Cinta Agusd Si Kucing Tampan

Cinta Agusd Si Kucing Tampan
98. Tersadar


__ADS_3

"Ini pun jadi sulit, karena setahu ayah ada talak yang tidak dapat dirujuk, salah satunya, pasangan suami istri yang belum pernah berhubungan badan." jelas Ayah.


"Jadi kami tidak dapat rujuk kembali?" tanya Agust terlihat sangat sedih.


"Bisa, tetapi melalui akad baru." jawab Ayah. "Menikah ulang. Tetapi ada yang ingin ayah tanyakan dan kamu harus jawab jujur, apa selama pernikahan kalian, kalian nggak pernah saling menyentuh sama sekali?" tanya Ayah menatap wajah Agust lekat dengan pandangan menyelidik.


Agust terbelalak, wajah putihnya memerah dengan cepat. Seketika bayangannya saat bercumbu, dan kejadian terakhir kali dia memaksa Archi untuk berhubung an badan, saat mencium dan meremas bukit Archi melintas dalam bayangannya.


"Sudah jangan di jawab. Ayah sudah tahu jawabannya dari ekspresi mu." Agust menunduk malu.


"Ayah rasa kalian bisa rujuk secara lisan dengan disaksikan dua saksi laki-laki."


"Benarkah bisa Ayah?" tanya Agust matanya berbinar cerah.


"Iya. Temui Archi segera. Dia bahkan belum sadar hingga saat ini." kata Ayah prihatin.


"Baik Ayah." jawab Agust.


Di rumah sakit....


Perlahan mata Archi terbuka. Matanya mengerjap melawan silau.


"Archi!" ibu mengusap rambut Archi sementara Archi membiasakan matanya dengan cahaya.


"Aku dimana ibu?" suaranya yang lirih terdengar serak.


"Kamu di rumah sakit sayang!" jawab Ibu sangat senang melihat putrinya akhirnya terbangun dari tidur panjangnya.


"Rid-wan!" ucap Archi lirih mendapati sosok tinggi nan innocent itu berdiri di belakang ibunya dengan wajah bahagia memandang ke arahnya.


"Agust...dimana Agust Ibu?" tanya Archi buru-buru seraya menggenggam tangan Ibunya.


"Agust...," Ibu termenung memikirkan jawaban yang tepat.


"Agust sedang pulang dulu sama Ayah," jawab Ridwan berbohong. Ibu menoleh ke arah Ridwan. "Gantian jaganya, semalaman dia menjagamu." sambungnya.


"Aku tahu, Agust pasti kembali. Saat aku hampir hilang kesadaran aku melihatnya berusaha menyadarkan aku." ujar Archi berkaca-kaca.


Ibu mengangguk menahan kesedihannya.


"Kenapa kamu berbohong?" bisik Ibu.


"Archi baru sadar. Kalau kita jujur nanti dia akan stress lagi." Ridwan pun menjawab dengan berbisik.


"Tetapi bagaimana kalau Agust nggak akan datang?"


"Kalau kondisinya sudah pulih baru kita akan jujur Ibu. Sementara biarkan seperti ini." terang Ridwan.


"Bagaimana ibu tidak akan bersimpatik kepada pemuda ini? Saat Archi dalam masa sulit dia akan selalu ada untuk Archi. Bahkan di saat dia tahu Archi sudah memiliki suami, dia tetap setia bersama Archi. Selalu melindunginya, mencoba memahami perasaan Archi tanpa peduli perasaan dirinya sendiri yang mungkin cemburu dan terluka." pikir Ibu memandang Ridwan yang tengah mengajak Archi berbicara.

__ADS_1


"Tetapi tadi Archi mengatakan dia melihat Agust sebelum hilang kesadaran? Saat aku masuk aku nggak melihat siapapun. Apa mungkin Archi hanya berhalusinasi?" tanya Ibu kepada dirinya sendiri seraya mengingat kejadian saat dia menemukan Archi pingsan.


Ayah memasuki ruang perawatan.


"Archi, kamu sudah sadar Nak?" kata Ayah terlihat senang.


"Sudah Ayah. Agust sedang istirahat di rumah ya Ayah?" tanya Archi. Ayah yang bingung menatap ibu menutup kelopak matanya memberi isyarat untuk berkata iya.


"Iya Archi." Ayah duduk di sofa di sebelah Ibu.


"Bagaimana pertemuannya dengan Agust?" tanya Ibu dengan berbisik.


"Iya, dia juga sebenarnya ingin kembali tetapi dia ragu dengan status hubungannya bersama Archi. Tetapi dia akan kembali." jawab Ayah.


"Syukurlah. Mudah-mudahan dia akan segera datang. Karena kami berbohong Agust telah kembali."


"Semoga saja."


Ridwan mencuri dengar percakapan Ayah dan Ibu yang terdengar samar-samar.


"Jadi dia akan kembali. Bila itu bisa membuat Archi bahagia, aku juga ikut senang." batin Ridwan getir.


"Susan, Andini dan Icha setiap pulang kerja ke sini dulu selama kamu belum sadar." celoteh Ridwan.


"Apa hari ini mereka juga akan ke sini?" tanya Archi penuh harap.


"Sepertinya begitu. Aku akan kirim pesan kepada mereka kalau kamu sudah sadar. Pasti mereka senang banget." jawab Ridwan.


Wajah Archi memerah dengan senyum tipis mengembang di wajahnya.


Pulang bekerja, Susan, Andini dan Icha benar-benar datang untuk menjenguk Archi.


"Yee...Pak Ridwan izin kerja urusan keluarga, taunya di sini." goda Susan.


"Ya kan Archi udah kaya keluarga buat aku." jawab Ridwan ketawa kecil.


"Iya dah tau. Hehehe..." sambut tawa yang lain.


"Archi gimana kabarmu, sayang?" tanya Susan memeluk Archi. Begitu juga dengan yang lain.


"Alhamdulillah udah mendingan." jawab Archi yang duduk bersandar dengan bantal di balik punggungnya.


"Kita sampai khawatir loh kamu nggak bangun-bangun." jawab Andini.


"Iya. Kita pikir kamu koma." sahut Icha.


"Aku cuman tidur lupa bangun aja." kelakar Archi.


"Senang banget bisa ngeliat Archi aku, ceria lagi." ungkap Icha memeluk Archi.

__ADS_1


"Karena semua udah membaik saat aku bangun. Agust juga udah kembali lagi."


"Benarkah?" tanya Susan, Andini dan Icha serempak dengan terkejut.


"Iya." jawab Archi. Mereka bertiga menatap ke arah Ridwan. Ridwan hanya mengangguk sebagai isyarat.


"Syukur kalau gitu." sahut Susan tersenyum terpaksa.


Setelah Ayah dan Ibu Archi kembali ke rumah sakit. Teman-teman Archi dan Ridwan pun pamit pulang.


"Terimakasih ya Nak. Seharian ini sudah menemani Archi." ucap Ibu sedikit membungkuk kepada Ridwan.


"Sama-sama Bu."


"Dia mah senang Bu bisa seharian sama Archi," goda Susan membuat wajah Ridwan memerah karena malu.


"Kalau gitu kita pamit ya Bu, Ayah, Archi!" pamit mereka.


"Assalamualaikum!"


"Waalaikumsalam!"


"Dadah Archi! Cepet pulih!" teman-teman Archi melambai sebelum keluar ruangan.


"Dah...aamiin..." jawab doa Archi.


Teman-teman Archi menghilang di balik pintu saat pintu tertutup.


"Katakan yang sebenarnya!" tuntut Archi dengan wajah menunduk.


Ayah dan Ibu tertohok, saling memandang.


"Agust belum kembali kan?" perlahan Archi mengangkat wajahnya. Kelopak bawah matanya telah dipenuhi air yang siap meluncur ke pipinya.


"Agust...,"


"Kalau dia di rumah, dia pasti menjawab telepon dan pesanku. Tetapi handphone-nya bahkan nggak aktif." sela Archi.


"Agust memang belum kembali. Tetapi dia akan kembali. Dia sendiri yang mengatakannya kepada ayah." kata Ayah.


"Sudah! Cukup! Jangan membohongi aku lagi. Kalian hanya nggak ingin aku ngedrop lagi kan? Makanya kalian terus mengatakan Agust akan kembali. Aku tahu dia nggak akan kembali. Agust sudah melupakan aku, benar-benar meninggalkan aku." Archi menangis tersedu-sedu. Ibu menghampirinya dan memeluknya.


"Ini nggak bohong sayang. Ayah sudah menemui Agust dan dia mengatakan dia akan kembali. Kita tunggu saja ya." kata Ibu.


"Aku baru akan percaya kalau Agust sudah datang." jawab Archi dalam isaknya.


"Kalau Agust nggak datang, ayah akan menemui nya lagi." kata Ayah mencoba menenangkan Archi.


"Jangan. Kalau dia nggak mau datang, biarkan saja. Aku sudah memutuskan, kalau dia memang benar-benar ingin pisah, akan aku kabulkan." kata Archi.

__ADS_1


"Sayang," Ayah dan Ibu khawatir.


...~ bersambung ~...


__ADS_2