
Hah...aku bingung pilih mana antara baktiku kepada suamiku atau menjaga hatiku tetap waras." batin Archi. Perasaan bimbang yang mungkin dialami beberapa wanita ketika diminta tinggal di rumah mertuanya.
"Aku tidak akan memaksa Archi Bu. Aku akan membicarakannya dulu dengan Archi. Nanti aku akan memberikan keputusanku." jawab Agust.
"Ya sudah kalau begitu. Ibu akan menunggu jawabanmu ya Yoongi."
"Nyonya. Tolong bawa lagi pizzanya." pinta Archi.
"Archi!" tegur Agust dengan tegas.
Ibu tetap melangkah keluar dan pergi dari rumah Archi.
"Jangan coba memakan ini. Aku tidak sudi!" kata Archi mengancam.
"Tetapi kan sayang kalau dibuang."
"Aku akan memberikannya kepada tetangga yang punya anak kecil." sewot Archi membawa kotak pizza keluar.
Archi pun benar-benar memberikan pizza kepada tetangganya. Archi kembali dan melihat wajah Agust yang merengut marah.
"Kalau kamu marah karena aku memberikan pizza itu ke orang lain, fix kamu lebih membela Irene daripada aku." kata Archi sambil terus berjalan.
"Ini bukan soal Irene. Tapi pemberian dari ibuku." cecar Agust. Archi berhenti berjalan dan menghadap Agust.
"Dia memberikan itu hanya untuk menyakiti perasaanku Agust. Kamu tahu apa yang dia katakan? Dia begitu membanggakan Irene dihadapanku."
"Walau bagaimanapun dia itu kan ibu kandungku Archi."
"Jadi maksudmu aku harus menahan sakit hati demi ibumu?"
Agust tidak menjawab dia pergi menaiki tangga dan pergi ke kamar.
"Archi!" ibu mendekat.
"Ibu mengerti perasaanmu. Tetapi sebagai seorang wanita dan istri kita diwajibkan menghormati ibu dari suami kita. Walau terkadang kita harus berkorban perasaan." kata Ibu.
"Apa? Bagaimana aku bisa hormat kepada orang yang jelas-jelas menunjukkan kebenciannya kepadaku?"
"Iya Archi. Ibu tahu. Tapi Kamu juga kan sering diajari sopan dan santun yang mengharuskan menghormati yang lebih tua. Apalagi itu ibu dari suamimu. Kamu juga bila ada yang tidak sopan pada ibu, kamu juga akan marah kan?"
"Mengalah saja, demi rumah tangga kamu. Minta maaf kepada Agust." sambung ibu membuat Archi mendengus kasar.
"Iya..iya." sahut Archi sebal lalu pergi ke kamarnya. "Lalu, apa aku harus tinggal di rumah Yoongi?" tanya Archi bingung.
__ADS_1
"Ya bila suamimu menginginkannya, kamu harus ikut."
"Aku ingin tinggal bersama ayah dan ibu saja. Aku lebih nyaman tinggal di sini." sahut Archi.
"Tetapi Agust itu kan pewaris utama keluarga itu. Mereka pasti menginginkan pewarisnya tinggal di rumah utama mereka, Archi."
Di kamar Archi...
"Agust, maafkan aku ya." ucap Archi. "Aku bukan tidak suka pemberian ibumu. Bila saja dia membawakan aku pizza merek lain dengan senang hati aku menerimanya. Yang membuatku sebal hanya karena itu datang dari restoran Irene. Tetapi tetap saja, aku minta maaf bila telah menyinggung perasaanmu." sambung Archi.
"Iya Archi. Aku memaafkanmu." jawab Agust merangkul istrinya.
"Jangan marah lagi kepadaku, ya?"
"Iya. Nggak. Jadi bagaimana kita bisa pindah ke rumahku?"
"Apa harus?" tanya Archi.
"Ya, aku sih ingin begitu. Tetapi aku nggak mau memaksa kalau kamu nggak mau."
"Biar aku pikirkan dulu." sahut Archi.
Hari senin yang sibuk di kantor. Di sela kesibukannya Archi membawakan kopi untuk Agust di ruangannya sekalian membuatkan untuk Ridwan. Ketika di dalam ruangannya Archi begitu terkejut tidak mendapati Agust di sana.
"Agust...kamu dimana?" tanya Archi membuka pintu kamar mandi. "Loh dia nggak ada juga. Tadi kata sekretarisnya dia ada di dalam ruangannya." kata Archi bingung.
"Duaar!!!" Archi mencoba mengejutkan Agust yang dia kira bersembunyi di bawah meja. "HAAAA!!!! Agust!" malah dia yang terkejut saat melihat Agust berubah menjadi kucing putih di bawah mejanya.
"Meeooong!" kata kucing itu.
"Kok kamu berubah lagi jadi kucing? Padahal udah lama kamu nggak berubah." kata Archi menggendong kucing keluar dari kolong meja.
"Meooong!"
"Terus sekarang gimana? Apa kita pulang saja?" tanya Archi.
"Meeooong!"
"Duuuh...nggak ngerti kamu ngomong apa." gerutu Archi menggaruk kepalanya yang gatal.
"Dasar Archi pabo!" batin Agust mendengus kesal.
"Apa? Kamu mengatai aku bodoh ya? Aku bukan bodoh tapi aku memang nggak mengerti bahasa kucing tau!" cerocos Archi kesal.
__ADS_1
"Haduuh...giliran dibilang bodoh dia tahu." sahut batin Agust.
"Kita pulang saja. Sebentar aku ke ruangan Ridwan dulu. Aku akan meminta izin pulang sama dia." kata Archi menurunkan kucing ke atas sofa. "Aku sih mau membawamu ke ruanganku tapi, Ridwan alergi kucing. Jadi kamu di sini dulu ya." kata Archi bergegas ke luar ruangan Agust.
Di ruangan Ridwan. Archi datang sambil membawa kopi buatannya.
"Pak, Ini kopinya." kata Archi menaruh cangkir kopi di meja Ridwan.
"Terimakasih Archi. Aku selalu suka kopi buatan kamu." kata Ridwan mengangkat cangkir kopinya dan menyesapnya perlahan.
Archi nampak takut-takut untuk meminta izin. "Kenapa Archi?" tanya Ridwan yang melihat gelagat Archi.
"Gini pak, apa saya boleh izin pulang, pak." tanya Archi ragu-ragu.
"Kenapa? Kamu sakit?" tanya Ridwan berdiri dengan khawatir.
"Iya pak...saya sakit bulanan." Archi memegang perutnya.
"Oh. Ya sudah kalau begitu. Apa mau aku antar pulang?" tanya Ridwan.
"Nggak usah pak. Aku bisa pulang sendiri." jawab Archi buru-buru.
Sementara itu di ruangan Agust. Irene memasuki ruangan. Bersamaan dengan itu, Agust kucing melompat hendak bersembunyi kembali di bawah meja. Namun terlambat Irene sudah memergoki dirinya.
"Kucing?" kata Irene nampak senang mengejar kucing putih. Dengan lemah lembut Irene mengambil kucing putih di kolong dan menggendongnya sambil mengusap tengkuknya.
"Apa kamu Yoongi?" tanyanya yang bisa menyadari hal itu.
"Meeooong!"
"Ya Tuhan Yoongi...kamu tambah menggemaskan dengan tubuh kucingmu." kata Irene mengusapkan pipinya di kepala kucing.
Irene bermain dengan kucing putih di atas sofa. Mengusap perutnya. Dan menciuminya dengan gemas.
Sedikit memori ingatan Agust terputar dalam pikirannya memperlihatkan dirinya dan Irene saat masih bersama. Irene yang bermanja kepada Yoongi. bersandar dibahunya. Irene yang memperlakukannya seperti raja dengan melakukan hal kecil untuknya seperti menyuapi Yoongi saat dia tengah sibuk. Kenangan-kenangan indah mereka bersama.
Dejavu yang membangkitkan rasa sayangnya kepada Irene seperti saat dulu.
Saat Irene mengajak Agust bermain dan menciuminya Archi membuka pintu ruangannya dan melihat hal itu.
"Duuuh...tuh kucing nyari kesempatan aja deket sama Irene!" kesal Archi di dalam hati. "Dia memang senang sepertinya diperlukan seperti itu sama Irene."
Manik kucing melirik ke arah pintu dan melihat Archi dengan mata berkilat-kilat amarah. Kucing bangkit dan turun dari sofa.
__ADS_1
"Yoongi!" panggil Irene.
...~ bersambung ~...