Cherry Blossom Love

Cherry Blossom Love
PERNIKAHAN (2)


__ADS_3

Aku dan Emi berlari dengan kencang saat mendengar Hiro sedang memukul seseorang dan orang yang dipukulnya itu tidak lain adalah Riku. Aku tidak mengerti mengapa Hiro bisa lepas kontrol seperti itu padahal dia sudah berjanji sebelumnya untuk tidak melakukan apapun. Entah apa yang sudah dikatakan Riku kepadanya hingga membuatnya seperti itu.


Dengan sigap aku memeluk Hiro saat dia ingin memukul Riku lagi, sedangkan Emi menghampiri Riku yang sudah babak belur. Tidak ada yang berani menghentikannya kalau sudah seperti ini. Hiro mengepalkan tangannya menahan seluruh emosinya.


' Hiro, tenanglah'. Nafasnya turun naik menahan emosinya.


' Kenapa kalian seperti ini', teriak Emi melihat kelakuan dua orang yang disayanginya. ' Riku, apa yang sudah kamu katakan pada kakakku, dia bukan orang yang mudah memukul seseorang'. Riku masih diam mendengar pertanyaannya. ' Kakak'. Bola matanya mulai berkaca.


' Riku, hanya kamu yang bisa menjelaskan ini', ujarku. ' Jangan diam saja, katakan!!.


' Aku tidak bisa menikahimu Echan'. Betapa terkejutnya aku dan Emi mendengar perkataan Riku. Sekarang aku mengerti mengapa Hiro memukulnya seperti tadi. Bagaimana bisa ia diam melihat adiknya disakiti.


Emi mulai lunglai tidak percaya apa yang sudah didengarnya ini. Aku menghampirinya yang begitu shock dengan ucapannya.


' Riku, kamu tahu ini tidak lucu', ujarku marah.


' Riku Kenapa? Kenapa kamu lakukan ini padaku'. Emi mencoba tenang.


' Echan maafkan aku, aku sudah mencobanya, aku sudah berkali-kali memberikan pengertian padanya, tapi dia tidak mau mengerti dan terus mengancamku. Terakhir kali dia mencoba bunuh diri, setelah itu aku tidak tahu apa yang akan dilakukannya lagi. Aku..... tidak bisa membahayakanmu, dia bisa melakukan apa saja, aku tidak bisa bersamamu lagi Echan'.


' Lalu setelah kamu meninggalkanku, apa kamu akan bersamanya'.


' Tidak, aku tidak akan bersamanya. Echan jika aku melanjutkan pernikahan ini aku tidak tahu bahaya apa yang akan terjadi. Aku akan pergi dari sini, jauh, hingga dia tidak tahu aku ada dimana'.


' Kalau begitu bawa aku'.


' Tidak Echan, cobalah untuk mengerti'.


' Apa ini yang kamu inginkan, pernikahan kita akan batal begitu saja, aku sudah menunggu hari itu, tinggal sebentar lagi, tidak bisakah kamu bertahan, kita akan menghadapinya. Kita pasti bisa menghadapinya , aku mohon jangan seperti ini, jangan tinggalkan aku'.


' Aku tidak bisa, aku minta maaf'.


Tiba-tiba Ryu datang menghampirinya lalu memukulnya, sontak kami yang ada disitu ikut terkejut. Entah sejak kapan Ryu muncul disini.


' Apa kamu ini seorang pria, apa ini yang bisa kamu lakukan, lalu untuk apa kamu kembali kesini, apa untuk menyakitinya. Kalau kamu ingin pergi, pergilah dan jangan coba-coba untuk kembali. Bukankah aku pernah memperingatkanmu dulu sewaktu di Irlandia dan sekarang aku peringatkan lagi dan ingatlah jangan pernah muncul lagi dihadapan Emi, kamu mengerti!!!'.


Dengan tertatih Riku beranjak pergi dari hadapan kami semua. Wajahnya terlihat sangat sedih harus berpisah seperti ini dengan orang yang sangat berharga untuknya.


' Tidak....Riku.... Riku jangan pergi, kumohon'. Emi terus memohon padanya untuk tidak pergi. Tapi Riku tetap berjalan tanpa melihat kebelakang lagi.


Aku tidak tega melihatnya seperti ini. Tapi hal yang paling membuatku terkejut adalah sikap Ryu. Baru pertama kali aku mendengar ia memanggil Emi tanpa kata-kata nona.


Emi masih terisak-isak memanggil nama Riku. Dia begitu histeris memanggil namanya.


' Emi...emi lihat kakak, jangan seperti ini, jangan menangis lagi. Lupakan Riku, ini yang terbaik untukmu'.


' Kakak'. Emi memeluk Hiro erat. Ini pasti berat untuknya dan pasti ini juga berat untuk Riku. Tidak mudah baginya memutuskan hubungannya dengan Emi.


Aku mencoba memahami keputusan Riku, seperti dulu yang dilakukan Takuya untukku. Walaupun itu menyakitkan, ini adalah bentuk cintanya pada Emi. Riku merelakan semuanya agar Hiromi tidak menyakitinya. Ini memang berat, tapi inilah jalan yang terbaik yang bisa diambilnya.


Berulang kali aku menghapus air matanya, dalam tidurnya dia masih saja mengeluarkan air matanya. Aku mengelus rambutnya dengan lembut. Dia sahabat yang ku punya, tidak pernah kulihat dia seperti ini, Emi ku yang ceria berubah rapuh seperti ini. Semoga kelak akan ada seseorang yang akan selalu bersamamu, aku akan selalu berdoa untukmu.


' Emi sudah tenang', tanya Hiro sesaat melihatku keluar dari kamar Emi.


' Iya', jawabku singkat. ' Hiro apa pernikahan ini akan batal'.


' Tentu saja batal, aku akan mengurus semuanya'.


' Bisakah aku menggantikannya'. Aku dan Hiro terdiam dengan ucapan Ryu. Aku merasa Ryu hari ini sangat aneh, semua yang diucapkannya selalu membuat kami terheran-heran. ' Aku akan menikahi Emi, jika kamu mengizinkannya'.


' Ryu, apa kamu sadar dengan ucapanmu ini, ini bukan waktunya bercanda', ujarku heran melihat sikap Ryu seperti ini.


' Aku serius'. Ryu memandang Hiro dengan tajam. ' Hiro, kamu mengenalku dengan baikkan, aku melakukan ini bukan karena kasihan padanya tapi karena aku menginginkannya'.


' Sebesar apa keinginanmu menikahi adikku'.


' Kamu tidak tahu sebesar apa aku menunggunya sampai saat ini. Aku menahannya karena aku tahu siapa yang ada dihatinya'.


Hiro menghela nafasnya, hari ini benar-benar berat untuknya. ' Baiklah Ryu, kamu hanya punya waktu 5 hari dan semua itu tergantung pada usahamu meyakinkan Emi'.


' Tentu, aku tidak akan menyia-nyiakannya'.


Tuhan.... skenario apa ini, ini pertama kalinya aku melihat Ryu seserius ini, sejak kapan Ryu menyukai Emi. Aku tidak pernah menyadarinya sedikitpun, aku mengira dia memperlakukan Emi sama sepertiku, tapi ternyata.... dia menganggapnya berbeda.


Kali ini sebagai adikmu, aku akan membantumu untuk meyakinkan Emi. Bagaimanapun, Ryu orang yang tepat untuk Emi saat ini.


----


' Kalian pergilah!!!', teriak Emi. ' Aku tidak ingin mendengarnya lagi, berapa kali pun kalian mencoba, aku tidak akan menikah dengannya, batalkan saja, itu pilihan terbaik'.


' Emi, kamu mengenal Ryu kan'.


' Nei, jangan coba-coba meyakinkanku lagi, aku tidak mau dengar. Apa kalian sedang menertawaiku, ha, aku tidak perlu dikasihani'.


' Apa kamu orang yang perlu dikasihani', ujar Ryu yang membuat kami terdiam.

__ADS_1


' Kenapa kamu kesini lagi, aku sudah bilangkan aku tidak ingin melihatmu'.


Ryu menarik tangan Emi. ' Lihat, lihat wajahmu dicermin, apa ini dirimu, kamu terlihat sangat menyedihkan. Apa kamu pikir aku mengasihanimu , tentu saja tidak, aku sama sekali tidak merasa kasihan padamu. Apa kamu akan terus seperti ini, menyakiti dirimu sendiri, tidak apa-apa kalau kamu hanya menyakiti dirimu sendiri, apa kamu tidak sadar sudah menyakiti orang disekitarmu. Sejak kapan kamu sebodoh ini, katakan padaku, sejak kapan!!'.


' Ryu'. Aku mencoba menenangkannya tapi tiba-tiba Hiro menarikku untuk meninggalkan mereka berdua.


' Kamu masih ingatkan aku pernah mengatakan apa?'. Emi terdiam. ' Kalau Riku kembali lagi dan menyakitimu, aku tidak akan tinggal diam. Kamu tidak ingin menikah denganku, kalau begitu aku akan memaksamu'.


' Kenapa kamu melakukan ini padaku'.


Ryu menghela nafasnya. ' Emi lihat aku, apa aku terlihat mempermainkanmu'.


' Aku.....bagiku pernikahan ini hanya sekali, bukan main-main, aku tidak ingin kamu merasa terbebani atau merasa mengasihaniku'.


' Apa aku kelihatan seperti bajingan dimatamu?'.


' Ryu'.


' Dengar, kamu dan nona Neira adalah orang yang sangat penting untukku, tapi yang membedakannya adalah aku menganggap nona sebagai adik dan keluargaku, sedangkan kamu, aku menganggapmu sebagai wanita, apa sampai sini kamu mengerti'.


' Tapi aku....'. Emi terdiam mencoba merenung. ' Ryu beri aku waktu'.


' Baiklah, aku akan memberimu waktu, setidaknya kamu sudah mulai berpikiran jernih saat ini'.


' Ryu'.


' Ada apa?'.


' Aku minta maaf padamu karena sudah menyakiti hatimu dengan perkataanku yang kasar'.


Ryu memeluk Emi lembut. ' Aku tidak apa-apa. Sekarang istirahatlah', ujar Ryu lalu meninggalkan Emi dikamarnya seorang diri.


Begitu Ryu keluar, aku dan Hiro langsung menanyakan keadaan Emi.


' Dia perlu waktu, aku akan menunggunya'.


' Ryu, tolong jangan menyerah', ujarku memberi semangat.


' Nona kamu sangat mengenalkukan'.


' Ryu terima kasih'.


' Untuk apa? Aku tidak melakukannya untukmu'.


' cihh....aku menyesal mengatakan itu padamu '. Mereka berdua pun tertawa.


' Aku ingin mengatakan sesuatu, setelah aku memikirkannya dengan baik. Tapi sebelumnya aku minta maaf karena sudah menyusahkan kalian. Kalian tahukan aku masih berusaha untuk bangkit dari masalah ini, lalu tiba-tiba kalian mengatakan hal itu padaku, kalian tahu bagaimana perasaanku, aku merasa dipermainkan, aku merasa apa aku ini lelucon untuk kalian, aku sangat marah. Tapi aku sadar, aku sangat mengenal kalian, kalian bukanlah orang yang seperti itu, yang kalian inginkan hanyalah membuatku bahagia'.


' Emi, kakak tidak akan memaksamu'.


' Tidak kak, aku tidak merasa terpaksa, aku akan menikah dengan Ryu'.


' Ini keputusan besar, apa kamu yakin'.


' Aku sangat yakin kak'.


' Baiklah, kalau itu memang keputusanmu, kakak akan mengatur ulang persiapan pernikahanmu'.


' Terima kasih dan satu hal kak, kelak jangan menyakiti Neira'.


' Apa yang sedang kamu katakan anak bodoh'.


' Hiro'. Aku memukulnya pelan. Emi tersenyum melihat tingkah kami.


' Ryu, kamu tahukan bagaimana sifatku, aku juga pernah bilangkan pernikahan ini hanya sekali, jadi jangan coba-coba meninggalkanku atau aku akan menghajarmu'.


' Aku akan berusaha sebaik mungkin membahagiakanmu '.


' Kakak, pernikahan ini akan dilanjutkan '.


' Baiklah, kakak senang kalau kamu bahagia'.


' Lalu kakak kapan menikahi Neira?'.


' Setelah kalian'.


' Dasar, itu bukan jawaban '. Kami pun tertawa.


Akhirnya hari itu pun tiba. Emi terlihat sangat cantik dengan gaun yang dikenakannya. Sederhana tapi sangat menawan.


Dia tersenyum melihatku sesaat aku memasuki ruangannya.


' Kamu cantik sekali'.


' Terima kasih dan tolong peluk aku'. Aku menghampirinya lalu memeluknya.

__ADS_1


' Emi, berbahagialah'.


' Kenapa menangis'.


' Aku menangis karena aku bahagia'.


' Neira, terima kasih'.


' Nona sudah waktunya'.


' Aku akan menemui Hiro', ujarku meninggalkannya.


Aku kembali ke dalam ruangan utama dan bergabung dengan tamu-tamu yang lain.


' Apa kamu menangis?'. Aku tersenyum mendengar pertanyaan Hiro.


' Aku bahagia sampai-sampai menangis.', ujarku. ' Aku senang akhirnya Emi dan Ryu bersama, aku berdoa agar tidak terjadi hal-hal seperti ini lagi'.


' Kamu benar'.


Acara demi acara terlaksana dengan lancar. Kedua mempelai tak henti-hentinya menebar senyum kebahagiaan. Acara yang paling ditunggu-tunggu pun dimulai, semua orang maju ke depan dengan antusiasnya termasuk aku sendiri.


Semua orang mulai menghitung saat Emi membalikkan badannya dan mengangkat bunga itu ke atas. Tapi yang terjadi Emi tidak melemparkannya. Emi mendatangi MC dan meminta microphone yang dipegangnya.


' Mohon maaf kali ini tidak ada acara melempar bunga karena aku akan memberikan ini pada seseorang'.


Emi pun turun dari panggung lalu berjalan pelan. Aku mulai bingung karena arah yang ditujunya adalah tempatku berdiri. Dia memberikan bunga itu padaku, ragu-ragu aku mengambilnya karena aku merasa malu dengan tatapan orang-orang yang ada disekitarku.


' Kak Hiro'.


Aduh sial kenapa dia memanggil nama kakaknya.


' Jangan menyia-nyiakan calon kakak iparku ini, cepatlah menikahinya'.


Semua orang pun bersorak dan bertepuk tangan. Aku menutupi wajahku dengan bunga yang ku pegang ini. Rasanya malu didepan orang banyak seperti ini. Hiro hanya tersenyum mendengar ucapan adiknya ini. Emi memang paling jago kalau urusan menggoda kakaknya.


Acara pun usai, para tamu mulai meninggalkan tempat. Hanya ada aku, Hiro dan juga beberapa staff yang ada disini.


' Apa yang sedang kamu pikirkan'.


' Tidak ada'.


' Apa kamu tidak ingin mendengar jawabanku dengan pertanyaan Emi tadi?'.


' Tentu saja, tapi aku takut akan membebanimu'.


Tiba-tiba Ryu naik ke atas panggung lalu mengambil mikcrophone yang ada diatas meja.


' Tes...tes...'. Aku kaget melihatnya diatas panggung itu. ' Ehmmmm.... nona Neira, apa kamu ingin mendengarkan jawabanku'.


' Hiro turunlah'.


' Tidak, aku tidak akan turun'.


Tuhan....CEO satu ini benar-benar sudah gila.


' Neira.....menikahlah denganku'


' Apa??'.


' Apa aku kurang jelas mengatakannya. NEIRA MENIKAHLAH DENGANKU'.


' Hiro, diamlah' , Aku naik keatas panggung dan menutup mulutnya. Sesaat kami saling memandang, jantungku berdegup kencang. Tatapan matanya membuatku terpana. ' Hiro.... aku....'. Tiba-tiba Hiro mencium bibirku.


' Apa kamu mencoba menggodaku dengan wajahmu yang memerah itu'.


' Tidak, aku tidak....'. Sekali lagi ia menciumku, menciumku lebih dalam, hingga kami kehabisan nafas. Bahkan kami juga lupa kalau masih ada orang diruangan ini.


' Jawabanmu'.


' I..iya aku menerimanya'.


Sontak aku kaget mendengar orang-orang bertepuk tangan. Aku tersadar bahwa kami tidak sendiri, berarti mereka melihat apa yang kami lakukan tadi. Aku benar-benar malu, dimana aku akan menyembunyikan wajahku ini.


' Nei, apa yang kamu lakukan, kenapa kamu menarik jasku'


' Ini semua gara-gara kamu, aku malu', ujarku menyembunyikan wajahku dibalik jasnya.


Hiro tertawa geli melihat tingkahku ini.


' Kenapa harus malu, biarkan saja'.


' Itukan katamu'.


' Sudah-sudah, ayo kita pergi'.

__ADS_1


Hiro membawaku pergi dari tempat itu. Aku malu sekaligus bahagia, double bahagia. Sahabatku dan juga orang yang sudah kuanggap keluarga sendiri bisa bersatu, bahagia selamanya. Kelak aku pun akan melakukan hal yang sama, bahagia bersama Hiro dan juga Nezu.


__ADS_2