Cinta Agusd Si Kucing Tampan

Cinta Agusd Si Kucing Tampan
101. One O One


__ADS_3

Agust menoleh dengan mata bulat membesar, wajahnya tegang dan kaku.


"Petunjuk lain dari masa laluku." ucapnya lirih.


"Benarkah? Apa itu?" tanya Archi penasaran.


"Pabrik farmasi!" seru Agust.


Archi mengernyit bingung, "Pabrik farmasi?" tanyanya.


"Ya, ada percakapan tentang pabrik farmasi." jelas Agust.


"Siapa yang berbicara itu?" tanya Archi.


"Entah, aku hanya melihat tiga pasang sepatu yang tengah berjalan."


"Ya Allah...bisa nggak sih kalau nginget sesuatu itu yang jelas. Kelihatan kek gitu mukanya, siapa yang berbicara, kan jelas maksudnya." gerutu Archi.


"Memangnya aku bisa memilih untuk melihat bagian mananya. Ingatan itu timbul begitu saja setelah mendengar pabrik obat ayahmu." kata Agust.


"Apa kamu bekerja di pabrik obat juga?" tanya Archi kepada Agust.


"Mungkin." jawab Agust. "Mana aku tahu."


"Huft...!"


"Tetapi aku melihat dari pantulan keramik nama perusahaan itu,"


"Apa?" tanya Archi penasaran.


"Farma...!"


"Ya ampun Agust! Ada banyak perusahaan obat bernama farma di negara ini."


"Tetapi suara itu mengatakan perusahaan terbesar."


"Sebentar aku cari dulu," mengambil handphone-nya dan mengetik judul perusahan obat terbesar di Indonesia.


"Dari sepuluh besar, ada empat yang mengandung unsur farma. Kimia Farma, Indofarma, Genilab Farma dan Biofarma. Bagaimana cara mencari dari empat perusahaan itu yang memiliki hubungan denganmu?" tanya Archi.


"Ini masih terlalu awam. Kita harus menuggu potongan lainnya untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas." sambung Archi.


Malam harinya, Ayah tengah membaca buku di ruang keluarga.


"Ayah!" Sapa Archi duduk disebelah ayahnya.


"Ya Archi?" jawab Ayah menutup buku tebal yang tengah dia baca.


"Aku mau tanya sesuatu boleh?"


"Tanya apa?"


"Ayah kan kerja di pabrik obat. Di pabrik, apa ayah pernah melihat seseorang yang mirip Agust?"


"Seseorang yang mirip Agust?" Ayah mengernyit.


"Iya,"


"Ayah rasa ayah nggak pernah melihat orang yang mirip Agust di pabrik." jawab Ayah.


"Mungkin nggak sekarang. Tapi sebelum-sebelum ini."


Ayah mencoba mengingat, " Nggak Archi. Nggak ada orang yang mirip Agust di pabrik. Kenapa memangnya? Kenapa kamu menanyakan hal itu?"


"Nggak kenapa-kenapa kok ayah. Aku hanya ingin tahu saja." jawab Archi sembari nyengir."

__ADS_1


"Tetapi ayah yakin? Ayah memangnya pernah melihat semua orang yang bekerja di pabrik ayah?" tanya Archi sekali lagi.


"Iya lah Archi. Dari atasan tertinggi sampai tukang sapu ayah pasti pernah bertemu mereka walau nggak sering, ayah bisa mengenali wajah mereka. Dan memang nggak ada yang mirip Agust. Apalagi Agust berwajah khas, berbeda dengan wajah orang Indonesia, nggak akan sulit untuk menemukan dirinya yang mencolok bila memang ada di pabrik, kan?"


"Benar juga." Angguk Archi setuju.


"Kenapa sih? Ayah kok jadi penasaran, kenapa tiba-tiba kamu menanyakan hal itu?" Ayah menatap menyelidik ke arah Archi.


"Bener nggak ada apa-apa kok ayah. Aku hanya ingin tahu." jawab Archi.


Setelah mendapat jawaban Ayah, Archi kembali ke kamarnya.


"Bagaimana?"


"Ayah bilang di pabriknya nggak pernah ada orang yang mirip denganmu."


"Terus gimana dong? Gimana kita nyari tahu di tiga perusahaan lainnya?"


"Sudahlah. Jangan terburu-buru. Kita tunggu potongan Puzzle lainnya muncul. Karena ini masih sulit untuk menarik kesimpulan."


"Ya sudah kalau menurutmu begitu." jawab Agust dengan wajah kecewa.


"Jangan merengut gitu dong. Gantengnya nambah ntar." goda Archi berhasil menarik kedua sudut bibir Agust terangkat.


"Kamu itu. Bisa aja bikin orang senang." sahut Agust dengan senyum gummy smile nya mendekati Archi.



Agust merapatkan keningnya di kening Archi, "Kita kan belum selesai, dengan yang waktu itu." bisik Agust.


Archi memandang bibir Agust yang bergerak saat berbicara seraya menelan salivanya. Nafasnya mulai terasa berat.


****


Kakak keluar dari kamar mandi dan mendengar suara dari dalam kamar Archi.


"Mereka lagi ngapain?" tanya kakak di dalam hati merasa curiga.


"Iya Archi ini juga udah pelan-pelan." jawab Agust.


"Ini kan baru masih sempit!" sambung Archi.


"Jangan-jangan! Ya ampun...tapi berisik banget sih mereka mainnya." gumam kakak merasakan desiran ditengkuknya membayangkan yang sedang Archi dan Agust lakukan.


Dengan tergesa dia kembali ke kamarnya. Dia raih handphonenya dan mengirim pesan ke Jeremy.


^^^"Kapan kamu mau nikahin aku?"^^^


Pesan kakak.


^^^"Kenapa? Kok tiba-tiba banget kamu nanyain itu lagi?"^^^


Balasan pesan Jeremy datang dalam waktu singkat.


^^^"Pengen! 😣"^^^


balas kakak singkat.


^^^"😵 pengen apaan tuh?^^^


Balasan pesan dari Jeremy.


^^^"Pengen nikah atuh! Pengen apalagi memang?"^^^


Kesal kakak dalam pesannya.

__ADS_1


^^^"Kirain pengen itu. Kalau pengen itu hayulah gas! 😚"^^^


Pesan balasan Jeremy bernada mesuum


^^^"Ih kamu tuh!"^^^


"Malah ngambek 😑"


Sementara itu di dalam kamar Archi,


"Lagian ngapain sih beli celana Jeans ukuran kecil begini. Liat lubang kakinya udah kaya ukuran balita. Nggak sadar body!" sungut Agust menarik turun secara perlahan celana Jeans baru, model pensil yang sedang Archi jajal. Celana jeans yang baru saja sampai tadi pagi, setelah Archi pesan di toko online beberapa hari yang lalu.


"Itu kan memang model pensil jadi bawahnya sempit."


"Tapi ini memang sempit banget. Bukan ukuran kamu."


"Namanya juga beli online nggak bisa lihat langsung ukuran jelasnya. Biasanya juga aku pakai ukuran itu." dengus Archi yang menggunakan hot pant berwarna hitam.


***


"Wah! Archi dah sehat lagi!" seru Andini begitu senang saat Archi baru datang.


"Iya dong." jawab Archi bangga.


"Seneng banget kamu sudah bisa kerja lagi." sambung Icha menghampiri Archi bersama Susan.


"Iya tahu, kangen banget. Nggak ada kamu serasa hampa."


"Hahaha...ini peres apa jujur nih? Susan ngomong kaya gitu?"


"Aku jujur lah!" sahut Susan.


"Eh Archi!" seru Ridwan yang baru sampai.


"Kamu sudah masuk kerja, apa sudah benar-benar sehat?" tanya Ridwan.


"Cie...bapak perhatian banget sama Archi!" goda Susan.


"Aku kan perhatian sama kalian semua." jawab Ridwan.


"Eh tapi kamu bener udah rujak eh maksudnya rujuk sama Agust?" tanya Susan yang keceplosan.


Andini dan Icha spontan menatap Ridwan.


"Eu, udah." jawab Archi merasa tidak enak kepada Ridwan yang harus membicarakan Agust di depannya.


"Wah selamat ya Archi!" seru Ridwan terlihat ikut bahagia. "Jangan sakit-sakit lagi sekarang. Bahagia terus sama suami kamu ya!" tambahnya mengedipkan sebelah matanya.


"I-iya Pak. Terimakasih." jawab Archi.


Ridwan berjalan lalu memasuki ruangannya.


"Kamu sih San. Pake keceplosan ngomongin itu di depan Ridwan kan jadi canggung dan nggak enak sama dia." tegur Andini.


"Tapi dia kelihatannya juga udah nggak kenapa-kenapa. Itu dia malah ikut bahagia." tampik Susan.


"Iya ya. Mungkin Pak Ridwan sudah bisa mengikhlaskan Archi. Pasti karena ngelihat Archi sampai jatuh sakit kemarin." sahut Icha.


"Iya sih. Syukurlah. Kasian juga kalau dia masih terpaku sama cintanya sama Archi." ucap Andini.


"Happy ending dong." kata Susan. "Biarlah Pak Ridwan sama aku saja. Aku ikhlas kok."


"Pak Ridwannya yang nggak ikhlas Susan." jawab Andini.


Di ruangannya....

__ADS_1


"Melepas itu berat, tapi berharap itu lebih berat. Biar semua mengalir. Karena waktu yang akan menentukan akhirnya." kata Ridwan menatap foto Archi di galeri fotonya.


...~ bersambung ~...


__ADS_2