Cherry Blossom Love

Cherry Blossom Love
HADANGAN....


__ADS_3

Sejak kejadian tempo hari, Hiro menjadi lebih diam dari biasanya. Hiro lebih banyak melamun. Disaat bekerja pun dia kehilangan konsentrasi, seperti bukan Hiro yang biasanya.


Ryu, yang merupakan adik iparnya merasa bingung dengan sikapnya ini. Saat ditanya pun Hiro hanya menjawab seadanya.


Ryu pun menghubungi Emi, istrinya untuk datang ke perusahaan membicarakan tentang sikap Hiro yang akhir-akhir ini sangat aneh.


' Sayang, kakak mana?'. Tanya Emi sesaat ia datang dan duduk dihadapan Ryu.


' Ada dikantornya'. Jawab Ryu. ' Sayang, apa ada sesuatu yang tidak aku ketahui?'.


' Sebelum aku menjawabnya, apa terjadi sesuatu diperusahaan?'.


' Apa yang sedang kamu bicarakan?'.


' Ayolah sayang, memangnya aku ini siapa sehingga kalian menutupinya dariku'.


' Baiklah...baiklah. Sebenarnya ini bermula dari Nona Neira yang menemukan sebuah dokumen yang ada dikantormu waktu itu. Setelah diselidiki ternyata dokumen itu hanya pengalihan agar konsentrasi kakakmu terpecah. Tapi.....'.


' Tapi apa?'.


' Setidaknya itu sedikit berdampak pada perusahaan'.


' Aku tidak mengerti'.


' Pamanmu, pamanmu yang merencanakan ini dan mengambil salah satu proyek kita. Bukankah itu pengalihan yang sangat baik'.


' Pamanku. Kenapa dia melakukan ini pada kami'.


' Karena dulu kakakmu pernah mengambil alih proyek pamanmu'.


' Bukankah waktu itu paman menyia-nyiakannya'.


' Apapun itu, pamanmu pasti membenci kakakmu'.


' Sudah kuduga, paman bersikap aneh memang. Ternyata ini yang dilakukannya'.


' Dan berjanjilah padaku, jangan beritahu Nona Neira karena aku sudah berbohong padanya'.


' Neira sudah bertanya padamu'.


' Iya, beberapa hari yang lalu. Aku tidak tahu dia percaya padaku atau tidak, tapi dia hanya mendengarkan apapun yang kukatakan'.


' Apa kakak yang menyuruhmu'. Ryu mengangguk. ' Baiklah aku juga tidak akan buka mulut'.


' Sekarang giliranmu, jawab pertanyaanku tadi'.


' Hmmm....soal itu, aku...'.


' Kenapa?'.


' Sepertinya ada teman ayah yang ingin menjodohkan anaknya dengan kakak. Waktu itu aku melihat mereka saat aku pulang kerumah'.


' Lalu apa yang dikatakan ayah?'.


' Soal itu ayah bilang hanya kakak yang bisa menentukan'.


' Syukurlah'.

__ADS_1


' Ayah mungkin tidak bisa berbicara secara gamblang karena teman ayah itu sangat berjasa dikehidupan ayah'.


' Bukankah ini agak mengkhawatirkan. Lalu apa kakakmu tahu?'. Emi mengangguk. ' Pantas saja dia banyak melamun'.


' Tapi ada satu hal yang lebih mengkhawatirkan, ternyata dia kakaknya bos Neira'.


' Apa?'.


' Tapi kakak belum tahu tentang ini'.


' Tapi bukankah dia bisa menolak, katakan saja kalau dia sudah punya pacar dan akan segera menikah'.


' Seharusnya sih tapi kamu tahu sayang, investor paling besar diproyek itu'.


Ryu langsung mengerti dengan arah pembicaraan istrinya ini.


' Oh Tuhan.....kenapa jadi seperti ini'.


' Kakakku pasti bingung karena disatu sisi, kehidupan orang banyak dipertaruhkan disisi lain kehidupannya pun dipertaruhkan'.


' Bagaimana dengan Nona'.


' Kita harus memikirkan jalan keluarnya juga, disaat seperti ini hanya kita berdua yang masih berpikiran jernih'.


' Kamu benar, kita harus membantunya dari masalah ini'. Emi pun mengangguk menyetujui ucapan suaminya ini.


----


Berkali-kali aku menghubungi Hiro, tapi tidak ada jawaban darinya. Aku khawatir sekali dengannya saat terakhir kali kami bersama. Melihat sikapnya yang tiba-tiba berubah, ingin sekali aku bertemu dengannya dan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi.


Aku terus memandangi ponselku berharap Hiro akan menghubungiku.


' Hanya memasukkan barang-barang ini ke mobil', jawabku asal.


Sekali lagi, aku bingung kenapa Ren harus membawaku lagi untuk menemaninya dan dia tahu pasti, aku tidak punya daya untuk menolaknya. ' Bos mau kemana?', tanyaku saat ia menarik tanganku tapi dia tidak menjawab dan terus membawaku entah kemana. ' Bos lapar'. Tanyaku sesaat kami memasuki sebuah restoran.


' Tidak'. Jawabnya, yang tentu saja membuatku kesal


' Jadi untuk apa kita kesini?', tanyaku heran tapi dia tidak menjawab pertanyaanku, dia malah sibuk sendiri melihat kesana kemari.


' Kak Ren'. Teriak seseorang memanggil namanya. Ren pun tersenyum sesaat dia melihat orang itu. Seorang wanita yang berparas cantik, tinggi semampai dan sangat berkelas. Aku tersenyum saat dia melihatku. ' Kakak siapa wanita ini'.


' Menurutmu'.


Sebelum terjadi kesalahpahaman lebih lanjut aku pun menjawabnya.


' Aku hanya seorang pekerja'.


Mereka terlihat terkejut dengan responku ini. Aku tidak perduli, aku hanya tidak ingin dia salah paham mengartikan kehadiranku.


' Oh begitu', ujar wanita itu. ' Aku Sayaka, adiknya kak Ren'.


' Adik?'. Dia mengangguk.' Namaku Neira'.


' Neira??'. Dia mengernyitkan dahinya. ' Kenapa aku tidak asing dengan namamu ya'.


' Benarkah?'.

__ADS_1


' Atau mungkin hanya kebetulan saja'.


' Begitu'.


' Kamu sendirian ?'. Tanya Ren pada adiknya.


' Tidak'. Jawabnya. ' Ah itu, Nakayama'.


Darahku mendesir begitu nama yang sangat tidak asing bagiku itu disebut. Apa nama itu nama yang memang aku kenal atau tidak. Lalu akupun memberanikan diri menolehkan kepalaku melihat orang itu dan betapa terkejutnya aku begitu aku tahu orang yang ada dihadapanku ini dan spontan aku menyebut namanya.


' Hiro'.


Hiro pun tidak kalah terkejutnya denganku.


' Neira'.


' Kalian saling kenal.' Tanyanya tapi kami hanya diam. ' Oh ya ini kakakku, Ren', ujarnya memperkenalkan kakaknya pada Hiro.


Situasi macam apa ini, itulah yang ada dipikiran Hiro saat ini. Sekarang Hiro mengerti mengapa Ren berani mengatakan hal itu padanya, ternyata inilah jawabannya.


' Nakayama'. Tidak ada respon dari Hiro saat namanya disebut.


' Maafkan aku'. Ujar Hiro menarik tanganku pergi meninggalkan mereka. Saat ini mereka pasti bingung dengan situasi ini. Terlebih untuk Sayaka yang tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.


Tanpa melihat kebelakang, Hiro membawaku jauh dari tempat itu. Apa yang sebenarnya terjadi, aku tidak mengerti dengannya. Apa hubungannya dengan adiknya Ren? mengapa mereka ada disini berdua? apa ini sebabnya dia tidak pernah merespon setiap aku menghubunginya.


' Hiro'. panggilku tapi dia tidak menggubrisnya. ' Hiro'. Panggilku lagi dan kali ini dia merespon. Hiro masih terdiam berdiri membelakangiku lalu perlahan dia melepaskan tanganku dan berdiri dihadapanku. ' Wanita itu.... '. Aku memberanikan diri berbicara tapi aku tidak sanggup melanjutkannya.


' Neira, aku tidak menyangka kita akan bertemu seperti ini sebelum aku menyelesaikan masalah ini. Maafkan aku'.


' Aku tidak perlu maaf, jelaskan padaku apa hubunganmu dengannya'.


' Dia anaknya teman orangtuaku dan orangtuanya ingin menjodohkan kami'.


Entah apa yang harus aku katakan begitu mendengar perkataannya. Hatiku terasa sakit, apa ini akan berakhir seperti ini, apa ini benar akan berakhir.


' Jadi kalian akan bertunangan'.


' Neira jangan salah paham, aku sedang memikirkan bagaimana caranya menyelesaikan ini karena.....karena orangtuanya sudah banyak berjasa pada orangtuaku dan juga dia salah satu investor terbesar diproyek kali ini. Aku tidak bisa gegabah'.


' Pantas saja'.


' Neira apa maksudmu?'.


' Hiro, aku tahu apa yang kalian bicarakan dirumah sakit, aku sudah sadar waktu itu'.


' Neira ini tidak seperti apa yang kamu pikirkan, aku juga sama sekali tidak tahu kalau bos mu itu.....'. Hiro terdiam sesaat. ' Neira kalau aku ingin bersamanya mana mungkin aku membawamu pergi dari hadapannya', ujarnya. 'Neira......kenapa aku merasa kamu meragukanku'.


' Karena aku takut kehilanganmu. Aku merasa aku kalah kelas dengannya, bagaimana bisa aku melawannya, aku ini hanya orang yang biasa saja sedangkan dia....'.


' Apa aku pernah memandangmu seperti itu? apa aku seperti itu'. Neira diam. ' Baiklah Neira, kita tidak bisa seperti ini, saat ini kita sama-sama masih egois. Apapun yang terlontar dari mulut kita hanya akan menyakiti diri dan perasaan kita sendiri. Sebaiknya kita berdiam diri dan mengintropeksi diri masing-masing'.


' Hiro'.


' Pulanglah', ujarnya meninggalkanku sendiri. Aku memandanginya dan tidak sedikitpun Hiro menoleh ke belakang.


Ini untuk pertama kalinya kami saling egois mempertahankan ego masing-masing dan tidak mengerti perasaan satu sama lain.

__ADS_1


Sudah berakhir, kata-kata itu muncul lagi dipikiranku. Aku menahan air mataku jatuh, aku tidak ingin lemah seperti ini. Semuanya pasti akan berakhir dengan baik . Kata-kata itu lah yang menjadi penguatku saat ini.



__ADS_2