
Dari dalam Agust berjalan keluar lalu menutup pintu dari luar. Secara bersamaan, Tuan Ludwig dan Tuan Nicholas menunjukkan ekspresi keterkejutan mereka saat berhadapan dengan Agust.
"Yoongi!" bisik lirih mereka di waktu yang sama.
"Benar kata Ridwan, suami Archi mirip Yoongi." batin Tuan Ludwig.
Sementara dalam pikiran Tuan Nicholas, dia mengingat kejadian semalam...
"Untuk sementara, kamu harus bersembunyi." kata Tuan Nicholas menuang soju ke dalam gelas.
Lewat tengah malam dia berada dikedai ala kedai Korea yang menjual hidangan khas Korea. Di hadapannya, seseorang menggunakan coat panjang berwarna light mocca, topi baseball yang mentupi sebagian wajahnya.
"Polisi sedang mencarimu. Setelah semua dokumennya siap, pergilah ke Jepang dan bersembunyi di sana sampai keadaan di sini aman." sambung Tuan Nicholas.
"Aku nggak mau pergi. Aku sudah mendapatkan surat perjanjian bersama Archi." jawab Jeremy.
"Bersikaplah waras untuk sekali saja. Surat itu bahkan nggak berguna bila kamu dipenjara." tukas Tuan Nicholas dengan kesal.
"Ini hanya sementara sampai keadaan aman. Ayah akan mengurus proses hukummu agar dihentikan. Sampai itu berhasil kamu harus pergi dari Indonesia."
"Arrrggh....!" geram Jeremy. "Ayah tahu apa yang aku temukan saat di gudang?" Jeremy teringat sesuatu untuk diberitahukan kepada ayahnya.
"Apa itu?" tanya Tuan Nicholas menenggak sojunya lagi.
"Suami dari Archi, dia sangat mirip dengan Yoongi." kata Jeremy.
Tuan Nicholas mengernyit, "Benarkah? Mirip dengan Yoongi? Bagaimana bisa?"
"Itu yang nggak aku mengerti. Bukankah dia sudah meninggal?" sahut Jeremy bingung.
"Apa mungkin dia hanya mirip? Mereka orang yang berbeda."
"Entahlah. Tetapi apa mungkin ada dua orang yang begitu mirip?"
Ingatan Tuan Nicholas kembali ke masa sekarang,
"Benar kata Jeremy. Dia sangat mirip." dahi Tuan Nicholas berkerut memandang Agust.
"Sebaiknya kalian pergi dari sini. Aku nggak mau Archi bertambah shock dengan kehadiran kalian." kata Ayah menunjuk arah keluar.
"Yoongi! Apa kamu Yoongi?" tanya Tuan Ludwig mendekati Agust dan memegang pipi Agust dengan lembut.
__ADS_1
"Yoongi?" Agust mengernyit bingung.
"Tuan..saya mohon tinggalkan tempat ini. Jangan sampai saya berlaku kasar dengan kalian. Walau bagaimanapun kalian adalah atasan saya." kata Ayah berdiri di hadapan Agust.
"Ayo, Ayah! Kita pulang." ajak Tuan Nicholas memegang lengan Tuan Ludwig.
"Baiklah." Mata Tuan Ludwig nampak berkaca-kaca berjalan dengan lesu.
Di mobil...
"Apa dia Yoongi?" tanya Tuan Ludwig sangat penasaran.
"Nggak mungkin Ayah. Dia hanya mirip. Kita tahu sendiri bahwa Yoongi sudah meninggal."
"Tetapi bagaimana bisa suami Archi begitu mirip dengan Yoongi." timpal Tuan Ludwig.
"Apa ayah pernah mendengar, manusia memiliki 7 kembaran tak sedarah di dunia ini? Nah mungkin itu bisa menjelaskan itu."
"Apa mungkin seperti itu?" Tuan Ludwig masih ragu. "Lalu dimana Jeremy sekarang?" tanya Tuan Ludwig mengalihkan pembicaraan.
"Sampai sekarang keberadaannya belum ditemukan." jawab Tuan Nicholas.
Tuan Nicholas mendelik ke arah Tuan Ludwig, "Nggak ayah. Mana mungkin aku menyembunyikan buronan." dalihnya.
"Jangan karena dia anakmu kamu melindungi nya. Lihatlah kerusakan yang telah Jeremy buat pada Archi."
"Aku nggak yakin Jeremy melakukan itu karena kegilaannya semata. Pasti gadis itu pun memprovokasi Jeremy agar mengejarnya. Gadis itu juga pasti menggoda Jeremy saat mereka bekerja satu ruangan." tuduh Tuan Nicholas melimpahkan kesalahan kepada Archi.
"Apa? Aku mengenal Archi dan aku yakin dia bukan wanita seperti itu." tandas Tuan Ludwig menghentak tongkat berjalannya membuat Tuan Nicholas tersentak kaget.
"Ayah..., jangan naif. Kita tahu bahwa laki-laki tidak mungkin timbul hasratnya tanpa ada rangsangan dari luar. Itu juga pasti yang dihadapi Jeremy."
"Bela saja terus putramu. Karena kamu sering memanjakannya, makanya dia menjadi seperti itu sekarang."
"Ayah pun sebagai kakeknya nggak pernah bersikap adil. Ayah selalu mencucu tirikan Jeremy. Dan hanya mengelu-elukan Yoongi dan Rayvin. Padahal Jeremy adalah cucu tertua ayah. Dia lebih pantas untuk segala warisan keluarga kita." bela Tuan Nicholas.
"Aku tidak pernah mencucu emaskan cucuku. Itu hanya perasaanmu." sangkal Tuan Ludwig.
"Terserah ayah saja." sahut Tuan Nicholas dengan suara kecil.
__ADS_1
Sore hari sepulang bekerja, Susan, Andini, Icha dan juga Ridwan datang ke rumah sakit untuk menjenguk Archi. Ketika mereka datang Archi masih diam, duduk diatas tempat tidur dengan tatapan kosong. Mereka ikut merasa prihatin melihatnya. Terutama Ridwan yang juga merasa bersalah karena kakaknya lah yang menyebabkan Archi jadi seperti ini.
"Archi!" panggil lirih Susan dengan mata berkaca-kaca. Perlahan Archi menoleh ke arah mereka. Seketika mata sayu itu membesar, menatap dengan kilatan amarah.
"Pergi! Pergi kamu Ridwan!" usir Archi melempar bantalnya kepada Ridwan.
"Aku nggak mau bertemu denganmu. Pergi!" Archi terus berteriak seraya melempar apapun yang dapat dia raih. "Penipu! Pengkhianat!"
Dengan perasaan sedih Ridwan keluar dari ruang rawat Archi. Agust ikut keluar. Setelah menutup pintu dia menubruk Ridwan dari arah depanya. Menyudutkan Ridwan di dinding seraya menarik kerah kemeja Ridwan.
"Katakan! Dimana kalian menyembunyikan Jeremy."
"Aku bahkan nggak tahu di mana dia saat ini" jawab Ridwan.
"Bohong!" sentak Agust. "Kalian para orang kaya, pasti menyembunyikan anak kalian demi nama baik kalian."
"Aku nggak akan pernah melakukan itu demi Archi. Bila aku tahu keberadaan Jeremy, akan aku pastikan, aku sendiri yang akan mengantarnya ke kantor polisi. Karena apa? Karena dia telah menyakiti gadis yang paling aku cintai. Aku nggak akan pernah membiarkan dia lolos. Cintaku untuk Archi, bahkan lebih besar dari apapun di dunia ini." Dengan bangganya Ridwan memamerkan rasa cintanya kepada Archi, di depan suaminya langsung.
"Kau!" Agust mendesis dengan gigi-giginya yang terkatup saling menggemeretak.
"Hey...Agust! Lepas!" lerai Ayah yang baru datang. "Ini rumah sakit kenapa kalian berkelahi seperti ini?" tegur Ayah.
Agust menahan emosinya.
"Dan kamu Ridwan, jangan mengunjungi kami lagi, apapun alasanmu. Karena kamu adalah bagian dari keluarga penjahat itu."
"Aku akui mereka memang penjahat, tetapi aku bukan bagian dari mereka ayah." sangkal Ridwan.
"Heuh...kamu adiknya Jeremy. Bahkan kami nggak pernah tahu soal ini. Bagaimana bisa kamu bukan bagian dari mereka?" lontar Agust.
"Kenapa aku menyembunyikan identitasku? Karena aku malu menjadi anak Tuan Nicholas. Aku sudah melepas statusku sejak aku mengganti nama Ridwan. Jadi bukan karena aku menyembunyikan identitasku."
"Terserah apa katamu. Karena Archi pun sudah nggak mau bertemu lagi denganmu." kata Agust lalu masuk ke dalam ruang perawatan Archi.
Ayah berbalik hendak ikut masuk, "Ayah!" panggil Ridwan. Ayah menghadap ke arah Ridwan lagi.
Mata Ridwan menyipit, "Ayah, ada yang ingin aku tanyakan kepada ayah." kata Ridwan.
"Apa?" sahut Ayah dengan pembawaannya yang tenang seperti biasa sambil melipat tangan di dada.
"Archi mengatakan kalau dia menikah dengan Agust karena dijodohkan oleh Ayah. Kalau boleh aku tahu, darimana ayah bisa mengenal Agust?" tanya Ridwan dengan tatapan menyelidik.
__ADS_1
...~ bersambung ~...