Cinta Agusd Si Kucing Tampan

Cinta Agusd Si Kucing Tampan
44. Berhenti Kerja


__ADS_3

Makan malam usai, seluruh keluarga berkumpul di ruang tamu menemani Kenji menonton kartun Pororo.


"Bagaimana hari pertama mu bekerja, Agust?" tanya Ayah.


"Berjalan lancar Yah." jawab Agust.


"Kamu harus mengantarkan orderan pizza kan?" tanya Ayah.


"Iya,"


"Tetapi kamu bisa tahu jalan?" tanya Ayah lagi.


"Lewat aplikasi Yah. Aku hanya tinggal mengikuti rutenya saja." jawab Agust.


"Oh..baguslah. Karena terkadang walau menggunakan map, kita bisa salah jalan kan?"


"Iya betul. Awalnya aku juga sempat keder dan kadang tersesat tapi ya, Alhamdulillah aku bisa mengantarkannya tepat waktu." jawab Agust.


"Dulu ayah yang melarang dia bekerja, kenapa sekarang malah membiarkannya?" tanya Archi dengan jengkel.


"Dulu ayah takut dia bisa tersesat, atau terluka dan nggak akan bisa melakukan apapun di luar rumah karena dia amnesia, tidak bisa ingat apa-apa. Tetapi setelah melihat dia rumah dan melihat dia memiliki kemampuan, bahkan dia tetap memiliki keahliannya sebelum dia amnesia ya ayah izinkan lah." jelas Ayah.


"Sekarang kenapa kamu yang melarang dia bekerja?" tanya Ayah.


"Itu..." Archi berpikir.


"Nggak kenapa-kenapa. Aku ngantuk mau tidur." jawab Archi berdiri. Menghindari pertanyaan Ayah.


Agust mengikuti Archi pergi ke kamarnya.


Archi duduk di atas tempat tidur, menyandarkan punggungnya dengan nyaman ke sandaran atas tempat tidur. Memaki airpods di telinganya Archi memutar lagu favorite nya untuk saat ini, Amygdala by Agust D.


Dia mengintip ke arah Agust yang terdiam memainkan pulpen di jemarinya di meja belajar. Archi menutup matanya lagi. Agust menoleh memperhatikan Archi lipsing lagu yang sedang dia putar. Agust meluruskan wajahnya lagi, mendongakkan kepalanya ke belakang sambil terpejam.


Archi melihat ke arah Agust. Agust menarik dan membuang napasnya dengan kasar. Agust membuka matanya. Mereka bertemu tatap. Archi membuang muka.


"Archi!"


"Agust!"


Mereka memanggil nama mereka secara bersamaan.


"Kamu dulu," suruh Agust.


"Maaf, kalau aku udah terlalu keras sama kamu," kata Archi dengan lirih.

__ADS_1


"Aku cuman khawatir sama kamu," sambungnya.


"Iya, aku ngerti. Maafin aku juga yang ngambil keputusan tanpa minta pendapat kamu dulu," kata Agust sambil berjalan lalu duduk di tepi tempat tidur.


"Aku cuman ingin mengambil kesempatan itu. Aku takut aku akan melewatkan itu, kalau aku menundanya." sambung Agust menatap wajah Archi lekat-lekat.


"Tapi kamu benar-benar sudah memikirkan, kemungkinan dirimu menjadi kucing saat sedang bekerja?" tanya Archi.


"Yah. Seringnya aku berubah membuatku tahu tanda-tanda saat aku akan berubah. Ketika aku akan berubah, aku akan bersembunyi. Kalau sempat aku akan meminta izin pulang cepat kepada atasanku. Tetapi kamu jangan khawatir. Aku bisa mengatasi ini," Agust menjelaskan rencananya.


"Aku hanya ingin kamu mempercayai aku dulu," pinta Agust menatap jauh ke dalam mata Archi.


Archi mengangguk.


"Itu udah cukup untuk menjadi penyemangatku." Agust tersenyum.


"Aku sebenarnya sudah memiliki rencana. Kalau aku sudah punya cukup uang, aku ingin kita membuka usaha dan kamu yang akan mengelolanya." ungkap Archi.


"Kamu berpikir sejauh itu?"


"Iya. Kenapa? Apa nggak boleh?"


"Boleh banget!" Agust mengangguk semangat


"Kamu kenapa?" tanya Archi.


"Nggak." Agust menggeleng.


"Apa aku harus menceritakan yang terjadi kepadaku saat mendengar lagu Daechwita tadi?" pikir Agust.


"Lebih baik jangan," putusnya kemudian.


Hari berganti hari, Agust masih bekerja di irene's pizza dan dia belum berubah sejak saat itu.


Sementara hari-hari menyedihkan, Archi rasakan di kantor. Setiap kali ada kesempatan Ridwan akan memarahi Archi, mencari kesalahan Archi.


"Masa kamu bisa ngasih design jelek begini!" hardik Ridwan melempar kertas gambar design yang telah Archi buat ke meja Archi.


"Kamu kuliah ngapain aja? Cepet perbaiki!" bentaknya menyuruh dengan kasar.


Menahan tangisnya Archi mencoba mendesign ulang seperti yang Ridwan perintahkan.


Saat istirahat, Archi dan tiga temannya ke kantin untuk membeli makan siang. Mereka duduk di tempat biasa yang mereka tempati. Kali ini nggak ada lagi Ridwan yang akan sengaja menghampiri meja mereka untuk duduk bergabung.


Ridwan tetap duduk di meja yang dia tempati bersama rekan-rekannya yang lain. Bahkan Ridwan sama sekali tidak memandang ke arah Archi seperti yang sering dia lakukan untuk curi-curi pandang kepada Archi.

__ADS_1


Melihat hal ini membuat gosip diantara para karyawan yang memperhatikannya. Mereka berbisik-bisik membicarakan Archi.


"Dulu dia di ratukan oleh Pak Ridwan, lihat sekarang." nyinyir seorang wanita berambut panjang bergosip dengan yang lain di mejanya.


"Itu sebabnya dia menyembunyikan kebenaran kalau dia sudah menikah. Karena dia tahu Ini yang akan terjadi kalau Pak Ridwan tahu," kekeh temannya rambut panjang menatap ke arah Archi yang berada di dekat meja mereka.


"Bisa-bisanya dia memanfaatkan kebaikan Pak Ridwan," sahut yang lain.


"Nggak abis pikir aja, kok bisa dia nikah sama orang lain? Padahal dia tahu Pak Ridwan aja suka sama dia," timpal si rambut panjang lagi.


"Suaminya Dirut kali, hahaha..." mereka semua tertawa.


Archi yang bisa mendengarkan percakapan mereka hanya bisa menunduk sambil menggigit roti sandwich dengan tatapan kosong.


Teman-teman Archi menatap prihatin kepada Archi. Mereka merasa kasihan kepada Archi tetapi mereka juga bingung harus bagaimana untuk bisa membantu Archi.


Hari Senin kemudian...


Archi dipanggil Ridwan ke ruangannya.


"Saya dapat laporan dari Ibu Ella, katanya dia minta kamu revisi design iklan produk minuman kaleng tapi hasilnya nggak berubah. Bener begitu?" tanya Ridwan begitu ketus.


"Iya, saya sudah coba seperti petunjuk beliau. Tapi, dia masih nggak cocok dengan yang saya buat. Saya coba perbaiki lagi dan beliau bilang hasilnya udah bagus." jawab Archi menunduk.


"Kamu sebenarnya niat kerja nggak sih?" bentak Ridwan sinis. Sampai terdengar keluar ruangannya. Ridwan Menatap Archi tajam.


"Saya capek loh belain kamu. Kamu selama ini aman kerja di sini karena saya coba bujuk mereka untuk bisa kasih kesempatan buat kamu. Kamu mana tahu hal itu," ungkap Ridwan.


"Tapi selalu aja keluhan lagi yang saya dapat tentang kamu. Kamu kalau udah nggak mau kerja di sini bilang." Bentak Ridwan.


Airmata memenuhi kelopak bawah mata Archi. Hingga setetes air berhasil menuruninya matanya, meluncur bebas di satu pipinya.


"Kalau bapak udah nggak mau saya kerja di sini," Archi mengeluarkan suaranya yang berat.


"Saya bisa buat surat pengunduran diri sekarang juga. Tapi tolong jangan cari-cari kesalahan saya. Apalagi terus mempermalukan saya di depan yang lain," tambah Archi mengangkat wajahnya.


"Saya bukan nggak terima saya salah, Pak. Tapi yang saya nggak suka cara bapak mengungkapkan itu yang harus dengan bentakan, apalagi di depan teman-teman yang lain. Maaf, pak saya lancang menjawab. Saya hanya mengungkapkan yang saya rasakan." sambung Archi.


"Saya serahkan surat pengunduran diri saya besok, pak. Saya permisi!" kata Archi undur diri. Keluar dari ruangan Ridwan.


Ridwan terduduk di kursi kerjanya. Menghela napas kasar. Raut wajahnya terlihat sangat kesal tapi juga menyesal.


Apakah benar Archi akan mengundurkan diri dan pergi dari perusahaan? Inikah akhir dari kisah Archi dan Ridwan? Yuk cari tahu dengan membuka lembaran selanjutnya!


...Selamat membaca...

__ADS_1


__ADS_2