Cinta Agusd Si Kucing Tampan

Cinta Agusd Si Kucing Tampan
CAT - 130


__ADS_3

"Agust bersenandung di depan cermin, mencoba memasang dasinya." Archi mendekat dan membantu Agust memasang dasi.


"Sepertinya dia lebih bahagia dari biasanya." batin Archi. "Apa dia sudah memiliki pandangan dengan Irene sebagai tunangannya. Itu pasti yang membuatnya jadi baik kepada Irene dan bahagia seperti itu." sambungnya.


Hatinya mulai terasa perih. Pikirannya kalut oleh prasangka nya sendiri. Tanpa Archi sadari, dengan pandangannya kesalnya, Archi mengencangkan lingkaran dasi di leher Agust.


"Akh...Archi...aku tercekek." kata Agust. Archi melengos, cuek dan pergi ke bawah untuk sarapan.


"Hah...nafasku sesak." kata Agust yang berhasil melonggarkan ikatan di lehernya. "Kenapa dengan Archi. Dia seperti sengaja mencekikku." gumam Agust berjalan keluar kamar.


Di kantor....


"Setelah pertemuan ini, ada janji makan siang bersama dengan Pimpinan Bio Farma." Irene memberitahukan jadwal sampai siang ini seraya mengikuti langkah Agust menuju ke lift.


Karena jalan terburu-buru, hak tinggi Irene slip dan ia hampir terjatuh. Dengan refleks Agust menangkap Irene.


Jantung keduanya berdegup kencang. Dejavu akan kebersamaan mereka semerbak dalam benak mereka. Mata mereka saling memandang.


"Kamu nggak apa-apa?" tanya Agust membantu Irene berdiri tegak.


Irene yang masih shock, hanya menjawab dengan gelengan. Agust kembali berjalan. Irene meraih tangan Agust.


Dengan lembut Irene berkata, "Terimakasih Pak!" mata Irene berkaca-kaca. Rasa haru dan sedih bercampur dengan rasa senangnya karena Agust tidak lagi ketus kepadanya.


Agust merengkuh jemari Irene yang menggenggam tangannya. Agust mengangguk sambil tersenyum simpul. Di kejauhan seseorang memerhatikan mereka.


Tidak ingin berburuk sangka dan tetap positif namun nyatanya itu sulit dilakukan hatinya. Sekeras apapun dia menenangkan hatinya, rasa cemburunya tetap lebih besar menguasai hatinya. Dia tidak ingin memikirkannya namun ketakutannya akan hubungan suaminya dengan Irene yang berlanjut, sulit dihindarkan.


"Archi!" panggil Ridwan. Namun gadis yang dipanggilnya bergeming dengan pandangan kosong. Ridwan menggoyangkan tangannya di wajah Archi. Manik Archi berkedip.

__ADS_1


"Iya pak maaf, saya lama mengambil berkasnya." jawab Archi gelagapan melihat bosnya harus keluar ruangan karena menunggunya.


"Iya nggak apa-apa. Kamu kenapa sih?" tanya Ridwan heran sambil berjalan kembali ke ruangan nya.


"Apa Irene dan Yoongi dulu saling mencintai?" tanya Archi.


"Hem... nanya soal itu lagi." Ridwan duduk santai di sofa. "Namanya mereka sampai bertunangan itu tandanya mereka saling mencintai Archi. Apalagi mereka itu dekat sejak saat masih anak-anak. Yoongi hyung itu sangat menjaga Irene. Dan begitupun sebaliknya." cerita Ridwan.


"Mungkin benar, Agust sudah mulai mengingat Irene. Rasa itu pasti kembali kepadanya." pikir Archi jadi murung.


"Aku ingin mengadakan rapat darurat saat Agust sudah datang." kata Ridwan memberikan informasi kepada Archi.


"Rapat darurat lagi? Apa ada masalah lagi?" tanya Archi penasaran.


"Iya. Masalah yang cukup besar dan menggemparkan." jawab Ridwan membuat Archi semakin ingin tahu ada apa sebenarnya.


"Aku akan meminta mereka datang ke ruang rapat. Tolong kamu siapkan ruang rapat ya. Aku juga butuh proyektor." jelas Ridwan.


Ridwan nampak bersemangat dengan rencananya. Meski Archi penasaran dan bingung Archi lebih memilih untuk tidak mencari tahu sekarang dan menunggu saat nanti datangnya rapat saja.


Archi pergi ke ruang rapat dan menyiapkan ruangan seperti yang di inginkan Ridwan.


"Sebenarnya ada apa Ridwan mengumpulkan semua, ya? Dan apa yang menggemparkan itu?" tanyanya.


Irene dan Agust sampai di kantor lagi setelah pertemuan diluar mereka dengan pimpinan perusahaan lain. Agust dan Irene pun pergi ke ruang rapat sesuai permintaan Ridwan.


Ridwan benar-benar mengumpulkan Tuan Nicholas, Tuan Ludwig, Archi, Agust dan Irene di ruang rapat. Semua yang diminta secara pribadi oleh Ridwan untuk hadir memenuhi permuntaan itu. Mereka memiliki pertanyaan yang sama "ada apa?"


Ridwan sang pimpinan rapat kali ini berdiri di hadapan semua yang telah hadir. Proyektor telah menyala namun belum menampilkan apapun.

__ADS_1


Dimulai dengan salam pembuka, Ridwan pun sampai ke intinya.


"Terimakasih karena telah meluangkan waktu kalian untuk datang ke sini. Ada hal genting yang harus aku bicarakan saat ini."


"Ada apa sebenarnya Ray?...Jangan membuang-buang waktu kami." tanya Tuan Nicholas dengan tidak sabar.


"Apakah ini tentang perusahaan?" tanya Tuan Ludwig.


"Yah sedikit berkaitan." Ridwan menekan tombol di remote dan sebuah cuplikan video terputar di layar proyektor.


Kejadian dalam video....


"Kerusuhan terjadi dalam demo karyawan tempat wisata pantai milik keluarga Selim." kakak berbicara layaknya pembawa berita yang sedang live di tempat kejadian.


Tuan Nicholas terpaku, matanya bulat besar melihat video itu. Video layar utuh belum dipotong seperti yang tayang di televisi sebelumnya.


"Dalam ke rusuhan ini...," Ridwan mem-pause video. Menzoom satu bagian di sudut video. Jauh di belakang video terlihat dua orang pria bertubuh tegap membawa seseorang yang tidak sadarkan diri. Di belakang mereka dua orang yang sangat familiar mengikuti. Tuan Nicholas dan Jeremy.


"Apa itu Ridwan?" tanya Tuan Ludwig belum bisa melihat dengan jelas. Ridwan menzoom lebih dekat wajah pria yang tidak sadarkan diri, berwajah Agust atau tepatnya Yoongi.


"Itu adalah Yoongi hyung setelah dinyatakan hilang tenggelam." jawab Ridwan dengan lantang menatap ayahnya.


"Iya itu Yoongi!" seru Irene dan Tuan Ludwig. Terbelalak, tak percaya. Mereka sampai berdiri dan membungkuk untuk melihat lebih jelas.


"Dari video terlihat, kalau ini diambil tiga puluh menit setelah kabar Yoongi hilang. Itu menandakan kalau Yoongi hyung tidak benar-benar tenggelam." jelas Ridwan.


Mereka di sana menatap Tuan Nicholas yang mulai ketakutan.


"Apa ini rencanamu, Nicholas?" Tuan Ludwig bertanya dengan geram ke arah Tuan Nicholas.

__ADS_1


Tuan Nicholas sudah gemetar di kursinya. Matanya pun jarang berkedip. Dia mulai gelagapan. Ketakutan.


__ADS_2