Cinta Agusd Si Kucing Tampan

Cinta Agusd Si Kucing Tampan
117. Jiwa yang Bersedih


__ADS_3

Dia melangkah keluar menuju lift. Di depan kamar Archi, seorang pria dengan long coat hitam, topi baseball biru tua yang menutupi separuh wajahnya, menoleh kiri kanan memastikan kondisi sekitar aman. Dengan perlahan dia membuka pintu kamar dan menuju tempat tidur Archi.


Pria yang memakai long coat itu memegang tangan Archi yang tertancap jarum infusan. "Kita akan pergi dan hidup bahagia bersama Archi," ucapnya seraya mengeluarkan smirknya yang tampak di bawah topinya.


Sementara itu di pelabuhan, "Bodoh!" hardik Tuan Nicholas memukul bahu anak buahnya dengan gulungan berkas yang dia pegang.


"Bagaimana kalian bisa kehilangan Jeremy?" pekik Tuan Nicholas bertanya dengan kesal.


"Maaf Bos, tadi Tuan Muda Jeremy masih bersama kami, tetapi ternyata dia menyelinap keluar kapal dan kabur." jelas anak buah Tuan Nicholas.


"Kemana Jeremy pergi?" tanya Tuan Nicholas kepada dirinya sendiri mencoba berpikir kemungkinan Jeremy pergi saat ini. "Jangan-jangan dia? Cepat jemput Jeremy di rumah sakit Kasih Ibu. Aku yakin dia kesana!"


Di ruang perawatan Archi.


"Pergi!" pekik Archi duduk meringkuk memeluk dirinya sendiri. Dia ketakutan yang teramat sangat. Melihat wajah itu lagi, mendekat ke arahnya.


"Jangan begitu Archi. Kita harus segera pergi, kapalnya akan segera berangkat." Jeremy mencoba mengangkat Archi.


"Lepaskan aku!" Archi beringsut menghindari Jeremy dengan ketakutan hebat.


"Jeremy!" Agust terkejut mendapati pria itu di kamar Archi.


"Jangan hentikan kami!" teriak Jeremy. "Kami ingin hidup bahagia berdua." Jeremy melayangkan pukulan yang dapat ditangkis Agust. Perkelahian antar mereka pun terjadi.


Archi menutup mata dan menutup telinga dengan kedua tangannya. Tubuhnya gemetar hebat.


Agust mencengkram kuat kerah baju Jeremy. Jeremy mengeluarkan smirk nya. Saat itu dejavu muncul dalam ingatan Agust. Bayangan saat matanya melihat Jeremy berhadapan dengannya di suatu waktu. Jeremy mengenakan kemeja berwarna cream muda dengan dasi melingkar di lehernya.


"Aku akan mengambil hakku." ucap Jeremy dalam bayangan itu.


Tiba-tiba kepala Agust terasa sakit. Dia melepaskan Jeremy. Tak mau melewatkan kesempatan, Jeremy menarik bahu Agust dari belakang, dan menonjoknya dengan kuat.


Sudut bibir Agust berdarah, Agust membalas pukulan Jeremy. Baku hantam terjadi lagi antara mereka. Hingga akhirnya Jeremy bisa dikalahkan Agust. Jeremy terbaring di lantai dengan babak belur di wajahnya.


Agust berjongkok di dekat wajah Jeremy, "Heu!" Jeremy tertawa puas. "Kamu pikir ini bisa menghentikan aku. Aku pasti akan membawa Archi pergi." ucapnya begitu yakin.


"Bermimpi saja dulu. Karena kamu akan membusuk di penjara." sahut Agust tak kalah yakin.


Pihak keamanan rumah sakit berdatangan. "Amankan dia!" titah kepala komandan menyuruh anak buahnya untuk menahan Jeremy.


"Jangan biarkan dia lolos!" tegas Agust.


"Baik Tuan. Kami mohon maaf atas kurang ketatnya pengawasan kami." sahut komandan keamanan.

__ADS_1


"Tahan dia sampai polisi datang."


"Archi!" Agust mendekat.


"Pergi! Pergi!" usir Archi mendorong Agust.


"Ini aku suamimu, Archi!" Agust hampir saja menangis.


"Permisi Tuan!" para suster berdatangan dan mengurus Archi.


Tak lama kemudian Ayah dan Ibu datang dengan perasaan cemas dan khawatir.


"Archi sudah tertidur." kata Agust saat ayah dan ibu datang.


"Bagaimana Jeremy bisa masuk ke sini dan mendekati Archi?" cecar Ayah terdengar kesal. "Harusnya aku nggak meninggalkan kamu berjaga sendirian." sambung Ayah.


"Tadi seorang suster memanggilku untuk mengurus sesuatu. Saat aku kembali Jeremy sudah ada di dalam ingin membawa Archi pergi." jelas Agust.


"Pria itu benar-benar sudah gila. Syukurlah polisi sudah berhasil menangkapnya." kata Ibu.


Di kantor polisi,


"Ayah sudah mengatakan untuk bersikap waras sekali saja. Apa kamu nggak bisa?" omel Tuan Nicholas dengan suara sedikit tertahan.


"Lihat sekarang, kamu akan dipenjara. Seharusnya kamu sudah bisa hidup tenang dalam perjalananmu ke Jepang sekarang ini."


"Archi...Archi terus."


Di rumah sakit.....


Agust masih terjaga. Duduk di sebelah Archi yang tertidur. Sementara di sofa ayah dan ibu telah tertidur.


"Archi, sekarang kamu sudah bisa tenang. Pria baji ngan itu sudah dipenjara. Nggak akan ada lagi yang bisa mengganggumu." bisik Agust memegang tangan Archi seraya mengusap rambutnya.


"Kamu tahu nggak Archi, saat aku berantem dengan pria kurang ajar itu. Aku memiliki bayangan masa lalu dengannya. Dan kakek tua yany waktu itu ke sini, dia sempat memanggilku Yoongi. Apa ini semua ada hubungannya Archi?" tanya Agust meski dia tahu bahwa Archi nggak akan merespon apapun.


"Andai kamu sehat kamu pasti bisa membantuku berpikir. Dan kamu juga pasti bisa menemukan jawabannya." sambung Agust masih berbisik.


"Hufh...tetapi karena untuk menemukan jawaban tentang masa lalu aku juga, kamu harus terluka seperti ini." kata Agust. "Aku yang bersalah telah mempertaruhkan keselamatanmu demi aku." kata Agust sangat menyesal.


Setelah beberapa hari di rumah sakit akhirnya Archi diperbolehkan pulang ke rumah. Ibu mengantarkan Archi sampai di kamar, sementara Agust membawakan tas Archi dibelakangnya.


"Archi, ini kamar kamu. Kamu ingatkan? Kamu akan tinggal di sini bersama suami kamu." Ibu menunjuk Agust yang berdiri dengan sabar di sisi bawah tempat tidur. "Dia yang akan menjaga dan menemani kamu di sini." Archi melirik ke arah Agust yang tengah tersenyum kepadanya. Dengan segera Archi memalingkan wajahnya.

__ADS_1


"Sekarang Ibu tinggal ke bawah ya. Kalau kamu perlu sesuatu, kamu katakan saja kepada Agust ya." pamit Ibu.


"Agust, ibu tinggal ya." kata Ibu kemudian pergi dari kamar Archi.


Archi akan rebahan, Agust mendekat. Archi beringsut bergeser.


"Nggak apa-apa Archi, aku akan menjauh. Kalau perlu apa-apa katakan padaku, ya." kata Agust dengan lembut.


Membelakangi Agust, tanpa Agust ketahui, Archi menitikan air matanya. Hatinya merasa sedih dan pilu harus menjauhi suaminya sendiri.


Agust pergi ke bawah untuk mengambilkan cemilan untuk Archi. Saat itu Archi turun dari tempat tidurnya dan mengambil foto yang tertempel di papan yang Agust buat. Ketika Agust kembali dengan cepat Archi mengembalikan foto ke atas meja.


"Kamu bangun Archi? Apa kamu perlu sesuatu?" tanya Agust membawa nampan berisi cookies coklat kesukaan Archi dan segelas susu dingin.


Archi hanya diam dan kembali ke tempat tidurnya.


"Ini cemilanmu Archi." Agust melihat Archi telah memejamkan matanya.


Malam hari pun tiba, sementara Archi tidur di atas tempat tidurnya. Ibu membawakan kasur busa lipat untuk ditaruh di bawah dekat tempat tidur Archi.


"Sementara kamu tidur di sini ya Agust." Kata Ibu mengamparkan kasur busa untuk Agust.


"Iya nggak apa-apa, Ibu. Biar aku saja." kata Agust membantu Ibu.


"Tidurlah. Tetapi kamu harus waspada kalau kalau Archi butuh sesuatu." pesan Ibu.


"Iya ibu, aku mengerti." jawab Agust.


Malam semakin larut, Agust menatap wajah Archi yang tertidur pulas di atas tempat tidur sebelum merebahkan badannya di atas kasur busa.


"Selamat malam Archi. Aku selalu mencintaimu dan merindukanmu." ucapnya dengan lembut.


Agust merebahkan diri dan pergi tidur kemudian. Archi membuka matanya, menoleh ke bawah tempat tidur, Archi mengulurkan tangannya hendak mengusap wajah Agust dengan mata berkaca-kaca.


...Sampaikan pada jiwa yang bersedih...


...Begitu dingin dunia yang kau huni...


...Jika tak ada tempatmu kembali...


...Bawa lukamu biar aku obati...


...Tidak kah letih kakimu berlari...

__ADS_1


...Ada hal yang tak mereka mengerti...


...~ bersambung ~...


__ADS_2