
"Sebaiknya kita mengajukan pembatalan nikah." usul Ibu Yoongi.
"Apa maksud ibu? Aku nggak mau. Aku akan tetap menikah dengan Archi." tegas Agust begitu keras.
"Wah..., ada pendukung. Bila Bibi berhasil memisahkan Archi dan Agust, itu pasti jadi kabar baik untukku." pikir Ridwan licik.
"Kamu Yoongi, bukan Agust. Yang menikah dengan wanita itu Agust."
"Kalau bila karena menjadi Yoongi aku harus berpisah dengan Archi. Lebih baik aku menggunakan identitas ku sebagai Agust. Identitas ku pun sah dimata hukum. Karena surat-suratnya resmi." tandas Agust.
"Jangan...jangan begitu Agust. Sudahlah bu kenapa kita harus membicarakan itu di saat berbahagia ini?"
"Benar kata suamimu, kenapa kamu malah ingin cucu menantuku berpisah?" timpal Tuan Ludwig tak mengerti jalan pikiran menantunya itu.
Ibu Yoongi berdiri dengan mata melotot ke arah Archi, "Karena aku tidak bisa merestui hubungan mereka. Yoongi sudah dijodohkan dengan Irene, mereka sudah bertunangan dan akan menikah." pekiknya.
"Itu kan masa lalu. Masa sekarang Yoongi sudah menikah dengan Archi. Terima saja kenyataannya." tutur Ayah Yoongi seraya berdiri.
"Masa lalu? Baru beberapa bulan yang lalu, Yoongi masih menjadi tunangan Irene. Dan sekarang, aku harus kehilangan calon menantu kesayangan ku? Dan menerima orang yang nggak pernah aku harapkan menjadi menantuku?" cecar Ibu Yoongi menunjuk Archi.
"Aku juga tidak pernah berharap berada di sini!" tampik Archi dengan segera. Rahangnya mengeras menahan emosi nya untuk tidak lebih meledak dari itu.
Sambil berdiri Archi berkata, "Lakukan saja apa yang kalian mau. Aku akan pulang!" Archi berjalan keluar.
"Archi! Tunggu!" panggil Agust bergegas mengejar Archi.
"Kamu itu apa-apan sih Hera?" hardik Ayah Yoongi begitu kesal. "Lihat kamu sudah membuat anak kita pergi lagi dari rumah ini."
"Ayah nggak mau tahu. Minta maaf kepada Archi. Ayah ingin pewaris utama keluarga ku tinggal di sini. Bawa mereka ke sini!" titah Tuan Ludwig begitu tegas.
"Sial... apa-apaan ini? Mengapa aku harus mengalah meminta maaf kepada menantu yang tidak sepadan dengan keluargaku?" gerutu batin Ibu Yoongi sambil bersidekap.
Di luar rumah Tuan Ludwig...
"Archi tunggu! Aku mohon!" Agust meraih lengan Archi.
Archi mencebik. "Aku nggak pernah nyangka ini pertemuan pertama, tetapi Ibu mu sudah bersikap seperti itu kepadaku." kesal Archi.
"Iya aku minta maaf atas nama beliau. Tetapi jangan marah kepadaku, aku mohon!" Agust menatap Archi dengan puppy eyes nya. Membuat siapapun yang melihatnya akan jatuh hati.
"Jangan bersikap manis gitu!" Archi mencucu sambil melipat kedua tangannya.
"Nggak tahan ya dengan godaanku."
"Haish...sudah aku mau pulang." kata Archi.
"Iya sayang. Kita pulang." jawab Agust merangkul istrinya sambil berjalan.
"Gimana kalau kita mampir dulu makan burger favorit kamu? Untuk mengobati bete kamu?"
"Ide bagus. Aku suka."
__ADS_1
"Suka sama aku?" tanya Agust.
"Suka sama idenya, ih...."
"Sama akunya nggak suka?" tanya Agust bersungut-sungut.
"Suka dong. Siapa sih yang nggak suka suami ganteng gini." Mereka pun tersenyum bersama.
Di restoran burger bergambar M.
Agust meremaas jemari Archi yang tergeletak di atas meja. "Percayalah, lebih baik aku kehilangan nama Yoongi dan segala harta dan jabatannya daripada aku kehilangan kamu Archi." tutur Agust dengan serius namun lembut.
"Benarkah itu?"
"Iya Archi. Kita kan bisa dengan rencana awal kita untuk membuka bisnis kuliner." jawab Agust lalu melahap burgernya.
"Tetapi itu jelas nggak sepadan dengan yang kamu miliki sebagai Yoongi, Agust."
"Memangnya kenapa? Saat kita bertemu saja aku nggak punya apa-apa. Sehelai bajupun aku nggak pakai, kan?"
Gleeg
Archi menelan salivanya. Dia jadi teringat pertemuan pertama mereka di atas tempat tidurnya. Sekonyong-konyong warna merah memenuhi wajahnya.
"Kenapa kamu mengingatkan aku yang itu sih?" keluh Archi.
Kemudian di sore hari yang sangat cerah. Agust tengah tidur siang di kamarnya ketika bel pintu berbunyi.
Tok...tok...
"Archi!" Ibu memasukkan kepalanya di celah pintu yang terbuka. Dia melihat Archi tengah tiduran di atas tempat tidur sambil membaca novel online di handphonenya.
"Ya ibu?"
"Ada Nyonya Nyonya dia ingin bertemu kamu." info ibu wajahnya nyinyir. "Kelihatannya dia Sombong banget."
"Nyonya Nyonya?" Archi mencoba menerka siapa dia. Archi melepaskan tangan Agust yang memeluk dirinya.
"Sebentar bu." jawab Archi lalu merapikan dirinya sebelum turun.
Langkah kakinya melambat saat dia menuruni anak tangga terakhir. Matanya memandang ke arah sofa di ruang tamu. Dengan malas dia mendekat.
"Nyonya." kata Archi.
Ibu Yoongi menurunkan cangkir teh yang dia minum dengan anggun. Senyum dipaksakan dibuatnya.
"Menantuku." sahut Ibu Yoongi berdiri. "Aku ke sini ingin meminta maaf kepadamu." katanya lagi berpura-pura tulus.
Archi duduk di sofa dengan berwajah masam. "Silahkan duduk Nyonya."
__ADS_1
Ibu Yoongi duduk kembali. "Aku menyesal dengan kata-kataku tadi pagi. Sebagai tanda minta maaf sengaja aku membawakan kamu ini." Dia menyodorkan kotak pizza dengan tulisan Irene's Pizza. "Pizza dari kenalanku yang terkenal enak. Wanita hebat dan kuat yang telah punya usaha sendiri." nadanya menyindir.
"Di rumah ini nggak ada yang doyan pizza merek itu. Kami lebih suka Pizza bermerek terkenal. Pizza Hit. Dengan mudah kami bisa membelinya." sahut Archi angkuh.
"Seenaknya dia mau merendahkan aku dengan meninggikan Irene di hadapan ku." kata Archi di dalam hatinya.
"Begitu ya." Wajah Ibu Yoongi tak kalah angkuh.
"Gadis rendahan bicaranya tinggi juga." hina Ibu Yoongi di dalam hatinya.
"Maaf Nyonya. Aku bukannya tidak ingin menghormati anda sebagai mertuaku. Tetapi anda sendiri tidak bisa menghargai diriku sebagai menantumu." batin Archi.
"Bila hanya ingin meminta maaf. Aku memaafkan anda. Karena walau bagaimanapun kamu itu Ibunya Yoongi. Jadi anda boleh pulang sekarang."
"Eh tunggu! Kalau kamu sudah memaafkan aku. Tolong bujuk Yoongi untuk mau tinggal di rumahnya. Dan pindah dari rumah kecil ini."
"Baiklah akan aku sampaikan kepada Agust."
"Bisakah kamu berhenti memanggil putraku Agust? Dia itu Yoongi. Min Yoongi." protes Ibu Yoongi.
"Aku sudah terbiasa memanggilnya Agust. Agust pun tidak keberatan."
"Seenaknya kamu mengganti nama yang telah aku berikan penuh kasih sayang untuk putra tampanku itu."
"Bila sudah tidak ada urusan lagi. Sebaiknya anda pergi dari rumahku."
"Archi!" Agust menegur dari balik punggung Archi. Wajahnya nampak kesal. "Kenapa kamu nggak sopan begitu? Walau bagaimanapun dia kan mertuamu Archi."
"Tetapi dia tidak sopan di rumahku Agust."
"Iya aku tahu dan mengerti. Tetapi bukan berarti kamu boleh mengusirnya begitu, kan?" Kata Agust mencoba bicara selembut mungkin agar tidak menyinggung Archi.
"Maafkan Archi Ibu. Ada perlu apa ya Ibu ke sini?"
"Ibu ingin meminta maaf kepada Archi. Dan dia malah menggerutu kepada Ibu."
"Apa? Aku kan sudah bilang aku memaafkanmu tadi. Siapa yang menggerutu?" sungut Archi.
"Dan kalau Archi memaafkan ibu, Ibu pun ingin meminta kamu untuk tinggal bersama kami di rumah Keluarga Selim." jelas Ibu Yoongi tersenyum manis kepada putranya.
"Tinggal di rumah Keluarga Selim?" Agust menoleh ke arah Archi yang bibirnya masih mencebik.
"Iya. Sebagai Yoongi. Ahli waris utama keluarga Selim." jawab Ibu Yoongi mengangguk semangat.
"Kalau aku bagaimana Archinya Ibu. Kalau dia bersedia, aku akan pindah ke sana." jawab Agust memandang ke arah Archi.
"Kalau dia benar-benar memaafkan Ibu, seharusnya dia tidak lagi menghalangi mu untuk berkumpul bersama keluarganya."
"Haah.... kenapa harus aku lagi yang dia cecar? Aku bukannya tidak mau tinggal disana. Aku hanya tidak suka harus satu atap dengan mertua seperti dia. Hah...aku bingung pilih mana antara baktiku kepada suamiku atau menjaga hatiku tetap waras."
...~ bersambung ~...
__ADS_1