Cinta Agusd Si Kucing Tampan

Cinta Agusd Si Kucing Tampan
114. Pasca Kejadian


__ADS_3

"Jangan bergerak!" ancam Jeremy menodongkan pistol ke arah Agust. Manik Agust dan Archi membesar.


Jeremy berjalan mendekati Archi tanpa menurunkan todongan pistolnya ke arah Agust.


"Bangun Archi!" titahnya menarik baju Archi. Archi tertarik turun dari tempat tidur.


"Kamu akan bercerai dari Archi. Dia telah memutuskan bercerai darimu dan akan menikah denganku. Jadi jangan ganggu kami." ujar Jeremy yang berada di belakang Archi sambil merangkulnya. Satu tangannya menodongkan pistol ke arah sisi dahi Archi.


"Ayo, Archi kita pulang." kata Jeremy bergerak perlahan dengan mulut pistol masih menempel di dahi Archi.


"Agust," panggil Archi lirih dalam tangisannya. Mereka berjalan keluar ruangan. Tanpa Jeremy sadari di belakangnya Ridwan bersiap menyergapnya.


Dengan tendangannya Ridwan menendang lengan yang menodongkan pistol hingga melepaskan pistol dari genggaman Jeremy lalu terjatuh ke tanah.


"Rayvin...kenapa kamu membela mereka. Harusnya kamu menolong aku kakakmu." kata Jeremy yang terkejut dan masih merangkul Archi.


Batin Archi, "Kakak? Ridwan adiknya Jeremy?"


Polisi berdatangan masuk ke gudang. Mereka menangkap anak buah Jeremy. Jeremy yang ketakutan berlari meninggalkan Archi. Dia pergi melalui pintu belakang dan kabur dari sana.


Archi lunglai, jatuh bersimpuh di lantai. Agust menghampirinya dan memeluk Archi.


"Archi, kamu sudah selamat sekarang." bisik Agust mencoba menenangkan Archi yang terus menangis.


"Archi!" panggil kakak.


Ridwan terpaku, memandang tanpa berkedip ke arah Agust yang memeluk Archi.


"Dia...dia seperti Kak Yoongi!" batin Ridwan tak percaya menatap Agust dengan seksama. Ingatannya terbang saat dia melihat foto yang ada di handphone Archi.


Saat itu...


"Kalian lagi membicarakan apa nih?" tanya Ridwan kepo diantara sahabat-sahabat Archi.


Andini memencet tombol power handphone Archi hingga layarnya padam.


"Nggak ngomongin apa-apa kok Pak," jawab Susan.


Sekilas Ridwan melihat foto Agust di handphone Archi sebelum layarnya menghitam.



"Sepertinya aku pernah melihat orang itu?" Batin Ridwan berbicara. Dia mencoba mengingat kenalannya yang mirip dengan yang ada di foto Archi. "Mungkin itu hanya mirip. Tetapi itu siapa? Apa pacar Archi?" tanyanya.


Kesadaran Ridwan telah kembali ke saat ini, "Ternyata penglihatanku nggak salah. Itu Kak Yoongi. Tetapi bagaimana bisa? Suami Archi mirip Kak Yoongi?" hati Ridwan bertanya-tanya dan terus memandangi Agust.


Hatinya kembali berkata, "Setelah sekian lama, akhirnya aku bisa melihat wajah Kak Yoongi secara nyata." setetes air mata mengaliri pipi Ridwan. Dengan buru-buru dia mengusap air mata harunya.

__ADS_1


"Jangan sentuh aku!" pekik Archi mendorong Agust.


"Archi!" semua terkaget dengan sikap tiba-tiba Archi.


"Archi kamu kenapa?" tanya Agust masih berusaha mendekati Archi.


Archi mundur perlahan dengan linangan air mata. Archi terus menggeleng dan mengucap 'tidak' tanpa suara.


"Archi," kakak memeluk Archi.


Petugas medis pun datang, "Kita akan membawanya ke rumah sakit. Sepertinya dia masih shock." kata seorang petugas memberikan selimut tebal untuk menutupi tubuh Archi.


"Ayo Archi." kakak masih merangkul Archi sambil berjalan menuju ambulans.


Di depan pintu belakang ambulans, "Kamu ke sini naik apa Agust?" tanya Kakak.


"Aku naik motor ka."


"Kamu ikuti kami saja dengan motor ya." suruh kakak. "Biar kakak yang menemani Archi di ambulans." sambung kakak.


Di rumah sakit....


Ayah dan Ibu datang dengan cemas, "Bagaimana Archi?" tanya Ayah kepada Kakak.


"Dokter harus memberikannya obat penenang karena Archi sangat shock dengan yang dia alami." jawab Kakak.


Hatinya terus mengutuk dirinya sendiri, "Harusnya aku bisa datang lebih awal Archi. Aku sempat kehilangan jejakmu, beruntung aku bertemu taksi yang kamu tumpangi. Bila saja aku bisa datang dengan cepat, kamu nggak akan jadi seperti ini." batinnya. Tanpa dapat dia kontrol air mata menuruni matanya.


Tangan Archi bergerak. Agust menanti dengan antusias Archi membuka matanya. Perlahan Archi membuka matanya. Saat matanya terbuka sempurna, dia melihat Agust menggenggam tangannya.


Menarik kasar tangannya untuk lepas dari genggaman Agust. Archi beringsut duduk dengan cepat lalu memeluk selimutnya dengan wajah ketakutan.


"Jangan menyentuhku!" ucap Archi tanpa mau memandang Agust.


"Archi...ini aku Agust, suamimu!" kata Agust dengan khawatir.


Archi menutup telinganya sambil menggeleng. Wajah pucatnya terlihat tegang dengan matanya jarang berkedip.


Dokter pun datang, "Nona Archi sudah sadar. Nggak apa-apa, jangan dipaksakan. Dia masih shock dan trauma dengan yang dialaminya. Ini respon dari korban pasca kejadian traumatis tersebut." jelas dokter.


"Ketika nona Archi sudah sedikit tenang kita bisa mulai pendekatan." lalu Dokter pun keluar dari ruang perawatan Archi.


Ibu menghampiri Archi, memeluknya sambil menangis. Archi tidak melakukan penolakan dengan Kakak dan Ibu.


"Istirahatlah lagi sayang!" kata Ibu membantu Archi berbaring.


Archi merebahkan badannya, meringkuk sambil memeluk selimutnya. Perlahan rasa ngantuk yang di dapat dari obat penenang membuat matanya terpejam.

__ADS_1


Belum lama dia tertidur, Archi membuka matanya. Archi terkesiap, matanya membesar dan melonjak kaget. Sosok itu dihadapannya, tersenyum kepadanya dan mendekatinya,


"Pergi!..." pekik Archi menangis.


Ibu mendekati Archi dengan cemas, begitupun Agust. Namun Agust memberi jarak yang jauh agar Archi tidak terpengaruh dengan keberadaannya.


"Jangan sentuh aku! Aku mohon!" Airmata mengalir kembali. Dalam pandangannya Jeremy mendekatinya mencoba menyentuhnya lagi dengan senyuman yang sama. "Agh...pergilah!" mohon Archi dalam pelukan ibu.


"Sayang!" bisik ibu yang menangis tak tega dengan keadaan putrinya.


Dokter pun datang kembali dan menambah dosis obat penenang untuk Archi.


Pagi harinya, Agust hanya berani memandang prihatin kepada Archi dari sofa. Dia belum berani mendekati Archi karena ekspresi Archi masih sama dengan semalam. Dia juga belum mau banyak bicara.


Ayah memegang bahu Agust. Agust menoleh dan Ayah mengangguk sekali. Isyarat untuk Agust agar lebih kuat dan sabar. Agust mengangguk dengan sudut bibir terangkat sedikit untuk menjawab iya.


"Aku nggak mau makan!" pekik Archi.


"Kamu harus makan sayang. Nanti kamu tambah sakit."


"Ug..ug...!" Archi mual seolah ingin muntah.


"Sayang!"


"Archi...!"


"Uweeekk...!" Archi memuntahkan isi perutnya yang tersisa di lambungnya. Sekonyong-konyong airmata mengaliri matanya. Membuat semua dikamar itu semakin khawatir dengan kondisi Archi.


"Aku mau mandi...!" Archi mencoba turun dari ranjang, namun selang infus yang menancap di punggung tangannya menghalangi pergerakannya. "Aku kotor...aku harus mandi." rengek Archi mengusap kasar tangannya.


Siang harinya....


Ayah berjalan di koridor rumah sakit menuju kamar Archi. Ketika telah sampai di depan kamar dia melihat dari arah berlawanan, Tuan Ludwig dan Tuan Nicholas, dibelakang Tuan Ludwig berjala mengarah ke kamar Archi.


Mereka berhadapan di depan kamar Archi,


"Beraninya kamu datang ke sini!" menatap Tuan Nicholas dengan sinis.


"Pak Handoko, saya mohon maaf atas nama Jeremy untuk yang telah dilakukannya kepada Archi," kata Tuan Ludwig dengan sangat menyesal.


"Sayangnya permintaan maaf kalian tidak bisa merubah keadaan putriku yang hancur." ayah membuka pintu kamar.


Dari sana terlihat Archi yang seperti orang kurang waras duduk memeluk kaki di atas tempat tidur. Sorot matanya kosong, memandang ke bawah.


"Archi!" panggil lirih Tuan Ludwig merasa sedih melihat Archi.


Dari dalam Agust berjalan keluar lalu menutup pintu dari luar. Bersamaan, ekspresi Tuan Ludwig dan Tuan Nicholas menunjukkan ekspresi keterkejutan mereka saat berhadapan dengan Agust.

__ADS_1


...~ bersambung ~...


__ADS_2