
Emi terus menggodaku dengan kejadian semalam. Bagaimana kalutnya aku mendengar Hiro kecelakaan, lalu ketika aku menangis, tak habis-habisnya ia memperagakan adegan setiap adegan kejadian itu. Aku benar-benar kesal sekaligus malu karenanya, ingin rasanya aku membalasnya tapi apa daya, aku hanya bisa diam mendengar ocehannya.
Kalau dipikir-pikir, entah kenapa aku bisa melakukan hal seperti itu, kenapa aku terlalu menunjukkan padanya bagaimana perasaanku.
' Emi hentikan jangan mengganggunya terus', ujar Hiro membelaku.
' Baiklah...baiklah sekarang kamu punya pendukung kuat, kakak ipar'.
' Emi!!!!'. Teriak kami kompak.
Kenapa dia memanggilku dengan sebutan kakak ipar dihadapan kakaknya, gumamku.
' Ya Tuhan...apa-apaan kalian ini malah menyerangku, aku hanya mengatakan hal yang sebenarnya, ini fakta'.
Kalau tidak karena kakiku yang masih sakit aku pasti sudah menghajarnya. Dia benar-benar tidak bisa dihentikan kalau sudah punya kartu untuk menggoda seseorang.
' Aku bisa turun sendiri Hiro', ujarku saat kami sudah berada didepan rumahku. Hiro tetap memaksa untuk menggendongku. Memang sebenarnya kakiku sedikit sakit bila dipijakkan ke tanah, tapi tidak mungkinkan aku meminta bantuan padanya.
' Jangan keras kepala, aku tahu kakimu masih sulit berjalan'.
' Ia, tapi...'. Hiro mengangkat tubuhku tanpa aba-aba, reflek aku melingkarkan lenganku di lehernya.
Aku bisa melihatnya sedekat ini, aku bisa melihat setiap detail wajahnya itu. Matanya, hidungnya, bibirnya dan mencium bau parfumnya. Sial....kenapa aku jadi mesum begini.
' Ada denganmu? kenapa wajahmu memerah? apa yang sedang kamu pikirkan?'.
' Ti..tidak ada'. aku ngelagapan dengan pertanyaannya itu. Dia tersenyum melihat ekspresiku yang salah tingkah.
Tin....tin....
Aku dan Hiro menoleh mendengar suara klakson berbunyi.
' Kak jaga kakak iparku baik-baik ya', ujar Emi. ' Aku tidak ingin mengganggu kemesraan kalian, nanti akan kurimkan mobil kesini, jadi nikmatilah, da....'.
Kami berdua terbengong karena ulah Emi yang meninggalkan Hiro dirumahku. Dia pergi begitu saja meninggalkan kakaknya, entah apa yang dipikirannya. Jadi sekarang ini aku dan Hiro berdua dirumah ini. Aku menelan ludahku, diam-diam aku meliriknya, melihat bagaimana ekspresi wajahnya. Lalu melihatnya menghela nafas.
Aku tahu bagaimana kesalnya ia dengan kelakuan adiknya itu. Bagaimana dia bisa meninggalkan dua orang dewasa didalam rumah sendiri.
' Apa tidak ada orang dirumahmu'.
' Nezu pergi ke tempat bimbingan, sebentar lagi dia akan pulang'.
' Lalu....'.
' Lalu apa?'
' Hanya kalian berdua ?'.
' Hanya aku dan Nezu disini, lalu siapa lagi'.
__ADS_1
' Bagaimana dengan Ryu'
' Ryu tinggal diapartemennya'.
' Apartemen? Jadi Ryu tidak tinggal bersama kalian'.
' Tentu saja tidak'. Rasanya Hiro ingin memberi perhitungan kepada adiknya karena telah mempermainkannya selama ini. ' Ada apa?', tanyaku heran.
' Tidak, tidak ada apa-apa', jawabnya. ' Kamu harus meminum obat ini, aku akan membuatkan makanan untukmu'.
' Tidak usah, aku akan melakukannya sendiri'.
' Jangan berdebat denganku. Apa yang bisa kamu lakukan, kakimu saja masih sakit seperti itu. Diamlah disitu, jangan cerewet lagi'.
' Baiklah..'., ujarku pasrah.
Hiro membuka kulkas dan mengambil bahan-bahan untuk dimasaknya. Setelah menunggu beberapa menit makanan pun siap.
' Aku bisa makan sendiri kok, hanya kakiku yang sakit, bukan tanganku'.
' Kamu itu cerewet ya, sehat cerewet sakit juga cerewet, kamu tahukan aku tidak suka dibantah, jadi dengarkan apa yang kukatakan'.
' Aku hanya tidak ingin merepotkan...'. Tiba-tiba Hiro memasukkan makanan ke dalam mulutku. Aku memukulnya dan dia tertawa melihat ekspresiku. ' Kamu ini', protesku.
' Jadilah anak baik dan jangan suka berlari-lari seperti itu, apa kamu ini anak kecil. Lihat kakimu sekarang, untung saja tidak patah dan jangan lagi memakai sepatu setinggi itu, kalian para wanita memang aneh'. Aku memandanginya lalu tersenyum. ' Kenapa kamu tersenyum ?'.
' Kamu ini'. Hiro menggelitik tubuhku, aku meminta ampun padanya untuk tidak menggelitikku lagi karena aku tidak tahan kegelian.
' Aw...aw..aw ', ringisku memegang kakiku.
' Kakimu sakit lagi', tanyanya khawatir.
' Bohong deh', ujarku menjulurkan lidah.
' Kamu ini malah ngerjain orang'. Aku tertawa melihatnya yang kesal karena ulahku. Sesaat kami hanya diam dan saling menatap. Orang yang dihadapanku ini benar-benar sangat perduli padaku, menjagaku dan menyayangiku.
' Hmm.... Hiro'.
' Ada apa?'.
' Aku ingin minta maaf padamu, waktu itu....'.
' Kenapa harus minta maaf, kamu tidak salah, aku yang seharusnya minta maaf karena sudah kasar padamu'.
' Benar sekali, kamu menyakitiku dengan kata-katamu waktu itu'.
Aku malah menyerocos memarahinya.
' Iya, aku tahu makanya aku minta maaf padamu, aku juga tidak habis pikir kenapa aku mengatakan hal itu padamu'.
__ADS_1
' Lain kali aku akan menghajarmu kalau kamu jahat padaku'.
' Baiklah...baiklah kamu boleh menghajarku'.
Bukkk... aku memukulnya , Hiro sesaat kesakitan.
' Kenapa kamu memukulku'.
' Karena kamu jahat padaku'.
' Apa salahku, aku tidak melakukan apapun'.
' Kemarin kamu membuatku khawatir itu namanya jahat, aku sudah berpikiran negatif, aku benar-benar takut tidak melihatmu lagi, kamu tahu itu!'.
' Kenapa?'.
' Apanya yang kenapa, aku sudah kehilangan orantuaku, lalu apa aku harus kehilanganmu'.
' Lalu aku ini apa'.
' Kamu...aku.... itu.....'. Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal sama sekali, aku malu, rasanya aku ingin pergi saja. Jangan menatapku seperti itu tuan Hiro.
Hiro tertawa melihatku yang salah tingkah ini.
' Ada apa denganmu', tanyaku terkejut karena tiba-tia ia memelukku.
' Aku senang kamu mengkhawatirkanku, mendengar ucapanmu waktu itu, aku benar-benar sangat senang. Tapi kenapa hari ini mengatakan aku suka padamu saja sesulit itu.'
' Aku tidak menyukaimu'.
' Iya aku tahu'.
' Aku benar-benar tidak menyukaimu'.
Tiba-tiba Hiro mengecup bibirku. ' Aku tahu, aku tahu kamu tidak menyukaiku, tapi aku menyukaimu, jadi aku perintahkan padamu untuk menyukaiku'.
Aku tersenyum mendengar ucapannya itu. ' Cihh....tidak romantis'.
' Apa aku harus membawakanmu bunga'.
' Tidak, aku tidak suka'.
' Lalu bagaimana supaya romantis'.
' Aku juga tidak tahu'.
' Dasar'. Kami pun tertawa.
Semoga kebahagiaan ini tidak akan hilang. Aku menyadari satu hal yang aku ragukan selama ini bahwa aku menyukainya, sangat menyukainya. Bisakah aku memintamu untuk selalu bersamaku, aku tahu ini permintaan yang sulit tapi bisalah kamu berusaha untuk itu karena aku sangat takut kehilangan lagi.
__ADS_1