
Aku memulai kehidupan baru di kota Chiba. Kota ini tidaklah jauh dari Tokyo, tempatku tinggal dulu. Sesekali aku bisa mengunjungi Nezu bila aku merindukannya.
Aku tinggal bersama Rina dan kedua orangtuanya. Aku membantu mereka mengurusi restoran yang sudah mereka rintis sejak lama. Walaupun gaji yang kudapat tidaklah besar, tapi aku bersyukur bisa sejenak keluar dari masalah yang datang akhir-akhir ini.
Sudah dua hari aku berada disini. Hari-hariku lebih banyak dihabiskan direstoran. Restoran ini cukup terkenal didaerah ini. Tidak heran di jam makan siang akan banyak pelanggan yang datang. Disaat itu kami akan sangat sibuk melayani semua pelanggan yang datang.
" Selamat datang". Suara sapaan itu menggema ketika seseorang datang.
" Mau pesan apa?", seketika aku terdiam melihat orang yang ada dihadapanku ini.
" Apa kabar Nei", tanyanya. Dia adalah Ren.
" Baik", jawabku.
" Maaf membuatmu tidak nyaman. Tapi aku ingin bicara denganmu, apa kamu ada waktu?".
" Tunggulah diluar, aku akan segera menemuimu".
" Baiklah".
Lima menit kemudian aku pun keluar dan menemui Ren. Ia menyambutku dengan senyum.
" Bagaimana kabarmu?".
" Sedikit lebih baik".
" Kamu pasti sangat kecewa padaku".
" Awalnya, tapi aku mencoba menerima apapun yang terjadi padaku".
" Maafkan aku".
" Tidak, jangan seperti itu. Aku tidak apa-apa", ujarku. " Bagaimana kamu tahu aku ada disini? apa Rina memberitahumu?".
" Iya, aku bertanya padanya. Kuharap kamu tidak marah padanya".
" Tidak, lagipula sampai kapan aku harus bersembunyi. Lalu apa yang ingin kamu bicarakan?".
" Pertama, aku ingin minta maaf padamu. Seharusnya aku tidak menyakitimu seperti itu. Setelah kepergianmu, aku merasa bersalah sekali, terlebih ketika aku tahu Sayaka datang menemuimu dan mengancammu. Aku benar-benar tidak menyangka akan sejauh ini".
" Kalau aku bilang, aku tidak bisa memaafkanmu tentang masalah itu...".
" Neira.... aku mengerti pasti berat untukmu untuk memaafkanku".
" Sudahlah, aku sudah memaafkanmu. Aku hanya ingin menata hidupku lebih baik lagi".
" Terima kasih sudah mau memaafkanku. Aku juga ingin mengatakan ini padamu. Mungkin sekarang ini Hiro tengah sibuk menyelamatkan proyeknya. Ayahku menghentikan total dana yang diberikannya karena sampai sekarang Hiro tidak punya etikat baik padanya".
" Maksudnya?".
" Hiro menolak perjodohan itu langsung dihadapan ayahku. Ayahku tidak terima dan pada akhirnya ia memutus total kerja sama mereka".
" Hiro".
" Dia mengambil reseko itu karena ingin bersamamu. Tapi dia juga harus memperbaiki apa yang sudah dilakukannya".
" Kenapa kamu katakan ini padaku?".
" Dia pria baik, tolong bersabarlah menunggunya", ujarnya. " Aku sudah mengatakan apa yang ingin aku katakan. Terima kasih sudah meluangkan waktumu. Semoga kamu bahagia dengan Hiro nantinya".
Ren pun pergi meninggalkan Neira. Neira terus berpikir apa yang dikatakan Ren tadi. Ia pun mengambil ponselnya dan menelepon Emi.
" Halo". Suara Emi terdengar dari ujung telepon.
__ADS_1
" Emi, maukah kamu bicara jujur padaku?".
" Tentang apa? aku tidak berbohong apapun padamu. Sebenarnya apa yang terjadi padamu?".
" Tentang yang terjadi pada Hiro".
" Apa maksudmu?".
" Dimana Hiro sekarang?".
" Kakak ada disini, dikantornya".
" Emi....., aku mengenalmu lama". Emi terdiam. " Emi, bicaralah jujur padaku. Aku tidak ingin terjadi kesalahpaham lagi dengan Hiro, kumohon".
" Nei, kakakku sekarang sedang ada diluar negeri. Ada yang harus dikerjakannya. Maaf, dia tidak memberitahukanmu. Sebenarnya dia ingin bertemu dan berbicara denganmu. Tapi, dia harus melakukan ini dengan cepat. Kakakku sangat menyayangimu Nei".
" Dia baik-baik sajakan?".
" Dia baik".
" Dia tahu aku ada disini?".
" Ya, aku sudah memberitahukannya. Dia menyuruhku untuk mengawasimu selagi dia pergi".
" Kapan Hiro akan pulang?".
" Sebentar lagi, tunggulah Nei".
" Baiklah, aku akan menunggunya".
" Terima kasih sudah percaya pada kakakku. Kakakku saat ini membutuhkanmu, jangan marah lagi padanya dan jangan menghindar lagi seperti ini".
" Aku hanya ingin merenungi semua masalah yang terjadi akhir-akhir ini. Aku akan kembali ke Tokyo saat aku sudah tenang".
" Ya, pasti. Sudah ya aku harus kembali bekerja".
" Iya".
Neira mematikan teleponnya. Ia menghela napas panjang, sedikit demi sedikit ia sudah mengetahui bagaimana kabar Hiro. Kabar yang selama ini ingin ia dengar. Kabar tentang kekasih hatinya itu.
------
Setelah seminggu berlalu Neira memutuskan untuk kembali ke Tokyo. Nezu, adiknya memintanya untuk pulang karena ia merasa sendiri dan kesepian.
Neira meminta izin pada Rina dan kedua orangtuanya. Ia berterima kasih atas kebaikan yang diberikan mereka selama ini padanya.
" Terima kasih", ujar Neira sekali lagi. Ia pun pergi meninggalkan kota ini. Neira duduk di sebuah halte bis untuk menunggu bis yang akan membawanya ke statiun. Lama ia menunggu akhirnya bis itu datang juga. Ia menaiki bis itu dan ia pun duduk di belakang. Saat bis akan berangkat, tiba-tiba bis berhenti lagi. Ada seseorang yang akan naik. Neira menoleh sebentar lalu memalingkan wajahnya lagi.
Orang itu juga duduk dibelakang berseberangan dengan Neira. Neira memejamkan matanya sembari mendengarkan musik. Ia tidak menyadari kalau orang itu sedang memandanginya.
Setelah bis sampai ditempat pemberhentian, Ia pun turun dan harus berjalan agar sampai ke stasiun Chiba. Setibanya di stasiun, ia menunggu kereta yang akan membawanya kembali ke Tokyo.
Neira mengambil ponselnya yang terus berdering. Ia terkejut dengan nama yang menghubunginya ini.
" Halo, Neira".
" Hiro".
" Kenapa suaramu bergetar seperti itu".
" Aku....".
" Merindukanku?".
__ADS_1
" Kamu dimana?".
"Jawab dulu kamu merindukanku?".
" Kenapa kamu sangat menyebalkan". Terdengar suara tertawa dari sana. " Aku sangat merindukanmu, jadi katakan kamu ada dimana?".
" Tebak saja".
" Hiro". Tiba-tiba terdengar suara kereta berbunyi dari sana, suara yang sama dari tempat Neira saat ini. " Kamu ada disini?".
" Ya, bahkan kamu tidak sadar kalau aku terus bersamamu saat di bis tadi".
" Bis??".
" Orang yang tiba-tiba naik tadi, itu aku nona Neira. Aku terus memandangimu tapi kamu tidak menyadarinya".
" Teruslah berbicara Hiro".
" Kamu sedang mencariku?".
" Tentu saja".
" Aku harus bicara apa".
" Bicara saja sesuka hatimu".
" Aku minta maaf".
" Aku sudah memaafkanmu".
" Aku merindukanmu".
" Aku juga".
" Aku mencintaimu".
" Aku juga".
" Menikahlah denganku". Hiro tersenyum. " Akhirnya kamu menemukanku". Hiro menatap wanita yang ada di hadapannya itu.
" Dasar menyebalkan". Neira berlari memeluknya. " Aku membencimu, kamu tahu itu".
" Aku tahu". Ia memeluk Neira erat. " Maafkan aku sudah membuatmu menderita".
" Jangan pergi tanpa memberi tahuku lagi. Aku sangat takut tidak melihatmu lagi".
" Ya, aku tidak akan pergi diam-diam lagi. Maafkan aku". Neira mengangguk. " Aku perlu jawabanmu".
" Jawaban apa?".
" Aku melamarmu tadi". Neira terdiam. " Apa perlu aku menyatakannya lagi disini".
" Tidak, tidak perlu".
" Aku sudah menyelesaikan masalahku dan semua berjalan dengan baik. Aku tidak ingin menundanya lagi, dalam waktu dekat aku akan menikahimu. Aku ingin bersamamu, aku tidak ingin jauh lagi darimu".
" Apa aku tidak salah mendengarnya". Hiro mencubit pipi Neira. " Sakit".
" Sekarang kamu percaya???". Neira tersenyum dan mengangguk. " Jadi".
" Karena sudah meminta, ya sudah aku terima saja".
" Dasar". Hiro memeluknya.
__ADS_1