
Akhir-akhir ini pekerjaanku semakin padat dan sibuk. Ini dikarenakan kami harus mempersiapkan acara sebuah perusahaan ditempat ini. Waktu sudah semakin dekat dan kami harus lembur untuk mempersipkannya.
Setiap detail ornamen, dekorasi serta makanan, dipersiapkan dengan baik sesuai dengan permintaan customer. Aku dan Rina bertanggung jawab atas dekorasi. Kami sibuk menata disetiap ruangan. Aku melihat setiap sudut, agar terlihat sempurna dan tidak ada yang terlewatkan.
' Nei'.
' Ada apa Rin? apa ada yang kurang?'.
' Bukan itu, tapi hidungmu....'. Dia menunjuk kearah hidungku. Saat aku memegang hidungku, ternyata ada darah keluar dari dalam sana. Aku pun mengusap hidungku yang mengeluarkan darah dengan menggunakan tisu. ' Istirahatlah, kamu terlalu over kerjanya'.
' Aku tidak apa-apa'.
' Tidak apa-apa bagaimana'.
' Besok sudah acara, kita harus menyiapkannya'
' Iya, tapikan...'
Rina tidak bisa berkata apa-apa lagi kalau aku sudah keras kepala seperti ini. Aku tahu dia khawatir padaku, tapi kalau ini tidak selesai pada waktunya, semua orang akan kecewa.
Kami mengebut pekerjaan dengan cepat. Di sana sini semua orang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.
Pukul 10 malam pekerjaan kami selesai dan kami pun pamit pulang.
Aku merasa sangat lelah hari ini, tubuhku terasa sakit. Sesampainya dirumah, aku langsung merebahkan tubuhku di tempat tidur. Walaupun aku merasa lelah tapi mataku tidak bisa terpejam. Hal seperti inilah yang membuatku gelisah, aku hanya bisa membalikkan tubuhku kesana kemari dan berharap akan tertidur.
Aku meraih ponselku yang berdering dan melihat nama yang tertera dilayar ponselku. Dengan cepat aku langsung mengangkatnya.
'Hiro'.
' Halo sayang, belum tidur?'.
' Aku tidak bisa tidur'.
' Kenapa?'.
' Entahlah padahal aku sangat lelah hari ini. Ada perusahaan yang akan melakukan kegiatan ditempatku bekerja, jadi kami sibuk mempersiapkannya. Kami sudah lembur tiga hari ini, untunglah semua telah selesai. Mudah-mudahan besok berjalan dengan lancar'.
' Kamu baik-baik saja?'.
' Aku baik'.
' Jangan membohongiku'.
' Tadi hidungku mengeluarkan darah dan sekarang rasanya tubuhku sakit sekali. Mungkin dengan istirahat, aku akan baik-baik saja'.
' Ini yang aku khawatirkan jika aku tidak mengawasimu. Kamu akan bekerja tanpa mempedulikan kesehatanmu. Aku sudah bilangkan jangan terlalu memaksakan dirimu, tapi kenapa kamu tidak mendengarkanku!'.
' Maafkan aku, aku hanya ingin yang terbaik, aku harus bertanggung jawabkan disetiap pekerjaan yang orang percayakan padaku. Kamu juga mengajarkanku seperti itukan'.
Hiro tidak bisa mengatakan apappun lagi kalau sudah mengenai tanggung jawab dan totalitas. Tapi bukan berarti seperti ini yang diinginkannya. Apa gunanya dia selama ini ada disisi Neira. Apa gunanya uang yang dihasilkannya kalau kekasihnya saja masih bekerja terlau keras. Tapi dia tidak bisa mengatakan apapun karena itu akan menyakiti harga dirinya.
' Sayang.... ini terakhir kalinya kamu seperti ini, suatu saat nanti aku tidak akan mengizinkanmu lagi'.
' Apa maksudnya?'.
' Suatu saat nanti, tunggulah saat itu. Sekarang istirahatlah dan minumlah vitamin. Aku menyayangimu'.
' Aku juga menyayangimu, istirahatlah juga, selamat malam'.
' Selamat malam'.
Ucapan Hiro yang terakhir membuatku bingung. Suatu saat nanti, apa maksudnya itu. Haaa....sudahlah aku harus istirahat karena besok aku harus bangun pagi-pagi sekali.
----
' Kakak, baik-baik saja?'. Tanya Nezu khawatir. Aku mengangguk. ' Tidak tidak kakak tidak baik-baik saja, hari ini kakak jangan kerja, istirahatlah dirumah'.
__ADS_1
' Kakak hari ini ada kerjaan penting'.
' Tapi kakak tidak sehat'.
' Kenapa kalian berdua cerewet sekali'.
' Berdua?'.
' Hiro, dia juga memarahi kakak semalan'.
' Baguslah memang seharusnya seperti itu'.
' Kenapa kamu malah mendukungnya, siapa sebenarnya keluargamu'.
' Kalian berdua keluargaku'.
' Ne..zu'.
' Pokoknya kakak jangan pergi'.
' Kali ini saja, kakak tidak bisa untuk tidak pergi. Kakak akan menjaga diri disana dan tidak akan macam-macam, kakak akan istirahat'.
Nezu memijat dahinya, kali ini dia tidak akan menang melawan kakaknya.
' Baiklah kak, pergilah, tapi ingat jangan terlalu memaksakan diri'.
' Tentu, terima kasih adikku sayang', ujarku memeluknya. ' Kakak pergi ya'.
' Berhati-hatilah kak'.
Setelah pamit aku langsung berlari menuju halte bus, tidak lama kemudian bus pun datang. Aku memilih duduk dibelakang dekat dengan jendela. Aku memakaikan headset ke telingku sambil memejamkan mataku.
Setengah jam kemudian sampailah aku ditempat kerja. Aku buru-buru mengganti pakaianku dengan pakaian yang sudah disiapkan untuk hari ini.
Semua orang wara wiri mempersiapkan acara hari ini. Dekorasi serta makanan sudah dipersipkan dengan baik.
Sekarang barulah aku merasakan tubuhku semakin lemah. Tubuhku terasa panas, aku mulai keringat dingin, nafasku berat hingga berdiri saja aku merasa tidak sanggup.
' Neira kamu tidak apa-apa?', tanya Ren yang khawatir. Aku hanya tersenyum menanggapi pertanyaannya. ' Neira'.
' Aku baik-baik saja bos'. Kepalaku pusing dan aku merasa disekitarku seperti bergoyang . Sedetik kemudian tubuhku ambruk dan terjatuh ke lantai.
Semua orang panik melihatku yang mendadak pingsan. Ren yang memang sedari tadi berada didekatku dengan sigap menggendongku dan membawaku pergi ke rumah sakit.
' Kevin, sementara ini kamu yang bertanggung jawab sampai selesai'. pesannya dan Kevin pun mengangguk.
Sesaat kemudian Ren melajukan mobilnya. Ren sangat panik melihatku yang mendadak pingsan. Sesekali dia melirik kearah spion melihat kondisiku.
Tak lama kemudian sampailah kami di rumah sakit. Aku dibawa ke ruang perawatan dan diperiksa oleh salah satu dokter.
' Bagaimana dokter?'. Tanyanya sesaat seorang dokter keluar dari ruangan itu.
' Dia demam dan juga kelelahan, perlu istirahat, kamu tidak perlu khawatir, kami sudah memberikannya obat'. jawabnya yang membuat Ren sedikit lega.
' Terima kasih dokter'. ujar Ren.
' Saya permisi'.
' Silahkan dokter'.
Ren pun memasuki ruangan tempat Neira dirawat. Dilihatnya gadis itu masih memejamkan matanya. Lama ia memandangi wajahnya seraya mengelus rambutnya lembut.
' Neira....seharusnya aku yang ada disisimu, kenapa bukan aku yang bertemu denganmu duluan'.
Ren menatap Neira dalam. Tanpa berpikir panjang Ren menundukkan wajahnya mendekati wajah Neira. Ia hendak mencium bibirnya, namun belum sampai ia melakukannya tiba-tiba seseorang datang kedalam ruangan itu.
' Apa yang kamu lakukan'. Spontan Ren menaikkan kepalanya kembali melihat asal suara itu.
__ADS_1
' Menurutmu apa'. Tantangnya. Ren dan Hiro saling memandang seperti hendak membunuh saja.
' Jangan mengharapkan seseorang yang tidak bisa kamu miliki'.
' Oh ya, hubungan kalian bisa berakhir kapan saja. Kenapa kamu merasa percaya diri sekali'.
' Hal itu tidak akan pernah terjadi'.
' Kamu yakin? orang sepertimu bisa saja berkata apapun tapi kenyataannya bisa saja berbeda'.
' Apa maksudmu'.
' Bukankah kamu seorang CEO, kamu tahu pasti apa maksudku'.
' Kamu sedang mendikteku?'.
' Sama sekali tidak. Aku hanya memperingatkanmu kalau Neira bisa saja berbalik arah pada orang lain'.
' Aku tidak sebodoh itu, sesuatu yang sudah jadi milikku akan tetap jadi milikku. Jadi bermimpilah untuk mendapatkan wanitaku'.
' Konsistenlah dengan apa yang kamu katakan, jika tidak, aku tidak akan melepaskannya kali ini', ujarnya meninggalkan Hiro bersama dengan Neira.
Hiro tidak habis pikir mengapa Ren mengatakan itu padanya persis seperti apa yang dikatakan Nezu waktu itu. Apa orang sepertinya akan berakhir seperti yang mereka katakan. Apa yang disukainya tidak akan pernah bersamanya. Pikiran itu tiba-tiba terbersit dipikirannya. Hiro segera tersadar dan membuang jauh-jauh pikiran itu.
' Hiro'. Neira memanggil namanya sesaat ia sadar dan membuka matanya.
' Kamu sudah siuman sayang'. tanyanya sembari membantu Neira duduk.
' Kenapa aku ada disini'.
' Kamu pingsan tadi'.
' Kamu yang membawaku kesini'.
' Bukan, bosmu yang membawamu kesini. Sekarang dia sudah pergi'.
' Benarkah. Lalu bagaimana kamu bisa tahu aku ada disini'.
' Tadi aku menghubungi ponselmu dan temanmu yang mengangkatnya lalu memberitahuku kalau kamu pingsan dan dibawa kesini'.
' Hiro maafkan aku tidak bisa menjaga diriku sendiri'.
' Aku yang lalai mengawasimu'.
Hiro terdiam sesaat dan menundukkan kepalanya.
Aku memegang tangannya dan dia pun tersenyum melihatku.
' Katakan padaku Hiro, apa yang terjadi padamu? kenapa wajahmu terlihat sedih'.
' Tidak apa-apa sayangku, aku hanya khawatir padamu'.
' Jangan bohong, apa yang sudah dikatakan bosku padamu'.
Hiro terdiam.
' Hiro'. Hiro masih saja diam. Neira pun memeluknya dan mengusap punggungnya lembut. ' Kamu tidak akan meninggalkankukan? aku takut dengan diammu ini'.
Hiro memeluknya lebih erat.
' Sayang, aku tidak akan meninggalkanmu. Apapun yang terjadi'.
Aku tahu, kamu berbohong Hiro
Sebenarnya aku mendengar apa yang kalian bicarakan tadi. Sesaat Ren ingin menciumku sebenarnya aku ingin membuka mataku tapi tiba-tiba aku mendengar suaramu.
Aku tahu didalam hatimu kini sedang memikirkan apa yang diucapkannya tadi. Aku tahu kamu memikirkannya. Apakah yang dikatakannya benar? apa ada sesuatu yang terjadi padamu sehingga kamu diam seperti ini?.
__ADS_1
Kumohon bila ada sesuatu terjadi padamu, katakan padaku. Aku juga ingin sepertimu selalu ada untukku disaat apapun. Tolong jangan memendamnya sendiri, aku ada disini untukmu, kita akan menyelesaikannya bersama apapun yang terjadi.