
Archi terperangah melihat Id Card nya berada di tangan Agust sekarang. Bagaimana itu bisa ada ditangan Agust? Pikirnya.
"Dari mana kamu mendapatkan itu?" tanya Archi.
"Tas kamu! Bagaimana bisa kamu pindah kerja tanpa memberitahuku?" cecar Agust
"Aku hanya nggak ingin membuat kamu khawatir." jawab Archi sejujur mungkin.
"Aku kan sudah pernah bilang, kita harus jujur satu sama lain." Agust mengingatkan Archi.
"Iya maaf." sahut Archi penuh penyesalan.
Agust meluluh, "Ya sudah. Aku memaafkan mu. Tetapi kenapa kamu harus sampai pindah ke Genilab, Archi?" tanya Agust.
"Hanya ini cara satu-satunya yang terpikirkan olehku agar bisa melihat data base perusahaan." jawaban Archi.
"Tetapi di sana kan ada Jeremy." desis Agust frustasi.
"Dia atasanku. Aku asisten pribadi nya." jawab Archi jujur.
"Apa? Sudah Archi jangan dilanjutkan bekerja di sana, Archi. Berbahaya kalau kamu bekerja sama dia." tukas Agust merasa khawatir.
"Jangan khawatir Agust. Doakan saja agar Allah selalu melindungiku dari Jeremy." Archi mencoba menenangkan Agust.
"Tetap saja Archi. Aku nggak bisa membahayakan keselamatanmu hanya demi mengungkap identitasku di masa lalu."
"Lebih baik aku nggak pernah tahu masa laluku daripada aku harus melihat kamu terluka." ungkap Agust begitu tulus.
Archi memandang Agust haru, "Aku janji aku akan baik-baik saja, Agust. Percayalah kepadaku kali ini. Setelah menemukan identitasmu di sana aku janji akan berhenti bekerja."
Agust menarik nafas panjang, dan membuangnya, "Baiklah. Tetapi kamu tetap harus berhati-hati ya." pesan Agust.
"Siap bos!" jawab Archi tersenyum lebar.
Agust mengacak rambut Archi.
"Lindungilah Istriku dari Jeremy, Ya Allah!" Doa Agust di dalam hatinya, penuh harap
Sementara itu di Irene's Pizza,
"Malam!" Ridwan menyapa di depan meja konter. Irene yang tengah membelakangi meja menoleh.
"Ridwan!" sapa Irene sumringah melihat Ridwan. Dengan gerakan anggunnya Irene berjalan memutari meja dan menghampiri Ridwan.
"Apa kabar?" tanya Irene cipika cipiki dengan Ridwan.
"Baik. Harusnya aku yang bertanya, apa kabarmu?" lontar Ridwan.
"Hehehe...baik. Kita keruanganku?" ajak Irene.
"Duduk di sini saja. Aku mau menikmati pizza resep buatan mu juga." sahut Ridwan seraya duduk di kursi meja resto.
"Oke, aku pilihkan yang terbaik di sini. Vita ambilkan semua menu terbaik di sini." perintah Irene sambil duduk berseberangan dengan Ridwan.
"Baik Nona." jawab Vita.
__ADS_1
"Ya Tuhan...ganteng banget!" gumam Vita terpesona ketampanan Ridwan.
"Padahal kenalan Nona Irene aja ada yang ganteng begitu. Tetapi kenapa dia malah ngejar-ngejar mas Agust yang udah punya istri?" dumel Vita dalam hatinya.
"Tumben kamu ke sini?" tanya Irene.
"Kebetulan aku abis nganterin temen pulang kerja. Rumahnya di komplek sini."
"Oh gitu,"
"Iya. Sama kakek meminta aku buat nengokin kamu. Dia sangat khawatir kepadamu." kata Ridwan. "Kamu bahkan jarang mengunjungi Kakek lagi."
Irene tersenyum miris, "Iya, aku masih sibuk dengan resto ini. Nggak bisa sering aku tinggal karena aku mengurusnya sendiri." jawab Irene.
Menu andalan yang dipinta Irene berdatangan dan tersaji di meja. Membuat perut Ridwan memanggil untuk segera di isi. Wajah mupeng Ridwan timbul dalam ekspresinya.
Tangan besar bertato itu mengambil satu slice pizza, "Benar juga. Tetapi aku senang melihatmu sudah lebih baik sekarang." kata Ridwan lalu menyuap pizza ke dalam mulutnya.
"Yah, hidup harus terus berjalan kan. Aku nggak bisa terus terpaku dengan kesedihanku." jawab Irene.
"Nafsu makan mu masih besar juga." goda Irene tersenyum melihat Ridwan yang semangat makan.
Ridwan nyengir, "Salah satu cara menikmati hidup yaitu dengan makanan enak." sahut Ridwan dengan mulut penuh makanan.
"Bagaimana gadis yang kamu suka itu?" tanya Irene.
"Sama sepertimu, hidup harus terus berjalan." jawab Ridwan lalu tertawa ngakak.
"Dia sudah menikah dengan cowok lain."
"Masa? Kok bisa? Kamu sih lambat dalam bergerak."
"Iya, aku akui hal itu. Tetapi dia juga di jodohkan oleh ayahnya."
"Begitu ya." jawab Irene. "Kamu sedang mencari penggantinya dong?"
"Nggak. Aku masih belum move on. Aku masih menunggunya."
"Ya Tuhan...seperti tulisan di truk."
Ridwan mentautkan alisnya, "Tulisan di truk."
"Iya, aku tunggu jandamu." kelar Irene disambut tawa Ridwan.
"Hahaha....benar benar. Aku suka itu." sahut Ridwan.
Kembali ke rumah Archi. Malam yang tenang tiba-tiba berubah huru hara ketika Kakak pulang ke rumah.
"Archi! Archi!" teriak Kakak berteriak dari bawah tangga.
"Kakak. Kenapa teriak-teriak sih?" tanya Ibu yang datang bersama Ayah.
"Aku nggak nyangka kalau punya adik kegatelan banget."
__ADS_1
"Hah? Kegatelan gimana?" tanya Ayah merasa bingung.
"Dia garuk-garuk terus?" tanya Ibu.
"Kenapa Kak?" tanya Archi menuruni tangga.
"Makanya aku nggak percaya waktu kamu bilang Jeremy mau memperkosa kamu. Karena aku tahu memang kamu yang kegatelan sama Jeremy."
"Apa?" pekik Ayah dan Ibu berbarengan.
"Kegatelan apa sih ka?"
"Buat apa kamu pindah kerja ke Genilab, kalau bukan untuk mendekati Jeremy."
"Hah? Kamu pindah kerja ke Genilab Archi?" tanya Ayah yang sangat terkejut.
"Iya memang aku pindah ke Genilab, tetapi tujuanku bukan untuk mendekati Jeremy." jawab Archi.
"Terus buat apa?"
"Aku bersumpah aku ke sana bukan untuk mendekati Jeremy."
"Ya terus untuk apa?"
Archi terdiam,
"Halah...kamu memang munafik Archi. Bilang bukan padahal iya."
"Apa Jeremy yang bilang aku pindah ke Genilab?"
"Bukan. Jeremy nggak mengatakan apa-apa. Tetapi teman kakak yang bekerja di sana yang mengatakannya kepada Kakak. Kamu dan Jeremy pasti bersekongkol nggak bilang kepadaku, agar kalian bebas berhubungan."
"Ya Allah Kakak, sadis banget nuduh aku." sahut Archi.
"Memang itu kenyataannya. Aku nggak nyangka kamu bakal berbuat seperti itu Archi. Padahal kamu udah punya suami." cecar Kakak lalu pergi ke lantai dua.
Tinggalah Ayah dan Ibu menatap sinis kepada Archi, menuntut jawaban.
"Kenapa kamu harus berbuat seperti itu?" tanya Ayah.
"Kamu nggak takut Jeremy akan berbuat macam-macam lagi sama kamu Archi?" tanya Ibu.
"Aku terpaksa melakukan ini Ayah, Ibu." jawab Archi.
"Terpaksa karena apa? Berikan jawabannya agar kami bisa mengerti alasanmu berbuat nekat seperti itu?"
"Aku nggak bisa menjelaskannya sekarang. Tetapi nanti aku akan mengatakannya kepada kalian." Archi bersikeras.
"Nggak, ayah mau jawabannya sekarang. Katakan kepada ayah untuk apa kamu pindah ke Genilab?" nada suara Ayah berubah keras, menandakan dia sudah tahap marah kali ini.
Dengan gerakan matanya Ibu pun menyuruh Archi untuk berkata jujur. Archi merasa tersudut. Dia seperti tidak memiliki pilihan lain selain berkata jujur. Tetapi dia pun belum siap untuk mengatakannya.
"Itu karena aku ayah!" tiba-tiba suara Agust terdengar dibalik punggung Archi. Archi menoleh perlahan dengan wajah terkejut.
...~ Bersambung ~...
__ADS_1