
Saat mereka sudah sangat dekat, tanpa diduga, Jeremy meraih kedua lengan Archi dan mendorongnya hingga terpojok di pintu lemari. Kedua tangannya di cengkram kuat di pintu lemari, Jeremy menjepit tubuh Archi ke lemari menggunakan pinggulnya.
"Kak Jeremy..., apa yang kamu lakukan? Lepaskan!" paksa Archi memberontak dan mencoba melepaskan diri.
Namun pria di hadapannya ini lebih kuat dari tenaganya yang tidak seberapa.
"Aku selalu menginginkanmu," de-sah Jeremy mencoba memaksa mencium Archi namun Archi terus meronta.
Mengambil satu kesempatan saat Jeremy terlalu fokus memaksa menciumnya sekuat tenaga Archi menghantam wajah Jeremy dengan kepalanya.
"Arrrggh!" erang Jeremy menjadi kesempatan Archi untuk melepaskan diri.
Baru tiga langkah berlari, tangan Jeremy yang panjang berhasil meraih dan menarik kencang kain kaos yang dipakai Archi hingga terobek dari kerah hingga dadanya membuat satu cup bra hitam yang menutupi salah satu bukit kembar Archi terpampang nyata di hadapan Jeremy. Membuat desiran gairah meregang hebat ditubuh pria yang sedang sangat terangsang itu.
Buru-buru Archi menutup yang terbuka dan menyilangkan tangannya. Jeremy menubruk dan menghempaskan Archi ke atas tempat tidur.
"Kamu nggak akan bisa lepas dariku!" ancamnya menindih Archi di tempat tidur dengan mencengkram kedua lengan Archi dan juga kakinya yang mengukung tubuh Archi di bawahnya.
"Aku mohon! Jangan lakukan itu!" ratap Archi mulai menangis melihat Jeremy berwajah beringas penuh nafsu.
"Aku itu mencintaimu dari dulu Archi! Bukan kakakmu." pekik Jeremy mengejutkan Archi dengan pengakuannya yang tiba-tiba.
"Dan tubuhmu," pandangan matanya menurun perlahan menikmati pemandangan tubuh Archi dalam kungkungannya .
"Selalu menggodaku untuk menikmatinya," cicit Jeremy.
Archi meringis jijik mendengarnya. Dia benar-benar ketakutan sekarang. Melihat Jeremy seperti kerasukan siap menerkam tubuhnya. Buliran hangat menuruni sudut mata terluarnya.
Tap....
Kucing putih naik ke jendela dan melihat Archi yang sedang terancam.
"Sial...!" hardiknya. "Kenapa saat ada bahaya begini, saat aku menjadi kucing?" geram batin kucing putih.
"Bodohnya suamimu, belum menyentuhmu sama sekali." umpatnya merundukkan kepalanya hendak mencium leher Archi.
Kucing putih menggeram menarik atensi Jeremy. Saat dia menoleh, dengan cepat dan kuat Kucing putih melompat dan mengarahkan cakarnya dimata Jeremy. Cakar Berhasil menggores kelopak atas mata Jeremy.
Namun naasnya saat mencakar, tangan Jeremy yang mengibas kuat menghantam tubuh kucing saat masih di udara db melempar tubuh kecil kucing itu menghantam kaki meja belajar sangat keras.
Lalu kucing itu terpelanting masuk ke dalam kolong meja belajar. Kucing itu terkulai lemas tak berdaya menahan sakitnya.
"Aaaa.....mataku!" erang Jeremy memegang matanya yang terkena cakaran kucing.
__ADS_1
Di saat bersamaan Ayah yang mendengar jeritan Jeremy naik ke lantai atas.
"Archi!" pekik Ayah khawatir melihat Archi menangis duduk di tempat tidur. Ibu menghampirinya dan memeluknya, ikut menangis.
"Pria kurang ajar!" Ayah menarik kerah Jeremy dan memukulinya geram.
"Ayah... Hentikan!" Kakak datang dan melerai Ayahnya. Kakak memeluk Jeremy.
"Awas Levi! Ayah harus memberi pelajaran kepada pria brengs*k ini!" teriak Ayah terbakar amarah.
"Aku nggak bersalah Levi, Archi menggodaku!" kelit Jeremy dalam pelukan Kakak.
"Nggak... Dia bohong!" teriak Archi. "Aku nggak menggodanya Ibu, dia yang mendatangiku...lalu...," Archi terus menangis.
"Iya sayang..., ibu tahu," jawab Ibu menenangkan Archi.
"Sudah salah kamu mau memfitnah anakku!" Ayah menarik baju Jeremy agar menjauh dari Kakak namun Kakak terus menghalanginya.
"Lepas Levi! Biar Ayah memberi dia pelajaran!"
"Nggak Ayah...!" Jawab Levi.
"Levi...!" Ibu menjerit. "Mengapa kamu melindungi pria yang hampir menodai adikmu"
"Astagfirullah!" ucap Ayah dan Ibu berbarengan.
"Apalagi saat ini suaminya nggak ada. Dia pasti mengambil kesempatan ini," cecar Kakak.
"Kamu nggak lihat bagaimana keadaan adikmu sekarang?" pekik Ibu.
"Kalau dia yang meminta dia nggak akan menangis seperti itu?" sungut Ayah.
"Dia hanya berpura-pura menjadi korban!"
"Nggak...itu nggak benar!" jerit Archi.
"Sudah sayang... Kami tahu dia yang bersalah," jawab Ibu.
"Ayah akan melaporkan ini ke polisi," Ayah mengambil handphone dari saku celananya.
Kakak melepaskan pelukannya kepada Jeremy,
"Nggak ayah! Ayah nggak boleh melakukan itu!" sergah Kakak mengambil handphone ayahnya.
__ADS_1
"Apa kalian mau membuat keluarga kita malu dengan ini. Orang-orang akan bergunjing tentang kita dan karir ku juga akan hancur," himbau Kakak.
"Kamu lebih peduli dengan karirmu daripada adikmu?" tanya Ibu.
"Bukan begitu. Kita kenal siapa keluarga Jeremy. Apa kalian pikir kalian bisa menang melawan kuasa mereka? Apalagi kita nggak punya bukti dan saksi. Itu akan sia-sia," jelas Kakak.
Ayah termenung untuk berpikir. Dia menimbang bahwa yang dikatakan Kakak ada benarnya. Akan percuma melawan salah satu keluarga terkaya di negara ini.
Kemarahan ayah sudah tak terbendung, "Keluar! Keluar dari rumahku!" Ayah menarik baju Jeremy dan menyeret keluar kamar Archi. "Jangan berani-berani lagi kamu menginjakkan kakimu di rumahku!" usirnya. Levi menyusul mereka keluar kamar Archi.
Dari duduknya Archi melihat ke kolong meja dan melihat kucing putih yang terkapar. Dia pun mulai mencemaskan kucing putih. Archi menghapus air mata di pipinya.
"Ibu aku ingin sendirian," pinta Archi.
"Tetapi sayang," Ibu terdengar mencemaskan anaknya.
"Aku sudah nggak apa-apa. Benar. Aku perlu waktu sendiri," kata Archi. "Ibu jangan khawatir, aku nggak akan berbuat nekat," sambungnya mengerti yang ada dipikiran Ibunya saat ini.
"Kamu janji?"
"Iya ibu. Aku hanya ingin sendiri sekarang,"
"Baiklah." Meski cemas Ibu akhirnya meninggalkan Archi sendiri di kamar. Archi bangkit dari tempat tidur dan mengunci kamarnya.
Di saat yang bersamaan, tubuh kucing berganti rupa menjadi Agust dan berubah lagi dengan cepat menjadi kucing. Begitu seterusnya.
"Agust!" Archi berlari menghampiri Agust dan membawa Agust wujud kucing keluar dari kolong meja.
Archi mengambil selimut dan menutupi tubuh kucing yang berubah menjadi Agust. Lalu berubah menjadi kucing lagi.
"Agust sadarlah!" pinta Archi.
"Archi!" suara itu menjawab lemah. Kini Agust tetap menjadi manusia dan tidak lagi berubah-ubah.
"Agust...apa kamu nggak apa-apa?" tanya Archi membantu Agust untuk duduk.
"Aaaa...!" Agust mengerang memegang bawah dadanya di bagian rusuknya yang terasa nyeri.
"Apa disitu sakit?" tanya Archi khawatir.
Namun manusia kucing itu tak menjawab. Archi melihat ekpresi Agust berubah tiba-tiba. Agust tertegun dengan matanya yang membesar, warna merah meresapi kulit putihnya saat ia menelan salivanya.
Archi menyipit, bertanya apa yang terjadi pada pria dihadapannya ini. Mengapa ekspresinya cepat berubah. Semula dia merintih dan kini termangu.
__ADS_1
...~ bersambung ~...