
Setelah drama yang cukup panjang dan mendebarkan, akhirnya Emi pun menyerah juga dan mengizinkanku untuk resign , walaupun dia masih sempat-sempatnya mengomeliku, tapi aku tidak goyah dengan keputusanku. Sebenarnya yang aku takutkan adalah ancamannya untuk pulang kalau aku tidak merubah keputusanku , tapi setelah Hiro berbicara dengannya baik-baik akhirnya dia pun mengerti dan tidak memaksaku lagi.
Setelah beberapa hari aku kesana kemari mencari pekerjaan akhirnya aku diterima bekerja di sebuah coffe shop, walaupun hanya sebagai pelayan tapi aku senang akhirnya bisa bekerja kembali. Aku senang bekerja disini karena orang-orangnya yang begitu baik dan juga mau mengajariku dengan sabar.
Coffe shop ini cukup terkenal disini, tidak heran tempat ini selalu ramai. Tapi bukan hanya itu, pemiliknya juga mempunyai daya tarik yang cukup kuat. Ada saja yang datang kesini hanya untuk melihatnya.
Ren, nama yang cukup populer disini, dia adalah pemilik coffe shop ini. Pria muda yang sudah merintis usahanya sendiri, pria single yang digilai banyak wanita. Para gadis-gadis itu rela untuk datang kesini hanya untuk melihatnya.
Aku terkadang tidak habis pikir kenapa mereka rela melakukan itu. Menghabiskan uang hanya untuk duduk dan memandanginya. Rasanya otakku belum bisa menafsirkan dengan baik dengan kelakuan mereka ini.
' Ada apa Nei kenapa kamu senyum-senyum', tanya Rina salah satu temanku yang juga bekerja disini.
' Aku masih belum terbiasa melihat mereka yang datang kesini hanya untuk melihat bos kita, rasanya aneh', jawabku.
' Begitulah mereka, mereka seperti melihat aktor terkenal saja'.
' Kamu benar, bos kita memang hebat, aku memberikan dua jempol untuknya'.
Rina tertawa.
' Iya, kamu benar sekali, tapi sebenarnya mereka tidak salah juga, lihat saja bos kita itu, apapun yang dilakukannya dia sangat keren, tidak heran kalau mereka akan histeris'.
Aku memandanginya dan menelusuri dimana letak kehisterisan para gadis-gadis itu.
'Dia biasa saja, Hiroku lebih keren', celetukku.
' Kamu bilang apa?'. Aku menggeleng lalu memalingkan wajahku. Untung saja dia tidak mendengar ocehanku tadi.
' Nei, ini untukmu'. Tiba-tiba Mei memberikan secarik kertas padaku.
' Apa ini Mei'. Aku dan Rina menatapnya heran.
' Aku tidak tahu, ini dari pria yang ada di sana, dia bilang dia mengenalmu'.
Pria yang mana aku tidak melihat siapapun yang kukenal, gumamku mencari keberadaan orang itu.
' Kalau begitu terima kasih Mei'.
Aku membuka kertas itu dan tertulis sebuah kalimat yang membuatku terkejut.
***Temui aku
Taku***
' Siapa Nei'.
' Teman' . Aku diam sejenak. ' Oh ya Rin, apa aku bisa.....'.
' Pergilah, tidak apa-apa'.
' Terima kasih'.
__ADS_1
Aku mengambil ponselku dan menghubunginya sesaat aku keluar dari sini. Menanyakan dimana dia berada sekarang ini. Aku pun segera menemuinya begitu tahu dia ada dimana. Aku heran bagaimana dia bisa mengetahui keberadaanku disini. Padahal aku tidak pernah menghubunginya sejak Yui menemuiku.
' Taku'. Aku menyapanya sesaat aku melihatnya. Dia tersenyum melihatku. Dia terlihat sangat berbeda, Taku terlihat kurus dari biasanya. ' Kenapa kamu bisa tahu aku ada disini?', tanyaku.
' Tentu saja aku tahu', jawabnya. Tapi sebenarnya aku kurang puas dengan jawabannya itu. ' Bagaimana kabarmu?'.
' Aku baik, bagaimana denganmu, kenapa kamu terlihat kurus seperti ini, kenapa kamu tidak menjaga kesehatanmu'.
' Pelan-pelan Nei, aku bingung pertanyaanmu mana yang harus ku jawab'.
Lalu aku mengulang pertanyaanku sekali lagi. ' Bagaimana kabarmu?'.
' Aku baik, setidaknya aku berusaha seperti itu, aku akan menjaga kesehatanku, jadi jangan khawatir'.
' Taku...., Yui...'.
' Aku tahu, padahal aku sudah melarangnya untuk menceritakannya padamu, tapi dia tidak mendengarkanku'.
' Kenapa kamu lakukan itu, seharusnya kamu menceritakannya padaku'.
' Kamu tahu kondisinyakan, waktu itu hanya itu yang terpikirkan olehku, kalian adalah orang yang paling berarti untukku, bagaimana bisa aku membiarkan kalian disakiti'.
' Tapi mengetahuinya sekarang lebih menyakitkan, bagaimana bisa kamu menanggungnya sendiri'.
' Nei, maafkan aku'.
' Aku sudah memaafkanmu, jangan meminta maaf lagi, aku justru merasa bersalah padamu'.
' Nei, apapun yang dikatakan Yui, tolong jangan dimasukkan ke hati'.
' Aku tahu, Yui, wanita yang sangat baik. Selama ini kami hanya bisa menyakiti diri sendiri, tidak bisa melakukan apapun karena ambisi seseorang. Aku memang masih menyukaimu dan tidak bisa melupakanmu tapi aku harus menerima kenyataan bahwa hatimu sudah berubah bukan untukku lagi'.
' Maafkan aku Taku'.
' Kenapa harus minta maaf, memang seharusnya kamu bahagia setelah apa yang terjadi padamu selama ini'. .
' Aku juga berharap kamu bahagia Taku'.
' Ya, itu pasti'.
Aku menatapnya dalam, sekilas ada raut kesedihan diwajahnya. Aku mengerti bagaimana perasaannya saat ini. Ini pertama kalinya kami berbicara tentang perasaan kami. Inilah Taku yang kukenal dulu, yang lembut dan juga perhatian. Walaupun kami sudah berpisah, aku berharap hubungan kami akan baik-baik saja.
' Pergilah, nanti mereka mencarimu'. Aku mengangguk lalu melambaikan tanganku dan pergi meninggalkannya.
----
Aku memangku tanganku diwajahku, satu persatu mereka pamit padaku. Aku tidak pulang karena hari ini adalah giliranku piket.
' Kamu tidak apa-apa sendiri disini', tanya Rina yang khawatir padaku.
' Tidak apa-apa pulanglah'.
__ADS_1
' Baiklah, hati-hati Nei'.
' Ok, hati-hati juga dijalan'.
Aku jadi ciut sendiri melihat luasnya tempat ini. Untuk menyelesaikan sendiri saja pasti memakan banyak waktu, sudah pasti aku akan terlambat pulang.
' Kamu sendiri Nei'. Aku terkejut mendengar suara itu. ' Apa aku mengagetkanmu?'.
' Sedikit bos'. Aku lupa kalau Ren masih ada disini. Bukan, dia memang tinggal disini, dilantai atas, bagaimana bisa aku lupa . ' Seharusnya hari ini giliranku piket dengan Aya, tapi karena ibunya sakit, dia ijin padaku untuk cepat pulang'.
' Jadi begitu. Baiklah aku akan membantumu '.
' Tidak usah bos, saya bisa sendiri'.
' Kenapa?'.
' Anda kan bos saya, bagaimana mungkin membantu saya membersihkan tempat ini. '.
' Apa kamu tidak mau menyelesaikan pekerjaan ini'.
' tentu saja ingin menyelesaikannya '.
' Atau jangan-jangan kamu mau tinggal bersamaku disini'.
' Tidak bos, bukan begitu.'
Dia tersenyum melihatku yang jadi salah tingkah.
' Baiklah kamu bersihkan yang disana'.
' Siap bos'.
' Panggil saja Ren, rasanya aneh kalau bicara terlalu formal'.
Apa aku tidak salah mendengarnya memintaku memanggil namanya, bagaimana mungkin seperti itu.
' Kenapa kamu jadi termenung'.
' Tidak, hanya rasanya aneh memanggil bos dengan sebutan nama, bagaimana kalau dengan bos Ren saja'.
' Ya sudahlah terserah kamu saja'.
Aku tersenyum lega.
Berkat bantuannya akhirnya pekerjaanku selesai juga. Aku pamit padanya untuk pulang. Dia menawarkan diri untuk mengantarkanku pulang karena memang sudah terlalu larut, tapi aku menolaknya. Aku berkilah kalau akan ada yang datang menjemputku, padahal sama sekali tidak ada yang datang menjemputku.
Sebenarnya aku ingin sekali menghubungi Hiro dan memintanya untuk menjemputku. Tapi ku urungkan, takut menganggunya karena sudah malam seperti ini.
Kalau dipikir-pikir sudah lama aku tidak bertemu dan melihatnya sejak aku bekerja disini. Lagipula dia juga lagi sibuk-sibuknya dengan proyek barunya itu.
Menyinggung soal proyek, aku lupa menanyakan pada Ryu tentang berkas yang kuberikan itu. Aku tidak punya waktu untuk menghubunginya, aku rasa dia juga sama sibuknya dengan Hiro.
__ADS_1
Akhirnya aku sampai dirumah, saat aku turun dari bus, Nezu sudah berdiri di pemberhentian bus untuk menjemputku. Aku tersenyum melihatnya, dia pasti khawatir denganku. Aku melingkarkan tanganku ke lengannya , hal yang paling aku sukai jika berjalan dengannya. Aku seperti mengandeng ayahku dulu jika berjalan dengannya. Aku merindukan mereka.
Ayah ibu lihatlah kami anakmu ini, kami bisa sampai sejauh ini, kalian tidak perlu khawatir. Kami akan berjuang demi ayah dan ibu.