Cinta Agusd Si Kucing Tampan

Cinta Agusd Si Kucing Tampan
42. Kejutan


__ADS_3

"Dulu rumah saya kebakaran. Semua dokumen terbakar dan belum sempat mengurusnya lagi. Hanya KTP yang tertinggal." kilah Agust berbohong.


"Oh gitu. I'm so sorry," ungkapnya. "Kamu bisa mengendarai motor?" tanya Irene.


"Bisa. Mobil juga bisa," jawab Agust.


Irene senyum simpul membuatnya terlihat bertambah cantik.


"Bagus. Punya smartphone?" tanya Irene melipat tangan di atas perutnya yang langsing.


Agust mengeluarkan handphone pemberian Ayah dari saku jaketnya.


"Seperti ini?" Agust menunjukkan handphone-nya pada Irene.


"Sudah ram 3gb atau di atasnya?" tanya Irene.


"Apa itu? Saya nggak ngerti." jawab Agust malu.


"Coba lihat handphone-nya boleh kan?" tanya Irene.


"Boleh," jawab Agust menyerahkan handphone-nya.


Irene mengusap layar handphone Agust hingga layarnya menyala. Dia melihat pengaturan handphone untuk mengecek ramnya.


"Ini ram 4," jawab Irene mengembalikan handphone kepada Agust.


"Oke...kamu bisa bekerja di sini. Kamu bisa mulai bekerja besok ya," kata Irene.


"Jadi saya diterima?" Senyum mengembang di wajah Agust.


Irene mengangguk sambil tersenyum lucu melihat Agust.


"Terimakasih nona...terimakasih...!" ucap Agust.


"Alhamdulillah ya Allah. Aku bisa kerja. Aku bisa cari uang untuk Archi." bisik Agust begitu lirih dengan matanya yang berkaca-kaca.


Agust pun pergi dari restoran itu dan kembali pulang ke rumah. Dia sangat tidak sabar untuk bisa mengatakan kabar baik ini kepada Archi secara langsung.


"Copot kertas itu!" perintah Irene kepada Vita setelah Agust pergi.


"Baik Nona. Tapi Nona, kenapa Nona menerima pria itu bekerja di sini?"


"Kamu nggak lihat, dia tampan. Dia bisa menjadi daya tarik untuk restoran ini," kata Irene.


"Kalau kita mau taruh dia di bagian waiters pun itu sudah mumpuni." tambah Irene.


"Inilah dunia. Yang good looking selalu beruntung," bisik Vita berjalan menuju depan resto untuk mencabut kertas pengumumannya.


Sore hari sebelum matahari tenggelam....


Sepulang bekerja, Archi pulang ke rumah. Dalam perjalanannya dari depan komplek menuju ke rumah, Archi berjalan lesu dengan pandangan hampa dan pikiran yang melayang-layang.

__ADS_1


Dia memikirkan Ridwan. Orang yang pernah mengisi hatinya, seseorang yang selalu membuatnya jadi salting tiap di dekatnya. Seseorang yang selalu berhasil membuat wajahnya bersemu merah ketika disanjung olehnya.


Namun kini semua sudah berlalu. Bagai mimpi manis yang kini berubah menjadi mimpi buruk. Tidak ada lagi Ridwan yang manis, ceria, dan selalu membuatnya tersanjung dengan sikap-sikapnya.


Ridwan benar-benar sangat marah kepadanya. Kepada Archi yang telah tega membohonginya. Yang tetap diam menutupi kenyataan.


"Ridwan maafin aku. Rasanya aku mau mengatakan itu kepadamu." gumam Archi yang diakhiri hembusan napas panjang.


"Aku mau Ridwanku yang dulu kembali. Aku nggak suka dengan keadaan ini. Ini benar-benar membuat hatiku terasa begitu sakit." sambungnya menendang batu di depannya.


"Adduuuhhh!" seseorang mengaduh jauh di depannya.


"Haaah!" Archi menutup mulutnya yang menganga. Buru-buru dia berlari mendekati orang itu.


"Maaf...maaf!" seru Archi sudah berada di dekatnya.


"Kamu nggak apa-apa?" tanya Archi memperhatikan pria itu merintih sambil memegang sisi dahinya.


"Nggak apa-apa, apanya? Benjol nih!" sahutnya emosi memperlihatkan jidatnya yang sudah merah karena terkena batu.


"Ya maaf. Aku kan nggak sengaja," timpal Archi menampakkan wajah murungnya.


"Untung yang kena aku. Coba kalau orang lain, mau kamu kena jitak?" gerutu Agust kesal.


"Ya lagian, kamu ngapain di situ sih?" tanya Archi.


"Nunggu kamu lah! Ngapain lagi," sahut Agust lagi masih memegangi dahinya.


"Aku punya kejutan." jawab Agust. Raut wajahnya berubah sumringah.


"Kejutan apa?" Archi mengernyitkan dahi.


"Nanti di rumah aja aku kasih tahunya." kata Agust.


"Kalau ngomongnya masih mau di rumah, ngapain juga kamu jemput ke sini?" Archi menepuk dahinya.


Agust terkekeh.


"Udah kasih tahu ada apa? Kamu udah inget semua masa lalu kamu?" terka Archi penuh harap.


"Bukan." Mereka memasuki pagar rumah.


"Terus apaan? Ini udah di rumah, cepat kasih tahu apaan?" paksa Archi di depan pintu rumahnya.


"Aku dapat kerjaan!" Seru Agust bahagia lalu membuka pintu rumah mereka.


"Apa?" Archi tercengang. Tubuhnya mengeras di depan rumah.


"Kerjaan apa Agust?" tanya Archi berlari mengejar Agust lalu menarik tangan Agust untuk mau berhadapan dengannya.


"Bagaimana kamu bisa dapat kerja?" cecar Archi dengan tidak sabar.

__ADS_1


"Tadi aku jalan-jalan ke depan komplek dan baca ada lowongan. Aku coba melamar. Ternyata, aku diterima kerja di sana." kisah Agust dengan mata berkilat.


"Ya ampuun!" Archi memegang dahinya yang tiba-tiba terasa pening.


"Pokoknya, aku nggak ngizinin kamu kerja. Titik. Kamu nggak boleh kerja," bentak Archi dengan keras.


Ayah dan Ibu yang mendengar pertengkaran mereka datang menghampiri.


"Kalian ngapain izinin Agust keluar sih?" tanya Archi kepada Ayah dan Ibu dengan nada kesal.


"Ngapain nyalahin Ayah dan Ibu. Aku keluar atas kemauan sendiri saat mereka nggak di rumah," bela Agust mencengkram tangan Archi yang gemetar hebat.


Kesedihannya karena masalah dengan Ridwan dan mendengar kabar ini membuat emosi Archi meletup-letup.


"Bilang ke mereka kalau kamu nggak jadi kerja di sana. Kamu nggak bisa kerja di sana," pekik Archi.


"Nggak, aku mau bekerja. Ini kesempatan bagus. Dan jarang-jarang ada kesempatan ini," tegas Agust mempertahankan keputusannya.


"Iya Archi. Biarkan Agust bekerja kalau dia mau." kata Ayah membela Agust untuk bisa tetap bekerja.


"Iya. Toh kerjaannya juga cuman di depan komplek." sambung Ibu.


"Tapi...," Archi memutus kalimatnya. Memegang kepalanya dengan frustasi.


Karena tidak mungkin dia mengatakan alasan sebenarnya kepada Ayah dan Ibu, kenapa dia tidak bisa mengizinkan Agust bekerja.


"Nggak mungkin aku ngasih tahu Ayah sama Ibu, kalau aku takut Agust berubah jadi kucing saat dia bekerja," pikir Archi jadi serba salah.


"Sudah. Biarin Agust kerja. Bagus dia mau bertanggung jawab menafkahimu," tandas Ayah kembali ke dalam kamarnya diikuti Ibu kemudian.


Archi berjalan menghentak kaki menaiki tangga. Dia merasa sangat kesal dengan berita ini. Menambah beban di hatinya. Dia marah kepada Agust karena tidak berpikir panjang saat memutuskan akan bekerja. Dia hanya mengkhawatirkan Agust, itu saja.


"Aku mengkhawatirkan dia. Tetapi dia, dia tidak memikirkan kondisi dia yang bisa berubah-ubah sewaktu-waktu," batin Archi.


"Sebelum kamu memutuskan sesuatu, bisa nggak sih kamu mikir dulu ke depannya?" tuntut Archi Setelah mereka masuk ke dalam kamar.


"Kalau kamu nggak mau memikirkannya, se-enggak nya tanya pendapat aku dulu," sambungnya.


"Aku sudah memikirkan semuanya dan aku akan bertanggung jawab untuk semua itu," jawab Agust tidak kalah keras dengan Archi.


"Huuh..." Archi membuang napas dengan kasar.


"Kalau kamu lagi kerja, terus tiba-tiba kamu jadi kucing, bagaimana?" tanya Archi.


"Aku sudah tahu tanda-tanda aku mau berubah. Jadi, aku yakin aku bisa mengatasi itu," jawab Agust penuh percaya diri.


"Tapi, Agust....,"


"Udahlah Archi! Bilang aja kalau kamu memang ngga suka ngeliat aku bisa kerja. Kamu nggak mau aku punya penghasilan," tukas Agust. Membalikkan badannya, membelakangi Archi.


Bahu Archi jatuh kesamping, memiringkan sedikit kepalanya sambil mendengus kasar.

__ADS_1


__ADS_2