Cherophobia

Cherophobia
Kau Bukan Anak Saya!


__ADS_3

Sepulang sekolah Kafka menyempatkan untuk pergi ke makam Anggi ditemani oleh Yohan dan Yora. Dia sudah mulai bisa menerima kenyataan bahwa Anggi sudah pergi untuk selama-lamanya dari sisinya.


"Halo Tante. Kita datang lagi. Maaf kali ini Yora sama Yohan dulu. Soalnya yang lain beda arah semua." ucap Yora ketika baru sampai di makam.


"Lo ngomong sama tanah?" tanya Yohan.


Plak! Yora langsung menimpuk kepala Yohan. Benar-benar tidak tahu situasi. Tapi berkat pertanyaan Yohan barusan, Kafka yang tadinya hanya diam langsung tertawa kecil.


Mereka berjongkok di samping makam Anggi dan mendoakannya. Setelah mendoakannya, mereka menaburkan bunga di atas makam Anggi. Baru mereka diam mengucapkan apa yang ingin mereka ucapkan kepada Anggi di dalam hatinya.


"Bu, ada yang suka sama Kafka. Tapi Kafka bingung, Kafka takut suka sama dia juga. Kalau suka, pasti akan bahagia kan Bu? Kafka gak mau terlalu bahagia, kalau Kafka bahagia pasti Kafka akan sedih lagi." ucap Kafka di dalam batinnya. Tidak hanya itu, dia juga mengungkapkan semua unek-uneknya yang selama ini dia pendam.


Yora dan Yohan juga terlihat diam menatap batu nisan bertuliskan nama Anggika Pratama. Sepertinya mereka juga mengatakan sesuatu dalam hatinya. Tentunya hanya mereka yang tahu akan hal itu.


Setelah dari makam, mereka pergi ke rumah Kafka untuk menunggu Kafka berganti pakaian. Setelah itu mereka langsung pergi ke apartemen Yohan untuk bersantai. Bagaimana keadaan toko bunga? Toko itu sepenuhnya Kafka pasrahkan kepada pegawai yang dahulu dipekerjakan oleh mendiang ibunya.


Ketika sampai di apartemen Yohan, mereka bertiga sedikit terkejut karena ternyata di dalam sana sudah ada Anya.


"Tante kok sudah pulang? Bukannya seharusnya masih di rumah sakit ya?" tanya Yora.


"Tante Anya masih di rumah sakit. Masa nggak hapal sama mamanya sendiri?" tanya wanita tersebut yang tidak lain adalah Fanya. Saudara kembar Anya.


Mendengar penuturan wanita itu, Yora langsung melangkahkan kakinya mundur kebelakang. Setelah satu tahun menghilang tidak ada kabar, tiba-tiba mamanya muncul di hadapannya dengan senyuman seolah-olah tidak merasa bersalah sama sekali.


"Pergi! Yora nggak mau lihat wajah mama!"


"Yora..." panggil Fanya lirih.


"Maaf, Tante pulang dulu aja." ucap Yohan.


"Kami akan berusaha menenangkan Yora." imbuh Kafka.


Fanya diam sebentar. Kemudian wanita itu menghampiri Yora. Di usapnya pipi Yora. "Maaf, mama tahu mama salah. Maafin mama." ujar Fanya dengan tatapan yang tulus. Setelah itu dia pergi dari apartemen Yohan.

__ADS_1


Yora tidak menanggapi hal itu, bahkan cewek itu enggan menatap wajah wanita yang telah melahirkannya tersebut. Bukan karena Yora tidak menghormati orang tuanya. Itu terjadi karena dia terlanjur kecewa dengan kedua orangtuanya. Tidak hanya Fanya, bahkan jika bertemu dengan papanya suatu saat nanti kemungkinan dia juga akan menunjukkan sikap yang sama.


Setelah kepergian Fanya, Yora langsung terduduk dan menangis sambil memeluk lututnya. Kafka berusaha menenangkannya dengan merangkul pundaknya. Sedangkan Yohan berusaha menenangkannya dengan mengusap-usap kepala cewek itu.


"Gak boleh ngomong kayak gitu sama orang tua." kata Kafka menasehati.


"Tapi gue kecewa sama mereka." jawab Yora.


"Iya, gue tahu. Tapi mau bagaimanapun mereka tetap orang tua Lo. Beliau yang telah mempertaruhkan nyawanya buat ngelahirin Lo. Dengarin gue. Seburuk-buruknya orang tua Lo, Lo nggak boleh benci mereka." ujar Kafka kembali menasehati Yora.


"Emang Lo nggak benci papa Lo yang udah nelantarin Lo gitu aja?" tanya Yora.


Yohan sedikit kaget dengan pertanyaan tajam dari Yora. Kalau Kafka yang mendapat pertanyaan itu memiliki perasaan yang sensitif bisa saja mereka langsung bertengkar. Tapi untungnya Kafka tidak seperti itu. Hati cowok itu terlalu baik untuk benci kepada seseorang.


Kafka tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. "Gue nggak benci papa, gue juga nggak benci keluarganya. Kalau gue benci, artinya gue benci sama takdir yang udah ditulis Tuhan buat gue." jawab Kafka dengan senyum yang masih melekat di bibirnya.


Yora langsung memeluk Kafka setelah mendapat jawaban dari cowok itu. "Hati Lo terbuat dari apa sih Kaf?" tanya Yora.


Kafka mengelus kepala Yora layaknya adik kandungnya sendiri. "Entah, lupa gue materi pelajaran IPA SMP." jawab Kafka disusul tawanya.


"Lo nggak mau menemui papa Lo?" tanya Yohan.


"Mau, tapi gue takut kalau dia nggak mau ngakuin gue sebagai anaknya." jawab Kafka sambil menundukkan kepalanya.


"Nggak usah minta dia ngakuin Lo sebagai anak. Tanya dimana makam mama Lo!" kata Yohan.


Kafka terdiam. Benar yang dikatakan oleh Yohan. Tidak peduli laki-laki itu mau mengakui dirinya sebagai anaknya atau tidak. Tujuan dia menemui papanya hanya untuk menanyakan dimana makam mamanya.


"Ayo." ajak Kafka.


Mereka segera pergi ke gedung perusahaan kepunyaan El Hasan Anzalion. Mereka berdua sudah masuk ke dalam dan bilang ingin bertemu dengan CEO perusahaan tersebut, tapi mereka malah di usir. Akhirnya mereka menunggu di depan pos satpam sampai jam kerja selesai.


"Itu mobil tuan El." ucap satpam yang menemani Kafka dan Yohan.

__ADS_1


Mobil tersebut berhenti ketika satpam melambaikan tangannya. Sang pemilik mobil turun dan menghampiri mereka.


"Ada apa pak?" tanya seorang pria dengan tubuh tegap.


"Ini tuan, ada yang ingin bertemu dengan tuan El." jawab Satpam tersebut.


Laki-laki yang diketahui bernama El Hasan Anzalion tersebut menatap dua remaja laki-laki yang ada di samping satpam. Tatapannya langsung terpaku kepada Kafka. Wajah cowok itu langsung mengingatkan dirinya kepada mantan pacarnya yang sudah tiada. Tak lain tak bukan adalah Vadya.


"Kenapa wajahnya sangat mirip dengan Vadya?" batin El sambil mengamati wajah Kafka.


"Tuan El, saya ingin bicara sebentar dengan tuan." ucap Kafka.


"Baik, mari kita bicara di restoran depan saja." ajak El.


Mereka menangguk dan setuju untuk berbicara di restoran yang berada tepat di depan gedung perusahaan tersebut.


"Jadi? Ada urusan apa kalian mencari saya?" tanya laki-laki tersebut.


"Nama saya Kafka Anzalion. Saya putra dari Vadya Kaveline." jawab Kafka.


Mendengar jawaban Kafka, wajah El langsung berubah menjadi tidak suka. Benar firasatnya. Bahwa Kafka merupakan anak dari Vadya. Anak yang selama ini dia sembunyikan dari publik dan istrinya tiba-tiba muncul. Dia merasa kehadiran Kafka bisa mengancam ketenarannya sebagai CEO sempurna. Dia tidak ingin citranya rusak karena Kafka.


"Lantas? Apa hubungannya dengan saya? Kau ingin saya mengakui bahwa kau anak dari selingkuhan saya? Tidak. Tidak akan. Saya tidak akan pernah mengakuimu sebagai anak. Kau bukan anak saya!" ucap El Hasan dengan wajah datarnya.


Yohan langsung mengepalkan tangannya menahan amarah. Ingin sekali dia melayangkan pukulannya ke wajah sombong pria bernama El Hasan ini.


"Saya tidak peduli anda mau mengakui saya sebagai anak anda atau tidak. Kedatangan saya hanya untuk menanyakan dimana anda mengebumikan mama saya?" tanya Kafka.


"Tidak akan saya beritahu." ucap pria tersebut kemudian segera pergi dari sana.


Yohan hendak mengejar dan memberinya pelajaran. Tapi Kafka menahan tangannya. "Nggak, jangan pakai kekerasan. Mungkin dia masih kaget dengan kedatangan gue yang tiba-tiba." kata Kafka menenangkan Yohan yang sudah terbakar emosi.


...***...

__ADS_1


...Bersambung......


__ADS_2