Cherry Blossom Love

Cherry Blossom Love
MENCARI CARA


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Hiro sudah berangkat menuju Australia. Tujuan Hiro kesana adalah untuk bernegosiasi dengan perusahaan NI Group, perusahaan yang sudah lama bekerja sama dengan perusahaannya.


Perjalanan kali ini tanpa sepengetahuan orang banyak, hanya Ryu yang tahu tentang perjalanan ini. Hiro memastikan tidak ada orang yang mengganggu usahanya untuk mendapatkan dukungan dari Ni Group.


Kekhawatiran Hiro memang beralasan, walaupun perusahaan ayah Sayaka tidak memutuskan dana sepenuhnya tapi cepat atau lambat ia akan memutus dana itu jika Hiro tidak berubah pikiran.


Untuk beberapa lama, Hiro tidak akan bertemu dengan Neira. Walaupun akan menyulitkan tapi tidak ada lagi cara agar hubungan dan juga perusahaannya tetap berjalan dengan baik.


Hiro memberi pesan pada Ryu, agar memberitahu Emi untuk menjaga Neira selama ia pergi. Ia tahu pasti perasaan kekasihnya itu. Semenjak pertengkaran mereka waktu itu, sampai detik ini Hiro dan Neira tidak pernah bertemu, ditambah dengan kepergian Hiro yang pasti akan memakan waktu yang lama.


" Memangnya kakak akan kemana?", tanya Emi yang kaget mendengar kakaknya pergi tanpa sepengetahuannya.


" Ke tempat yang akan menyelamatkan proyek kita. Proposal yang kita kirim ke NI Group sudah disetujui. Hiro memastikan semua berjalan lancar tanpa ada gangguan dari pihak lain".


" Siapa yang tahu tentang kepergian kakak?".


" Hanya kita berdua. Tinggal bagaimana menangani perusahaan sepeninggalan Hiro, aku harus bisa mengamankannya'.


" Tolong sayang, kamu harus bisa menangani perusahaan selama kakak tidak ada, aku takut ada pihak yang mengambil kesempatan ini".


" Tentu, tapi tolong jangan beritahu Nona. Kamu hanya perlu menemaninya dan memastikan dia baik-baik saja".


" Baik sayang, aku mengerti".


Setelah percakapan dengan suaminya Emi bergegas pergi ke rumah Neira, tapi ditengah perjalanannya dia berpapasan dengan Sayaka.


" Hai", sapa nya.


" Sedang apa kamu disini?".


" Kenapa reaksi mu membuatku tidak nyaman".


" Aku tidak perduli dengan kenyamananmu".


" Sebesar itukah kamu membenciku".


" Benar sekali, asal tahu saja aku tidak akan membiarkan wanita sepertimu mengacak-acak kehidupan kakakku dan juga sahabatku".


" Wow, aku benar- benar iri pada Neira. Pertama cintanya Nakayama padanya, kedua persahabatan kalian".


" Dia layak mendapatkannya".


" Kalian kakak adik sama saja".


" Kamu dan kakakmu juga sama, kalian suka merusak hubungan orang lain demi kebahagiaan sendiri".


" Kamu!!!". Sayaka semakin geram dengan ucapan Emi yang sangat kasar padanya.


" Kalian tidak takut dengan perbuatan kalian".


" Kalau ayahmu pintar, dia tidak akan melakukan hal buruk pada orang lain. Bukannya menyenangkan hati anaknya seperti ini, bersenang-senang diatas penderitaan orang lain".

__ADS_1


" Jangan menghina ayahku".


" Aku tidak melakukannya, kenapa kamu jadi reaktif seperti itu".


" Kamu!!!!".


" Sudahlah, aku tidak punya urusan denganmu, membuang-buang waktuku saja". Emi pun pergi meninggalkan Sayaka yang masih kesal dengannya.


------


" Kak Emi", ujar Nezu begitu tahu orang yang mengetuk pintu rumahnya.


" Kakakmu ada?", tanya Emi.


" Ada kak, masuklah", ujarnya mempersilahkan Emi masuk.


Terlihatlah Neira yang sedang melamun didepan televisi. Pandangannya lurus dan pikirannya kosong. Emi yang melihat sahabatnya seperti ini begitu khawatir terhadapnya.


" Neira....", sapa Emi. Neira tersenyum padanya begitu tahu temannya itu datang. " Kamu baik-baik saja?".


" Menurutmu bagaimana bisa aku baik-baik saja".


" Maafkan kakakku Nei".


" Tidak, jangan meminta maaf, bukan seperti itu. Aku hanya sedikit kecewa padanya, mengapa dia tidak membagi bebannya padaku, aku juga ingin membantunya".


" Kakakku tidak ingin kamu salah paham pada awalnya, tapi dia tidak menyangka akan seperti ini jadinya".


" Ya, tapi bersabarlah Nei, kakakku tidak akan melakukan hal yang dianggapnya berbahaya. Dia sedang mencari cara terbaik menyelesaikan masalah ini".


" Ya aku mengerti, sangat mengerti".


Neira terlihat menahan air matanya.


" Kamu merindukan kakakku?". Neira mengangguk menahan air matanya yang tiba-tiba akan jatuh.


" Aku sangat merindukannya, sangat. Apa dia tidak ingin menemuiku, apa dia membenciku". Aku terisak dipelukan Emi.


" Neira, kakakku tidak membencimu, kakakku sangat menyayangimu. Sebenarnya dia sangat ingin bertemu denganmu, tapi ada yang harus dilakukannya. Jangan berpikiran seperti itu Nei".


Neira bersabarlah, kakakku sedang mencari cara. Setelah keputusannya waktu itu, ia harus memperbaiki apa yang sudah dilakukannya. Dia mengambil resiko itu karena dia ingin bersamamu. Jangan menyerah, jangan menyerah, kumohon.


Beberapa saat Neira pun terlihat sudah tenang, ia pun menghela nafasnya.


" Emi sepertinya aku akan pergi", ujarku.


" Maksudnya?".


" Kamu tahu kan aku sudah tidak bekerja lagi ditempat itu. Aku akan menerima tawaran temanku yang dulu juga bekerja disana. Setidaknya aku ingin menenangkan pikiranku, aku juga tidak ingin wanita itu datang kesini lagi. Aku tidak ingin mendengar apapun lagi darinya".


" Sayaka pernah kesini?". Aku mengangguk. " Anak itu benar-benar ular".

__ADS_1


" Sudahlah, lagian aku juga tidak bisa melakukan hal-hal yang kamu ajarkan padaku waktu itu". Emi terkejut mendengar ocehanku. Mengingat sarannya waktu itu membuat kami tertawa. " Aku tidak sekejam itu".


" Ya, lagipula untuk apa kita menghabiskan tenaga untuknya. Hmm...tapi sebenarnya aku sudah menghajarnya dengan mulutku yang pedas ini. Kamu tahukan kalau aku sudah kesal pada seseorang, apapun akan aku katakan, aku tidak perduli sama sekali".


" Benarkah, kamu ini benar-benar nekat".


" Tentu saja, aku tidak ingin dia lebih lancang lagi", ujarnya. " Lalu sebenarnya kemana kamu akan pergi?".


" Chiba".


" Kamu yakin?".


" Iya Emi, sangat yakin. Ini sudah menjadi keputusanku, aku sudah memikirkannya lama. Aku berharap dengan ini, aku bisa menjalani hidupku dengan baik", ujarku.


" Baiklah kalau memang itu keputusanmu".


Sementara di Australia, Hiro tengah sibuk dengan kerjasamanya bersama NI Group. Pertemuan-pertemuan terus dihadirinya untuk membahas kerjasama mereka.


Setelah sampai dihotel, Hiro lalu menghubungi adiknya Emi.


" Halo kak". Terdengar suara Emi dari ujung telepon.


" Bagaimana disana?", tanya Hiro


" Apanya??? perusahaan atau Neira".


" Emi bukan waktunya bercanda". Terdengar dari ujung telepon Emi tertawa terpingkal-pingkal. " Kamu ini paling suka buat orang kesal".


" Maaf kak, Neira baik kok. Tapi......".


" Tapi apa?".


" Neira sekarang ada di Chiba".


" Untuk apa dia kesana?".


" Di sana ada restoran milik temannya sewaktu bekerja dulu, temannya meminta untuk membantunya. Lagipula kak, Neira perlu menenangkan diri. Sampai sekarang kakak tidak pernah menghubunginyakan?."


" Kakak tidak bisa menghubunginya sekarang ini, sampai saatnya tiba kakak akan menemuinya".


" Sampai kapan kakak akan disana?".


" Seminggu lagi, setelah itu semua akan berjalan normal lagi".


" Baiklah kak, jangan terlalu lama, aku tidak bisa menjamin hati seseorang".


" Bisa tidak jangan menambah masalah".


" Cuma ingatin kakak aja kok, jadi marah gitu. Ya sudahlah Emi mau pergi dulu, bye". Emi mematikan teleponnya.


Sesaat Hiro kepikiran dengan kata-kata terakhir Emi. Apa Neira akan berpaling darinya. Kata-kata itu sangat mengganggu pikirannya. Memang adiknya itu paling bisa membuatnya jadi resah.

__ADS_1


__ADS_2