
'Neira'. Aku menoleh ke belakang ketika mendengar suara yang tidak asing ditelingaku.
' Emi'. Seketika kami berpelukan. Emi adalah sahabatku sejak SMA. 6 bulan yang lalu dia pergi ke Irlandia hanya untuk mengejar seseorang yang dia yakini adalah cintanya, tapi hari ini aku melihatnya disini entah apa yang terjadi disana hingga dia pulang ke Jepang.
' Nei, maafkan aku tidak ada disampingmu saat paman meninggal, aku benar-benar terkejut mendengarnya'. Aku menggelengkan kepalaku dan tersenyum padanya menandakan kalau semua baik-baik saja. ' Kalian baik-baik sajakan?'
' Iya'. Jawabku singkat. ' Oh ya kenapa kamu tiba-tiba pulang? Apa terjadi sesuatu?'.
Hmmm.... Emi menghela nafasnya. ' Kamu benar Nei, seharusnya aku mendengarkanmu. Aku pikir akan berakhir bahagia, ternyata....tidak. Dia sudah menikah'.
' Apa'.
' Hei nona kenapa kamu lebih kaget daripada aku'.
' Tentu saja aku kaget'.
' Iya sih'.
' Lalu...'.
' Lalu apalagi...sekarang aku ada dihadapanmu nona, apalagi'.
' Kamu benar-benar baik-baik sajakan... aku khawatir kalau...'
' Patah hati...bunuh diri, aku tidak serendah itu Nei. Paling tidak dia dapat air mataku, liat-liat mataku, aku menangis berhari-hari karena dia'. Aku hanya tersenyum mendengarnya bercerita, paling tidak aku tahu kalau saat ini dia baik-baik saja.
' Kalian masih tinggal dirumah itukan?'. Aku menggelengkan kepalaku. " Lalu?'.
' Kami tinggal dirumah Ryu'.
' Ryu, asisten paman?'. Aku menganggukkan kepala. ' Kalian tinggal bersama?'.
' Tidak, Ryu tinggal di apartemennya. Dia meminjamkan rumahnya untuk kami'.
' Syukurlah, aku khawatir sekali memikirkanmu , Nei. '
' Aku lebih bersyukur punya kalian. Disaat orang terdekat tidak memperdulikan kami, kalian terus ada untuk membantu'.
' Maksudnya...'.
' Mereka datang juga tidak, setelah ayah seperti ini tidak pernah terlihat batang hidung mereka sedikitpun. Mereka benar-benar tidak punya hati'.
__ADS_1
' Sabar ya Neira sayang, aku akan selalu bersama kalian karena aku ada disini'.
' Terima kasih '.
' Oh ya, apa kamu masih bekerja?'.
' Tidak'.
' Baiklah besok datang ke kantorku, ini alamatnya'. Emi menyodorkan sebuah kartu kepadaku. Aku menatapnya. ' Apa aku terlihat berbohong padamu, haa'.
' Sejak kapan kamu punya perusahaan'
' Perusahaan itu sudah ada sejak lama. Kakakku yang mengelolanya, aku akan meminta bantuannya untuk menerimamu'.
' Apa tidak apa-apa'.
' Tentu saja, kalau tidak, aku pasti akan menghajarnya habis-habisan'. Aku terperanjat mendengar ucapan Mei. ' Pokoknya kamu harus datang, kalau tidak, kamu yang akan aku hajar'.
' Baiklah..baiklah...aku akan datang'.
-------------
' Ibu, Nezu, aku pergi'. Ucapku meninggalkan rumah. Aku berlari takut ketinggalan bus yang akan mengantarku ke alamat yang diberikan Emi padaku kemarin.
Akhirnya aku sampai di tempat itu, aku benar-benar tidak menyangka kalau Emi adalah orang yang sangat kaya. Selama aku mengenalnya, dia tidak pernah menceritakan secara detail tentang keluarganya. Bahkan aku tidak pernah datang kerumahnya, dia selalu beralasan kalau dirumahku lebih menyenangkan ketimbang dirumahnya dan aku juga tidak tahu kalau dia juga mempunyai seorang kakak. Aku ini teman seperti apa, bahkan tentang Emi, aku sama sekali tidak tahu apa-apa.
' Permisi nona, saya...'.
' Apa kamu datang untuk wawancara?'.
Aku bahkan belum berkata apa-apa. ' Iya nona, saya datang untuk wawancara'.
' Baiklah, kamu naik lift ke lantai 5'.
' Lantai 5'.
' Iya, semoga berhasil'.
' Terima kasih'.
Aku bergegas menaiki lift, sesampainya dilantai 5, aku melihat sudah banyak orang yang datang untuk hal yang sama denganku. Awalnya aku berfikir hanya aku yang akan di wawancara, ternyata banyak sekali. Aku mulai ciut, bagaimana tidak, mereka pasti datang dengan latar belakang yang baik, sedangkan aku....kuliah saja aku tidak tamat, aku harus mengalah pada adikku, tidak lama lagi dia akan lulus, aku ingin dia sukses dan bisa kuliah ditempat impiannya.
__ADS_1
Satu persatu orang keluar masuk ke ruangan itu, aku semakin gemetar, aku benar-benar deg-degan tentang apa yang akan terjadi nanti.
' Nona Aoki'.
Akhirnya nama ku dipanggil. ' Iya saya Aoki'.
' Silahkan masuk'.
Aku pun masuk dan terlihatlah orang-orang yang akan mewawancarai kami. Tidak hanya aku yang akan diwawancari, tapi ada dua orang lagi selain aku.
Saat aku akan duduk tiba-tiba ponselku berbunyi.
' Nona tolong ponsel anda'.
' Maaf pak'. Aku melihat ponselku dan terlihat nama Nezu memanggil. Refleks aku mengangkatnya. Dari ujung telpon disana Nezu menangis tersedu-sedu. ' Ada apa, jangan membuat kakak takut'.
' Ibu kecelakaan kak, cepatlah kemari'.
Mendengarnya aku benar-benar seperti disambar petir, air mataku jatuh. Aku tidak lagi memikirkan orang-orang yang memandangiku aneh.
' Nona Aoki'.
' Maaf'. Aku pun berlari meninggal tempat itu dan membuat semua orang disana menjadi bingung karena sikapku.
Aku tidak perduli lagi, saat ini aku harus cepat kerumah sakit dan memastikan semua baik-baik saja. Aku benar-benar takut, dikepalaku hanya ada hal negatif yang terus terpikirkan.
' Nezu'. Panggilku dan Nezu pun berlari memelukku.
Tidak, aku takut jangan katakan apapun.
' Nona, nyonya...'
' Jangan katakan apapun, jangan coba-coba berbohong padaku Ryu '.
' Nona, jangan seperti ini'.
' Kak...'.
' Tidak, kalian.....'. Tubuhku langsung lemas terjatuh ke lantai. ' Kenapa Tuhan seperti ini, cobaan macam apa ini'. Nezu memelukku erat mencoba menenangkanku . Aku menangis sejadi-jadinya, dahulu kepergian ayah, aku mencoba tegar dihadapan ibu karena aku tahu ibu pasti lebih sakit, tapi saat ini aku tidak bisa lagi menegarkan hatiku, aku benar-benar hancur kehilangan mereka yang begitu cepat. Aku hanya seorang anak yang mencoba mandiri, yang masih membutuhkan dukungan, tapi kenapa semua terjadi seperti ini. Bagaimana aku bisa hidup, bagaimana dengan Nezu.
Dibawah guyuran hujan untuk kedua kalinya dalam kurun waktu yang tidak lama kami mengadakan pemakaman, kami mengantarkan ibu untuk terakhir kalinya. Pipiku terus basah, entah karena hujan atau air mataku.
__ADS_1
Aku melihat Nezu disampingku, diam mematung melihat pemakaman ibu. Aku memeluknya dan berbisik padanya. ' Kita pasti akan baik-baik saja'. Nezu tersenyum padaku dan menganggukkan kepalanya.
Ayah, ibu, bahagialah disana karena kami juga akan bahagia disini. Kami menyayangimu, WE LOVE YOU.