Cinta Agusd Si Kucing Tampan

Cinta Agusd Si Kucing Tampan
35. Kakek


__ADS_3

"Kakek!!!!" jerit Archi berlari mencoba menaiki tebing karang itu. Karena terlalu panik dan buru-buru kaki Archi terpeleset dan sedikit tergores karang.


"Kakek...!" Archi telah sampai di atas tebing. Membungkuk Memegangi lututnya yang lemas sambil mengatur napasnya yang terengah-engah.


"Kakek...jangan lakuin itu Kek!" sergah Archi dengan suara tersengal-sengal.


Kakek berbalik menatap Archi dengan bingung. Matanya memicing, kepalanya bergerak ke samping.


"Jangan apa, Nak?" tanya Kakek itu.


Archi melongo, "Bukannya Kakek mau...?"


"Hahaha...." sahut Kakek itu tertawa lepas sambil mendekat ke arah Archi.


"Aku bukan mau melompat," terang Kakek. "Jangan khawatir," sambung kakek.


Archi melihat bunga tabur yang biasa ditabur di makam, di dalam plastik transparan yang di tenteng oleh Kekek itu.


"Aku sedang menabur bunga untuk cucuku yang meninggal di laut beberapa bulan yang lalu," jawab Kakek itu berdiri di sisi Archi sambil memandang jauh ke tengah lautan.


"Ini adalah tanggal kepergiannya," ucapnya.


Archi memandang wajah Kakek itu yang nampak kesedihan mendalam.


"Maaf Kek, aku turut berduka," kata Archi.


"Iya, terimakasih. Padahal dia adalah cucu kesayangan Kakek." tambah Kakek menepuk bahu Archi. "Tapi takdir mengambilnya terlebih dahulu,"


"Terimakasih sudah perhatian kepadaku," kata Kakek itu.


Beberapa orang pria muda berbadan tegap dengan pakaian safari berwarna hitam bergegas menghampiri sang Kakek dan membantunya untuk menuruni tebing karang.


Yang bisa Archi lihat, Kakek itu sepertinya bukan Kakek sembarangan. Di lihat dari pakaian dan memiliki bodyguard pribadi Kakek ini pastilah orang penting.


Tetapi bagaimana cucunya bisa meninggal di laut? Berapa umur cucu Kakek itu? Itu yang ada di dalam pikiran Archi sambil memandang ke laut bebas.


Archi menuruni tebing karang.


"Archi...!" panggil Ayah mendekati Archi.


"Ayah," sahut Archi.


"Kamu kemana aja sih? Ngambil bola kok lama banget?" tanya Ayah.


"Tadi aku melihat Kakek itu!" Archi menujuk ke arah Kakek yang akan menaiki mobil tidak jauh dari sana. "Di atas tebing, aku pikir dia mau bunuh diri," jelas Archi.


"Kakek itu?" tanya Ayah. Archi menganggukkan kepala.

__ADS_1


"Dia itu pimpinan perusahaan tempat Ayah bekerja, beliau dan keluarganya juga pemilik tempat pariwisata ini," kata Ayah menjelaskan.


"Benarkah?" tanya Archi nampak takjub.


"Apa ayah tahu tentang cucunya yang meninggal di laut?" tanya Archi.


"Yah...ayah pernah dengar berita itu. Tetapi ayah juga nggak tahu pasti. Hanya dengar dari gosip para karyawan di pabrik," jawab Ayah.


"Jadi ayah nggak tahu bagaimana cucu kakek itu bisa meninggal?" tanya Archi entah kenapa merasa sangat penasaran.


"Nggak. Kamu kan tahu Ayah tidak suka bergosip," pungkas Ayah.


Archi mengangguk setuju.


"Ayo...kita kembali! Ibu dan yang lain pasti menunggu kita," kata Ayah.


Archi dan ayah berjalan kembali ke tempat Agust dan Ibu berada.


Malam harinya, Archi dan keluarga mengadakan api unggun di tepi pantai. Menikmati pemandangan pantai di malam hari, dan bintang-bintang di langit sambil mengobrol.


Ayah meminjam gitar akustik dari seorang kenalannya di cafe di dekat pantai dan mulai memainkan gitar dengan lagu andalannya. Kemesraan ini by Iwan Fals.


Archi sudah sangat hapal lagu itu karena sering dibawakan ayahnya. Mereka bersenandung sambil menggerakan tubuh ke kiri dan ke kanan bagai pohon kelapa tertiup angin. Saat itu tanpa sengaja kepala Archi dan kepala Agust saling terantuk.


"Aaawww...!" Archi dan Agust mengaduh bersamaan.


"Sini! Biar ga benjol," Kata Archi memegang kedua sisi kepala Agust dan mengusap kepala agust yang kejedot kepala Archi dengan rambut Archi.


Harum wangi rambut Archi terhirup hidung mancung Agust. Wajah Agust bersemburat warna merah, jantungnya berdegup kencang. Dia membeku menatap wajah Archi yang begitu dekat dengan wajahnya.


Melihat tatapan terpesona Agust, buru-buru Archi melepaskan kepalanya dan malu-malu kembali duduk.


"Kenapa jantungku berdebar ditatap Agust?" kata Hati Archi.


Setelah itu mereka kembali fokus pada lagu Ayah. Agust memperhatikan Ayah yang bermain gitar sambil bernyanyi dengan seksama.


"Agust! Mau coba bermain gitar?" tanya Ayah selesai lagu.


"Dia mana bisa main gitar ayah," ejek Archi bermuka masam.


Agust mengambil gitar dari ayah dan memposisikan gitarnya untuk di mainkan.



Dengan fokus dia mulai memetik senar gitarnya. Sebuah melodi lambat nan menyentuh. Archi melongo menatap Agust yang khusyuk memainkan gitarnya.


"Ampun ni orang. Amnesia tapi keahlian dia banyak banget," batin Archi merasa takjub. "Dia ahli dalam segala hal. Kalah aku sama kemampuan dia 😭," Archi menangis dalam hati.

__ADS_1


Sesekali Agust menatap Archi bergantian dengan melihat gitar dalam pelukkannya. Wajah Archi memerah. Dia menepuk-nepuk pipinya yang terasa panas oleh warna merah.


"Apa yang Agust pikirkan tentang aku?" tanya Archi jadi penasaran. Seolah mendengar kata hati Archi Agust menyunggingkan senyum sambil bermain gitar.


"Walau hanya dalam diam begini, kenapa aku merasa hubungan ini sangat romantis, Ya Allah!" pikir Archi menatap langit yang penuh bintang.


Minggu siang mereka siap-siap pulang sebelum kejadian tak terduga terjadi. Agust tiba-tiba berubah menjadi kucing putih.


"Ya ampuuunnn....kenapa kamu malah berubah sekarang? Nggak nanti aja?" rengek Archi di dalam kamarnya kepada kucing putih yang duduk di atas tempat tidur.


"Meeoongg!" jawab kucing putih.


"Sekarang aku harus bagaiman?" tanyanya menggigit jari.


Tok...tokk...


Ketukan pintu kamarnya dari luar terdengar. Archi buru-buru keluar dari kamarnya.


"Ayo Archi, kita pulang!" kata Ibu. "Kami udah nunggu di bawah," sambung Ibu.


"Itu..., agust demam. Kayanya dia masuk angin. Jadi kami pulangnya nyusul aja bu," jawab Archi terlihat gugup.


"Agust demam? Coba ibu lihat," kata Ibu ingin masuk kamar.


"Jangan Bu!" sergah Archi. "Agust lagi di kerokin, dia nggak pakai baju," sambung Archi nyengir kuda.


"Jadinya gimana sekarang?" tanya Ibu. "Kita pulangnya nanti aja?"


"Nggak usah. Kalian pulang aja duluan. Tapi minta tolong ayah untuk nambah hari kamarku, ya Bu?" pinta Archi.


"Ya sudah kalau gitu," jawab Ibu. "Kami pulang duluan, ya?" pamit Ibu.


"Iya Ibu...hati-hati di jalan!" Archi melambai pada Ibunya yang beranjak pergi.


Archi kembali ke dalam kamar hotel.


"Kamu harus tetap di sini. Karena hotel ini bukan hotel pet friendly. Kalau sampai ketahuan, tamat riwayat kita," kata Archi.


"Aku akan keluar sebentar. Kamu tunggu di sini, ya!" pinta Archi kepada kucing putih di atas tempat tidur lalu mengambil tasnya dan pergi keluar kamar.


Saat akan menutup pintu tiba-tiba,


"Archi!" seseorang memanggil Archi. Archi terperanjat kaget sambil berbalik menghadap arah suara.


"Eh...Kak Jeremy!" Archi gelagapan. Jeremy menoleh-noleh ke dalam kamar Archi. Dengan cepat Archi menutup pintu kamarnya.


"Pake ketemu Kak Jeremy segala lagi!" keluh Archi jadi panik. Dia menundukkan wajah sambil menggerakannya kiri dan kanan. Bola matanya terus bergerak, jari jemarinya yang saling terkait gemetar.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2