Cinta Agusd Si Kucing Tampan

Cinta Agusd Si Kucing Tampan
111. Suara Asing


__ADS_3

"Kalau aku hamil, yang aku kandung apa?" tanya Archi. Agust tercengang mendengar pertanyaan Archi.


"Ya ampun pikiranmu Archi. Jangan mikir macam-macam akh." tegur Agust seraya mengeratkan pelukannya. "Kita harus selalu berpikir yang baik-baik, ya?"


"Iya Agust. Oh iya, hari ini kakak jadi juri untuk presenter cilik yang diselenggarakan stasiun TV-nya di mall. Kita ke sana yuk, refreshing. Di sana pasti banyak anak-anak." usul Archi.


"Yang udah mau dapat anak, pengennya deket-deket anak-anak." goda Agust terkekeh.


"Apa sih, nggak gitu kok. Sekalian aja gitu." sahut Archi.


"Ayo aja aku sih. Tapi aku harus bolos kerja hahaha..." jawab Agust.


Setelah sarapan dan bersiap Archi dan Agust berangkat ke mall di mana kakak akan menjadi juri. Menuju ke depan komplek mereka berjalan kaki berdua. Dengan mesra Archi merangkul lengan Agust dan sesekali menyandarkan kepalanya di bahu Agust.


"Kita ke sananya mau naik apa?" tanya Archi.


"Karpet terbang!" jawab Agust.


"Ih...nanya serius juga." Archi cemberut.


"Ya kamu mau nya naik apa? Bis, taksi, ojol, ojol mobil?"


"Naik bis aja ya. Biar romantis." jawab Archi.


Agust mengernyit,



"Apa hubungannya naik bis dengan romantis? Bukannya malah jadi terlalu ramai ya?" tanyanya bingung.


"Kalau di drama-drama biasanya naik bis. Terus berbagi headset, kan."


"Hahaha...sakarepmu lah Archi." jawab Agust.


"Kok gitu sih?"


Sesampainya di mall, acara belum di mulai. Di dekat panggung Kakak sedang mengobrol bersama Jeremy. Archi pun menghampirinya.


"Kakak!" Sapa Archi memeluk kakaknya.


"Kamu datang juga!" seru kakak senang.


"Iya dong,"


"Ini atasanmu," sindir Kakak menunjuk Jeremy.


Jeremy mesam-mesem tampak salting,


"Pak!" sapa Archi.


"Segala pakai Pak. Biasanya juga Kak kan." protes Jeremy.


"Oh iya, kebiasaan." jawab Archi.


"Seneng banget bisa ngeliat kamu di hari Minggu Archi." batin Jeremy memandang terpesona kepada Archi. "Saat Levi menjadi juri, aku akan berduan denganmu." pikirnya tersenyum.


Kakak menoleh kiri dan kanan, "Suamimu mana?" tanya Kakak bingung.


"Ada, lagi membelikan aku minuman." jawab Archi.


"Pasti minuman viral yang ngantri itu. Kasihan Agust suruh ngantri panjang."

__ADS_1


"Hahaha...ya kan mumpung ke sini nyobain yang viral dong." timpal Archi.


"Sial..., ternyata dia datang bersama suaminya." hardik Jeremy di dalam hatinya. "Kesal sekali mendengar kata itu. Apalagi kalau aku ingat suaminya telah merebut Archi dariku." tambah hatinya bertambah murka.


"Levi, aku masih ada urusan. Aku harus pergi sekarang. Nggak apa-apa kan?" pamit Jeremy.


"Kok tiba-tiba sekali?" tanya Kakak kecewa.


"Iya, biasalah urusan bisnis." dalih Jeremy kemudian berpamitan kepada Archi dan Levi. Dia pun pergi menuju ke pintu keluar Mall.


"Tuh Agust datang!" tunjuk kakak lalu melambai kepada Agust.


Seraya mendekat Agust balas melambai, "Ini untuk juri hari ini!" kata Agust memberikan satu gelas minuman kepada Kakak.


"Wah, terimakasih ya Agust." ucap Kakak menerima gelas minuman dari Agust.


"Ini untuk Archi."


"Terimakasih Agust." ucap Archi juga tersenyum hangat.


"Eh...udah mau mulai. Aku ke sana dulu ya." pamit kakak menunjuk meja juri yang telah tersedia di depan panggung.


"Iya Kak." Kakak berjalan ke arah meja penjurian.


"Banyak anak-anak, kan!" seru Archi melihat keramaian acara.


"Wah...ada pororo juga!" seru Agust melihat badut pororo di atas panggung. "Harusnya kita ajak Kenji ke sini. Dia pasti senang melihat badut pororo."


"Nanti ayah sama ibu juga ke sini." sahut Archi menyeruput minumannya.


Di tempat lain, "Halo bos...bos...!" panggil seseorang jauh disana saat panggilannya terputus.


"Yang aku dengar, Kita di suruh menculik seseorang di mall." jawab si penerima telepon.


"Menculik siapa?"


"Di sana terlalu bising, jadi aku nggak mendengar jelas ucapan bos yang tertimpa banyak suara," jelasnya. "Aku hanya mendengar kita harus menculik pembawa berita yang sedang menjadi juri di sana." katanya.


"Ya sudah, ayo gas!" mereka yang berpakaian serba hitam itu bergerak pergi.


Kembali ke Mall, ayah, ibu dan Kenji datang untuk menonton kakak.


"Hebat ya Kakak, sangat percaya diri di sorot kamera dimana-mana. Kalau aku sih udah pasti kabur." kata Archi menjilat es cream yang dibelikan Agust.


"Kerjaan dia setiap hari aja di depan kamera Archi. Masa iya dia masih takut kamera. Kalau kamu di foto aja kabur. Nggak mau." jawab Agust lalu menarik tangan Archi dan menggigit es krim Archi.


"Ih..ini kan es krim aku." sungut Archi cemberut.


"Minta sedikit, nggak boleh?" sahut Agust.


"Boleh sih. Tapi kamu nggak jijik itu bekas aku jilat."


"Ya elah, punya istri sendiri, kenapa jijik. Ngambil langsung dari mulut kamu aja aku mau."


Plaaakkk!!!


"Aw...sakit Archi. Kamu jadi seneng mukul aku sekarang." keluh Agust.


"Ya kamu, ngomongnya poorno." sahut Archi.


"Maksudku ini loh." Agust mengelap sekitar bibir Archi yang belepotan es krim dengan tissue.

__ADS_1


"Makan es krim kaya anak kecil masih belepotan." goda Agust. "Tunggu deh...aku lihat kamu banyak makan sekarang."


"Masa?"


"Kamu makan es krim punya aku juga kan. Kamu makan dua es krim sekaligus. Sekarang kamu beli lagi."


"Nggak tahu lagi pengen makan es krim." sahut Archi.


"Lagi pengen apa doyan sampai makan 3 es krim." ejek Agust.


"Biarin, yang penting aku senang." jawab Archi cuek.


"Hallo!" sapa seorang pria tinggi memakai kaos yang sama dengan Kakak, kaos yang terdapat logo salah stasiun televisi terbesar di Indonesia. "Adiknya Levi ya?" tanyanya.


Archi mengingat pria itu, "Ini yang aku lihat di restoran tempo lalu saat aku sedang makan bersama Jeremy. Dia pembaca berita juga kayak kakak." kata hati Archi.


"Iya," jawab Archi antusias menggapai tangan pria itu yang terjulur ingin bersalaman dengannya.


Agust tersenyum kecut, melepaskan tangan Archi agar tidak lebih lama lagi salaman dengan pria tampan di sebelahnya.


"Wah...kamu udah kenalan duluan sama adikku!" seru Kakak yang baru tiba selesai di wawancara stasiun televisinya juga.


"Iya dong."


"Ini Archi dan ini suaminya." kata Kakak memperkenalkan mereka.


"Agust," mereka bersalaman.


"Kamu dipanggil wawancara tuh!" kata Kakak.


"Oh, oke. Aku kesana dulu ya." pamitnya.


"Daripada sama Jeremy, kakak lebih cocok sama dia deh." kata Archi.


"Ih apa sih kamu. Aku itu cintanya sama Jeremy."


"Tapi kayaknya pria itu lebih baik dari Jeremy." jawab Archi.


"Maksud kamu Jeremy nggak baik gitu?"


"Ya bukan gitu juga sih maksudnya." sahut Archi jadi serba salah.


"Dahlah. Aku ke kamar mandi dulu, ya. Kebelet. Sebelum mulai lagi acaranya." kata Kakak bergegas ke toilet sendirian.


Beberapa menit kemudian acara harus segera di mulai namun kakak belum juga kembali dari toilet. Beberapa kru mencari kakak ke toilet. Begitupun Agust dan Archi yang nampak sangat cemas.


"Kakak kemana? Kok nggak ada." jawab Archi saat keluar dari toilet wanita.


"Panggilan ku juga nggak diangkat." kata Agust yang terus mencoba menghubungi kakak.


Archi mengambil handphone di tas nya untuk mengecek apakah kakaknya menghubungi nomornya. Saat itu panggilan masuk dari nomor asing terlihat di layar handphone Archi.


Archi berhenti berjalan, "Kamu duluan aja," kata Archi kepada Agust. Agust tetap berjalan menuju ke dekat panggung.


"Halo! Siapa ini?" tanya Archi ketika panggilan tersambung.


"Jangan bicara dan dengarkan aku saja." suara asing terdengar di telepon. Archi tertegun, diam dengan tubuh gemetar karena takut. Perasaannya mulai tak enak.


Siapakah si penelepon ini? Suaranya terlalu asing untuk Archi. Tidak ada clue untuk Archi agar bisa menebak siapakah dia. Tetapi apa ini ada hubungannya dengan hilangnya kakak? Pikirannya terus berputar dengan segala kemungkinan yang kesemuanya membuat dirinya bergidik, takut.


...~ bersambung ~...

__ADS_1


__ADS_2