
Ayah menyipitkan mata di balik kacamatanya, "Lalu? Untuk apa?" tanya Ayah curiga.
"Aku sudah meminta anakku mengurus ini tetapi sepertinya dia tidak becus. Karena itu lebih baik aku memintanya sendiri kepadamu."
"Meminta apa maksudmu?" tanya Ayah dibuat bingung.
"File asli rekaman kerusuhan di hotel pantai beberapa bulan yang lalu." jawab Tuan Nicholas to do point.
"File asli kerusuhan?"
"Jangan pura-pura tidak tahu. Saat terjadi demo mogok pekerja pariwisata pantai milik kami. Kalian di sana dan merekamnya. Putri tertuamu mengirimkannya ke televisi untuk sumber berita. Dan sekarang aku meminta file asli rekaman itu."
"Bila yang merekam adalah putriku, kenapa kamu tidak bertanya langsung kepadanya? kenapa harus memintanya kepadaku?" geram ayah.
"Karena recorder itu milikmu, dan rekaman yang dikirim putrimu ke televisi bahkan sudah diedit, ada bagian yang terpotong."
"Aku sama sekali nggak tahu dengan yang kamu bicarakan. Bila kamu menginginkan file rekaman itu, aku akan memintanya kepada Levi. Kenapa hal seperti itu saja dipersulit." cetus Ayah.
"Baiklah, akan aku tunggu." jawab Tuan Nicholas tersenyum puas.
"Tetapi kamu yakin, kamu nggak ada hubungannya dengan editan video tersebut?" tanya Tuan Nicholas mendelik curiga ke arah Ayah yang bersiap menekan gagang pintu untuk keluar.
"Tidak!" jawab ayah dengan tegas bergegas keluar.
Di malam hari, jam menunjukkan pukul 23.00. Archi baru saja selesai shalat isya. Setelah menaruh perlengkapan shalatnya, dia berdiam diri di depan kaca jendela yang tertutup dan memandangi hujan yang turun.
"Hujannya awet juga." gumamnya sambil melipat tangan di dadanya.
Dari arah belakang Agust melingkarkan lengannya di pinggang Archi, menyatukan tubuh depannya dengan tubuh belakang Archi. Memeluknya begitu erat. Archi melongo, terperangah kaget memandang tangan Agust yang melingkari pinggangnya.
"Hujan di malam hari itu romantis." bisik Agust seraya menaruh dagunya di pundak Archi.
Archi kehilangan kendali nafasnya yang tiba-tiba terasa sesak. Di tambah jantungnya yang berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya.
Archi menoleh, menatap wajah Agust di sisi wajahnya. "Lalu hubungannya hujan romantis sama kamu meluk aku apa?" tanya Archi heran.
"Udah pandangin hujan aja!" protes Agust meluruskan wajah Archi kembali. "Biar tambah romantis," sambungnya tersenyum.
"Akh...kamu tuh suka ada-ada aja. Aku mau tidur!" elak Archi melepaskan lengan Agust dari pinggangnya.
Tap
Tangan kekar Agust menarik lengan Archi dan membawa Archi ke dalam pelukannya. Saling berhadapan. Wajah Archi bersemu merah berhadapan begitu dekat Agust.
"Kenapa sih kamu nggak mau romantisan sama aku?" tanya Agust melingkari lengannya lagi dipinggang Archi.
"Aku malu." jawab Archi polos. Mengundang tawa Agust keluar.
"Malu kenapa? Kita kan suami istri. Malah seharusnya kita harus sering kaya gini." jawab Agust.
"Kamu lagi demam ya Agust? Tiba-tiba banget begini." kata Archi menaruh punggung tangannya di dahi Agust.
"Demam menginginkan kamu!" bisik Agust mendekatkan wajahnya ke wajah Archi.
Tok....tok....
"Hufh...siapa lagi, ganggu aja!" gerutu Agust melepaskan pelukannya dan berjalan menuju pintu.
Meninggalkan Archi yang masih shock dan mengatur nafasnya yang kembang kempis dibuat Agust.
"Ini baju kalian." kata Ibu menyerahkan tumpukan baju bersih yang sudah di setrika.
"Oh...terimakasih ibu mertua. Maaf selalu merepotkan." ungkap Agust sedikit membungkuk.
"Ah...nggak masalah." jawab Ibu lalu pergi.
Setelah menutup pintu kamar dan menguncinya, Agust menaruh tumpukan baju ke dalam lemari.
__ADS_1
Agust tersenyum smirk kepada Archi dan memeluknya berhadapan lagi.
"Kamu kenapa sih Agust?"
"Ah...masa nggak ngerti." rengek Agust.
"Tumben, kamu mau."
"Aku ini laki-laki normal Archi. Masa iya aku nggak mau."
"Kemarin-kemarin nggak mau."
"Itu cuman belum siap. Sekarang aku siap!" serunya menekan tubuh Archi semakin dekat kepadanya.
"Ya ampun ni kucing. Kelakuannya sama kaya kucing lagi minta kawin sama betinanya." batin Archi.
Agust membungkuk, mendekatkan wajahnya dengan sedikit memiringkan kepalanya. Archi yang gemetar gugup, memejamkan matanya seraya menggigit bibir bawahnya.
Tok...tok...
"Alamak....Aku kunciin juga nih Authornya. Biar nggak ganggu malam ini." gerutu Agust membuka kan pintu.
"Agust, ini baju Archi kebawa ke lemari aku sama ibu." kata Kakak menyerahkan baju yang terlipat.
"Oh, iya ka. Maaf." sahut Agust tersenyum.
Agust menutup pintu setelah Kakak pergi.
"Authornya udah aku kurung. Jadi nggak bisa gagalin malam pertama kita lagi." kata Agust tersenyum licik. "Loh!" Archi menghilang dari tempat dia berdiri semula.
Agust menoleh ke atas tempat tidur, Archi berbaring menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.
"Udah siap aja di atas kasur!" gumam Agust menghampiri Archi.
"Aku mau tidur! Besok kerja!" pekik Archi di balik selimut.
"Kucing tahu dari mana malam sunnah segala." batin Archi seraya memejamkan matanya. Mencoba mengacuhkan Agust.
Tap....
Selimutnya terbuka....
Archi membuka sedikit matanya untuk mengintip.
"Agust...,"
Cup....
Tanpa aba-aba Agust menyambar bibir Archi yang hendak berbicara. Membuat Archi tertegun, dengan manik membesar.
"Mungkin ini sangat terlambat untuk malam pertama kita. Namun aku ingin membuat ini jadi malam yang nggak akan pernah kita lupakan." ucap Agust lirih.
Senyum haru tergambar di wajah Archi.
Pergulatan panas kedua insan yang sedang dimabuk gairah pun akhirnya terjadi setelah sekian lama menanti.
Satu persatu pakaian mereka terlepas. Sentuhan, rabaan, dan kecupan bibir Agust memanjakan tubuh Archi dengan sensasi geli yang nikmat. Tubuh mereka bergerak secara alami.
"Ssshhh....Archi, aku mencintaimu. Kamu milikku," ucap Agust menggeram, menekan dirinya semakin dalam di tubuh Archi. Menumpahkan cairan miliknya tenggelam di dalam diri Archi.
Di waktu bersamaan, tubuh Archi menegang, melingkarkan lengannya dengan kuat ke punggung Agust. Dia juga merasakan hal sama.
Tubuh mereka terasa panas dan berkeringat, padahal malam yang dingin karena hujan dan AC di kamar sangatlah dingin tetapi mereka tidak merasakannya sama sekali.
Agust menjatuhkan diri ke atas tubuh Archi yang lemah. Sekali lagi bibir tipis dan manis itu mengecup bibir sang istri seolah berucap terimakasih atas kenikmatan yang baru saja dia rasakan.
Agust berpindah, berbaring di sisi Archi. Menutupi tubuh keduanya yang tanpa sehelai benang pun dengan selimut.
__ADS_1
"Aku mencintaimu, Archi!" ungkap Agust dengan lembut seraya memeluk Archi begitu erat dan mencium puncak kepala Archi.
Archi menyandarkan kepalanya di dada Agust yang terasa hangat. Tersenyum bahagia.
"Aku juga mencintaimu Agust, sangat mencintaimu."
"Aku ingin kita selamanya seperti ini."
"Ya nggak mungkin dong. Kita kan perlu kerja, makan, ya harus turun dari tempat tidur." jawab Archi.
Tuk!
Agust menyentil pelan dahi Archi, "Bukan gitu maksudku Archi. Maksudnya aku ingin kita bersama selamanya dalam perasaan bahagia seperti ini."
"Oh," jawab Archi tersenyum konyol mengeratkan pelukannya dan mendusel di dada Agust.
Mereka pun tertidur pulas dengan posisi yang masih sama. Hingga pagi menjelang dan mengharuskan mereka bangun untuk kembali beraktifitas.
Archi bergerak dalam pelukan Agust, "Pagi Archi!" sapa Agust dengan mata masih terpejam.
"Pagi. Aku mau bangun, Agust!" kata Archi. Namun Agust malah semakin mengeratkan pelukannya.
"Baru jam setengah lima kurang, belum adzan." jawab Agust dengan malas, masih terpejam.
"Masih bisa untuk satu babak lagi." imbuh Agust.
"Eh...apa maksudnya satu babak lagi?" tanya Archi jadi gugup.
Hap....
Sekejap mata, Agust berada di atas Archi. Menatapnya lembut.
"Ini nggak akan lama kaya semalam. Udah bangun nih!"
"Astaga...Agust,"
Cup....
Ronde kesekian kali pun berlanjut.
"Akh...aku nggak bisa kerja ini." rintih Archi merasakan inti tubuhnya yang terasa perih.
"Ya udah, kita nggak usah kerja di rumah aja." sahut Agust memeluk Archi.
"Lagian nambah terus udah kaya makan nasi padang di restonya." gerutu Archi.
Agust nyengir, "Abis enak."
"Dasar kucing mesum!" jawab Archi.
"Ini normal Archi." sahut Agust.
Archi tersenyum gemas, "Lengkap sudah, aku jadi istrimu." kata Archi.
"Hehe...belum lengkap juga sih."
"Apa? Masih mau minta tambah?" pekik Archi.
"Bukan, kan belum ada baby. Belum lengkap."
"Oh iya." Archi nyengir.
"Semoga kita cepat dapat baby." harap Agust memegang perut Archi.
"Aamiin!"
...~ bersambung ~...
__ADS_1