
' Bos Ren kita mau kemana?', tanyaku mengikutinya berjalan hingga masuk ke dalam mobil.
' Belanja', jawabnya singkat.
' Belanja?'.
' Kamu ini cerewet sekali'.
' Maaf bos'.
Bos Ren kenapa sih, emosian, marah-marah melulu, kayak perempuan lagi dapat.
' Belum puas liatinnya'.
Aku pun tersadar dan langsung memalingkan wajahku. Aku bukannya ingin memandanginya, hanya kesal saja hari ini dia sangat aneh.
Aku memilih diam dan tak berkata apapun padanya. Bisa-bisa kalau aku bersuara, dia akan memarahiku lagi.
Tidak lama kemudian kami pun sampai di tempat tujuan.
' Waa....'. Aku takjub melihat tempat ini. Aku tidak tahu kalau ada toko seperti ini disini.
' Ren', sapa pemilik toko.
' Apa pesananku sudah siap'.
' Tunggu sebentar lagi'.
' Baiklah'.
' Dia...'. Aku memberikan salam padanya. ' Pacar?'.
Pacar??? siapa yang pacaran, gumamku.
' Dia karyawanku'.
' Karyawan? yang benar saja. Sejak kapan kamu terbiasa membawa karyawan kesini'.
Mereka berdua ini tidak sopan, membicarakan orang yang nyatanya ada disini.
' Diamlah, jangan bicara lagi'.
' Aku sungguh bertanya padamu, apa dia sespesial itu hingga kamu membawanya. Aku tahu benar seperti apa kamu ini'.
' Sebenarnya kamu ini mau bicara apa?'.
' Apa kalian punya hubungan'.
' Itu bukan urusanmu'.
' Kamu ini tidak pernah berubah'.
Aku hanya sibuk sendiri seolah-olah tidak mendengar pembicaraan mereka. Aku sendiri juga tidak mengerti mengapa dia membawaku kesini. Padahal akukan juga banyak kerjaan disana. Terkadang bos Ren tidak bisa ditebak apa maunya.
' Nei, bawa ini', ujarnya memberikan sekantung plastik untuk kubawa.
' Iya bos'.
' Masukkan ke dalam'. Aku pun memasukkan barang-barang itu.
' Bos kita tidak pulang', tanyaku saat melihatnya tidak masuk ke dalam mobil.
' Ada yang ingin kulakukan disana, kamu mau ikut atau tetap disini?'.
Aku terdiam karena heran dengan ucapannya ini.
Apa-apaan dia ini, terkadang dia mirip seseorang yang selalu seenaknya.
' Ikut atau tidak', ujarnya mengulang dengan tegas.
' Ikut bos'.
Aku berpikir daripada aku menunggunya dan merasa bosan sendiri lebih baik aku mengikuti kemana dia pergi.
Aku mengikutinya dari belakang, berjalan menyusuri setiap gang. Entah kemana dia akan membawaku.
Terlihat sebuah rumah yang sangat sederhana namun asri, disana ada seorang wanita paruh baya yang sedang berdiri didepan pintu tersenyum pada kami, seolah-olah sudah mengetahui kedatangan kami ini.
' Ren, sudah lama tidak kesini'.
' Halo bibi, akhir-akhir ini sangat sibuk, belum sempat kesini melihat bibi'.
' Tidak apa-apa, tapi bibi senang, tiba-tiba kesini dan kamu membawa pacarmu'.
Apa????Kenapa semua orang menganggapku pacarnya, ada apa ini sebenarnya, apa dia ini jomblo kuadrat.
' Dia bukan pacar saya bi', sanggahnya. Aku pun tersenyum mendengar perkataannya.
Untunglah dia bisa menyanggahnya dengan baik, kalau tidak orang bisa salah paham terus. Kedepannya aku tidak ingin pergi dengannnya lagi, kalau tidak bisa gawat.
' Benarkah, padahal dia sangat cantik, dia cocok denganmu, kenapa tidak pacaran saja', ujarnya. ' Siapa namamu nona cantik'.
' Neira bi'.
' Apa kamu sudah punya pacar? Ren orangnya baik loh'.
' Bibi sudahlah jangan berkata seperti itu lagi'.
' Kamu ini Ren'.
__ADS_1
' Kami tidak bisa lama, kami pamit pulang bi, ini hampir sore, yang lain pasti sudah menunggu'.
' Baiklah, lain kali datanglah lagi, tapi bawa nona ini juga'.
' Ren usahakan bi'.
Kami pun berpamitan pulang, rasanya semakin canggung berjalan dengannya, sudah dua kali orang-orang mengira aku pacarnya, apalagi nanti yang dikatakan orang, aku ini istrinya, lain kali aku tidak mau ikut saja.
' Jangan diambil hati perkataan mereka tadi'.
' Soal apa?'.
' Soal mereka mengiramu adalah pacarku'.
' Hooo...., apa bos tidak pernah punya pacar?'.
' Apa?'.
' Soalnya mereka seperti melihat keanehan kalau bos membawa seorang wanita. Apa bos tidak suka perempuan, apa bos gay?'.
' Apa??? bicaramu itu seenaknya, aku ini masih normal'.
' Benarkah???'.
' Kamu meragukanku, kamu mau bukti?'.
' Bukti? bukti seperti apa?'.
' Kamu ini menantangku?'.
' Tidak...tidak bos, maafkan aku'.
Ren tertawa puas.
Kenapa dia tertawa, menjengkelkan.
' Neira'. Aku menoleh saat aku mendengar namaku. Ia mendatangiku dan tanpa basa-basi menampar wajahku. Aku yang kaget hanya diam dan memegangi pipiku.
' Apa yang kamu lakukan', ujar Ren yang heran melihatnya yang tiba-tiba menampar pipiku.
' Yui, kenapa kamu melakukan ini padaku', tanyaku marah.
' Aku yang seharusnya bertanya padamu, bukankah waktu itu aku memintamu untuk memikirkan kembali hubunganmu dengan Takuya'.
' Bukankah aku juga pernah mengatakan padamu kalau aku dan Taku tidak punya hubungan apapun lagi'.
' Kamu yakin?'.
' Yui, jangan sakiti dirimu seperti ini, tidak ada gunanya'.
' Takuya masih....'.
' Jangan mengalihkan pembicaraan'.
' Atau Ryu'.
' Apa yang ingin kamu katakan'.
' Aku tahu semuanya, tentang hubunganmu dengan Ryu dulu, jadi hentikan Yui, aku dan Taku sudah mengakhiri semuanya, kalian berhak bahagia, jangan terjebak dengan masa lalu, lupakan'.
' Apa kamu menertawakanku'
' Tidak, aku sama sekali tidak menertawakanmu. Mulailah bersama Taku, apapun yang terjadi, kalian sudah lama bersama, mulailah membuka diri sebagai tunangannya bukan sebagai temannya'.
' Aku......'.
' Yui'.
' Takuya'.
' Hentikanlah, jangan seperti ini. Aku dan Neira sudah mengakhiri semuanya, jadi jangan seperti ini lagi'.
' Tapi bukankah kamu....'.
' Aku tahu, tapi tidak bisa dipaksakan seperti ini. Kita hanya menyakiti diri kita sendiri, jangan lagi'.
' Yui, yang dikatakan Taku benar. Dengarkan kata hatimu, kamu ingin bersama Taku kan'.
' Aku....'.
' Kita mulai dari awal lagi, berdua, ok'. Yui terdiam. ' Yui, tidak ada yang boleh lagi mengontrol hidup kita, aku tidak ingin lagi mengulangi kesalahan yang sama'.
' Apa kamu yakin?'.
' Tentu aku yakin'. Setelah berpikir sejenak, Yui pun mengerti. ' Nei, maafkan Yui sudah menyakitimu'.
' Aku tidak apa-apa, jagalah dia Taku'.
' Tentu. Sampaikan salamku pada Hiro, bisnis tetaplah bisnis dan akan terus berjalan'.
Aku pun mengangguk dan tersenyum padanya.
Takuya dan Yui pun pergi meninggalkan aku dan juga Ren.
' Mereka siapa?'.
' Teman'.
' Pria itu...yang pernah menemuimukan'.
__ADS_1
' Apa?'.
' Aku pernah melihat kalian berdua waktu itu'.
' Ahh itu, maafkan aku bos, keluar di jam kerja', ujarku cengengesan.
' Apa hubungan kalian tidak baik?'.
' Sekarang sudah baik, tidak penting bagaimana dulu, yang terpenting sekarang semua sudah jelas dan kami bisa menjalani hidup kami dengan baik juga'.
' Aku tidak menyangka kamu bisa sebijak itu menanggapinya'.
' Aku tidak sebijak itu bos'.
' Aku semakin kagum padamu'.
' Bos bicara apa'.
Tin..tin... terdengar suara bunyi klakson mobil. Mobil hitam didepanku ini terasa tidak asing untukku.
Sesaat kemudian terlihat seseorang keluar dari mobil itu.
' Emi', ujarku. ' Sedang apa kamu disini?'.
' Hanya kebetulan lewat', ujarnya seraya melirik Ren yang ada disebelahku. Aku langsung tanggap dan memberikan penjelasan padanya.
' Ini bosku'.
' Oh ya, padahal aku tidak bertanya apa-apa'.
Tidak bertanya apanya, jelas-jelas dia memberikan kode maut padaku, seolah-olah aku sedang terpergok.
' Pandanganmu saja sudah lebih membahayakan daripada pertanyaan'.
Emi tersenyum kecil.
' Tapi sebenarnya ada yang lebih penuh dengan pertanyaan'.
' Apa maksudmu?'.
' Aku seperti terbakar disini, aku sudah tidak tahan. Kalau tidak percaya lihat saja kebelakang'. Aku yang masih binggung langsung mendekati pintu belakang dan mengetuk kaca mobil itu. Sejurus kemudian terlihatlah seseorang yang sedang duduk dibelakang.
' Hiro'. Kagetku
' Sudah pulang?'.
' Belum, aku sedang menemani bos berbelanja'.
' Bos?'.
' Dia Ren, bos ku ditempat kerja', ujarku memperkenalkannya. Ren dan Hiro hanya saling menatap.
' Oh ya'.
Atmosfir macam apa ini, aku semakin serba salah , padahal kan aku tidak melakukan apa-apa.
' Nei, kita pergi, mereka pasti menunggu kita', perintahnya memecah kecanggungan.
' Ah iya bos', ujarku. ' Aku harus pergi, nanti kita bicara lagi'.
Aku berlari-lari kecil menyusul Ren yang sudah meninggalkanku. Tidak henti-hentinya aku menoleh ke belakang untuk melihatnya. Hiro masih menatap kami dan tidak beranjak dari tempat itu hingga mobil ini melaju meninggalkannya.
Disepanjang jalan aku terus khawatir dengannya, ekspresinya tadi membuatku takut. Aku ingin segera menemuinya dan menenangkannya.
' Ada apa denganmu?'.
' Ti...tidak ada bos'.
' Dia tadi pacarmu?'.
' Iya'.
' Oh pantas'.
Apa maksudnya itu, seolah-olah dia senang melihatku menderita. Baru pertama kali pergi dengannya, sudah banyak kejadian. Yang terakhir ini malah membuatku gila.
'' Tenanglah aku akan menjelaskan padanya'.
' Menjelaskan apa?'.
' Apalagi, dia cemburu dan marah padamu karena pergi dengan seorang pria'.
' Pria? maksudnya bos Ren?'.
Tiba-tiba Ren mengerem mendadak mobilnya.
' Kamu sedang memprovokasiku?'. Aku jadi binggung sendiri dengan ucapannya. ' Setiap ucapanmu itu membuatku tidak senang'.
' Bos itu....'.
' Kamu anggap aku apa? bukan seorang pria, apa kamu ingin tahu defenisi seorang pria'. Dia menatapku tajam. Aku terdiam. Untuk pertama kalinya aku melihatnya seserius ini. Aku sudah membuatnya marah besar. ' Maafkan aku, aku tidak bermaksud kasar padamu', sesalnya.
' Tidak bos seharusnya aku yang minta maaf sudah seenaknya bicara'.
' Sudahlah lupakan saja'.
Ren pun melajukan mobilnya sampai ke tempat tujuan. Aku pun menurunkan dan membawa barang-barang yang tadi dibeli sesaat kami sampai.
Tidak sepatah katapun yang keluar dari mulut kami, mendadak seperti ada rasa canggung karena kejadian tadi.
__ADS_1
Aku tidak ingin memikirkannya lebih lama karena saat ini pikiranku tertuju pada Hiro. Aku ingin waktu ini segera berlalu agar aku bisa menemuinya dan menjelaskan semua padanya, tidak ada yang lebih penting kecuali dia saat ini.