
' Kak, aku pu......lang'. Nezu terduduk lemas melihat pemandangan didepannya ini . Dia hanya bisa tersenyum kecut. ' Haa.... padahal aku sudah khawatir sekali pada kakak, tapi ternyata....'.
Saat dirinya sampai dirumah, dia malah mendapati kakaknya dan Hiro yang sedang tertidur.
Meninggalkan kakaknya sendiri saja sudah membuatnya khawatir. Sewaktu diperpustakaan saja perhatiannya sudah terpecah, antara tugas atau kakaknya, sama sekali tidak bisa berkonsentrasi. Yang biasanya dia betah berlama-lama ditempat itu, kini malah ingin cepat pulang.
Tapi apa yang didapatinya saat pulang sungguh membuatnya terkejut.
' Apa ini yang dinamakan kekuatan cinta atau apa', gumamnya.
Ehem...ehem....
Aku membuka mataku perlahan saat mendengar suara itu. Sayup-sayup aku melihat bayangan seseorang sudah berdiri dihadapanku. Saat pandanganku sudah baik, barulah aku sadar siapa orang yang ada didepanku ini.
Aku terperanjat kaget. ' Nezu'.
Aku memukul Hiro yang masih tertidur untuk segera bangun. Hiro yang sudah membuka matanya pun menunjukkan reaksi yang sama denganku.
' Sejak kapan kamu pulang Nezu?', tanyaku terbata-bata.
' Ya cukuplah melihat pemandangan ini'.
' Jangan salah paham, kakak dan juga Hiro tidak melakukan apa-apa kok'.
' Memangnya kenapa kalau kalian melakukan apa-apa'.
' Apa??'. Aku seperti orang yang sedang terpergok oleh ayahnya. Apapun yang aku katakan tidak ada gunanya, dia pasti akan membalikkannya. ' Kalian pasti lapar kan, aku akan membuatkan makanan', ujarku memecah kecanggungan. Aku beranjak ke dapur lalu membuka kulkas dan ternyata tidak ada apa-apa. ' Kalian bicaralah karena aku akan pergi ke supermarket dulu', ujar ku meninggalkan mereka berdua. Hiro dan Nezu hanya bisa bengong melihat tingkahku ini.
' Bisa kita bicara kak', tanyanya serius.
' Tentu'.
' Mungkin aku tidak pantas membicarakan ini pada kakak, tapi setelah ayah meninggal, akulah yang bertanggung jawab atas kakakku. Dengan siapa saat ini dia berhubungan atau apapun itu, walaupun aku tahu kakak adalah kakak kak Emi, tapi aku perlu tahu bagaimana hubungan kalian'.
' Aku mengerti, aku juga ingin berbicara denganmu'.
' Baiklah, apa yang kakak sukai dari kakakku?'.
' Semuanya, kelebihan dan kekurangannya . Apa jawabanku terlalu klise?'. Nezu mengangguk. ' Tapi seperti itulah, kalau kamu menanyakan apa yang kusukai dari kakakmu, tidak akan ada jawabannya, kalau aku ingin bersamanya, berarti aku menyukai kekurangan dan kelebihannya. Apa aku harus mengatakan kakakmu baik, perhatian, apa seperti itu yang ingin kamu dengar, tentu tidakkan, kakakmu juga punya sifat yang sangat jelek. Sama halnya kalau kamu menanyakan pertanyaan ini pada kakakmu. Saat ini kami sedang belajar memahami sifat masing-masing. Tapi satu hal yang harus kamu tahu, aku tidak main-main dengan hubungan ini'.
' Aku pegang ucapanmu kak'.
' Tentu'.
' Aku hanya tidak ingin melihat kakakku terluka. Kakakku itu kelihatannya saja kuat, tapi sebenarnya tidak'.
' Aku tahu'.
' Tapi tidak ada wanita lain selain kakakku kan '.
' Tidak ada'.
' Kalau terjadi sesuatu pada kakakku dan itu karena kakak, aku tidak akan tinggal diam'.
' Kalaupun terjadi sesuatu diantara kami, aku tidak akan melepaskannya, karena dia wanitaku. Kamu tidak akan pernah mengerti Nezu, kalau kamu belum menemukan seseorang itu'.
' Aku mengerti ataupun tidak, aku hanya ingin tahu bagaimana perasaan kakak. Dia satu-satunya keluargaku, aku hanya ingin memastikan orang yang disukainya ini'.
' Apa yang kamu takutkan Nezu'.
' Kalian orang kaya bisa melakukan apapun'.
' Lalu'.
' Pasti banyak orang-orang yang mengincar kakak'.
' Maksudnya pernikahan politik'.
' Iya'.
' Ternyata kamu mengerti sekali tentang hal ini'.
__ADS_1
' Tentu saja aku tahu, kakakku juga dulu seperti itu'.
' Dengan Takuya'.
' Bagaimana kakak tahu'.
' Tentu saja aku tahu'.
' Apa hubungan kalian sejauh itu. Setauku kakak tidak pernah ingin membicarakan tentang kak Takuya lagi'.
' Aku sudah bilangkan Nezu, hubungan kami tidak sesederhana itu, hubungan kami ini serius'.
' Ya....sekarang aku mengerti kenapa kakakku menyukaimu'.
' Kamu sudah yakin padaku'.
' Yakin pada manusia tidak bisa 100%'.
' Haa.....kalian memang bersaudara'.
' Apa maksud kakak'.
' Sifat kalian itu tidak jauh beda. Kata-kata yang kalian ucapkan itu terkadang membuatku terkejut'.
' Aku pulang'. Suara itu membuat pembicaraan mereka terhenti sejenak.
' Apa aku mengganggu kalian'. Kompak Hiro dan Nezu menggelengkan kepalanya. ' Wow, sejak kapan kalian seakrab ini'.
' Kami lapar kak'.
' Maaf-maaf kakak akan membuatkan sesuatu untuk kalian', ujarku bergegas menuju dapur.
' Kakakku cantikkan', celoteh Nezu tiba-tiba. Bukan tanpa sebab dia mengatakan itu karena sejak dari tadi Hiro terus memandangi kakaknya itu.
' Dia memang cantik', ujar Hiro santai.
' Apa kakak akan menikahi kakakku?'.
Hiro terpana sesaat karena pertanyaannya yang tiba-tiba ini, dia tidak habis pikir begitu gamblangnya calon adik iparnya ini kalau sudah mengenai kakaknya.
' Hanya pembicaraan laki-laki', jawab Nezu berkilah.
' Wah...Nezu kami benar-benar.... ', ocehku. ' Makananlah, makan sepuasnya'.
Aku sangat bahagia melihat suasana ini, ini pertama kalinya rumah ini terlihat ramai. Nezu yang biasanya tidak terlalu terbuka terhadap orang lain, kini bisa dengan mudahnya berbicara dengan Hiro. Melihat mereka yang seperti ini membuatku sangat terharu.
' Hiro, aku bisa sendiri, kamu istirahatlah', ujarku saat Hiro mendatangiku ke dapur.
' Aku tidak keberatan'.
Aku tersenyum.
' Selagi aku pergi tadi, kalian melakukan apa saja?'.
' Tidak ada, hanya berbicara'.
' Bicara apa?'.
' Hanya pembicaraan laki-laki'.
' Cih.... yang benar saja, kenapa jawaban kalian sama.'
' Kenapa kamu penasaran sekali'.
' Karena aku....'. Aku memandanginya dan dia pun memandangiku. ' Kalau tidak mau kasih tahu ya sudah'.
Tiba-tiba Hiro memercikkan air ke wajahku.
' Haaa....Hiro'. Aku mengusap wajahku yang terkena air.
Dia tertawa.
__ADS_1
' Apanya yang lucu!!!'.
' Ya wajahmu itu'.
Karena kesal aku pun membalasnya dan tertawa puas.
' Sudah berani ya'.
' Kan kamu yang duluan '.
Dia menarik tanganku dan aku terhempas ke tubuhnya. Tiba-tiba dia mendorong tubuhku lebih dekat dengan kedua lengannya yang melingkar di pinggangku. Dari jarak yang sedekat ini, aku bisa melihat wajahnya. Bahkan aku bisa mendengar detak jantungnya yang terus berdegup kencang.
Wajahnya terus mendekati wajahku, spontan aku menutup mataku lalu bibirnya menyentuh bibirku dengan lembut.
' Ahhhh....kalian ini benar-benar!!!!', teriak Nezu yang tidak sengaja melihat adegan sepasang kekasih itu.
Teriakkan Nezu itu membuat kami panik sendiri. Kami jadi salah tingkah. Aku tidak bisa menyembunyikan rasa maluku karena sudah terpergok oleh adikku sendiri dan ini untuk kedua kalinya.
Aku dan Hiro saling menatap dan tersenyum karena ulah kami tadi. Kami seperti anak kecil yang sedang diawasi oleh ayahnya. Bagaimana tidak, Nezu tidak beranjak dari tempatnya berdiri dan terus mengawasi kami.
Tidak terasa malam pun semakin larut. Hiro pun berpamitan untuk pulang.
' Hati-hati dijalan', ujarku.
' Aku pergi'. Aku mengangguk. ' Neira, bagaimana aku bisa pergi melihat wajahmu yang sedih itu'.
' Kalau begitu jangan pergi'.
' Baiklah, kalau begitu aku akan tidur dimana? dikamarmu?'.
' Ha tidak...tidak...'.
' Kenapa?'.
' Itu tidak baik'.
' Tidak baik??'.
' Sudahlah jangan bertanya lagi, aku tidak tahu harus berkata apa'.
' Jadi aku harus pulang atau tidak?'. Aku diam. Dia memandangiku menunggu jawabanku.
Hiro menghela nafasnya lalu memelukku.
' Bagaimana aku bisa pergi, aku masih merindukanmu, tapi tidak mungkin aku disini, aku takut tidak bisa mengendalikan diriku sendiri, hmm'. Aku mengangguk. ' Setelah nanti sampai dirumah, aku akan meneleponmu'.
' Janji'.
' Tentu'
' Baiklah'.
' Kenapa Neiraku mendadak seperti anak kecil yang menggemaskan'. Aku mencubitnya dan dia pun kesakitan. ' Kenapa tiba-tiba mencubitku'.
' Aku tidak seperti itu'.
' Benarkah, tapi aku suka kamu yang seperti itu'.
'Hei pria, kamu sedang menggodaku'.
' Wanitaku, kamu yang sedang menggodaku'
' Aku tidak melakukan apapun'.
' Aisss....sepertinya aku harus pergi dari sini, kalau tidak aku bisa menerkammu'.
Aku tertawa.
' Aku pergi'.
' Hati-hati'.
__ADS_1
Hiro pun melajukan mobilnya meninggalkanku.
Hari liburku akhirnya berakhir dengan bahagia. Yang awalnya penuh drama kesedihan berakhir dengan kebahagiaan. Apalagi yang bisa membuatku bahagia kalau tidak ditemani dua orang yang paling ku sayangi ini. Dua pria pelindungku ini, Hiro dan Nezu.