
"Apa? Itu nggak benar! Dia berbohong. Maia!" pekik Archi yang tak terima dengan pernyataan Maia.
"Harap tenang!" tegur Hakim Ketua.
"Tenang Archi." Dengan bisikan lembut Agust merangkul Archi yang menangis.
"Sebaiknya bawa Archi keluar. Biar dia bisa menenangkan diri." pinta ayah.
"Aku nggak bawa keluar." sahut Archi tegas mengusap air matanya.
Duduk disebelah Tuan Ludwig, Tuan Nicholas tersenyum licik melirik dari sudut matanya ke arah Archi.
"Saya tidak terima pernyataan saksi," tiba-tiba dengan nada suara yang dingin Jeremy bersuara. Mengejutkan team pengacaranya dan juga Tuan Nicholas.
"Tuan Jeremy!" bisik salah satu pengacara memberi kode untuk Jeremy tak melanjutkan pernyataannya.
"Apa maksud saudara dengan tidak terima pernyataan saksi?" tanya hakim ketua yang terlanjur mendengar pernyataan Jeremy.
"Apa yang dia katakan bohong. Karena Archi tidak pernah mendekatiku duluan apalagi menggodaku. Aku melakukan itu murni karena aku mencintai Archi, aku sudah menyukai Archi sejak lama." jelas Jeremy secara jujur dan gamblang mengejutkan semua pihak.
"Jeremy!" batin Archi sedikit tersentuh dengan sikap Jeremy yang malah menolak kesaksian Maia yang sesungguhnya dapat meringankan hukuman baginya.
Archi melihat ke arah Jeremy. Dengan mata sendu Jeremy bertemu tatap dengan Archi. Terlihat ketulusan dalam dirinya. Meski dia telah berbuat jahat namun sesungguhnya dibalik itu semua ada cinta yang besar untuk Archi di hatinya.
Para Pengacara nya terduduk lesu, merasa telah kalah berperang. Setelah mendengar semua keterangan saksi. Sidang di tutup dengan agenda selanjutnya Sidang Vonis yang akan dilakukan seminggu ke depan.
"Bagaimana anda bisa berkata seperti itu. Kami telah berupaya untuk meringankan tuduhan kepada anda. Tetapi anda malah menghancurkan semua."
"Aku sudah bilang kan. Aku nggak ingin menjelekkan Archi. Dia tak bersalah, jangan limpahkan kesalahanku kepadanya. Satu-satunya orang yang bersalah di sini, hanya aku. Bukan dia." Bela Jeremy tak gentar.
"Aku nggak mau, kalian harus bisa membuat hakim meringankan masa tahanan untuk Jeremy." ancam Tuan Nicholas kepada para pengacaranya. "Aku akan membayar kalian lebih bila kalian berhasil."
"Akan kami usahakan Tuan, sebisa kami." kata salah seorang pengacara.
Jeremy berjalan akan kembali naik mobil tahanan. Saat itu tanpa sengaja dia berpapasan dengan Archi. Archi membuang muka, tak ingin melihat Jeremy. Namun Jeremy sepanjang perjalanannya dia terus menatap ke arah Archi hingga maniknya tak dapat melihat Archi lagi.
"Kamu baik-baik saja kan?" tanya Agust.
"Iya."
"Kita pulang sekarang ya." ajak Ayah. Mereka pun pulang ke rumah.
__ADS_1
Beberapa hari kemudian di kantor.
"Archi!!!" panggil seseorang saat Archi akan memasuki gedung kantor.
Archi menoleh dan sangat terkejut saat melihat teman-temannya berlarian mengejarnya.
"Susan, Andini, Icha!" Seru Archi gembira melihat kawan-kawannya datang.
"Kalian ngapain pagi-pagi di sini? nggak kerja?" Tanya Archi.
"Ini kami mau kerja." jawab mereka. Membuat Archi merasa bingung.
"Kami diterima kerja di sini tau." sahut Susan.
"Pasti Pak Ridwan di baliknya."
"Hahaha...iya." jawab Icha.
"Waktu kamu sidang, kami ke sini buat test dan interview."
"Preet...formalitas doang kan?" goda Archi.
"Pengujinya aja Pak Ridwan. Pasti di lolosin lah."
"Ayo masuk!"
Archi berjalan menuju ke ruangannya sendirian karena teman-temannya beda bagian dengannya. Didepan mejanya Maia menghadangnya.
Maia menangis, "Maafkan aku ya Archi!" ucapnya menyesal.
"Aku hanya disuruh Tuan Nicholas dia mengancamku untuk bersaksi. Kalau aku nggak mau, dia akan memecatku dan memboikotku dari perusahaan manapun agar aku nggak bisa bekerja di perusahaan manapun." kata Maia menjelaskan duduk perkaranya.
"Iya Maia. Aku mengerti posisimu." kata Archi mencoba memakluminya. "Sudah ya. Jangan dipikirkan lagi. Aku udah nggak apa-apa."
"Iya Archi, terimakasih ya."
"Iya Maia."
Di rumah Archi, ketika semua telah berangkat beraktivitas tinggalah Agust di rumah sendirian sedang membersihkan dan merapikan rumah. Ketika tengah membuang sampah ke tong sampah depan rumah.
"Nak!" panggil suara seseorang yang bergetar lemah. Agust menoleh dan mendapati Tuan Ludwig di belakangnya.
__ADS_1
"Anda?" gumam Agust terkejut.
"Boleh aku bicara sebentar denganmu?" tanya Tuan Ludwig. Agust menimbang dalam pikirannya.
"Tentu. Ayo kita masuk ke rumah!" ajak Agust.
"Eu...kita bisa bicara ditempat lain?" tanya Tuan Ludwig lagi.
"Di tempat lain?...baiklah. Sebentar, aku harus mengambil jaketku." kata Agust bergegas ke dalam rumah.
Sekembalinya dia setelah mengambil jaket, mengunci pintu dan pagar, dia menuju ke mobil tempat Tuan Ludwig menunggunya. Saat itu dari kejauhan, di dalam mobil hitam nya, Irene melihat Agust bersama Tuan Ludwig.
"Kakek? Dia sudah mengetahui keberadaan Agust yang mirip Yoongi rupanya. Tetapi apa yang ingin kakek lakukan pada Agust?" tanya hatinya penasaran.
Agust dan Tuan Ludwig memasuki mobil. Agust memperhatikan mobil mewah Tuan Ludwig. Memandang kagum setiap interior, kemewahan dan kecanggihan yang ada di dalam mobil itu. Dia mengerti seberapa kaya kakek itu hanya dengan melihat mobilnya tetapi tidak bisa hanya dengan melihat pakaian Tuan Ludwig yang sederhana. Kaos berkerah berwarna putih, celana bahan seadanya, sendal biasa namun harga selangit yang tak akan terduga.
Tuan Ludwig membawa Agust ke sebuah restoran. Restoran mewah bintang lima. Lagi-lagi Agust harus terkagum dengan pilihan tempat Tuan Ludwig.
"Aku dan cucuku sering makan di sini." sekilas info dari Tuan Ludwig menyadarkan Agust dari kekagumannya. Agust menoleh melihat ke arah Tuan Ludwig yang mengulum senyum dan mengingat kenangannya bersama Yoongi dalam pikirannya.
"Yoongi sangat suka makanan yang disajikan di sini. Rasanya otentik, itu yang selalu dia katakan." Tuan Ludwig tertawa kecil. Agust ikut tertawa kecil.
Mereka duduk bersebrangan di meja yang dikhususkan untuk dua orang. Tempat yang biasa Tuan Ludwig dan Yoongi duduk bersama. Perasaan tak asing menyelinap dalam diri Agust. Sebuah dejavu namun tak dapat dia ingat bagaimana ataupun kapan dia pernah ke sini dan merasakan suasana ini.
Sambil menunggu makanan yang mereka pesan datang Tuan Ludwig banyak bertanya tentang kehidupan Agust. Sebuah kisah yang dikarang Ayah untuk dirinya, bagai dongeng turun temurun yang akhirnya dia ceritakan kepada Tuan Ludwig. Dia adalah anak teman ayah yang baru saja meninggal.
Dia tinggal di sebuah kota yang bertetanggaan dekat dengan kota Jakarta. Bersekolah di sekolah Negeri terbaik di kota itu. Yang padahal semua itu bohong. Dan Tuan Ludwig mempercayainya. Selain ahli kimia Ayah Archi juga sepertinya pandai dalam mengarang cerita.
Di sela waktu makan mereka, "Apa kamu tidak bekerja?" tanya Tuan Ludwig.
"Tadinya aku bekerja, namun aku berhenti karena aku dan Archi berencana membuka usaha kuliner."
"Benarkah? Tetapi kalau ada kesempatan bekerja, Apa kamu bekerja?" tanya Tuan Ludwig mengejutkan Agust.
"Bekerja?" Agust nampak antusias, lebih tepatnya bersemangat dengan usul itu. "Bekerja di mana? Sebagai apa? Tetapi...," wajah antusias Agust berubah muram saat dia teringat sesuatu.
Tuan Ludwig memandang penuh tanda tanya dengan yang ada dalam pikiran Agust.
Apakah yang ada dalam pikiran Agust? Pekerjaan apa yang ditawarkan Tuan Ludwig kepadanya? Nantikan jawaban nya di episode besok 😉
...~ bersambung ~...
__ADS_1