Cinta Agusd Si Kucing Tampan

Cinta Agusd Si Kucing Tampan
CAT - 128


__ADS_3

Bibir itu semakin mendekat, begitu pun bibir Irene dalam benak Agust.


"Lepas!" Dengan kedua tangannya memegang lengan Irene, Agust mendorong tubuh Irene sedikit lebih kencang membuat Irene mundur dan berjarak darinya.


"Jangan sampai aku berbuat kasar kepadamu, Irene!" tegas Agust melepaskan pegangan tangannya di lengan Irene hingga Irene kehilangan keseimbangan. Walau akhirnya berhasil berdiri tegak.


"Tolong jaga batasanmu. Aku atasanmu. Dan aku suami Archi!" Agust menekankan Kalimat terakhirnya dengan tegas. "Cepat keluar dari ruanganku." usir Agust.


Agust menetralkan detak jantungnya yang berpacu. Sisa-sisa dari nyeri kepalanya masih terasa. Dia duduk seraya memejamkan mata di atas kursi kerjanya.


Sementara di ruangan kerja Ridwan.


Archi membungkuk, "Pak, bangun! Kopinya." ujar Archi membangunkan Ridwan dengan menggoyangkan lengannya.


Ridwan sedikit usik namun tak menunjukkan dirinya akan bangun.


"Pak!" Archi mencoba sekali lagi menggoyangkan lengan Ridwan. Saat tiba-tiba lengannya ditarik Ridwan hingga ia terjatuh di atas dada bidang Ridwan. Separuh bagian atas tubuhnya rebahan di dada Ridwan. Dengan santai dan mata terpejam Ridwan malah memeluk Archi layaknya guling.


"Lepasin!" Archi memberontak. Memukul-mukul dada Ridwan dengan kepalan tangannya.


Ridwan pun membuka matanya karena terkejut. "Archi!" lengannya masih melingkar ditubuh mungil Archi.


"Ada apa dengan pria-pria di sini. Selalu saja mencari kesempatan!" gerutu Archi begitu kesal.


"Maaf Archi. Aku nggak sengaja. Aku pikir kamu guling di kasur aku." kata Ridwan dengan sangat menyesal sambil melepaskan pelukannya.


"Guling dan manusia kan berbeda."


"Namanya juga nggak sadar. Maafkan aku Archi. Aku benar-benar nggak sengaja." Ridwan pun terdengar tulus.


"Ya sudah. Itu kopinya sudah dingin. Aku buatkan dari tadi, tapi kamu malah tidur." oceh Archi.


"Iya maaf. Abis aku ngantuk banget. Walau dingin kopi buatan kamu pasti enak." Ridwan menyeruput kopinya.


"Ng...boleh aku bertanya?" tanya Archi ragu-ragu sambil duduk bersebrangan dengan Ridwan. Maniknya menyelidiki ke dalam ekspresi Ridwan.


"Tanya apa?" tanya Ridwan penasaran dengan yang akan ditanyakan Archi.


"Tadi saat tidur kamu mengigau. Dan kamu ngomong kalau Yoongi Hyung belum meninggal. Kenapa?" tanya Archi.


Ridwan nampak terkejut mendengar dari Archi bahwa dirinya meracau seperti itu dalam mimpinya. Dia pun jadi gelagapan untuk menjawab.


"Itu...karena aku begitu sayang kepada Yoongi Hyung. Jadi kadang aku melakukan penyangkalan kalau Yoongi Hyung itu memang udah nggak ada." jawab Ridwan dengan raut sedih.


"Benar hanya karena itu kamu ngomong seperti itu?" tanya Archi masih menyelidik.


"Iya."


"Bukan karena tahu sesuatu tentang meninggalnya kakakmu itu?" tanya Archi.


"Bu-bukan. Tahu sesuatu bagaimana maksudmu?" Ridwan berpura-pura nggak mengerti. Namun sedikit menaruh curiga dengan pertanyaan Archi yang dirasa mengandung sesuatu yang tersembunyi.


"Nggak...aku hanya berpikir kalau yang kamu omong itu benar." jawab Archi terdengar meyakinkan.

__ADS_1


"Masa bisa orang yang udah dikubur nggak meninggal. Aku cuman selalu berharap kalau Yoongi Hyung itu masih ada."


"Yang sabar ya."


"Tapi aku masih heran, bagaimana suamimu bisa memiliki wajah yang begitu mirip dengan Yoongi Hyung? Apa ini hanya sebuah kebetulan?"


"Mungkin. Atau mungkin sebenarnya kakakmu itu memiliki kembaran yang terbuang?"


"Hahaha...ngaco. Paman dan Bibiku hanya memiliki satu anak tunggal yaitu Yoongi Hyung. Kalau bibi melahirkan anak kembar mereka pasti tahu."


"Gitu ya. Jadi Yoongi itu anak paman dan bibimu. Dimana mereka sekarang?"


"Mereka lebih banyak menghabiskan waktu mereka di Korea." Archi mengangguk-angguk seperti burung beo.


Istirahat tiba. Selesai melaksanakan shalat Dzuhur, Archi dan kawan-kawan ditambah Agust dan Ridwan pergi ke kantin. Agust berdiri disisi Archi, merangkul lengan Archi begitu erat. Memepetkan tubuhnya begitu dekat dengan Archi.


"Pak, malu. Ini tempat kerja. Jangan begini nggak enak sama karyawan lain." tegur Archi. Namun Agust bergeming dan semakin mengeratkan rangkulan tangannya.


"Aku nggak peduli. Aku ingin menunjukkan kepada orang-orang kalau aku milikmu dan kamu milikku. Nggak ada yang bisa merebut dan merubah itu." jawab Agust begitu dingin.


Di belakang mereka Ridwan melengos merasa tersindir. Sementara teman-teman Archi bercie ria, ikut merasa bahagia. Archi bersemu merah.


"Kenapa sama kucing ini? Kenapa dia jadi posesif begini?" tanya hati Archi menatap wajah Agust yang terlihat sedikit tegang.


"Apa dia melihat Ridwan memeluk ku tadi ya?" pikir Archi tanpa dia ketahui alasan sebenarnya adalah karena Irene yang mencoba mendekatinya. Dan juga karena ketakutan Agust akan masa lalunya yang akan merenggut kebersamaannya bersama Archi.


"Aku merasa nggak adil kepada Archi. Aku telah membohonginya karena aku nggak bisa menceritakan pandanganku yang dapat mengingat Irene." batin Agust merasa bersalah.


Siang berganti sore. Jam pulang kerja pun tiba. CEO sederhana pulang bersama istrinya hanya dengan menaiki kendaraan umum. Bis penuh oleh karyawan yang menuju arah yang sama dengan Agust dan Archi.


"Pak, duduk di tempat saya saja!" seorang karyawan yang tahu posisi Agust dalam perusahaan menawari Agust untuk duduk.


"Kamu mau duduk?" tanya Agust kepada Archi.


"Kamu saja. Aku berdiri nggak apa-apa." jawab Archi.


"Kalian berdua duduk saja." karyawan lain disebelah karyawan tadi juga menawarkan.


"Terimakasih. Tetapi nggak apa-apa. Kalian duduk saja." jawab Archi menolak secara halus.


"Kenapa nggak mau duduk?" tanya Agust dengan berbisik ditelinga Archi. "Senang posisi ini ya?" tanya nya nakal.


"Agust!" Agust terkekeh.


Setelah ada dua kursi kosong yang sejajar, Archi dan Agust pun duduk. Archi mengambil tissue di dalam tasnya. Penuh perhatian dan lembut, Archi mengusap keringat di wajah Agust.


"Terimakasih sayang!" jawab Agust lalu gantian mengelapkan keringat di wajah Archi.


"Kamu tadi kenapa di kantor? Sepertinya posesif sekali. Apa ada sikapku yang mengganggumu?" tanya Archi menatap Agust.


Agust menelan salivanya, dia nampak gugup. "Eu...nggak kok. Aku cuman mau orang-orang tahu aja kalau kita ini suami istri."


"Apa itu penting?"

__ADS_1


"Penting dong. Aku kan CEO, wajahku juga tampan, pasti cewek-cewek banyak yang naksir dan mau sama aku." jawabnya penuh kebanggaan.


"Terutama assisten ku itu." bisik hati Agust.


Archi melengos, enggan menanggapi.


"Heh...Archi kok kamu gitu. Aku benar kan!" cecarnya.


"Iya aja deh." sahut Archi malas.


Sehabis shalat isya berjamaah, Ayah sengaja mengadakan yasinan bersama. Ayah yang memimpin pembacaan Yasin hingga selesai pembacaan doa. Setelah selesai yasinan, Archi dan Agust kembali ke kamarnya.


"Aaguuust!" panggil Archi bermanja.


"Kenapa? Mau sekarang?" Agust mengerling nakal.


"Ih...apaan sih kamu tuh ke situ terus pikirannya." Archi merajuk lucu.


"Terus ngapain, manja manja gitu?" tanya Agust.


"Mau makan kwetiau goreng." jawab Archi nyengir.


"Tadi kan udah makan malam Archi." dengus Agust heran. "Kayanya di kulkas ada kwetiau mentahnya. Aku masakin sekarang. Biar cepet."


"Nggak mau bikinan kamu."


"Wah...wah...kebangetan. Masa nggak mau buatan suaminya."


"Aku lagi mau makan kwetiau goreng Mas Dul."


"Ya Allah...mintanya yang di sebrang hotel itu lagi. Jauh. Ga bisa pesan online. Ngantrinya juga seabad." protes Agust membayangkan perjalanan panjang yang akan dia lalui bila menuruti permintaan istrinya itu.


"Tapi kan disitu doang yang porsinya banyak dan rasanya enak banget. Makanya ngantri." Agust berpikir ketus.


"Ya udah nggak mau mah. Aku mau tidur aja."


"E...iya...iya...jangan. Aku jalan sekarang. Tapi jangan ditinggal tidur." kata Agust memperingatkan Archi dengan tegas.


"Iya, nggak."


Agust turun ke bawah dan mengambil kunci mobil ayah di atas bufet meja TV.


"Agust mau kemana?" tanya Ayah.


"Archi mau makan kwetiau, ayah."


"Oh sekalian isiin bensin ya." Ayah memberikan beberapa lembaran uang berwarna merah kepada Agust.


"Haduuh....nambah lama dong kalau ngantri di pom juga." keluh Agust di hatinya seraya berjalan keluar rumah.


Setelah memesan sambil menunggu dibuatkan pesanannya, Agust pergi ke pom untuk mengisi bensin. Sekembalinya dia, pesanan belum juga jadi. Akhirnya setelah menunggu lama sampai nggak sengaja ketiduran, akhirnya pesanan Agust siap. Dia pun bergegas pulang dengan riangnya.


Sesampainya di rumah...dia melihat Archi tertidur di atas tempat tidurnya dengan selimut menutupi badannya hingga ke lehernya.

__ADS_1


Agust mendengus pasrah melihat penantiannya serasa sia-sia.


...~ bersambung ~...


__ADS_2