
' Nezu'. Panggilku saat melihat adikku nezu keluar dari tempat lesnya. Nezu datang menghampiri dan tersenyum padaku lalu melilitkan syal yang ada dilehernya ke leherku. ' Adik kakak manis sekali'. Reflek aku mencium pipinya.
' Kakak', protesnya.
' Iya..iya Nezu bukan anak kecil lagi kan'. Dia mengangguk. ' Apa pacarmu ada disini, kalau dia melihat kita nanti dia bisa salah paham'.
' Pacar apa, tidak ada'.
' Benarkah?? adik kakak begitu tampannya, kenapa tidak ada yang tertarik'.
' Kakak jangan menggodaku terus'.
' Kakak tidak menggoda mu, kakak serius bertanya'. Nezu hanya diam.
Aku mulai menyadari kalau Nezu mulai berubah. Dia menjadi lebih pendiam dari biasanya. Adik yang selalu ingin melindungi kakaknya dan sekarang aku merasa dia semakin posesif. Tidak ada satu haripun dia tidak menanyakan keadaanku, apa yang kulakukan, apa ada yang menggangguku, apa ada yang membuatku menangis. Aku mengerti kekhawatirannya karena saat ini hanya aku yang ia punya. Adik kecil yang kusayangi kini sudah mulai dewasa.
' Kakak kenapa', tanyanya heran karena aku menggandeng lengannya erat. Aku menggelengkan kepalaku dan tersenyum padanya. ' Kak, kalau aku bekerja juga, gimana?'.
' Tidak boleh'.
' Ayolah kak, bagaimana bisa aku membiarkan kakak bekerja keras sendiri, sampai kakak tidak melanjutkan kuliah lagi, apa kakak kira aku senang'.
' Kakak lebih tidak senang lagi kalau kamu meninggalkan pelajaran mu. Tinggal sebentar lagi Nezu, bukankah kamu ingin menjadi dokter'. Nezu mengangguk. ' Makanya kamu harus fokus belajar'.
' Tapi kak biayanya sangat mahal'.
' Kakak akan kerja lebih giat lagi'.
' Aku ini anak laki-laki kak, harusnya aku yang bekerja untuk kakak, bukan seperti ini'.
' Nezu, kalau kamu sudah sukses jadi dokter, apapun bisa kamu lakukan untuk kakak. Dulu ayah dan ibu, sekarang ini giliran kakak membuatmu bahagia, suatu hari nanti pasti giliranmu membahagiakan kakak. Lelah kakak hilang kalau melihatmu sukses'. Nezu hanya diam. ' Nezu'.
' Bagaimana kalau kita minta bantuan paman dan bibi'.
' Kita sekarang tidak punya apa-apa, yang kita punya hanya harga diri, mereka tidak perduli pada kita setelah kita seperti ini, apa yang kita harapkan, mengemis, tidak Nezu. Kita harus buktikan kalau kita bisa, demi ayah dan ibu'.
' Ryu pasti bisa bantu kita'.
' Ryu sudah terlalu banyak membantu kita, bagaimana bisa kita menyusahkannya lagi walaupun dia tidak mempermasalahkan apapun yang kita minta, tapi kita tidak boleh terus-terusan seperti ini'.
' Kakak benar'.
' Jadi jangan katakan hal seperti ini lagi'.
__ADS_1
' Baiklah kak, tidak akan ada pembicaraan ini lagi, Nezu janji.' Aku tersenyum mendengar ucapannya yang tulus.
Maafkan kakak Nezu, kakak tahu niat baikmu ini, tapi ini juga untukmu , demi kita bertahanlah sebentar lagi. Semua kesusahan ini pasti akan berakhir, kakak janji padamu.
--------
' Kenapa dengan wajahmu', tanyaku melihat wajah Emi yang lesu. ' Bunga-bunga ini bakalan layu melihat wajahmu yang seperti ini, kasihan bunga-bunga ini'.
' Hehehe...lucu sekali'.
' Iya memang lucu'. Sesaat kami terdiam, beberapa kali kulihat Emi menghela nafasnya. Untuk pertama kali aku melihatnya seperti ini , biasanya apapun masalahnya dia tidak pernah ambil pusing, tapi sekarang, entah apa yang terjadi dengannya. ' Emi'.
' Aku baik-baik saja'.
' Aku tidak bertanya kok, tidak khawatir juga'. Emi merengek kesal padaku. Aku tertawa melihat tingkahnya yang seperti anak kecil. ' Makanya katakan padaku, ada apa denganmu'.
' Kakakku, kak Hiro'.
' Iya, aku tahu dia kakakmu'.
' Jangan bercanda'.
' Siapa yang bercanda'.
' Katakan saja kalau kamu tidak bisa'.
' Kamu tidak tahu kakakku, dia mengancamku, kalau aku tidak mau, dia akan mengatakan kepada ayah dan ibu tentang Irlandia'. Seketika itu aku tertawa terpingkal-pingkal mendengar ucapannya. ' Teman macam apa kamu nona!!!'.
' Maaf , aku benar-benar tidak bermaksud menertawaimu'.
' Kalian berdua memang sama saja'.
' Kenapa aku disamain sama kakakmu'.
Aku benar-benar takjub dengan tingkahnya saat ini, uring-uringan dengan satu ucapan kakaknya, IRLANDIA. Ya negara itu sebuah dosa yang pernah dilakukannya, sebuah kartu jitu yang dipergunakan kakaknya.
Demi seorang laki-laki, dia datang ke sana dan tinggal beberapa bulan hanya karena cintanya pada laki-laki itu. Tapi hasilnya tidak seperti yang diharapkannya, ternyata laki-laki itu sudah menikah, jadilah ia ada didepanku sekarang ini. Ayah dan ibunya waktu itu hanya tahu kalau ia bersekolah disana, ya dengan bantuan kakaknya, semua berjalan sesuai harapannya, tapi akibatnya malah lebih besar dari yang diperkirakan.
Mungkin itu konsekuensi yang harus diterimanya karena semua yang dilakukannya disana berhasil ditutupi kakaknya, dengan segala kekuasaan dan juga uang yang dimilikinya. Dengan sekali perintah semua pasti beres.
' Bibi aku pinjam Neira sebentar'. Tiba-tiba Emi menarikku.
' Kita mau kemana?'. Tanyaku.
__ADS_1
' Tenang dan santai saja'.
Aku mulai khawatir dengan kata tenang dan santai, apalagi kata-kata itu keluar dari mulut seorang Emi, bulu kudukku langsung merinding.
Dan ternyata tebakanku tidak salah
' Aku akan setuju kalau Neira jadi asistenku'.
' Apa!!!! Jangan bercanda Mi. Kamu sedang menjebakku ya', tanyaku pelan
' Bantulah temanmu ini', jawabnya pelan, aku tersenyum sinis padanya. ' Bagaimana kak?'.
' Ok'.
' Aku yang tidak ok', sela ku
' Jangan menyusahkanku nona'.
' Bukankah kamu yang duluan menyusahkanku nona'. Kami saling melontot.
'Lantas kamu mau apa, jadi istri kakakku'.
Jlebb, seakan duniaku mau runtuh, aku benar-benar malu. Aku bahkan tidak berani menatap kakaknya. Dia ini apa tidak bisa berhenti bicara, seenaknya saja.
' Sampai kapan kalian terus bertengkar. Kalian berdua datanglah besok, soal pertengkaran kalian ini tolong cepat selesaikan', ujarnya meninggalkan kami berdua.
Habislah sudah.
' Kamu ini kenapa tiba-tiba bicara seperti itu'.
' Bicara yang mana? Jadi asisten atau istri kakakku'.
Aku kehabisan kata-kata, betapa kesalnya aku dengannya sekarang ini, kalau bukan karena teman baikku, sudah kuhajar mungkin. ' Baiklah...baiklah aku menyerah, besok aku akan datang'.
' Begitu dong', ujarnya memelukku. ' Eh tapi aku serius loh soal kamu jadi istri kakakku'.
' Pergi sana ke laut!!'.
' Cih...benci itu benar-benar cinta loh'.
' Gak perduli!!!!'.
' Nanti kena karma loh, kakak ipar'.
__ADS_1
Aku terus berjalan tanpa memperdulikan panggilan yang menurutku memalukan itu. Bagaimana tidak, kami bahkan tidak punya hubungan yang baik, kakak ipar darimana, dasar Emi menyebalkan. Enggak kakak enggak adik sama saja kelakuannya, sukanya mengoda orang lain.