
' Neira'. Suara itu mengagetkanku. Aku pun melotot padanya dan dia hanya senyum-senyum melihatku yang kesal. ' Aku tidak tahu kalau disini lagi ramai'. Kilahnya
' Kenapa tiba-tiba kesini, kenapa tidak menelponku dulu, aku sedang kerja, kalau aku dipecat, aku akan membunuhmu'.
' Cih....menelponmu, dasar bodoh, bukannya ponselmu ada pada kakakku'.
' Ah...aku lupa'. Aku tersenyum padanya. ' Lalu, apa kamu mendapatkan ponselku'. Emi menggelengkan kepalanya. ' Kamu ini, cuma mulut besar berani dengan kakakmu, padahal nol besar'. Emi hanya cengar-cengir mendengar omelanku
' Kalau aku tahu dimana kak Hiro menyimpannya, aku pasti mengambilnya, ini aku tidak melihatnya sama sekali'.
' Di kamar kakakmu?'.
' Kalau benar ada dikamarnya, ini lebih mustahil untuk mengambilnya'.
' Kenapa?'.
' Tidak ada orang yang boleh masuk kamarnya'.
' Apa!!! Habislah sudah'.
' Kecuali....'.
' Apa?'.
' Kita nyelinap ke kamarnya sebelum kakak pulang'.
' Kalau kamu tahu solusinya kenapa tidak kamu lakukan saja'.
' Aku tidak mau, kamu saja tidak mau'.
' Ok'.
' Ok apa?'.
' Aku yang masuk'.
' Gila'.
' Pekerjaanku sudah selesai, kita bisa pergi sekarang'.
Ini memang gila, apa aku berani? Sebenarnya tidak, aku sangat takut, tapi kalau tidak begini aku tidak akan mendapatkan ponsel dan tasku. Orang yang bernama Hiro itu, aku benar-benar tidak mau berurusan dengannya, walaupun dia kakaknya Emi, aku benar-benar tidak menyukainya.
' Kamu menyuruhku masuk dari sini?', tanyaku heran. Emi menjelaskan kalau dia tidak punya kunci kamar kakaknya, Cuma kakaknya yang punya akses masuk ke Kamarnya. ' Kamu mau temanmu Ini mati ya'.
' Cuma ini cara satu-satunya'.
' Kamu dan kakakmu sama gilanya'. Emi tertawa mendengar celotehanku. ' Biasanya kakak tidak mengunci pintu balkon itu'.
' Benarkah'.
' Cuma spekulasi sih'.
Aku kehabisan kata-kata mendengar ucapannya. ' Baiklah'.
Dengan hati-hati aku menyeberangi balkon Emi ke balkon kamar kakaknya. Aku melihat kebawah, aku menelan ludahku, Ini benar-benar gila, aku sangat takut. Dan akhirnya aku sampai ke balkon kamarnya, dengan segera aku memegang gagang pintu dan.... ' Terbuka'.
' Apa kubilang dia tidak menguncinyakan'.
' Kakakmu pulang jam berapa?'
__ADS_1
' Biasanya sih jm 6, kita punya waktu 2 jam'.
' Baguslah'.
' Kecuali....'.
' Kecuali apa'.
' Kakakku mendadak pulang cepat'. Dia pun tertawa melihatku kesal setelah mendengar celotehannya yang menyebalkan itu. ' Semangat ya'.
Tanpa membuang waktu aku mulai mencari dimana ponsel dan tasku berada. Untuk sesaat aku terpana dengan tempat ini. ' Seleranya bagus juga'. Celotehku. ' Neira...bukan saatnya mengagumi tempat ini'.
Aku menyusuri semua tempat, laci, kolong tempat tidur lemari, rak buku dan hasilnya nihil. ' Haaa....dimana ya'.
' Kenapa kakak pulang'. Tiba-tiba terdengar suara dari luar kamar.
Apa!!! kakaknya pulang. Aku pun langsung bersembunyi.
' Biasanya kakakkan pulang jam 6'.
' Kenapa kamu lupa, hari ini jam 6 kan ada jamuan makan malam dirumah paman makanya kakak pulang'.
' Aku lupa'.
Emi!!!! Aku berteriak dalam hati mendengar pembicaraan kakak dan adik itu.
Klikk.. terdengar suara pintu dibuka
Matilah aku, habislah sudah. Dia ada dikamar ini. Eh tunggu, apa yang dia lakukan, kenapa dia membuka bajunya, apa dia sudah gila... ' Awww'. Erangku memegangi dahiku yang sakit karena terbentur.
' Siapa'. Teriaknya.
' Kamu'. Ujarnya.
' Kakak'. Terdengar suara Emi mengetuk pintu kamar.
' Sini'. Dia menarik tanganku dan menjatuhkanku diatas tempat tidurnya.
' Kamu mau apa'. Aku mulai ketakutan.
Hiro mulai mengikat tangan dan kakiku dan melakban mulutku agar tidak teriak. ' Diamlah'.
' Kakak'. Lalu pintu terbuka.
' Ada apa'.
' Ah itu....'. Emi celingak celinguk berusaha mencari keberadaan Neira. ' Kakak, kakak baik-baik sajakan'.
' Pergilah'.
' Kakak'.
' Atau akan kakak adukan apa yang kamu lakukan di Irlandia pada ayah dan ibu'.
' Bisa-bisanya mengancam, baiklah aku pergi'. Sesaat itu juga pintu langsung ditutup. ' Neira maafkan aku, aku tidak bisa menyelamatkanmu, kakakku punya kartu AS untuk mengancamku, semoga kamu berhasil keluar dari sana'.
' Awww..'. Aku kesakitan saat dia membuka lakban dari mulutku. ' Tuan Nakayama aku bisa jelaskan semua ini'.
' Jelaskan'.
__ADS_1
' Aku kesini hanya ingin mencari barang-barangku'.
' Lalu, apa kamu mendapatkannya?'. Aku mengelengkan kepalaku. ' Bagaimana kamu bisa masuk ke sini, bahkan Emi tidak punya kunci kamar ini'. Aku menunjuk pintu balkon. ' Kamu menyeberang dari balkon Emi?'. Aku mengangguk. Dia pun menghela nafas melihat aksiku.
' Aku hanya ingin hakku'.
' Kalau begitu lakukan kewajibanmu'. Posisinya semakin dekat dengan tubuhku yang terbaring ditempat tidur. Kami saling menatap cukup lama. Sesaat kemudian aku tersadar. ' Apa maksudnya kewajiban'.
' Tentu kewajiban itu'.
' Apa!!!'. Aku berteriak. ' Mana mungkin aku memberikannya padamu, Kamu saja bukan suamiku'. Mendengar kata-kataku dia tertawa terbahak-bahak. ' Kenapa kamu tertawa'.
' Pikiranmu itu terlalu mesum'.
Mesum, dia mengataiku mesum
' Kalau kamu hanya memberikannya pada suamimu, bagaimana kalau kita menikah saja'.
' Menikah?'.
Dia menghela nafas lalu mulai membuka ikatan tangan dan kakiku. ' Nona Aoki, kamu tahu apa artinya masuk kamar pria dewasa'. Aku terdiam mendengar pertanyaannya. ' Cepat keluarlah, sebelum kesabaranku hilang'.
Aku langsung berdiri dan meninggalkannya, aku benar-benar takut dengan tindakannya. Walaupun aku tidak berhasil mendapatkan barang-barangku paling tidak aku bisa keluar dari situasi yang tidak mengenakkan itu.
Tanpa disadari Neira, ada orang yang melihatnya keluar dari kamar Hiro. ' Nona keluar dari kamar Hiro'.
------
Brukkk
Aku menoleh ke arah orang itu
' Ini ponsel dan tasmu'.
' Bagaimana bisa?'.
' Tidak tahu, tiba-tiba kakak memberikannya padaku'. Aku menghela nafas. ' Kenapa mengela nafas, seharusnya kan kamu senang atau jangan-jangan kamu mau dekat-dekat sama kak Hiro, makanya kamu kecewa'.
' Demi apa coba'.
' Ya mana tahu kan'.
' Setidaknya dia memberikan ini dari dulu bukan setelah kejadian memalukan itu'.
' Memang apa yang terjadi didalam sana, apa terjadi sesuatu'. Aku mengangguk. ' Apa kakakku menciummu'.
' Otakmu itu mesum ya'.
' Kenapa??? kakakku normal, kamu juga, wajarkan'.
' Pantas saja kalian bersaudara, kalau ngomong gak disaring dulu. Kakakmu itu bisa-bisanya bercanda memintaku menikah dengannya'.
' Apa!!! Kakakku bilang begitu'. Aku mengangguk. ' Jadi kamu akan jadi kakak iparku sekarang, senangnya'.
' Ya sudahlah, silahkan berkhayal, aku lanjut kerja' ujarku meninggalkan Emi yang terus mengoceh sesukanya.
Walaupun itu hanya candaan sebenarnya ada sedikit kebahagiaan mendengarnya, ada seseorang yang mengajakku menikah. Sedikit senang apa salahnya, walaupun aku tahu apalah aku ini, apa pantas dengan seorang CEO seperti dia dan mana mungkin juga dia akan memilihku, aku bukanlah siapa-siapa. Pastinya banyak wanita disekelilingnya dengan status yang sederajat.
Eh...tunggu kenapa aku mengharapkannya, aku benar-benar sudah gila. Kenal saja tidak, apa yang aku harapkan.
__ADS_1