
Teringat, demi masa lalu dan masa depan Agust yang ditentukan oleh usahanya kini, membuat Archi mencoba menguatkan dirinya. Dengan susah payah dia melawan rasa takutnya. Meredakan getaran hebat di tubuhnya ditengah degup jantungnya yang berdetak tak beraturan.
"Archi!" seru sang Manager tersenyum lebar seraya berdiri. Wajahnya berseri tampak sangat bahagia. Maniknya pun bersinar cerah menatap Archi yang perlahan memasuki ruangannya.
Meski mencoba meredamnya dan menenang kan diri, badan Archi tetap gemetaran. Dengan susah payah bibirnya mengangkat senyuman di wajahnya.
"Ya ampun...ya ampun...ini kejutan yang luar biasa, bisa melihat kamu berada di kantorku." ucapnya semakin mendekat kepada Archi dengan tangan terentang.
Suaranya tercekat "Iya Ka." jawab Archi.
Ingatan Archi tentang kejadian hari itu melintas. Wajah penuh nafsu saat memaksa untuk dapat menciumnya. Tangannya yang terentang, yang telah menahan Archi sekuat tenaga di pintu lemari.
Archi terkesiap, membawanya kembali ke alam sadarnya. Dengan refleks cepat, Archi mundur saat tangan terentang itu mencoba meraih tubuh kecilnya untuk dapat memeluk Archi.
"Oh...maaf. Kebiasaan!" ucap sang Manager menurunkan tangannya. "Duduklah, duduk!" suruhnya menunjuk sofa berwarna abu tua.
Archi memposisikan dirinya untuk duduk, "Terimakasih Kak Jeremy," jawab Archi.
"Ada perlu apa Archi ke kantorku? Apa Levi yang menyuruhmu atau ada sesuatu?" tanya Jeremy antusias sekaligus penasaran.
"Itu...aku,"
Ceklek....
Pintu ruangan Jeremy terbuka, Tuan Ludwig terlihat masuk kemudian. Jeremy dan Archi berdiri bersamaan menyambutnya.
"Jeremy, Archi akan bekerja di perusahaan ini. Tolong kamu atur posisi yang cocok untuk Archi, ya!" ujar Tuan Ludwig memberi pesan untuk Jeremy.
Jeremy terperangah, mulutnya terbuka lebar dengan kiliatan dimatanya memandang Archi tidak percaya.
"Aku akan pulang. Archi, aku pamit pulang, ya!" kata Tuan Ludwig.
"Eu...baik Pak Direktur." jawab Jeremy kemudian.
Buru-buru Archi menghampiri Tuan Ludwig dan mencium tangannya.
"Iya Kakek, hati-hati di jalan." pesan Archi. Tuan Ludwig tersenyum dengan mulut terkatup sambil menepuk bahu Archi.
"Iya. Kita akan sering bertemu bila kamu bekerja di sini." kata Tuan Ludwig.
"Benar Kakek." Archi tersenyum lebar.
"Baiklah. Kakek permisi." Tuan Ludwig pun keluar dari ruangan Jeremy.
Archi kembali duduk di sofa. Wajahnya kembali kelu, harus berhadapan dengan Jeremy lagi.
__ADS_1
"Aku nggak percaya kalau kamu akan bekerja di sini. Ya ampun...sungguh luar biasa." ujar Jeremy.
"Aku akan menyiapkan tempatnya dulu untukmu. Sebelum itu, besok kamu bawa lamaran lengkapmu ya, untuk aku jadikan referensi, memilih posisi yang pas denganmu." kata Jeremy.
"Eu, bisa saya mulai bekerja minggu depan? Karena saya masih harus mengurus pengunduran diri saya di tempat kerja saya yang lama." kata Archi.
"Oh, baiklah kalau begitu. Tetapi kamu kirimkan lamaranmu besok ya. Kirim via ojol pun nggak apa-apa."
"Baik Pak Manager. Kalau begitu, saya permisi!" kata Archi yang ingin segera menyudahi pertemuannya ini.
"Oke, oke." jawab Jeremy.
Archi keluar dari ruangan Jeremy.
"Waw...dam.d!" seru Jeremy. "Nasib baik macam apa ini? Tanpa perlu aku susah payah mendekatinya, dia mendekat sendiri kepadaku." katanya dengan seringai.
Di luar kantor....
"Hufh..., aku pikir nasib baik berpihak kepadaku karena begitu mudahnya aku masuk ke perusahaan ini. Tetapi kenapa Nasib buruk menyertainya sekaligus?" keluh Archi di dalam hatinya.
"Perusahaan ini begitu besar, begitu banyak orang, tetapi kenapa harus Jeremy yang mengurus penempatan kerjaku. Huaaa...., aku takut!" ringis batinnya.
"Tetapi sudahlah, aku yakin Allah akan selalu melindungiku. Aku kan melakukan ini juga demi niat baik, untuk menemukan identitas Agust. Semoga usahaku nggak akan sia-sia." pungkas hatinya melangkah mantap menuju gerbang.
Setelah dari Genilab Farma, Archi kembali ke kantornya. Dengan cepat dia mengetik dan mencetak surat pengunduran dirinya.
Tok...tok....tok....
"Masuk!" suruh Ridwan dari dalam ruangannya.
"Pak!" sapa Archi memasuki ruangan Ridwan lalu menutup pintunya kembali.
"Kenapa lagi Archi?" tanya Ridwan.
"Aku ingin menyerahkan ini!" kata Archi menyodorkan surat pengunduran dirinya.
"Apa ini?" tanya Ridwan mengambil surat dari Archi. "Ini bukan surat cinta kan?" katanya lagi sambil membuka surat.
"Apa? Kamu mau mengundurkan diri?" pekik Ridwan setelah membaca suratnya.
"Iya Pak. Saya mohon maaf mendadak tetapi ini urgent." kata Archi.
"Tetapi Archi, kamu kan tahu peraturan perusahaan pengunduran diri harus diajukan sebulan sebelumnya. Nggak bisa mendadak begini."
"Iya Pak. Tetapi saya terpaksa. Saya akan bekerja sampai akhir minggu ini dan akan menyelesaikan pekerjaan saya yang belum selesai."
__ADS_1
"Hufh...memangnya kenapa kamu sampai harus berhenti bekerja?" tanya Ridwan.
"Saya mau pindah bekerja ke Genilab Farma Pak." jawab Archi berterus terang, bukan kepada atasannya, tetapi kepada Ridwan temannya.
"Kamu bekerja di Genilab?" tanya Ridwan menyipitkan mata kirinya.
"Iya. Kamu kan meminta aku jujur kalau aku sudah mendapatkan nomor Tuan Ludwig. Dan itu jawabanku." kata Archi.
"Jadi kamu menemui Tuan Ludwig untuk meminta pekerjaan? Kenapa Archi, apa gaji disini kurang? Atau ada yang membuatmu nggak nyaman di sini?" cecar Ridwan.
"Bukan..., di sini sangat menyenangkan. Terutama teman-temannya, dan kamu. Tetapi aku benar-benar harus pindah." jawab Archi.
"Hem...ya sudahlah kalau begitu. Semoga kamu betah di tempat kerja baru kamu, ya." kata Ridwan.
"Iya. Terimakasih ya Ridwan. Sudah membantuku selama ini." kata Archi ada perasaan sedih yang menyedak di dadanya.
Harus meninggalkan perusahaan yang sudah memberikan banyak kenangan sejak dia lulus dari kuliah. Dan harus berpisah dengan Ridwan, dan teman-temannya yang selalu membuatnya nyaman dan ada saat senang dan sedih.
"Tetapi sepertinya kamu mudah sekali membujuk Tuan Ludwig agar mau mempekerjakan kamu di sana. Apa kalian ada hubungan spesial?"
"Mana ada. Dia sudah aku anggap kakekku sendiri. Dan sepertinya dia pun begitu." kata Archi.
...****************...
"Kamu sudah menemukan cara menyelidiki tentang hubungan aku dengan Genilab?" tanya Agust penasaran.
"Sudah. Kamu tenang saja. Aku akan menyelidikinya." Jawab Archi membalikkan badannya dan kembali melanjutkan baca novel onlinenya.
"Hem...pasti baca novel ya dong lagi. Suga mende sah. Suga terus. Agust kek gitu." dengus Agust kesal.
"Hush....diam...!" omel Archi.
"Punya istri begini amat," kesalnya.
Hari Senin yang cerah, Archi berangkat bekerja. Tetapi bukan lagi ke kantor lamanya, melainkan kantor barunya di Genilab Farma. Datang untuk pertama kalinya untuk bekerja, Archi menemui Jeremy lagi.
"Iya Archi, aku sudah menemukan posisi yang pas denganmu." kata Jeremy.
"Saya akan bekerja di bagian apa Pak?" tanya Archi.
"Kamu akan bekerja sebagai asisten pribadi saya." kata Jeremy dengan riang. Senyumnya mengembang tinggi.
Archi melongo, mendengar posisi yang dipilihkan Jeremy, sesuatu yang sepertinya sudah direncakan Jeremy. Perasaan ngeri segera menyelusup ke dalam hatinya.
...~ bersambung ~...
__ADS_1