
' Mau kemana? Bukannya hari ini tidak ada jadwal kuliah'.
' Mau ke perpustakaan kak '.
' Jadi kakak sendirian dirumah, padahal kakak lagi libur kenapa kamu meninggalkan kakak'.
' Kenapa tidak menghubungi kak Emi'.
' Ah benar' Aku mengambil ponselku dan menghubunginya. Sedetik kemudian terdengar suara dari ujung telepon.
' Apa kamu merindukanku ?', tanyanya nyeleneh.
' Tidak', jawabku singkat.
' Lalu untuk apa kamu meneleponku!'.
' Aku sedang libur, aku sendirian, Nezu ke perpustakaan'.
' Cihh...kenapa tidak menelepon kakakku saja'.
' Kenapa? Kamu tidak menginginkanku lagi, setelah selama ini kita bersama, aku sudah dicampakkan, dasar kejam'.
' Dasar gila, lagipula aku sedang di hokaido, aku tidak bisa menemanimu'.
' Hokaido???'.
' Bibiku memintaku datang kesana, ya sudah aku datang '.
' Kenapa nasibku sangat menyedihkan'.
' Cihh.... jangan berlebihan. Aku harus pergi, bibkku sudah memanggilku, selamat menyendiri ya, bye'. Emi pun menutup teleponnya.
' Bagaimana?'. Nezu melihatku sesaat Emi menutup teleponnya.
' Emi sedang di Hokaido '.
' Hmm.... kak Hiro?'.
' Kakak tidak berani menganggunya'.
' Jadi mau gimana'.
' Ya sudahlah kamu pergilah'.
' Benaran, kakak tidak apa-apa sendirian dirumah '.
' Cepat pergi atau kakak akan berubah pikiran'.
__ADS_1
' Baiklah...baiklah. Kakak bersenang-senanglah dirumah'.
' Terima kasih adikku'.
Braakk...
Tinggallah aku sendiri dirumah, kalau tahu begini aku kerja saja, tapi kapan lagi aku bisa libur kalau kerja terus.
Apapun yang kulakukan semua serba salah, aku merasa bosan. Aku hanya mondar mandir mengelilingi sudut rumah ini.
' HIRO......'. Aku berteriak memanggil namanya. Aku sudah seperti orang gila saja dirumah ini.' Aku merindukannya. Apa aku harus menghubunginya'.
Aku mengambil ponselku dan mencari namanya dan menekan nomor itu. Ah tidak...tidak...aku tidak jadi menghubunginya dan meletakkan ponselku lagi.
Aku hanya berbaring, berguling-guling kesana kemari karena bosan. Membaca buku sama sekali tidak konsentrasi. Menonton televisi tidak ada yang menarik. Apa aku harus pergi jalan-jalan sendiri, tapi itu tidak seru.
' Kenapa ponsel ku berisik sekali, apa dia tidak tahu aku lagi kesal!!!!!' . Aku mengambil ponselku yang terus berdering dan kulihat nama Hiro terpampang dilayar. Sesaat aku senyum-senyum sendiri melihat ponselku ini.
' Halo...'.
' Kamu meneleponku'.
' Aku tidak sengaja melakukannya'.
' Tidak sengaja, benarkah?'. Aku diam. ' Bukan karena kamu merindukanku'.
' Padahal aku ada didepan rumahmu, tapi kamu tidak merindukanku'.
Depan rumah, aku bergegas membuka pintuku, ternyata....
' Bohong'.
' Kamu bilang tidak merindukanku tapi kamu langsung membuka pintumu'.
Aku diam.
' Nei...'. Tidak ada jawaban dariku. Aku mulai terisak. ' Kamu menangis, aku tidak bermaksud membuatmu menangis'.
' Aku sangat merindukanmu, aku hampir mati karenanya. Aku tidak pernah mendengar suaramu lagi, terkadang aku ingin menceritakan apa yang terjadi padaku, tapi aku sadar aku tidak bisa seenaknya karena kamu sedang sibuk dengan pekerjaanmu. Aku harus memahami keadaanmu, aku tidak boleh egois. Sampai-sampai aku tidak berani menghubungimu, kamu malah bercanda padaku. Tidak usah bicara denganku lagi!!!!.' Aku menutup teleponku.
' Rasakan'.
Berkali-kali ponselku berbunyi tapi aku tidak menghiraukannya. Sebenarnya aku tidak semarah itu, tapi entah kenapa aku merasa kesal dengannya dan tidak ingin bicara dengannya lagi.
Lama kelamaan aku pun tertidur karena kebosanan. Aku tidak sadar entah sudah berapa lama aku tertidur. Sayup-sayup suara bel rumahku berbunyi. Karena masih setengah sadar aku hanya duduk tanpa bergegas membuka pintu.
' NEIRA!!!!'. Aku terkejut seseorang memanggil namaku dan menggedor pintu. ' NEIRA BUKA PINTUNYA!'.
__ADS_1
Suara itu... ' HIRO'. Aku beranjak menuju pintu, kuintip dari balik gorden jendela dan benar saja itu adalah Hiro.
' NEIRA, BUKA PINTUNYA ATAU PINTU INI AKU DOBRAK'.
Gawat, pintu ini bisa rusak, inikan rumah Ryu bukan rumahku. Bagaimana nanti aku menggantinya. Ryu bisa marah padaku.
Pelan-pelan aku membuka pintu itu. Aku hanya membuka pintu itu setengahnya saja. ' ' Mau apa?'.
' Buka pintunya'.
' Tidak mau'.
' Neira'.
Aku menahan pintu itu, tapi karena kalah tenaga pintu itu pun terbuka dan aku pun terjatuh.
' Awwww', erangku kesakitan.
' Aku kan sudah bilang untuk membuka pintunya , kenapa kamu terus menahannya', ujarnya. ' Ayo berdirilah'. Dia membantuku untuk berdiri dan membawaku duduk di sofa. Aku masih saja diam, aku tahu dia terus memandangiku. ' Masih marah?'.
Aku diam. Kulihat dia menghela nafasnya.
' Kamu tahu, begitu Emi mengatakan kepadaku kalau kamu sendirian dirumah dan tidak berani menghubungiku, aku langsung bergegas kesini. Saat itu aku sedang jauh dari sini, butuh waktu satu setengah jam untuk sampai ke rumahmu. Mendengarmu menangis karena ucapanku, aku sangat takut, berkali-kali aku menghubungimu tapi kamu tidak memperdulikannya, aku jadi semakin takut, aku begitu khawatir. Aku tidak bermaksud seperti itu, aku minta maaf'.
' Aku.....sebenarnya tidak semarah itu, tapi entah kenapa aku merasa kesal padamu. Aku yang seharusnya minta maaf, aku benar-benar tidak tahu kalau kamu sedang menuju kesini. Seharusnya aku tidak melakukannya, bagaimana kalau terjadi apa-apa padamu dijalan, aku ini benar-benar bodoh'. Aku merutuki diriku sendiri.
' Nei..., sudah...sudah', ujarnya memelukku.
' Aku sangat merindukanmu, aku ingin sekali bertemu denganmu. Apa kamu tahu itu!'.
' Aku juga sangat merindukanmu, hmm'. Kami saling menatap. ' Aku minta maaf karena terlalu sibuk akhir-akhir ini, seharusnya aku lebih sering menghubungimu'.
' Tidak, tidak apa-apa, mungkin aku terlalu terbawa perasaan'.
' Apa Neiraku sekarang sangat sensitif kalau tidak melihat pangerannya'.
' Hiro'.
Dia tertawa.
' Maafkan aku', ujarnya mengusap rambutku lembut. ' Aku juga sangat ingin bertemu denganmu, setiap aku bekerja, aku selalu teringat padamu. Apa yang sedang kamu lakukan, kamu kemana, dengan siapa, apa ada pria yang mendekatimu kalau aku mengingat itu aku bisa gila, tapi aku tidak bisa menemui ataupun menghubungimu karena ada sesuatu yang harus aku selesaikan. Saat mengetahui kalau kamu sedang sendiri dirumah, aku langsung meminta Ryu mengambil alih'.
' Apa aku mengganggu pekerjaanmu'.
' Tidak, sama sekali tidak. Aku yang tidak bisa lagi menahan diriku untuk tidak melihatmu. Kelak kalau kamu ingin menghubungiku, tolong jangan sungkan. Aku juga ingin mendengar suaramu itu, kamu mengerti'.
' Aku mengerti, aku tidak akan membuatmu khawatir lagi', ujaku memeluknya erat.
__ADS_1
Aku benar-benar sangat merindukannya, aku tidak ingin melepaskan pelukanku darinya. Aku tidak ingin dia pergi, aku masih ingin bersamanya lebih lama lagi.