
Sudah berhari-hari aku mengurung diri dikamarku, aku perlu menenangkan diri dengan semua rentetan kejadian yang menimpaku. Aku tahu sikapku ini pasti menyakitkan untuk orang-orang disekitarku, tapi aku benar-benar ingin sendiri dan berfikir jernih menerima semua ini.
' Nona'. Panggilan itu terdengar aneh untukku sekarang ini. Berkali-kali pintu kamarku diketuk, dengan malas aku membuka pintu kamarku. ' Nona'.
' Aku bukan nonamu lagi, Ryu'.
' Bukankah hal itu sudah kita bahas, jangan melarang saya memanggil anda nona, itu sudah menjadi kebiasaan untuk saya'.
' Tapi aku malu dengan sebutan itu, sekarang kamu bukanlah asisten ayahku'.
' Asisten tuan Aoki atau bukan, saya dan keluarga tuan tetap sama, biarkan saya mengabdi nona'.
' Baiklah Ryu, aku tidak akan melarangmu lagi'. Ryu pun tersenyum mendengar ucapanku.
' Saya harus pergi nona, saya tidak bisa lama'. Ujarnya melihat jam tangannya.
' Ryu, boleh aku ikut sampai depan'.
' Nona mau kemana biar saya antarkan'.
' Tidak perlu, nanti kamu terlambat'.
' Baiklah nona'. Aku pun mengikuti Ryu dari belakang. Ryu membukakan pintu padaku sama seperti dulu, aku benar-benar kehilangan akal padanya supaya mengangapku seperti orang biasa.
' Terima kasih Ryu'.
' Nona hati-hati'.
' Ok'. Aku melambaikan tanganku sesaat mobilnya melaju. Aku bergegas menaiki bus yang akan mengantarkanku ke tempat itu lagi. Ya...aku bukan ingin melamar pekerjaan, hanya saja ponsel dan tas ku tertinggal disana. Aku tidak berkata apapun pada Emi tentang ini aku tidak ingin merepotkannya karena terakhir kali aku sudah mengecewakannya karena pergi dari wawancara, walaupun dikarenakan hal yang penting.
' Maaf nona'.
' Iya ada apa'.
' Saya, orang yang waktu itu datang untuk wawancara, tapi karena suatu hal, saya pergi dan meninggalkan ponsel dan tas saya. Apakah nona bisa membantu saya'.
' Anda nona Aoki'. Aku pun mengangguk. ' Pergilah ke lantai 8, anda akan mendapatkan barang anda'.
' Lantai 8, baik nona, terima kasih'. Dengan cepat aku menuju lift dan menuju lantai 8
Aku berharap akan mendapatkan ponsel dan tasku kembali. ' Maaf nona, saya disuruh datang kesini'.
' Anda nona Aoki'.
' Iya'. Kenapa mereka tahu namaku, aku benar-benar tidak mengerti
' Nona, masuklah tuan sudah menunggu anda'.
' Tuan'. Aku mulai bingung dengan semua ini, dengan ragu aku mengetuk pintu dan terdengar suara dari dalam menyuruhku masuk. ' Permisi' Aku memasuki ruangan itu dan terlihatlah sesosok pria muda dihadapanku, dia sangat tampan, berperawakan tinggi, dia benar-benar ciptaan Tuhan yang sempurna.
' Nona Aoki'.
' Iya'. Aku tersadar dari lamunanku. ' Saya datang kesini untuk mengambil tas dan ponsel, waktu itu saya datang untuk wawancara, tapi saya pergi dan meninggalkan barang saya'.
' Lalu'.
' Ah, nona yang dibawah bilang saya harus ke lantai 8 dan jadilah saya disini'. Ujarku. ' Apa tuan melihatnya'.
' Tidak'.
__ADS_1
' Apa!!!'. Tanpa sadar suaraku meninggi. ' Apa nona itu sedang mengerjaiku'.
' Apa kamu sebodoh itu'.
' Apa!!'. Benar-benar dia punya mulut yang sangat tajam. ' Tuan, saya datang kesini dengan baik-baik, jadi tolong kerjasamanya'.
' Tidak ada yang menyuruhmu datang kesini'.
Ya Tuhan....aku harus sabar. ' Baiklah, sekarang aku ingin bertemu dengan pemilik perusahaan ini, aku ingin mengatakan kalau karyawannya benar-benar tidak baik memperlakukan seseorang'.
' Apa kamu pikir dia akan mendengarkanmu'.
' Apa!! Kamu ini, haa.....benar-benar membuatku kehilangan akal, tidak bisakah kamu berbicara baik-baik, kata-kata yang keluar dari mulutmu benar-benar membuat orang kesal'.
' Nona, dengar, tidak ada yang menyuruhmu datang kesini, lalu untuk apa aku berbicara baik-baik padamu, kalau kamu tidak suka, silahkan keluar dari sini, ujarnya dan entah sejak kapan dia sudah ada didepanku, aku bisa melihat wajahnya dengan sangat dekat. Wajahnya yang sangat tampan, kalau bukan karena sekarang ini aku sangat kesal padanya,mungkin aku sudah jatuh hati.
' Tuan Hiro, ini berkas yang anda min....ta'. Tiba-tiba seseorang masuk. Aku pun terkejut melihat orang yang ada didepanku dan orang itu pun tidak kalah terkejutnya denganku
' Ryu'.
' Nona'.
' Kalian sudah saling kenal ternyata'.
' Kenapa kamu di sini, Ryu'.
' Saya sekarang kerja disini nona dan ini tuan Hiro CEO disini'.
' CEO'. Aku melihat plakat nama di mejanya, HIRO NAKAYAMA, habislah aku kali ini, bisa-bisanya aku bertengkar dengannya tadi.
' Lalu nona sedang apa disini'.
' Tidak ada, aku akan pergi. Maaf tuan Hiro atas kejadian tadi'. Aku pergi meninggalkan Ryu dan orang itu, aku benar-benar malu dan ingin pergi secepatnya dari sini, aku bahkan lupa dengan niatku datang kesini.
' Tidak ada'.
' Sepertinya tidak begitu'.
' Hei...tuan Ryu, jangan memulainya lagi'.
' Baiklah, ini berkas yang kemarin kamu minta'.
' Terima kasih'. Hiro membolak-balik setiap lembar berkas yang ada ditangannya. ' Bagaimana kalian bisa saling kenal?'
' Apa?'. Ryu berpikir sejenak. " Maksudnya nona Neira'. Hiro mengangguk. ' Dia dulu anak bos ku, walaupun sekarang tidak bekerja dengan ayahnya lagi, kami masih berhubungan.'
' Benarkah'.
' Tunggu...kenapa kamu sangat tertarik dengannya'.
' Tidak sama sekali, aku hanya bertanya dan kamu menjawabnya, apa salahnya'.
' Aishh...kamu ini tidak pernah berubah'. Hiro tersenyum melihat tingkah Ryu yang menurutnya lucu.
--------
Neira terus saja mengomel dengan tingkah Hiro yang sudah membuatnya kesal setengah mati.
' Eh nona, apa kamu sudah tidak waras'. Mendengar suara itu, Neira langsung memeluknya. ' Ada apa ini'.
__ADS_1
' Tolong aku'.
' Tolong apa'.
' Aku sangat malu saat ini'.
' Maksudnya apa sih'.
' Aku bertengkar dengan CEO di perusahaanmu'. Air yang diminum Emi langsung keluar sesaat mendengar pengakuan sahabatnya ini. ' Apa!!!'. Aku hanya mengangguk. Emi menghela nafasnya. ' Kamu bertengkar dengan kakakku'.
' Apa!!!!.'. Giliranku yang tidak kalah terkejut. " Kakak '.Emi mengangguk. Dosa apa aku ini, bisa-bisanya aku berbuat hal bodoh ini.
' Apa yang terjadi sebenarnya'.
' Waktu wawancara itu, aku pergi karena mendengar berita ibu....lalu ponsel dan tasku... tertinggal, aku hanya ingin mengambilnya, tapi....'.
' Kenapa tidak bilang padaku, pantas saja aku tidak bisa menghubungimu'.
' Aku tidak mau merepotkan'.
' Bilang saja kamu mau bertemu dengan kakakku'.
' Demi apa coba'.
' Iya...iya cuma bercanda non. Tapi..tapikan bagaimana menurutmu, kakakku ok kan'.
Aku hanya nyengir mendapat pertanyaannya yang aneh menurutku. ' Apa kamu tahu banyak wanita yang mengejarnya kenapa kamu hanya biasa saja'. Aku menatapnya tajam. ' Aku hanya berkata fakta, kenapa kamu melototiku'.
' Fakta tidak akan mengembalikan ponsel dan tasku'.
' Tenang...tenang nanti akan kutanyakan pada kakakku'.
' Benarkah'.
' Sejak kapan aku berbohong padamu'.
' Waktu kamu pergi ke Irlandia, kamu bohong padaku'.
' Benarkah, kenapa aku tidak ingat'.
' Dasar'.
-------
' Kak Hiro, kembalikan tas dan ponsel Neira'. Pinta Emi tanpa basa basi
' Tidak ada'.
' Jangan bohong'.
' Kakak tidak akan memberikannya padamu kalaupun ada'.
' Kenapa?'.
' Nona kecil cepat pergi dan jangan banyak bertanya'.
' Dasar aneh'. Emi pun pergi meninggalkan kamar kakaknya. ' Benaran nih'. Tanyanya lagi.
' Emi...'.
__ADS_1
' Ok'.
Kakak benar-benar aneh kenapa coba dia bersikap seperti itu, menjengkelkan, seenaknya saja. Apa dia....suka pada Neira, ah... mana mungkin bertemu saja baru ini atau jangan-jangan dia punya mainan baru buat dikerjai, dasar Hiro brengsek, sebagai adik, aku akan menghajarmu kalau membuat Nei menangis.