Cinta Agusd Si Kucing Tampan

Cinta Agusd Si Kucing Tampan
119. Berubah Pikiran


__ADS_3

"Karena aku tak pantas untuk kamu sentuh," nada suara Archi meninggi. "Aku kotor Agust....aku kotor!" jeritnya.


"Apa?" Agust terkesiap mendengarnya. Tak menyangka dengan yang ada di dalam pikiran Archi selama ini.


"Aku udah kotor Agust...aku sendiri jijik sama diriku." Archi menangis sejadi-jadinya. "Karena itu aku nggak mau kamu menyentuhku yang hina ini!" pekiknya dalam linangan air mata.


"Archi jangan ngomong gitu. Aku mohon!" pinta Agust menghampiri Archi. Archi mundur, menghindari Agust. "Aku aja nggak pernah berpikir kaya gitu."


"Tetapi itu kenyataannya. Pria be-jad itu...," Archi tak sanggup meneruskan kalimatnya dan hanya kembali menangis.


"Nggak Archi. Walaupun begitu, itu tak lantas membuatmu jadi sehina itu dimataku. Bagiku kamu tetap berharga." ungkap Agust dengan kilauan di maniknya.


"Agust." bisik Archi lirih.


"Jangan menyalahkan dirimu dan menghukum dirimu sendiri seperti ini Archi. Karena sesungguhnya Aku lah yang paling bersalah dalam kejadian ini. karena aku kamu harus menghadapi Jeremy dan juga,


"sebagai suami aku nggak bisa menjaga kamu sampai hal ini bisa terjadi kepadamu. Tetapi aku mohon jangan menghukum dirimu dan diriku dengan menjauhi aku."


Archi menaruh telapak tangannya yang terasa dingin dan kelu di pipi Agust, "Ini bukan salahmu Agust."


"Kalau begitu, berhenti menyalahkan dirimu sendiri ya!" pinta Agust menatap ke dalam mata Archi yang sayu berkaca-kaca


"Nilaimu di hatiku tetap sama Archi, kamu terlalu berharga. Kamu tetap menjadi Archi-ku yang tanpa cela. Istriku, yang aku kenal dulu. Archi yang baik, yang menerimaku bahkan disaat dia nggak mengenal siapa diriku sebenarnya."


"Agust!" Perasaan haru memenuhi hati Archi. Genangan air mata di matanya tumpah menjadi deraian air yang membasahi pipinya.


Agust memeluk Archi dan Archi pun tak menolak lagi. Seluruh perasaan dalam hati mereka tumpah seketika. Memberikan rasa hangat yang mereka rindukan satu sama lain.


Keesokan paginya, Archi dan Agust turun ke lantai bawah setelah melaksanakan shalat shubuh berjamaah. Ayah yang sedang menikmati kopi di atas meja makan dan Ibu yang sedang menyiapkan sarapan merasa takjub melihat Agust dan Archi telah berangkulan kembali.


Mereka berdua tak dapat menutupi perasaan bahagia dan haru mereka melihat Agust dan Archi telah kembali bersama.


"Archi, kamu sudah baik kan, nak?" tanya Ibu berkaca-kaca. Archi mengangguk.


"Alhamdulillah!" sahut ayah dan Ibu berbarengan.


"Duh...kalian kaya pengantin baru terus jadinya." goda kakak yang memasuki dapur.


"Kakak!" kata Archi tersipu. Agust melipir untuk membantu Ibu memasak.


Kakak memeluk Archi, "Archi...maafkan kakak ya." kakak menangis. "Kakak salah besar kepadamu. Bodohnya kakak yang terpedaya pria itu. Lebih percaya penipu itu dibanding adik kakak sendiri." ucap kakak.


"Iya Kak."

__ADS_1


"Terimakasih juga. Kakak nggak pernah tahu kalau kamu begitu menyayangi kakak hingga kamu rela berkorban apapun demi menyelamatkan kakak. Kakak jadi merasa seperti orang jahat Archi."


"Nggak kakak. Jangan bicara begitu. Aku bisa mengerti, Kak. Kakak terlalu baik hingga pria itu bisa memanfaatkan kakak."


"Iya Archi. Seandainya dari awal kakak lebih mendengarkanmu."


"Semua sudah berlalu sekarang Kak. Dan sudah baik-baik saja. Aku berharap kakak juga bisa lebih bahagia sekarang."


"Terimakasih ya Archi." mereka saling melepaskan pelukan mereka.


"Iya Kak. Mungkin sekarang saatnya kakak mempertimbangkan rekan pembaca berita itu." goda kakak.


"Archi...nanti kakak pertimbangkan dulu." sahut Kakak dengan begurau juga. "Kakak nggak mau salah pilih tuk kedua kalinya."


"Betul!"


"Kamu nggak kerja Agust?" tanya Ayah.


"Ehm...,"


"Aku masih sakit ayah." Alibi Archi bermanja.


"Ya ampun!" dengus Ayah dan Ibu.


"Nanti kamu dikeluarkan bagaimana? Sudah lama nggak masuk kerja."


"Kamu yakin?" tanya Ayah.


"Iya ayah. Daripada dia dekat terus sama Bosnya yang kecentilan itu."


"Kalau kamu akan kembali bekerja Archi?" tanya Ibu.


"Belum aku pikirkan Ibu. Aku membantu Agust membuka usaha aja kalau nggak bisa kerja lagi."


"Ayah juga malas sebenarnya kembali ke pabrik itu. Tetapi ayah masih terikat kontrak panjang." jawab Ayah melas.


"Aku juga kan dikontrak ayah cuman enam bulan sih. Tetapi kalau pun mau keluar bayar penalti."


"Sama. Kalau ayah keluar bayar kompensasi nya puluha juta. Sayanglah. Mau nggak mau harus lanjut kerja."


Malam selanjutnya di dalam kamar, "Archi, kamu tahu waktu kamu di rumah sakit ada Kakek tua menggunakan tongkat jalan berwarna coklat dengan kepala naga dan anaknya mau ngejenguk kamu tapi kamu belum stabil. Ayah juga melarang mereka." kata Agust.


"Apa Kakek Ludwig?"

__ADS_1


"Mungkin. Dan yang aneh dia memanggil dan bertanya apa aku Yoongi."


"Yoongi... Min Yoongi? Yoongi Marry me!" pekik Archi semangat.


"Archi seriuslah!"


"Hahhahh...maaf. Tapi mendengar nama itu aku jadi teringat Suga BTS."


"Hufh...!"


"Kenapa Kakek Ludwig memanggilmu Yoongi?"


"Itu yang jadi pertanyaan aku. Kakek itu dan anaknya tampak sangat terkejut saat melihatku pertama kali."


"Aku akan cari tahu."


"Eh...nggak usah. Nggak usah." sergah Agust buru-buru. Dia khawatir akan keselamatan Archi bila Archi harus mencari tahu tentang dirinya lagi.


"Aku nggak ingin tahu apa-apa lagi. Aku sudah cukup bahagia dengan masa sekarangku bersama kamu. Aku nggak peduli tentang itu lagi. Aku hanya ingin bercerita denganmu. Jadi jangan coba cari tahu lagi ya?"


Archi tersenyum seraya mengangguk, "Bagaimana aku bisa nggak mencari tahu kalau kebenaran ini sedikit lagi bisa terungkap. Akan akan memecahkan teka teki untukmu Agust." batin Archi penuh tekad.


Esok paginya Archi bangun shubuh seperti biasa. Mengerjakan semua urusan pagi harinya lalu bersiap menggunakan pakaian kerjanya lagi.


"Mwo? kamu mau kemana?" tanya Agust penasaran.


Archi menyemprotkan minyak wanginya diantara leher, "Aku akan pergi bekerja Agust."


"Kata kamu, kamu akan berhenti bekerja. Kenapa sekarang berubah pikiran lagi?" cecar Agust terdengar emosi.


"Daripada uangnya aku gunakan untuk membayar pelanggaran kontrak, bukankah lebih baik uangnya kita gunakan modal usaha kita." jawab Archi perlahan membuka pintu.


Braaak!


Agust memukul daun pintu dengan telapak tangannya untuk menutup kembali.


"Kamu nggak boleh kembali ke pabrik itu!" larang Agust dengan tegas.


"Kenapa? Jeremy pun sudah nggak di sana." sahut Archi memegang garang pintu. "Aku hanya ingin bekerja, Agust. Biarkan aku pergi."


"Nggak Archi. Kamu akan membantuku membuka usaha. Untuk uang pembatalan kontraknya akan aku pinjam dari Ayah. nanti aku akan menggantinya."


"Jangan seperti itu Agust."

__ADS_1


"Kamu yang jangan seperti itu!" Agust membentak Archi cukup keras hingga Archi tersentak kaget. "Kamu pikir aku nggak tahu niatmu?" Agust berbicara pelan namun terdengar keras di muka Archi. Archi menundukkan wajahnya tak berani menatap Agust.


...~ bersambung ~...


__ADS_2