Cherry Blossom Love

Cherry Blossom Love
PERMAINAN BARU EMI (2)


__ADS_3

' Yo...kakakku sayang', ujar Emi melompat ke punggung Hiro.


' Emi, apa yang kamu lakukan, kamu bukan anak kecil lagi'..


' Tapi aku tetap adik kecilmu kakakku sayang'.


Hiro hanya bisa pasrah melihat tingkah adiknya yang manja ini.


' Apa kamu pernah menimbang berat badanmu, kenapa kamu sangat berat' .


Plakk.... Emi memukul kakaknya. ' Kakak tidak sopan'.


' Bukannya kamu yang lebih tidak sopan, seenaknya memukul kakakmu', protesnya, Emi hanya senyum-senyum melihat kakaknya yang sedang mengomel.


' Kak, mau aku perlihatkan sesuatu'.


' Perlihatkan apa'.


' Lihatlah', tunjuk Emi memperlihatkan sebuah gambar di ponselnya. Betapa terkejutnya Hiro melihat gambar yang dilihatnya. Sebuah pemandangan yang sangat diingatnya.


' Bagaimana bisa...'. Hiro menatap adiknya yang sudah ada dihadapannya. ' Berikan pada kakak'.


' Eits...'. Dengan sigap Emi menghindari. ' Tidak akan kuberikan, ini akan aku jadikan kartu kalau kakak terus mengancam akan mengadukanku pada ayah dan ibu'.


' Emi Nakayama, apa kamu sudah bosan hidup !!!'.


Sesaat Emi terdiam mendengar teriakan kakaknya. Kali ini kakaknya tidak sedang bercanda. Raut wajahnya seketika berubah 180 derajat dan Emi tahu pasti berapa kadar marah kakaknya saat ini.


' Kenapa kakak cepat sekali marah', ujarku kesal. ' Makanya kalau mau mencium seseorang itu lihat situasi dong'.


' Diamlah Emi'.


' Ini ponselku, besok harus ada penggantinya, ingat itu kak', ujarnya meninggalkan kakaknya yang masih terdiam terpaku.


Hiro tidak habis pikir bagaimana Emi bisa mendapatkan foto ini, apa yang sebenarnya ada dipikirannya. Apa waktu itu sebenarnya mereka sudah kembali, kenapa adiknya bisa melakukan hal ini.


' Emi Nakayama apa sebenarnya yang kamu rencanakan', gumamnya.

__ADS_1


Pada saat itu, Hiro tidak sadar sebenarnya Emi sudah kembali ke perusahaan, disaat Emi akan memasuki kantor kakaknya, Emi melihat kakaknya yang sedang memandangi Neira yang tertidur. Memandanginya dengan lembut dan tersenyum padanya. Hal yang mengejutkan selanjutnya adalah saat Hiro mencium kening Neira, sontak saja Emi kaget dan tanpa berfikir panjang langsung saja ia mengabadikan moment yang langka itu. Tentu saja ini salah satu permainannya untuk menggoda kakaknya. Entah balas dendam atau apa, yang jelas hanya Emi yang tahu.


----


Aku melihat jam tanganku, waktu sudah menunjukkan pukul 3 sore, tapi batang hidungnya tidak muncul juga. Berkali-kali aku menghubunginya, tapi sama sekali tidak ada jawaban. Aku mulai resah menunggunya tanpa kabar, takut kalau-kalau terjadi sesuatu padanya.


' Emi sebenarnya kamu dimana, kenapa tidak mengangkat telponku'. , gerutuku.


' Neira'. Sontak aku menoleh kearah suara itu. Aku terkejut melihat seseorang yang datang menghampiriku.


' Tu..'. Aku menutup mulutku. ' Hiro'.


' Kenapa kamu sendirian, Emi mana?' tanyanya yang heran melihat Neira seorang diri. Hiro terlihat celingak celinguk mencari keberadaan adiknya.


' Emi??? Aku hanya sendiri, malah aku sedang menunggunya, tapi sampai sekarang dia belum datang juga, bahkan aku tidak bisa menghubunginya'.


' Benarkah??', ujarnya terkejut. ' Tapi Emi menyuruhku buru-buru datang kesini'. Hiro terdiam dan mulai menghela nafasnya. Dia akhirnya sadar sedang dikerjai oleh adiknya. ' Anak itu'. Ujar Hiro kesal.


' Ahhh....Kalau begitu, aku pulang saja ya', ujarku yang juga sadar dengan situasi ini.


' Tunggu', ujarnya menghalangi jalanku. ' Karena sudah disini, aku akan menemanimu'.


' Ayo jalan'.


' Heiii....'. Neira kaget saat Hiro menarik tangannya. Neira tidak tahu harus bagaimana menghadapi pria satu ini. Pria yang entah sejak kapan membuat perasaannya menjadi tidak karuan. Pria yang terkadang membuatnya kesal, malu dan membuatnya selalu terpana dengan ucapannya yang terkadang terkesan memaksa. Pria yang terkesan arogan, tapi sebenarnya sangat perhatian. Seperti yang dilakukannya pada adiknya, Emi, walaupun dia terkesan keras padanya, tapi dibalik semua itu dia ingin mengajari adiknya itu tentang hidup yang sebenarnya. Hidup yang kita sendiri tidak tahu apa yang akan terjadi ke depannya.


Neira terus memandangi Hiro yang masih menggenggam tangannya, seakan dia tidak ingin waktu ini cepat berlalu, berharap waktu ini akan berhenti. Walaupun hanya sesaat, tapi ini sudah cukup untuknya.


' Apa disini tempatnya', tanyanya saat kami didepan toko buku, aku hanya menganggukkan kepalaku. ' Buku apa yang kamu cari?'.


' Buku kedokteran'.


' Kedokteran'. Hiro menaikkan alisnya karena bingung dengan jenis buku yang kucari.


' Ini untuk adikku. Dia akan segera lulus sekolah dan akan melanjutkan pendidikan di kedokteran, jadi aku ingin membelikannya buku ini. Aku sudah berjanji pada orangtuaku akan menjaganya dan berusaha yang terbaik untuknya, makanya aku harus bekerja keras untuk mewujudkannya'. Sesaat kami saling menatap. ' Maaf kalau aku terlalu banyak bicara'.


' Kenapa harus minta maaf, justru aku senang bisa mendengarkan ceritamu'.

__ADS_1


' Benarkah'.


' Tentu saja'.


' Boleh aku mengatakan sesuatu'. Hiro menganggukkan kepalanya. ' Sampai kapan kita harus berpegangan tangan seperti ini'. Sontak Hiro melepaskan tanganku dan meminta maaf karena sudah lancang memegang tanganku. Aku tersenyum melihatnya dan mengatakan padanya kalau dia tidak seharusnya meminta maaf seperti ini karena aku juga tidak melarangnya saat itu. Aku tidak ingin dia merasa tidak enak hati padaku.


Aku tidak tahu kalau bersamanya akan sangat menyenangkan seperti ini. Saat aku meminta pendapat padanya, dia akan mendengarkanku terlebih dahulu, kemudian memberi saran ini dan itu. Terkadang aku merasa heran, bagaimana sikapnya saat dikantor dan saat ini sungguh saat berbeda. Apa aku orang yang sangat beruntung bisa bersamanya saat ini ???, mungkin aku harus menganggapnya seperti itu karena mungkin tidak akan ada hari ini lagi kelak.


' Kenapa kamu senyum-senyum ', tanyanya. Hiro meletakkan makanan dan minumannya yang sudah dipesannya tadi.


' Apa!!, aku tidak senyum-senyum ', ujarku salah tingkah. ' Oh ya Hiro terima kasih sudah menemaniku hari ini, walaupun ini tidak disengaja, tapi aku sangat senang sekali'.


' Baguslah kalau kamu merasa seperti itu karena aku juga saat senang bersama denganmu hari ini'.


Bersama denganku, heii...tuan Hiro jangan membuatku jadi salah paham dengan kata-katamu itu. Jangan membuat aku berharap sesuatu yang aku sendiri merasa tidak sanggup menggapainya dan jangan lagi membuat jantungku berdegup sekencang ini , aku bisa mati karenanya.


' Kamu baik-baik saja', tanyanya menyetuh wajahku untuk memastikan keadaanku, aku menganggukkan kepalaku. ' Tapi kenapa wajahmu memerah'. Reflek aku menutup wajahku dengan kedua tanganku. Aku benar-benar malu berhadapan dengannya saat ini.


Hiro yang heran dengan sikapku berusaha menarik tanganku dari wajahku.


' Aku sungguh tidak apa-apa', ujarku. Aku tahu dia diam-diam tersenyum melihat tingkahku yang seperti anak kecil ini.


' Ya sudah kalau begitu, makanlah'.


' iya'.


Tanpa mereka sadari dari kejauhan sana, mereka sedang diamati oleh seseorang, siapa lagi kalau bukan Emi, dalang dari semua kejadian hari ini. Dia tersenyum puas melihat kakak dan sahabatnya ini terlihat bahagia. Tidak sia-sia apa yang dilakukannya untuk memecahkan kecanggungan diantara mereka, paling tidak ada harapan bagi mereka untuk membuka hati masing-masing dan paling diharapkannya mereka bisa jujur dengan perasaan mereka sekarang ini.


Haaa..... Emi menghela nafas, seakan sudah melakukan hal yang sangat berat. ' Aku pastikan akan meminta imbalan kali ini pada kalian berdua'.


' Echan'.


Tanpa sadar Emi langsung berbalik ketika nama itu disebut. Nama itu, suara itu, Emi tahu persis siapa sosok dibalik suara itu. Betapa terkejutnya ia sekarang ini, apa yang ditakutkannya selama ini terjadi juga.


Seseorang yang tidak ingin ditemuinya saat ini berdiri tepat dihadapannya. Seseorang dari masa lalunya yang selama ini sudah berusaha untuk dilupakannya. Seseorang yang sudah menyakiti hatinya tiba-tiba hadir dihadapannya saat ini.


'* Hisashiburi, Echan', ujarnya tersenyum.

__ADS_1


* HISASHIBURI : LAMA TIDAK BERTEMU


__ADS_2