Cherry Blossom Love

Cherry Blossom Love
Resign....


__ADS_3

Aku mengemasi barang-barangku satu persatu kedalam kotak yang sudah kupersiapkan. Sejenak aku memandangi sekeliling tempat ini, pastinya aku akan merindukan suasana disini. Bagaimana tidak, begitu banyak yang terjadi ditempat ini. Suka maupun duka kujalani di tempat ini dan ditempat ini juga untuk pertama kalinya aku bertemu lagi dengan Taku. Banyak kenangan yang sudah terjadi disini.


Tapi sekarang sudah waktunya aku pergi karena Emi sudah tidak lagi ada diperusahaan ini. Walaupun Hiro sudah memintaku untuk tetap bekerja disini, tapi aku tidak bisa menerimanya karena sejak awal aku ada disini hanya untuk membantu Emi. Lagipula aku tidak ingin orang mengira aku memanfaatkan status pertemanan kami untuk bekerja disini, apalagi kalau mereka mengaitkannya dengan Hiro, itu lebih gawat lagi.


Disatu sisi aku merasa senang bekerja disini, karena dari sini pula aku bisa menabung sedikit demi sedikit setidaknya setelah Nezu lulus dan diterima di fakultas kedokteran segala biaya bisa ku penuhi. Masa-masa sulit akhirnya terlewatkan, sekarang aku harus berusaha lagi agar kami bisa bertahan hidup berdua. Mendengarnya lulus saja sudah membuatku senang, apalagi yang bisa kulakukan untuknya yang sudah membanggakan keluarga kami. Setidaknya kami bisa membuktikan kalau kami bisa hidup walaupun hanya berdua.


' Nezu'. Aku melambaikan tanganku sesaat melihatnya. Nezu tersenyum menghampiriku.


' Kakak kenapa tiba-tiba kesini'.


' Kamu sedang sibuk?'.


' Ada waktu satu setengah jam lagi'.


' Kakak lapar, dikantin kampusmu pasti banyak makanan enak, ajak kakak kesana', pintaku, Nezu pun mengiyakan permintaanku.


Sesampainya dikantin, kami memilih tempat duduk di dekat jendela. Mataku terus memandangi tempat ini, sudah lama aku tidak merasakan suasana seperti ini. Dahulu aku juga kuliah disini, walaupun tidak selesai. Ada suatu nostalgia bila mengingatnya.


Tidak lama Nezu pun datang dengan membawa makanan. Aku begitu antusias begitu melihat makanan-makanan ini.


' Kakak makanlah yang banyak, kakak terlihat kurus', ujarnya menyuapiku. ' Kakak sudah berjanji padakukan agar menjaga kesehatan'.


' Iya kakak tahu, kakak akan memakan semua yang ada disini, sampai kakak gendut', ujarku seraya menyendokkan makanan ke mulutku. Nezu tertawa mendengar ocehanku. ' Nezu, melihatmu memakai pakaian seperti ini kakak sangat bangga, kamu terlihat sangat keren'. Aku memberikan jempol untuknya.


' Makanlah kak'. Nezu tersipu malu


' Kamu malu'.


' Tidak'. Aku tersenyum melihatnya yang salah tingkah. ' Kak, setelah kakak keluar dari perusahaan itu, kakak akan bekerja dimana?'.


' Dimana saja, asal bekerja dan halal. Kamu jangan khawatir'.


' Aku khawatir kalau kakak bekerja terlalu keras'.


'Tenang tabungan kita masih ada, cukup untuk biaya kuliahmu. Kakak tidak akan terlalu kok'.


' Kakak ini'. Aku tersenyum melihatnya.


' Nezu, apa kamu sangat populer disini?', tanyaku asal.


' Kenapa kakak tanya seperti itu?'.


' Soalnya dari tadi mereka terus melihat kearah kita, apalagi saat kakak sendiri, seperti ada yang menusuk, tatapan mereka itu..... haaaaa.... '.


' Itu hanya perasaan kakak'.


' Benarkah, bukan karena mereka mengira kakak ini pacarmu kan'.


' Bukan, kakak kebanyakan baca komik '.


' Ya mana tahukan', ujarku.


Aku melihat jam tanganku. ' Nezu, Kakak harus kembali'.


' Kak'. Nezu membuka kemejanya lalu melilitkannya ke pinggangku. ' Kalau kakak kesini, jangan memakai rok seperti ini, aku tidak suka orang-orang memandangimu seperti itu. Mereka melihat kakak karena kakak berpakaian seperti ini'

__ADS_1


' Apa kakak secantik itu', ujarku sambil tertawa. ' Apa kakak seksi?. Aku terus menggodanya.


' Kakak berhentilah bercanda'.


' Baik-baik, Ya sudah kakak pergi, sampai jumpa dirumah'.


' Iya, Hati-hati kak'.


Disepanjang jalan aku terus tersenyum mengingat kelakuan Nezu tadi. Aku baru menyadari adik kecil yang selalu kulindungi dulu sudah berubah sedewasa itu. Aku senang dan terharu dengan perbuatannya tadi.


Tapi apa yang salah dengan pakaianku, tidak seksi atau terbuka atau mungkin karena pakaianku terlalu mencolok dan berbeda. Mungkin terlalu formal, jadi kelihatan aneh.


Aku membuka tasku karena ponselku terus berdering, kulihat nama Emi terpampamg dilayar. Sejenak aku menghela nafasku, aku tahu pasti akan ada orang yang berteriak padaku.


' Halo'.


' Kamu mau mati ya!!!!!', ujarnya diujung telepon sontak aku menjauhkan ponselku dari telingaku. Apa kubilang, dia pasti berteriak. ' Siapa yang menyuruhmu keluar dari perusahaan, cepat katakan padaku!!!!'.


' Tidak ada yang menyuruhku, bukankah kamu sendiri yang bilang kalau akan keluar dari perusahaan setelah menikah, jadi untuk apa aku bertahan'.


' Tapi aku belum keluar dari sanakan, aku juga belum pulang, lalu untuk apa kamu sudah mengemasi barang-barangmu'


Ini pasti kerjaan Hiro, kenapa dia memberitahunya.


' Halo Nei, kamu masih mendengarkankukan'.


' Iya'.


' Kalau kamu tetap pergi, aku akan pulang sekarang juga , kamu mengerti!!!!'.


Tut...tu..tut.. Emi memutus teleponnya.


Apa-apaan dia ini, kenapa dia menutup teleponku. Kenapa jadi ribet begini kalau sudah berurusan dengannya, kalau dia pulang bisa gawat. Aku harus menemui Hiro.


Aku mengetuk pintu begitu aku sampai didepan kantornya. Terdengar suara dari dalam mempersilahkan masuk. Aku pun membuka pintu itu dan langsung berdiri di hadapannya.


' Kenapa? Ada apa?'.


' Jangan pura-pura bodoh. Emi marah-marah tadi, telingaku sampai sakit'.


' Dia hanya bertanya padaku, aku hanya menjawab, salahnya dimana sayang'.


' Bukankah dia akan meninggalkan perusahaan kalau dia menikah', ujarku menarik buku yang ada didepannya. ' Makanya aku mengundurkan diri'.


Dia diam menatapku.


Kenapa dia menatapku seperti itu, aku paling tidak bisa kalau dia sudah menatapku, rasanya jantungku ini tidak bisa tenang.


' Apa yang sedang kamu pikirkan, aku hanya menatapmu tapi wajahmu sudah memerah. '


' Tidak'. Aku memalingkan wajahku. ' Jangan mengalihkan pembicaraan ya'.


' Lalu kenapa kalau Emi tidak bekerja lagi, kamu kan masih bisa bekerja denganku'.


' Tidak, aku tidak mau'.

__ADS_1


' Kenapa?'.


' Aku tidak ingin orang berkata yang tidak-tidak. Biarkan aku bekerja ditempat lain, itu lebih nyaman'.


Hiro menghela nafasnya.


'Nei'. Hiro menggenggam kedua tanganku. ' Aku hanya tidak ingin melihatmu menderita, kalau kamu ada disini, aku merasa tenang.


' Hiro jika aku tetap disini, itu tidak baik. Biarkan aku pergi, aku akan merasa nyaman bila bersamamu nanti'.


' Baiklah, aku tidak akan memaksamu lagi, aku akan berbicara dengan Emi agar dia mengerti'.


' Terima kasih Hiro, aku sangat menyayangimu', ujarku memeluknya.


' Aku juga menyayangimu, tapi kamu malah meninggalkanku'.


'Jangan berkata seperti itu, aku tidak meninggalkanmu '.


' Aku hanya bercanda sayang. Aku bantu kamu berkemas ya'.


' Bukannya kamu lagi sibuk'.


' Tenang, ada Ryu'.


' Apa!!!! bisa-bisanya kamu mengganggu orang yang lagi honeymoon'.


' Biarkan saja'.


' Hiro'.


' Sudah ayo pergi'.


Dia menarikku pergi dari ruangannya, dia benar-benar tidak mendengarkanku, bagaimana bisa dia dengan entengnya menyerahkan pekerjaan pada Ryu. Aku bisa membayangkan bagaimana ekspresi Emi yang sedang dikerjai kakaknya, dia pasti kesal sekesal-kesalnya.


' Masuklah', ajakku saat sudah ada didepan rumah.


' Hmm....lain kali, ada yang harus kuperiksa, tadi Ryu mengirimiku sebuah e-mail'.


Ryu, e-mail, apa mungkin..... ' Hiro'.


' Iya'.


' Ah....tidak. Berhati-hatilah dijalan'.


' Aku pulang, istirahatlah'. Aku mengangguk dan tersenyum padanya. Hiro pun melajukan mobilnya meninggalkanku.


Aku menerka-nerka isi e-mail itu, apa mengenai berkas yang kuberikan waktu itu atau bukan. Rasanya ingin sekali bertanya pada Ryu tapi itu tidak mungkin, aku takut mengganggu mereka. Lagipula apa aku pantas menanyakan itu padanya setelah aku tidak bekerja lagi disana. Aku jadi pusing, apa yang harus kulakukan.


' Kakak kenapa?'. Aku menoleh kebelakang mendengar seseorang berbicara padaku.


' Nezu, bikin kaget'.


' Kakak yang aneh, bicara sendiri, mukul kepala sendiri'. Mendengarnya aku hanya cengar-cengir. ' Ayo masuk kak'. Aku mengangguk dan mengikutinya dari belakang.


Aku berpikir setelah mereka pulang nanti, aku akan bertanya sendiri pada Ryu. Aku ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Setidaknya aku tidak mati penasaran karenanya.

__ADS_1


__ADS_2