
Agust merebahkan diri dan pergi tidur kemudian. Archi membuka matanya, menoleh ke bawah tempat tidur, Archi mengulurkan tangannya hendak mengusap wajah Agust dengan mata berkaca-kaca.
Archi menarik dengan cepat tangannya kembali. Ia berbalik membelakangi. Air mata menetes kembali dari mata Archi.
"Maaf..., aku nggak bisa. Aku nggak bisa." hatinya merasa begitu perih.
Shubuh datang, Agust terusik karena teringat tak ada gangguan dari Archi. Dengan mata yang masih mengantuk Agust duduk agar dapat melihat Archi di atas tempat tidur.
Sejurus matanya membesar, kasur Archi kosong. Tak ada penghuninya. Detak jantungnya berubah cepat, dan mencekik hatinya dengan rasa takut dan khawatir.
"Archi? kemana?" paniknya Agust beringsut berdiri. "Akh...bodoh sekali aku. Malah keenakan tidur sampai nggak tahu Archi pergi dari kamar." gerutunya sendiri, buru-buru keluar dari kamar Archi dan mencari ke kamar mandi. Setelah melihat kamar mandi kosong Agust berlari ke bawah.
"Ini susu hangat, minumlah dulu." Ibu memberikan segelas susu putih kepada Archi yang duduk di kursi meja makan.
Agust terengah-engah memasuki dapur. Perasaan lega segera menghinggapinya saat melihat Archi baik-baik saja dan sedang bersama Ibu.
"Aku pikir Archi kemana?" kata Agust, nafasnya belum stabil.
"Dia bangun dan turun ke sini. Kamu mau mulai masak?" tanya Ibu.
"Aku shalat dulu bu. Aku belum shubuh." jawab Agust.
"Oh oke."
Kemudian, saat Agust memasak bersama Ibu, Archi lebih memilih keluar dan memberi makan kucing liar di depan rumahnya. Agust yang telah merampungkan memasak pergi menyusul Archi untuk menyuruhnya sarapan. Saat itu masih dari kejauhan Agust melihat Archi yang tampak bahagia menggendong anak kucing telantar.
"Syukurlah, Archi sudah kelihatan bahagia. Walau aku sedih, dia belum bisa menerima aku." batin Agust murung.
"Archi!" panggil Agust lembut namun tetap mengejutkan untuk Archi yang melonjak kaget.
Archi berdiri cepat dan berjalan tanpa mendengarkan apa yang mau Agust sampaikan. Sorot matanya tak pernah sekalipun ingin bertemu pandang dengan Agust.
"Archi," bisik Agust lirih menatap istrinya yang berjalan cepat.
"Archi!" panggil Ibu. Archi berhenti berjalan. "Sarapan dulu nak." kata ibu.
"Aku nggak lapar bu. Nanti saja." jawab Archi berlalu ke kamarnya.
"Nanti kamu saja yang mengantarkan sarapan ke kamarnya, ya." kata Ibu.
"Nggak bu. Archi nggak mau dekat denganku. Sebaiknya ibu saja. Daripada Archi nggak mau sarapan bila aku yang membawakan makanan untuknya."
Ibu mempertimbangkan ucapan Agust, "Kamu benar juga. Ya sudah kalau begitu." jawab Ibu.
__ADS_1
Di tempat lain. Di sebuah apartemen mewah. Ridwan berbaring tak bertenaga. Tidur tanpa memakai pakaian, tubuhnya terbungkus selimut tebal berwarna putih. Walau ini sudah masuk jam kerjanya namun tak ada niatan baginya untuk bangkit. Rasanya hidupnya telah berakhir. Dalam pikirannya dia tak bisa berhenti memikirkan Archi yang kini membencinya.
Kau diamkan aku
Kau tinggalkan aku
Lumpuhkanlah ingatanku
Hapuskan tentang dia
Kuingin kulupakannya
Suaranya yang merdu menyanyikan sebuah lagu dari Geisha. Lagu itu terngiang tatkala dia mengingat kisahnya kini bersama Archi. Dering telepon mengusik pikirannya.
"Halo..!" sahut nya malas menerima panggilan telepon.
"Tuan Ridwan. Lamaran pekerjaan yang anda masukan ke PT Genilab Farma sudah kami terima. Dan anda diminta untuk menggantikan posisi Tuan Jeremy." kata seorang wanita di telepon.
"Nanti sajalah. Aku sedang tak tertarik." jawab Ridwan.
"Berhubung asisten Manager Nona Archila pun belum bisa hadir, jadi posisi ini mengalami kekosongan Tuan."
"Archi, asisten?" batin Ridwan.
Di kantor Genilab, "Bagaimana? Ridwan pasti menerimanya kan setelah mendengar nama Archi?" tanya Tuan Nicholas.
"Tuan Ridwan hanya menjawab, dia akan bekerja nanti tapi tidak hari ini." jawab Maia.
"Hah...anak itu. Kenapa anak-anakku tak ada yang waras karena wanita. Jangan-jangan aku juga sudah nggak waras." gumam Tuan Nicholas geleng kepala.
Selanjutnya datang bersama pengacara Tuan Nicholas, menjenguk Jeremy di penjara.
"Untuk dapat mengurangi masa tahanan dari yang jaksa penuntut ajukan, Tuan Jeremy harus mengakui kalau selama bekerja satu ruangan dengan korban, Tuan Jeremy sering kali digoda olehnya." kata Pengacara.
"Itu hal mudah, benarkan Jeremy?" sokong Tuan Nicholas menatap Jeremy yang hanya diam.
"Aku nggak akan melakukan hal itu. Archi bukan wanita seperti itu." tampik Jeremy menolak keinginan pengacaranya untuk menyudutkan Archi dalam persidangan nanti.
"Pabo-ya...ikuti saja apa kata pengacaramu. Apa kamu mau membusuk dipenjara?" omel Tuan Nicholas mengeplak kepala Jeremy.
"Cari cara lain yang tidak menjelekkan Archi." gerutu Jeremy.
"Hufh...!" Nafas Tuan Nicholas terdengar frustasi dibuatnya.
__ADS_1
...****************...
Sore hari sahabat Archi datang selepas bekerja. Archi sudah mulai mau bicara dengan mereka. Walau belum banyak, namun Archi mulai menunjukkan ekpresinya.
"Senang kalau melihat kamu sudah baik-baik saja Archi." Kata Andini terharu melihat sahabatnya.
"Iya betul. Kami tahu kamu kuat Archi." sahut Andini menggenggam tangan Archi.
"Terimakasih ya semuanya. Kalian selalu mendukungku." ucap Archi ikut terharu.
"Tapi sudah beberapa hari ini Pak Ridwan nggak masuk bekerja." ujar Susan yang lagi-lagi tak bisa menjaga mulutnya untuk nggak keceplosan. Dia menelan saliva saat Icha dan Andini melotot kepadanya. "Maaf," ucap Susan jadi merasa tak enak hati.
Archi menjadi diam kembali dan menundukkan wajahnya. Sahabat Archi pun jadi saling diam dan memandang satu sama lain.
"Ini cemilannya sedikit." kata Ibu membawa nampan berisi makanan."
"Terimakasih Tante." jawab sahabat Archi.
Malam harinya pun tiba, Agust menyadari bahwa Archi sudah membaik. Namun Archi hanya menghindari dirinya saja. Agust yang tak tahan dengan kondisi ini tanpa sadar menuntut penjelasan kepada Archi.
"Archi kamu kenapa?" tanya Agust penuh rasa ingin tahu. "Kenapa hanya aku yang tak mau kamu ajak bicara?" tuntut Agust meminta penjelasan.
Archi hanya diam tak mau menjawab ataupun menatap Agust. "Archi!" Agust menarik lengan Archi dan memaksa untuk menatapnya.
Archi ketakutan, wajahnya dan tubuhnya berubah tegang. Dia terus memberontak.
"Archi, aku nggak mau menyakitimu. Tetapi aku ingin tahu kenapa hanya aku yang kamu hindari?" tanya Agust lagi.
"Lepaskan aku! Aku mohon." Archi berlinang air mata. kakinya terasa seperti jelly dan lunglai terjatuh duduk di lantai saat Agust melepaskannya.
Agust yang menyesal, bersimpuh disisi Archi dan memeluk Archi. "Maafkan aku Archi, maafkan aku!" sesalnya dengan maniknya yang berkaca-kaca.
"Lepaskan!" Archi mendorong Agust.
"Jangan sentuh aku Agust!" larang Archi dalam linangan airmata nya.
"Tetapi kenapa Archi?" tanya Agust.
"Karena aku tak pantas untuk kamu sentuh," nada suara Archi meninggi. "Aku kotor Agust....aku kotor!" jeritnya.
"Apa?" Agust terkesiap mendengarnya. Tak menyangka dengan yang ada di dalam pikiran Archi selama ini.
...~ bersambung ~...
__ADS_1