
Otaknya tak dapat berhenti memikirkan apa yang baru saja dia lihat. Dan teori-teori yang bermunculan karenanya.
Sepanjang malam di apartemen nya Ridwan bulak balik memutar video yang dia terima. Ada kebimbangan dalam dirinya melihat hal penting seperti ini. Dia berada dalam persimpangan yang sulit dia pilih untuk dilalui.
"Apa aku harus mengungkapkan kebenaran ini? Kalau aku melakukannya sama saja aku mencelakakan Ayah dan Jeremy. Tetapi kalau aku tetap diam dan menyimpan ini sendiri, itu pun salah. Orang yang mengirimkan ini pasti menginginkan aku melakukan sesuatu." pikirnya mengacak-acak rambut dikepalanya dengan frustasi.
"Ngomong-ngomong, siapa orang yang sengaja mengirimkan ini kepada ku ya? Aku kirim pesan balik pun centang satu. Nomornya nggak aktif."
"Kenapa harus aku? Kenapa harus aku yang dia kirimkan video ini?"
"Arrgghhh!!!"
Setelah menunggu sekian lama untuk bisa tertidur. Menjelang shubuh mata Ridwan terlelap dengan sendirinya.
"Jasad nya ditemukan!" seru beberapa tim Basarnas yang ditugaskan mencari keberadaan jasad tanpa batas waktu itu.
Dengan panik Ridwan menghampiri tim Basarnas yang membawa kantung mayat berwarna orange.
"Tetapi sayang, sebagian tubuhnya telah hancur termasuk wajahnya. Jadi korban sulit dikenali. Akan tetapi dari rambut dan baju selam yang digunakan itu bisa dipastikan adalah korban yang dicari." kata ketua tim penyelamat itu.
Kantung mayat di buka, memperlihatkan jasad yang telah termakan korosi air laut. Ridwan memperhatikan dengan seksama jasad itu. Hati nya menolak itu adalah kakak yang dicintainya.
"Itu bukan Yoongi Hyung!" kata hatinya yang berulang-ulang dia ucapkan. Apa karena rasa cintanya kepada kakaknya atau memang itu adalah firasat dihatinya namun Ridwan tetap menyangkal kalau jasad itu bukan jasad kakaknya meski dia tidak pernah mengungkapkan kepada orang lain.
Ridwan terperanjat, bangun dari tidurnya. Dia duduk dengan cepat. Nafasnya tersengal-sengal lalu melihat jam berbentuk kotak di atas nakas. Pukul 05.30, angka yang ditampilkan layar display jam tersebut.
Ridwan sampai di kantor, "Pagi Pak!" sapa Archi dengan ceria.
"Pagi...Hoaam!!" jawab Ridwan lalu menjatuhkan diri ke sofa.
"Ada apa denganmu? Apa kurang tidur?" tanya Archi menghampiri Ridwan.
"Iya. Aku nggak bisa tidur semalam." jawab Ridwan duduk membungkuk.
"Aku buatkan kopi ya." kata Archi menawarkan diri.
"Boleh." Ridwan tersenyum senang.
Archi bergegas ke ruang mesin kopi di dekat ruangan CEO. Dua cangkir kopi disiapkan Archi. Satu cangkir untuk Ridwan dan satu cangkir untuk...
Tok...tok..tok..
__ADS_1
Pintu ruangan Agust terketuk, "Masuk!" sahut suara Agust dari dalam ruangannya.
Archi memasuki ruangan Agust dengan nampan berisi dua cangkir kopi. Agust tersenyum lebar menyambut kedatangan istrinya. Dia bergegas menghampiri Archi sebelum kecerobohan Archi menumpahkan kopi di nampan itu.
"Ini untuk kita?" tanya Agust mengambil alih nampan kopi dari tangan Archi.
"Satu untukmu." jawab Archi memperhatikan Agust menaruh nampan di meja kopi.
"Satu lagi?"
"Untuk atasanku. Karena itu juga kan, aku jadi bisa keluar." Archi mengerling jahil.
Agust mendekat ke arah Archi. Melingkarkan lengannya di pinggang Archi.
"Agust ini kantor." sergah Archi mencoba melepaskan lengan Agust. "Nanti ada yang melihat."
"Ini kan ruangan CEO nggak boleh sembarangan orang masuk." sahut Agust dengan wajahnya yang imut mendekat ke wajah Archi.
"Agust ih..." Archi mencoba menghindar namun malah tersandung kakinya sendiri hingga terjatuh ke atas sofa dan menarik Agust untuk ikut terjatuh di atasnya.
"Nakal ya mau nya ngajak rebahan!" goda Agust sambil terkekeh.
"Siapa? orang aku terjatuh. Awas Agust. Nanti Ri...,"
Tanpa berlama bibir Agust menyambar bibir Archi yang masih mau ngoceh.
Dari luar pintu terbuka, di celah pintu yang terbuka sedikit, Irene yang baru datang melihat atasannya bercum bu mesra dengan istrinya.
Rasa sakit menjalar di hatinya. Saat dia mengingat wajah mirip tunangannya itu mencium bibir wanita lain. Bibir yang dulu hanya dia yang memiliki. Irene menutup pintu perlahan dan berlari ke kamar mandi. Di sana dia menangis untuk menenangkan dirinya yang shock. Walau baginya Agust tetap orang lain namun rasa sakitnya terasa sama seperti dirinya melihat Yoongi mencium wanita lain.
Kembali ke ruangan Agust, "Agust!" nada suara Archi bergetar oleh gairah. "Udah akh. Nggak tahu tempat nih kamu." Archi mengatur nafasnya yang berantakan.
"Pemanasan sayang sebelum nanti malam."
"Ya ampun. Segala ingat lagi, ini hari apa dan malam apa."
"Iya dong. Malam wajib ini." Agust mengerling nakal.
"Heh...malam sunnah." jawab Archi meralat.
"Iya, sama aja buatku mah. Sama-sama wajib dilaksanakan."
__ADS_1
"Ya ampun. Begini nih kalau kucing udah nggak polos lagi." Archi mengambil nampan kopinya.
"Hahaha...siap-siap nanti malam."
"Nggak mau. Aku mau tidur." sahut Archi ketika Agust membukakan pintu untuknya.
"Aku paksa." Mendengar Agust bicara, Archi memasang wajah mengejek seraya keluar dari ruangan Agust.
Agust membuat wajah kucing hendak menerkam kepada Archi. Membuat Archi hanya bisa geleng-geleng kepala dengan kelakuan suaminya yang kadang absurd itu.
Dalam perjalanan nya kembali ke ruangan Ridwan, Archi berpapasan dengan Irene. Archi menyapa Irene dengan senyum diwajahnya namun wajah judes Irene hanya diam tak menyahut dan malah memandang sinis kepada Archi.
"Kenapa sama dia?" batin Archi menoleh memandang ke arah Irene yang terus berjalan. "Pasti moodnya lagi jelek. PMS." jawab hati Archi mencoba acuh.
Saat Archi kembali ke dalam ruangan Ridwan. Ridwan tengah tertidur pulas di atas sofa.
"Yah...dia malah tidur." kata Archi seraya menaruh nampan di atas meja kopi di tengah jajaran sofa.
"Yoongi Hyung belum meninggal!" racau Ridwan dalam tidurnya. Archi menyipitkan mata. "Itu bukan Yoon..." putus Ridwan.
"Kenapa Ridwan berkata seperti itu? Apa Ridwan tahu sesuatu?" gumam Archi.
Di ruangan Agust.
"Pagi Pak." Irene memasuki ruangan dengan berkas-berkas di tangannya.
"Pagi."
"Ini beberapa dokumen yang harus ditanda tangani." kata Irene berjalan mendekati meja Agust lalu menaruh berkas di meja.
Saat Agust tengah sibuk mengecek berkas sebelum dia tandatangani, dengan gesture menggoda Irene berjalan memutari meja Agust, mendekat ke arah Agust.
Tatapannya berbeda. Agust yang merasakan kejanggalan memasang mode siaga dengan sendirinya. Agust berdiri dari duduknya mundur perlahan. Dengan cepat Irene memeluk Agust.
"Aku mencintaimu. Kenapa aku harus kehilangan dirimu? Dan kenapa kamu harus datang kembali ke hidupku dengan menjadi orang lain?" cecar Irene menyadarkan wajahnya di dada Agust. "Dan menjadi milik orang lain?" tangisnya tak terbendung.
Agust mendorong tubuh Irene perlahan untuk melepaskannya. "Irene, jangan seperti ini!"
"Kenapa?" Irene mendongak menatap wajah Agust. Dia berjinjit mencoba mendekati bibir Agust.
Saat yang tak tepat, pandangan masa lalu hadir melintas dalam benak Agust. Saat yang sama ketika Irene hendak menciumnya di masa lalu. Kepalanya terasa sangat sakit, pusing berputar.
__ADS_1
Bibir itu semakin mendekat, begitu pun bibir Irene dalam benak Agust.
...~ bersambung ~...