Cherry Blossom Love

Cherry Blossom Love
Cobaan


__ADS_3

Otousan!!!


Tubuhku lunglai melihat tubuh ayahku ditutupi sehelai kain putih. Disana aku melihat ibu dan adikku menangis sejadi-jadinya, tidak menyangka orang yang kami sayangi pergi untuk selamanya.


'Nona, bagunlah'. Aku menatapnya sendu, menahan tangisku.


' Ryu'. Dia adalah asisten ayahku. 'Apa kami akan baik-baik saja?'. Dia hanya mengangguk.


Aku tersenyum kecut,aku tahu dia berbohong, kami tidak akan baik-baik saja.


Perusahaan ayahku dinyatakan bangkrut. Aku tidak mengerti apa yang terjadi, hanya yang sering terdengar ada seseorang yang bermain dibelakang ayah. Sejak itu kesehatan ayah semakin memburuk dan perekonomian kami semakin menurun.


Puncaknya ayah meninggalkan kami untuk selamanya. Aku tidak tahu harus bagaimana setelah ini, bagaimana menjaga ibu dan adikku tersayang.


--------------------


Setelah selesai pemakaman, kami kembali ke rumah. Semua terasa sesak melihat tempat ini untuk terakhir kalinya. Kenangan-kenangan terjadi selama hidup disini terus terkenang dipikiranku. Aku tidak bisa lagi membendung air mataku yang sejak tadi kutahan. Aku menangis sejadi-jadinya.


' Nona'. Aku menatapnya lalu memeluknya dan menangis dipelukannya. Ryu mengusap kepalaku lembut. Ryu sudah kami anggap seperti keluarga. Dia sudah seperti kakak bagiku. ' Menangislah, tidak apa-apa ada aku disini'.


------------

__ADS_1


Keesokan harinya, kami harus keluar dari rumah ini. Sedih memang, tapi tidak ada yang bisa kami lakukan untuk mempertahannya lagi 'DISITA'. Begitulah yang tertera didepan pintu.


Kami tidak menyalahkan ayah, karena cuma itu yang bisa dilakukannya saat itu untuk menyelamatkan perusahaan dan karyawannya. Walaupun semua tidak berjalan sesuai harapan setidaknya ayah sudah berusaha sekuat yang ayah bisa.


' Nak'. Panggilan itu menyadarkan lamunanku.


' Iya bu'.


' Ayo kita pergi'.


' kita pergi kemana bu?'. tanya Nezu, adik laki-lakiku penuh kebingungan.


'Kemana saja asal tidak disini'. ucapku ngasal.


' Nyonya, nona, tuan '. Tampak Ryu mendatangi kami. ' Mari saya antarkan ke tempat saya'.


' Ryu, tidak'. Ibuku menolak. ' Kami akan merepotkanmu'.


' Bagaimana bisa nyonya berkata seperti itu. Selama ini tuan dan nyonya sudah banyak membantu, sekarang giliran saya nyonya. Bagaimana mungkin saya menutup mata dengan keadaan nyonya sekarang'.


'Ryu...'.

__ADS_1


' Saya harap nyonya tidak menolak'.


' Baiklah'. Pertahanan ibu pun runtuh dengan kesungguhan Ryu.


Ryu pun mengangkat koper yang kami bawa ke mobilnya. Sepanjang perjalanan tidak ada satu patah katapun yang keluar dari mulut kami, hanya keheningan yang tersaji saat ini.


' Masuklah nyonya'. Ryu membukakan pintu. ' Memang tidak besar seperti rumah utama dulu, tapi saya harap nyonya betah tinggal disini'.


' Terima kasih Ryu. Ini lebih dari cukup'. Ibuku tersenyum pada Ryu.


' Nona Neira'.


' Jangan panggil aku nona lagi Ryu'.


' Sampai kapanpun nona Neira tetaplah nona'. ujarnya meninggalkanku


' Ryu....'. Aku kalah berdebat dengannya. ' Baiklah, terserah padamu'.


Terima kasih Ryu, sudah datang disaat seperti ini, terima kasih untuk tidak lari saat kami terpuruk.


Aku berjanji tidak akan menyerah, kami pasti bisa.

__ADS_1


__ADS_2