Cherry Blossom Love

Cherry Blossom Love
DEMI KITA (2)


__ADS_3

' Kakak rapi sekali, tidak biasanya seperti ini,' tanyanya heran melihatku berpakaian lebih formal.


Memangnya selama ini kakakmu ini terlihat kucel ya


' Kakak resign dari toko, sekarang kakak kerja di perusahaan'.


' Perusahaan apa?'


' Perusahaan Nakayama, kakak jadi asistennya Emi'.


' Emi, perusahaan Nakayama'. Aku mengangguk.


' Kakakkan sudah janji bakalan kerja lebih giat dan menghasilkan banyak uang'.


' Tapi kakak harus jaga kesehatan juga'. Aku mengangguk dan tersenyum padanya. ' Ayo kita pergi kak, nanti terlambat'.


' Iya iya ayo'.


Ini adalah hari pertamaku bekerja di perusahaan Nakayama, salah satu perusahaan terbesar di negara ini. Walaupun aku bekerja di sini karena Emi dan segala insiden yang dilakukannya, aku dengan terpaksa menyetujuinya. Terlepas dari kata terpaksa, asal aku menghasilkan banyak uang untuk masa depan Nezu, aku mengesampingkan gengsiku. Kalau dipikir-pikir entah sejak kapan aku menjadi mata duitan seperti ini.


' Tunggu', teriakku saat melihat pintu lift hampir tertutup. Pintu lift pun terbuka kembali dan betapa terkejutnya aku melihat Hiro ada didalamnya. ' Ah aku....'.


' Masuklah'.


' Ba..baik'.


Kalau aku tahu dia ada di dalamnya, aku tidak akan buru-buru berlari. Aku tidak tahu harus bagaimana berhadapan dengannya, setiap melihatnya aku benar-benar malu teringat dengan kejadian waktu itu.


' Kamu pakai parfum apa?', tanyanya.


Apa!!!, kenapa dia malah tanya parfumku.


' Tidak ada, saya tidak pakai parfum sama sekali'. Jawabku


' Benarkah'. Aku mengangguk pelan. ' Kenapa aku merasa.....'.


' Merasa apa?'.


' Kenapa kamu ingin tahu'.


Lihatlah betapa menyebalkannya dia, rasanya aku ingin memukulnya. ' Maaf'. Ujarku. Diam-diam aku meliriknya dan dia terlihat tersenyum. Kenapa aku merasa dia sedang mengerjaiku tadi dan senyuman itu seperti senyum kemenangan.


Aku benar-benar kesal padanya, sudah berapa kali dia selalu begitu, setiap pertemuan kami malah. Aku seperti terintimidasi dengan setiap kata-katanya, tidak salah kalau Emi tidak bisa berbuat apa-apa padanya, karena aku juga merasa seperti itu.


' Apa kamu tidak keluar nona Aoki'. Aku langsung tersadar saat pintu lift terbuka dilantai yang aku tuju. ' Atau kamu ingin bersamaku lebih lama di dalam lift ini'.


' Apa!!! tidak...tidak..'. Dengan cepat aku langsung keluar dari lift dan saat pintu lift akan tertutup sekilas aku melihatnya tersenyum lagi. ' Habislah aku, aku pikir aku kuat, tapi ternyata belum apa-apa....rasanya aku ingin menyerah saja'.


' Ada apa denganmu? Masih pagi nih, udah lesu aja', tanya Emi yang melihatku tidak semangat.


' Sepertinya energiku sudah habis terhisap kakakmu'.


' Kakakku? Apa yang sudah kalian lakukan sepagi ini?'.


' Kami tidak melakukan apa-apa'.


' Lalu kenapa tadi kamu menyebut nama kakakku'.


' Karena aku satu lift dengan kakakmu dan dia terus saja mengangguku'. Ujarku kesal. Emi langsung tertawa mendengar ucapanku. ' Apanya yang lucu nona!!!'.

__ADS_1


' Asal kamu tahu ya nona, kakakku bukan tipe yang mudah dekat dengan seorang wanita, tapi melihatnya seperti itu padamu, aku rasa kakakku menyukaimu'.


' Ini lebih menyeramkan dari cerita horor'.


' Hei....apa salahnya dengan kakakku, dia tampan, kaya....'.


' Iya...iya...aku tahu'.


' Dasar. Jatuh cinta beneran baru tahu'.


' Sekarang kita kerja atau tidak'.


' Baiklah...baiklah'.


-----


Bagaimana mungkin seorang CEO seperti dia menyukaiku, Emi hanya mengada-ada, aku rasa dia hanya kurang kerjaan menggangguku. Aku tidak mungkin menganggap dia serius mengatakan kalau kakaknya menyukaiku, ya anggap saja tadi itu.... Emi sedang mengarang cerita, ya....dia sedang mengarang cerita.


' Apa kamu sedang membaca puisi'.


Aku menyemburkan air minum yang aku teguk tadi. Sejak kapan Hiro ada disitu, apa dia mendengar ocehanku tadi, ya Tuhan..... kenapa bisa ketemu dia lagi.


' Neira'.


' Emi'.


' Ayo ikut makan siang'. Aku menggelengkan kepalaku. ' Kenapa?'.


' Masih ada kerjaan yang harus aku selesaikan'.


' Tinggalkan saja'. Aku terus menggelengkan kepalaku.


' Tapi kak'.


' Ayo pergi'.


' Baik'. Dengan terpaksa Emi mengikuti kakaknya yang berjalan didepannya, Emi menoleh ke belakang, aku tersenyum padanya sebagai kode kalau aku tidak apa-apa.


' Nona'.


' Pergilah Ryu, aku tidak apa-apa, aku sudah membeli roti tadi, jadi aku tidak akan kelaparan'.


' Baiklah nona, saya pergi'.


Cihh... roti darimana, aku saja tidak punya uang untuk membelinya, aku harus berhemat, sampai aku mendapatkan gaji nanti, kalau aku menggunakannya bagaimana dengan Nezu nanti. Diet sajalah, tidak ada salahnya. Mungkin saja nanti laparku akan hilang dengan berkas-berkas ini.


Aku membuka lembaran-lembaran berkas yang ada ditanganku, membaca satu demi satu, memahami semua yang ada diberkas itu. ' Lelahnya...'. Tidak terasa waktu begitu cepat berlalu, aku melihat jam tanganku. ' Sudah jam segini kenapa mereka belum pulang, apa ada kegiatan lain ya'.


Lama aku menunggu, tanpa sadar aku tertidur dengan berkas ditanganku.


' Sebenarnya siapa yang direktur saat ini, kamu atau dia, sampai-sampai dia tertidur dengan berkas-berkas ini'.


' Itukan salah kakak, kenapa jadi salahku', ujar Emi tanpa beban. ' Lagipula Neira lebih paham daripada aku'.


' Seharusnya kamu belajar'.


' Iya...iya, bilang saja khawatir dengannya, malah ngomel yang enggak jelas'.


' Siapa yang khawatir'.

__ADS_1


' Kakaklah'.


' Berisik'. Hiro pun pergi meninggalkan Emi dan Neira yang masih tertidur di sofa.


' Masih nyangkal lagi, kalian berdua itu kalau suka ya bilang, jangan gengsi'. Celotehnya kesal melihat tingkah kakak dan juga Neira yang membuatnya greget sendiri


------


' Nona'.


' Ryu'.


' Kakak'.


' Nezu'.


' Naiklah nona'.


' Baiklah'. Aku membuka pintu itu lalu duduk disamping Ryu.


' Neira tunggu', teriak Emi datang menghampiriku dengan setengah berlari. ' Aku ikut'.


' Kak Emi', sahut Nezu dari belakang.


' Ehh adik kecil kamu ada disini'. Yang bersangkutan hanya mengangguk. ' Aku ikut ya'.


' Tapi....'. Aku menunjuk seseorang tepat dibelakangnya. Emi tahu pasti siapa yang aku maksud, dia langsung tertunduk lemas.


' Emi'.


' Kenapa bulu kudukku langsung merinding ya', celotehnya padaku.


' Kami pergi ya'. , ujarku, Emi mengangguk pasrah.


Mobil kami pun melaju meninggalkan Emi dan Hiro disana. Emi begitu kesal dengan kakaknya kali ini.


' Masuk'.


' Iya, bawel deh'.


' Buku yang kakak kasih tadi, kamu pahami baik-baik'.


' Cih...kenapa cuma ada tulisan, enggak ada gambarnya ni, buku macam apa ini, enggak bagus sama sekali'. Hiro yang ada disamping Emi, Cuma geleng-geleng kepala melihat tingkah adik kesayangannya ini.


' Kamu marah sama kakak'.


' Iya'. Singkat padat dan ngeselin jawaban yang Emi lontarkan. ' Neira pasti bersenang-senang dengan Nezu dan Ryu'.


' Apa Ryu sedekat itu'.


Apa Emi tidak salah dengar, sedekat itu, pada siapa, Neirakah. Kalau iya, tidak salah untuk sedikit mengerjai kakaknya.


' Tentu saja mereka dekat, mereka sudah kenal sejak lama. Tidak ada yang Ryu tidak tahu tentang Neira, mereka terlihat seperti pasangan, ya...pasangan yang sangat serasi. Bahkan saat ini Neira tinggal dirumah Ryu...'.


Ciiiittt........


' Kakak mau membunuhku ya, kenapa berhenti tiba-tiba !!!'. Teriaknya kesal, diam-diam Emi melirik kakaknya yang masih terpaku. Ada senyum kepuasaan bisa membuat kakaknya marah. Untuk pertama kalinya dia melihat kakaknya seperti ini. Sudah berapa banyak wanita yang datang mendekti kakaknya tapi tidak ada satupun yang membuat kakaknya bereaksi seperti ini. Hanya seorang Neira yang bisa melakukannya.


' Selamat Neira, kakakku sudah bertekuk lutut padamu', gumamnya.

__ADS_1


__ADS_2