Cherry Blossom Love

Cherry Blossom Love
MENJELASKAN


__ADS_3

' Welcome baby', ujar Emi menyambut kedatanganku. ' Aku terpaksa kesini gara-gara teleponmu itu, kamu pikir aku tidak punya kerjaan mengurusi percintaan kalian berdua'.


' Hiro belum pulang?', tanyaku tanpa memperdulikan ocehannya itu.


' Ya belumlah, Ryu juga belum pulang', jawabnya.


' Benarkah?'. Aku tertunduk lemas.


' Siapa pria itu'.


' Akukan sudah bilang dia bosku'.


' Bos seperti apa?'.


' Bos seperti apa?? aku tidak mengerti'.


' Aku bukan menuduhmu macam-macam, tapi sepertinya kakakku tidak senang'.


' Aku seperti kepergok saja'.


' Seperti kepergok selingkuh?'. Aku mengangguk. ' Kemarin Takuya, sekarang bos mu, percintaan kakakku tidak mudah'.


' Kamu bicara apa? malah membuat keadaan semakin panas. Lagipula kami hanya karyawan dan bos, tidak ada yang lain. Aku kesini juga untuk menjelaskan semuanya'.


' Aku tidak meragukanmu Nei, tapi aku meragukan bos mu itu , aku merasa dia tidak menganggapmu hanya seorang karyawan saja'.


' Maksudnya?'.


' Kamu ini terlalu lama menyadarinya, bosmu itu pasti ada rasa padamu, tidak mungkin dia menatap kakakku seolah-olah ingin membunuh'.


' Apa akan terjadi perang dunia'.


' Tergantung'.


' Emi, jangan menakutiku'.


' Aku tidak menakutimu. Aku merasa ini sangat berbeda ceritanya dengan Takuya, bos mu ini sepertinya punya aura yang kuat'.


' Sejak kapan kamu bisa melihat aura seseorang'.


Ketawa Emi pun pecah.


' Aku terdengar mengada-ada ya'.


' Dasar, bukannya membantu malah makin merunyamkan masalah'.


' Maaf, soalnya untuk pertama kalinya aku melihat kalian seperti ini. Aku jadi tergoda untuk mengerjaimu'.


' Teman yang baik sekali'.


' Terima kasih'.


Kami pun terdiam sejenak. Pikiranku sudah melayang kemana-kemana.


' Aku benar-benar khawatir', keluhku seraya menyenderkan kepalaku ke bahunya.


' Tenanglah, aku mengenal kakakku, dia tidak akan gegabah'.


Pikiranku mulai mencari-cari dimana letak kesalahan ini. Aku hanya menemani Ren, itupun karena dia yang memintaku, aku hanya menuruti karena aku adalah karyawannya. Apa masalah ini sesederhana yang kupikirkan? kenapa respon orang lain berbeda dari bayanganku.


' Apa yang kamu pikirkan?', tanyanya membuyarkan lamunanku.


' Emi'.


' Hmm'.


' Kalau semuanya dibalik, hmmm....jika itu Hiro yang bersama dengan seorang wanita, mungkin seperti itu rasanya ya'.


' Kenapa pikiranmu jauh sekali'.


' Hanya membandingkan, kalau aku ada diposisi Hiro'.


' Lalu apa yang akan kamu lakukan kalau ini ada diposisimu?'.

__ADS_1


' Kamu tahukan aku ini mudah sekali menangis, paling aku hanya bisa menangis'.


' Setelah itu lakukan ini. menghajarnya, menjambaknya, lakukan apapun untuk membalasnya, kamu mengerti!'.


' Apa aku harus melakukannya?'. Emi mengangguk. ' Apa Hiro akan menghajar bosku juga???'.


' Apa??'. Emi mulai bingung dengan sarannya sendiri. ' Kalau itu.... mungkin saja kalau kakakku merasa itu perlu'.


Aku jadi bingung sendiri dengan masalah ini. Kenapa semua terasa semakin rumit.


' Apa kalian sedang bermain drama'. Kami langsung bangkit begitu mendengar suara yang sudah sangat kami kenal itu. ' Neira ikut aku', perintahnya tanpa basa basi. Aku pun langsung mengikutinya dari belakang.


' Kakak jangan sakiti Neira', celetuk Emi.


' Memangnya kakakmu ini sejahat itu', komplainnya.


' Cuma bilang doang kok. Pokoknya kalau terjadi apa-apa pada kakak iparku, aku tidak akan memaafkan kakak', teriaknya diiringi bantingan pintu. ' Ryu, kakakku sudah gila'.


' Emi'.


' Apa yang akan terjadi disana ya'.


' Tenanglah, kita tunggu dan lihat apa yang terjadi, percaya saja pada Hiro'. Emi pun mengangguk pasrah.


Sementara didalam sana Neira seperti menghadapi sidang pertamanya. Bahkan dia tidak berani menatap Hiro yang ada dihadapannya.


Hiro membuka jasnya dan melonggarkan sedikit dasi yang dipakainya. Lalu ditatapnya Neira yang masih saja menunduk.


' Kamu takut padaku?'. Aku mengangguk. ' Kenapa? apa kamu sudah berbuat salah?'. Aku mengangguk lagi. ' Bicaralah Nei kalau kamu hanya mengangguk, aku tidak mengerti'.


' Aku sudah membuatmu marahkan?'.


' Kenapa kamu berfikir kalau aku marah padamu?'.


' Karena waktu itu, waktu aku pergi dengan bosku, kamu terlihat tidak senang saat kita bertemu'.


' Lalu?'.


' Hiro, aku takut kamu salah paham padaku, aku dan bosku tidak ada hubungan apa-apa, percayalah, aku sama sekali tidak selingkuh'.


' Aku tidak mengatakan kalau kamu selingkuh sayang. Kenapa pikiranmu terlalu jauh?'.


' Entahlah, aku takut kamu berfikiran seperti itu, aku takut kamu salah paham'.


' Apa aku boleh jujur padamu'. Aku mengangguk. ' Neira, sebenarnya ini bukan pertama kalinya aku melihat kalian berdua. Aku minta maaf sebelumnya, tapi tanpa sepengetahuanmu aku sering datang ke tempatmu, hanya sekedar untuk melihatmu. Tidak sekali dua kali aku melihatnya, tatapan matanya ketika melihatmu itu berbeda. Caramu berbicara padanya, aku juga tidak suka ketika kamu tersenyum padanya. Kamu boleh mengatakan kalau aku ini egois, tapi inilah aku ketika aku menyukai seseorang aku akan egois'.


' Kalau begitu aku berhenti kerja saja'.


' Tidak, aku bukan ingin mengekangmu. Tetaplah bekerja, lakukan apa yang ingin kamu lakukan. Ini juga hidupmu, aku juga harus merubah sifatku ini. Aku terlalu cemburu padanya, dia bahkan bisa melihatmu setiap hari, tapi aku.....'. Hiro menghela nafasnya dan tersenyum kecil. ' Aku ini seperti anak kecil saja'.


' Tidak, aku senang mendengarnya'.


' Kamu senang? senang melihatku menderita?'.


' Bukan'. Hiro tertawa melihat responku.


' Aku hanya bercanda'.


Kami terdiam sesaat.


' Hiro, kamu tahu, aku takut sekali melihatmu waktu itu. Aku membayangkan kalau kamu akan meninggalkanku, bagaimana nanti kalau itu terjadi, aku benar-benar takut'.


' Neira'. Hiro pun memelukku. ' Neira maafkan aku, aku tidak akan membuatmu seperti ini lagi'.


' Bagaimana kalau ini terjadi padaku, apa aku bisa tenang'.


' Apa maksudmu?'.


' Kalau ada wanita lain yang mendekatimu'.


Ketawa Hiro pun pecah.


' Aku juga ingin tahu bagaimana reaksimu '.

__ADS_1


' Aku.... apa boleh aku memukulnya, menyerangnya, menarik rambutnya, rasanya aku ingin melakukannya'.


' Neira siapa yang mengajarimu seperti itu'.


' Emi'.


' Cih....anak itu, kenapa mengajari Neiraku kekerasan'.


' Apa aku boleh?', tanyaku antusias.


' Sayang...tidak akan terjadi seperti itu, jangan sia-siakan tenagamu hanya untuk melakukan itu'.


' Kalau itu terjadi aku pasti melakukannya'.


Hiro tercengang dengan ucapannya yang penuh semangat, entah apa yang sudah dilakukan Emi pada kekasihnya ini.


' Baiklah sayang.....lakukanlah', ujarnya pasrah.


Tanpa mereka sadari sedari tadi ada seseorang yang sedang menguping pembicaraan mereka dari balik pintu.


' Emi, apa yang kamu lakukan, kesinilah'.


' Sepertinya mereka baik-baik saja'.


' Apa yang kamu dengar'.


' Mereka tertawa'.


' Lalu?'.


' Tidak ada, sebenarnya aku tidak mendengar apa-apa, hanya suara tertawa mereka saja'.


' Berarti mereka baik-baik saja'.


' Iya sih, padahal aku sangat khawatir. Lagian kenapa mereka tidak menikah saja, bikin orang panik saja'.


' Katakan pada kakakmu'.


' Sudah'.


' Lalu?'.


' Tidak tahulah, kakakku itu tidak bisa ditebak apa maunya, apa yang akan dilakukannya, aku tahu sekali dia seperti apa. Bisa-bisa nih besok kita sudah dapat kabar kalau mereka sudah menikah'.


' Baguslah kalau begitu'.


' Bagus apanya, aku tidak ingin mereka menikah tanpa campur tanganku. Aku ingin melihat Neira memakai pakaian pengantin, aku ingin membuatnya secantik mungkin'.


' Nona sangat beruntung mempunyai teman seperti istriku ini', ujarnya mengelus rambut Emi.


' Kamu sedang menggodaku ya'.


' Tentu saja sayang, apa kamu tergoda'.


' Tidak'.


' Benarkah'. Ryu mendekatkan wajahnya ke wajah Emi. Emi jadi salah tingkah dengan kelakuan suaminya ini. Padahal ini bukan pertama kali baginya, tapi masih saja dia kelagapan dengan tingkah suaminya ini.


' Kalian kalau mau berbuat mesum jangan disini', celetuk Hiro yang membuat mereka jadi salah tingkah. Waktu yang tidak tepat untuk muncul ketika mereka sedang mesra-mesranya.


' Memangnya kenapa', protes Emi. ' Kakak tuh bawa Neira ke kamar, kalian berdua yang sedanga apa didalam sana. Kalau mau berbicara memangnya mesti ya disitu, tidak ada tempat lain', celetuknya.


' Berisik'.


Emi tertawa.


' Kalian mau kemana?'


' Kakak mau mengantar Neira pulang. Jadi kalian bisa melanjutkan kegiatan kalian yang tertunda tadi'.


' Kegiatan? Ih dasar kakak!!!', protesnya kesal yang disertai gelak tawa mereka. ' Apa lihat-lihat', ujarnya pada Ryu yang menatapnya.


' Bukankah kakakmu menyuruh kita melanjutkannya'.

__ADS_1


' Ryu!!!!!!!'.


__ADS_2