." ucap dokter Anya.


"Apa tidak ada jalan lain dok?" tanya Anggi.


Anya menggelengkan kepalanya. "Maaf kalau boleh tanya, apa akhir-akhir ini ibu bekerja dengan sangat keras?" tanya Dokter Anya.


Anggi diam sejenak mengingat kegiatan yang dia lakukan sehari-hari. Setelah beberapa saat terdiam wanita itu mengangguk. "Saya bekerja dari pagi hingga larut untuk membelikan hadiah ulang tahun putra saya." ucap Anggi.


"Gagal jantung bisa menjadi kronis dan berkembang seiring waktu karena kondisi medis yang membuat jantung bekerja lebih keras dari biasanya. Seharusnya ibu banyak istirahat agar jantung ibu tidak bekerja terlalu keras." kata Dokter Anya.

__ADS_1


Anggi terdiam. "Bagaimana dengan biayanya dok?" tanya Anggi.


"Sekitar Rp19,96 miliar. Rincian biaya itu berasal dari pengadaan organ yang cocok, persiapan yang lama dan mahal, hingga risiko yang begitu tinggi." jawab Dokter Anya.


Anggi menelan ludahnya dengan susah payah. Jika begini dia tidak perlu operasi karena itu akan menyusahkan Kafka.


"Apakah sungguh tidak ada jalan lain dokter? Yang menggunakan pengobatan?" tanya Anggi lagi. Air matanya mulai jatuh. "Saya ingin menemani putra saya sebentar lagi." ucap Anggi dengan air mata berlinang.


Setelah beberapa saat berbincang-bincang, Anggi tetap kekeuh dengan pendiriannya. Dia tidak akan operasi ataupun rawat inap. Dia akan mencoba bertahan sampai hari ulang tahun Kafka tiba. Dia tidak ingin menyusahkan Kafka dengan biaya operasi yang begitu mahal. Bahkan sekalipun rumah beserta perabotan dan toko mereka di jual juga tidak akan bisa untuk membayar biaya operasi.


Setelah Anggi keluar dari ruangan. Anya melihat data dari pasiennya tersebut. Tertulis anggota keluarga yang bisa dihubunginya. "Kafka Anzalion." gumam Anya. "Kenapa rasanya aku mengenal nama anak ini?" batin Anya bertanya-tanya.


Kling. Di tengah lamunannya terdapat notifikasi masuk di handphonenya.


"Ma, Yohan ke RS sepulang sekolah." isi pesan tersebut.


Anya mengingat benda yang ditanyakan putranya. Data-data pasiennya 3 bulan yang lalu dan kemarin. Kemudian matanya tertuju kembali ke nama Kafka Anzalion yang di sebelah nama tersebut tertera tempat sekolah cowok tersebut.


"Mungkinkah Yohan akan menanyakan tentang ini?" gumam Anya sambil melihat data dari Anggi.


Kita ke sekolahan Kafka. Cowok itu sedang bercanda dengan Azam. Senyum di bibirnya tersenyum seolah tidak pernah luntur sama sekali.


"Gila sih, jatuh cinta sama bocil." ucap Azam sambil tertawa.


"Nggak ya! Dia udah gue anggap sebagai adik gue sendiri!" balas Kafka.


"Iya aja, biar seneng." sahut Azam sambil tertawa.


"Gue gak bohong njir!"


Yohan mengamati dua temannya. Ralat, dua sahabatnya yang sedang bercanda. Di dalam hatinya dia berharap senyuman itu jangan sampai luntur ketika menghadapi kenyataan yang ada.


...***...


...Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2