
"Gawat bagaimana bila dia memang Yoongi? Aku akan mendapatkan masalah. Aku harus mencegah test itu berhasil." batin Tuan Nicholas berpikir keras untuk menggagalkan test itu.
...****************...
"Celakalah kita." ujar Tuan Nicholas kepada Jeremy ketika menjenguknya di penjara.
"Aku sudah celaka dengan berada di sini ayah." sahut Jeremy dongkol.
"Ini juga mengancam masa depan kita. Yoongi sudah menemukan jati dirinya."
"Maksud ayah Yoongi?"
"Agust itu adalah Yoongi. Dia kucing yang berubah jadi manusia."
"APAAA? Ayah yakin?"
"Iya. Saat melihat nya pertama kali, ayah sudah curiga kalau obat itu tidak bereaksi terlalu lama. Dia benar-benar menjadi manusia lagi. Tetapi melupakan masa lalunya. Sekarang dia sudah bisa mengingat separuh kejadian yang telah terjadi."
"Bagus." lontar Jeremy tersenyum bahagia. Tuan Nicholas tertegun mendengar respon anaknya yang diluar perkiraannya.
"Bagus apa?" Dahi Tuan Nicholas berkerut.
"Bagus. Bila ingatan Agust tentang Yoongi muncul. Dan dia menyadari siapa dirinya lalu melupakan Archi. Kesempatan ku untuk bersama Archi tentu masih ada." jelas Jeremy.
Tuan Nicholas menggeleng putus asa. "Gadis itu lagi. Apa gunanya gadis itu? Kita terancam kehilangan kesempatan menguasai harta kakekmu. Kamu malah senang karena ingin bersama Archi."
"Aku nggak peduli harta itu. Aku hanya ingin Archi. Harta bisa dicari asalkan aku bahagia bersama Archi." sahut Jeremy membayangkan keluarga bahagia bersama Archi.
Tuan Nicholas memegang kening anaknya. Jeremy menampik cepat tangan ayahnya dengan geram.
"Otakmu sepertinya ada yang konsleet, ya?" ujar Tuan Nicholas.
"Apa sih? Itu lebih waras daripada keinginan menguasai harta seperti ayah." tampik Jeremy bersidekap.
"Ya ampun. Anak-anakku pikirannya entah ada di mana." Tuan Nicholas menggeleng.
Di tengah usaha Tuan Nicholas menggagalkan test DNA Agust. Hari ini akan diadakan sidang vonis masa hukuman untuk Jeremy atas kasus, penculikan dan perkosaan.
__ADS_1
Archi dan Agust menghadiri sidang ditemani ayah dan ibu. Tuan Nicholas dengan wajahnya terangkatnya seolah sangat yakin anaknya akan dibebaskan. Archi dan keluarganya nampak cemas dengan putusan yang akan dibacakan oleh hakim.
Jeremy berdiri di tempat untuk mendengarkan pembacaan putusan sidang sementara hakim membacakan putusannya.
"Mengadili...terdakwa Jeremy Renner dengan masa hukuman kurungan 6 bulan penjara dan denda sebesar seratus lima puluh juta rupiah."
"Apa? Hanya enam bulan? Apa-apaan ini?" bisik-bisik keberatan dari pihak Archi terdengar dengan hukuman yang dirasa tidak adil.
"Kita nggak bisa melakukan apapun lagi. Percuma melawan keluarga mereka." sahut Ayah merasa putus asa.
"Kita bisa banding kan, ayah?" tanya Agust.
"Ayah bilang percuma. Keputusannya akan tetap sama. Kalian tidak tahu siapa mereka. Selama hukum bisa dibeli tidak akan pernah ada keadilan di tanah air ini."
"Sudah Agust. Benar kata ayah. Biarkan saja."
"Tetapi Archi?" Agust yang merasa sangat kesal di dalam hati jadi ikutan pasrah karena Archi yang meminta.
Di luar ruang sidang, "Terimakasih ayah. Ini baru bukti kalau ayah memang tidak pilih kasih dalam membela cucu ayah." ucap Tuan Nicholas kepada Tuan Ludwig yang berdiri dengan wajah masam.
"Jaga anakmu baik-baik mulai sekarang. Jangan biarkan dia berulah lagi." pesan Tuan Ludwig lalu berjalan pergi.
Mungkin Tuan Ludwig memang cerdik dan memiliki kekuasaan. Tetapi tangan dan telinga Tuan Nicholas lebih banyak dari Tuan Ludwig. Bukan hal sulit bagi Tuan culas untuk mengetahui dimana test itu akan diadakan dan siapa yang melaksanakannya. Setelah mendapatkan semua informasi itu, langsung saja Tuan Nicholas menukar rambut Agust dengan milik orang lain.
Sementara itu di ruangan Agust. Irene memasuki ruangan Agust tiba-tiba membuat Agust yang sedang berdiri mencari sesuatu di laci buffet di dekat mejanya terperanjat kaget.
"Seharusnya aku sudah tahu itu kamu." ungkap Irene memeluk erat Agust dari belakang.
"Irene jangan memulai. Aku nggak mau berbuat kasar kepadamu." kata Agust melepaskan pelukan Irene dan memutar tubuhnya menghadap Irene.
"Kamu sudah mengingat diriku kan, Yoongi?" tanya Irene kembali memeluk Agust.
"Aku tahu dan mengingatmu." Agust merasa ada orang lain yang tengah memperhatikan mereka. Maniknya mencari keberadaan sepasang mata nyalang yang tengah mengarah kepada mereka.
"Archi!" Agust gelagapan mencoba melepaskan pelukan Irene. Namun Irene bersikeras.
"Irene lepas! Aku suami Archi. Archi dengarkan aku dulu."
__ADS_1
"Mendengar apa lagi, Yoongi?" Archi berjalan mendekati mereka. Menggaungkan nama Yoongi dengan penekanan.
"Archi. Jangan seperti itu."
"Lalu dengan apa aku harus memanggilmu sekarang Agust, oh bukan Yoongi?" tanya Archi menaikan alisnya.
"Kamu sudah tahu kan siapa Agust, dia Yoongi. Dia tunangan ku." ucap Irene penuh kebanggaan. "Dia bahkan mulai mengingatku dan menerimaku seperti dulu. Bersiaplah bila ingatan itu telah sepenuhnya muncul, maka kamu akan terlupakan. Dia akan menjadi Yoongi lagi. Bukan Agust."
"Irene! Jangan melewati batasmu!" teriak Agust sangat marah.
"Melewati batas apa? Archi harus menerima kenyataan." seloroh Irene.
"Kamu juga sangat tahu kenyataan dengan hubungan antara Irene dan Yoongi, bukan?" tanya Agust menatap mengintimidasi ke arah Irene.
"Yoongi tidak pernah benar-benar menerimamu sebagai tunangannya. Dia hanya menganggap mu teman masa kecilnya. Teman yang dikasihinya karena kamu sebatang kara."
"Itu nggak benar!" Irene mulai menitikan air mata. "Yoongi sangat mencintaiku. Cincin ini saksinya." Irene memperlihatkan cincin di jari manisnya.
"Siapa yang membelikan cincin itu?" tanya Agust seolah menantang.
"Kamu...kamu yang membelikan nya."
"Bo-hong!" Agust mengeja memperlambat bicaranya. "Itu kakek yang membelikan nya. Bukan aku. Kakek yang berada dibelakang kita untuk pertunangan itu. Aku terpaksa menerimamu karena kakek."
"Nggak Yoongi. Ingatanmu belum kembali. Jadi kamu seperti ini."
"Benarkah? Ingatan ku mungkin belum kembali sepenuhnya, namun aku sudah melihat posisimu di hati Yoongi sesungguhnya. kamu mengingat saat dirimu menggodaku untuk tidur bersamamu. Bagaimana aku menolakmu. Ingatkah kamu tentang itu? Asal kamu tahu, ingatan itu yang muncul saat aku mengingat mu. Seolah ingin menunjukkan kepadaku tempat mu dihatiku Irene." jelas Agust.
"Jadi aku mohon. Aku tidak ingin membuatmu terluka dan kecewa karena itu bersikaplah sewajarlah. Jangan mencoba memisahkan aku dan Archi lagi."
Irene putus asa. tubuhnya luruh, merosot, duduk bersimpuh ke lantai. Agust benar dengan ucapannya. Dia pun tahu, Yoongi memang tidak mencintainya. Dia pikir Agust akan sama seperti Yoongi yang akan pasrah menerimanya.
"Archi. Bila kamu tidak percaya denganku. Tanyakan kepada kakek. Dia sangat tahu semua itu." pinta Agust kepada Archi.
Archi mengangguk sambil mengulum senyum. Agust pun memeluk Archi.
Hasil test DNA pun keluar. Kakek mengumpulkan kembali Ridwan, Agust, Tuan Nicholas, Irene dan juga Archi.
__ADS_1
"Hasil testnya telah keluar. Mari kita lihat bersama-sama!" kata Tuan Ludwig. Dengan tangan gemetar khas orang tua dia membuka amplop dengan kop salah rumah sakit di kota ini.
...~ bersambung ~...