
"Whoah...jadi kamu itu benar-benar CEO di perusahaan Ayah!" seru Kakak saat diceritakan apa yang terjadi kantor tadi siang. Agust cengar-cengir, tidak bisa menutupi sedikit rasa bangga yang terpancar di wajahnya.
Plaak!!!
Kakak memukul bahu Agust kencang. Membuat Agust mengernyit kesakitan.
"Hebat ternyata kamu ya. Maaf dulu kakak sering merendahkan kamu tidak memiliki jabatan." sesal kakak.
"Nggak apa-apa kok kak." jawab Agust.
"Hebat sekali si Archi ini. Dari ketidak sengajaan bisa menjadi istri CEO. Sementara aku...aku hanya bisa gigit jari." batin kakak mulai timbul rasa iri karena nasibnya yang malang.
"Ayah sangat berterimakasih kepadamu, Agust. Kalau bukan atas kemurahan hatimu, ayah sudah mendekam di penjara sekarang."
"Jangan bicara seperti itu ayah. Ayah ini kan mertuaku. Tidak akan aku biarkan ayah mertuaku harus merasakan kursi pesakitan." jawab Agust.
"Sekali lagi terimakasih." Agust mengangguk sambil mengulum senyum.
"Lagipula dari mana ayah mendapatkan ide untuk membuat obat semacam itu. Ibu tidak mengerti." sahut Ibu yang masih terlihat shock dengan yang baru dia dengar.
"Awalnya karena dulu saat sedang memberi makan kucing liar bersama Archi."
Saat itu...
"Pasti menyenangkan jadi kucing."
"Kenapa menyenangkan?" tanya Ayah.
"Kucing itu kan lucu, menggemaskan dan banyak orang menyukainya." kata Archi yang masih berumur lima belas tahun. "Kira-kira apa ada ya orang yang bisa berubah menjadi kucing?"
"Hahaha...kamu itu Archi suka mengada-ada. Mana ada orang bisa berubah jadi kucing. Siluman kucing gitu."
"Hehehe.... mungkin."
Flashback Off
"Jadi dalang dibalik itu si Archi ini!" sungut kakak.
"Hahaha...dan dia terkena akibatnya sendiri, menikah dengan pria setengah kucing." timpal ibu.
"Nggak apa-apa. Orang kucingnya ganteng begini." jawab Archi melingkarkan lengannya di pinggang Agust, memeluknya erat.
"Huuu...!" sorak kakak.
"Hahaha...." Ayah dan ibu tertawa.
"Apa ayah tidak punya penawar untuk membuat Agust kembali ke seperti semula?" tanya Archi.
"Maksudmu aku jadi kucing lagi gitu."
"Haha...ya bukan. Maksudku kamu menjadi manusia seutuhnya lagi."
"Ayah sedang mencoba mengembangkannya. Namun ayah belum berani memberikannya kepada Agust. Karena ayah belum tahu pasti apa ada efek samping lain pada obat itu."
"Wah...ayah keren ih. Bisa membuat obat canggih seperti itu."
"Ah...biasa saja. " Ayah mencoba merendah walau nadanya terselip kebanggan.
"Bisa nggak yah bikin obat biar aku nggak ceroboh lagi."
"Itu susah Archi. Sudah bawaan dari orok." ledek Agust.
Paaak...
Pukulan keras mendarat di atas dada Agust, "Jahat kamu ih suami aku juga!"
__ADS_1
"Bercanda Archi." Agust nyengir sambil memegangi dadanya yang sakit di pukul Archi.
"Hoaaam!" Archi menguap.
"Sudah sana tidur! Istirahat." suruh ayah.
"Iya ayah, ibu, aku tidur duluan ya."
"Ikut!" susul Agust.
"Mereka itu." ayah dan ibu terkekeh melihat tingkah Archi dan Agust.
Di kamar...
"Hem...!" Archi membalikkan tubuhnya yang berbaring di atas tempat tidur menghadap ke arah Agust. "Terimakasih ya Agust. Kamu sudah menyelamatkan ayahku."
"Iya Archi sayang." Agust merangkulkan lengannya. "Aku nggak mau bikin kamu sedih. Kalau ayahmu sampai ditahan, aku tahu pasti orang yang paling terluka ya kamu dan ibumu." jawab Agust.
"Kamu memang suami idaman, pengertian."
"Hiyah dong. Kasih upah dong."
"Ah...males. Mau tidur." jawab Archi mencebik.
"Eh...nggak boleh nolak!"
"Agust...akh....!"
Hari kembali berganti.
"Ayah dan ibumu akan kembali ke Indonesia Yoongi. Mereka senang sekali mendengar kamu masih hidup." kata Tuan Ludwig di dalam ruangan Agust.
"Tetapi aku belum mengingat apapun tentang ayah dan ibu kek."
"Itu bukan masalah. Suatu saat kamu pasti bisa mengingat mereka dan juga kami semua." kata Kakek. "Kakak mau pulang." kata Tuan Ludwig berdiri.
"Tidak perlu Archi. Ada pengawal kakek diluar. Kamu bekerja saja ya."
"Oh baiklah." jawab Archi. Kakek keluar dari ruangan Agust.
"Kalau ayah ibu mu berarti, mertuaku dong."
"Iya Archi."
Archi memegang dadanya yang bergemuruh memikirkan dirinya yang akan bertemu mertuanya untuk pertama kali.
"Aku deg degan Agust."
"Coba sini aku pegang?" gurau Agust ingin menyentuh dada Archi.
Plaaakkk.
"Sakit Archi!"
"Jangan suka nyari kesempatan. Gimana ini?"
"Gimana apanya?"
"Ya aku dengan ayah dan ibumu. Apa yang akan mereka pikirkan saat bertemu aku?"
"Tenang saja. Mereka pasti menyukai dirimu. Kamu kan baik. Seperti kakek saja bisa menyukai mu padahal dulu dia belum tahu tentang aku. Tetapi kamu sudah bisa menarik simpati di hati kakek."
"Mudah-mudahan saja."
"Kalau dibilang gugup. Aku juga sama gugup nya Archi. Kamu tahukan walau mereka keluargaku tetapi tidak ada bayangan tentang bagaimana mereka."
__ADS_1
"Ini terasa seperti mimpi Agust."
"Iya sama. Tapi kita akan bersama dalam mengarungi mimpi kita ini."
"Mimpi ku akan selalu indah kalau bersama kamu." peluk Archi. Agust menyambutnya dan mencium kening istrinya.
Hari Sabtu yang cerah. Agust dan Archi diundang pergi ke istana Tuan Ludwig karena ayah dan ibunya baru saja sampai dari Korea.
Ini adalah pengalaman paling mendebarkan bagi mereka berdua. Archi bahkan tidak bisa menutupi kegugupan dalam dirinya. Tangannya selalu terasa basah ketika dia gugup. Tubuhnya pun gemetar.
"Aku sangat gugup Agust." ujar Archi meremaas tangan Agust.
"Tenang sayang. Nggak apa-apa." jawab Agust dengan setia menenangkan Archi.
"Aku nggak aneh kan pakai baju ini?" tanya Archi.
"Ya ampun, nggak Archi. Kamu sudah nanya puluhan kali."
Mereka pun memasuki rumah Tuan Ludwig yang besar. Para pelayan yang telah menunggu, berbaris untuk menyambut mereka. Archi terbelalak, terpesona akan besar dan mewahnya rumah Tuan Ludwig.
"Selamat datang Agust, Archi!" sambut Tuan Ludwi merentangkan tangannya meminta pelukan dari cucu dan cucu menantunya.
Di balik tubuhnya Ridwan berdiri menjulang dengan tinggi badannya yang berbeda cukup jauh dari kakeknya. Mengenakan t-shirt dan celana training santai sambil tersenyum kepada mereka berdua.
"Ayo kita ke dalam." Tuan Ludwig memimpin berjalan menuju ruang keluarga.
Agust dan Archi memasuki ruang keluarga. Terlihat ayah dan ibu Yoongi menanti dengan tidak sabar kedatangan Yoongi yang mereka rindukan.
"Yoongi putraku!" seru seorang wanita berjalan cepat menghampiri Agust dan memeluknya erat.
Archi melepaskan genggaman Agust dan mundur untuk memberikan mereka ruang untuk saling melepas rindu. Tanpa sengaja saat mundur tubuh belakangnya tertabrak badan Ridwan. Ridwan menangkap lengan atas Archi dan tersenyum saat Archi menengadahkan kepalanya ke atas.
"Maaf." kata Archi lirih. Ridwan mengulum senyum senang.
"Ibu senang kamu masih hidup sayang." ibu Yoongi melepaskan pelukannya.
"Yoongi!" Ayah Yoongi memeluk Agust.
"Maaf tetapi aku amnesia. Aku belum bisa mengingat kalian."
"Kami sudah mendengar semuanya dari kakek." sahut ayah Yoongi.
"Oh iya, ini Archi, Istriku." kata Agust merentangkan tangannya, mengisyaratkan Archi untuk mendekat.
Archi tersenyum. Agust merangkul pinggang Archi.
Wajah Ibu Yoongi nampak tidak senang melihat Archi. Tak ada senyum ataupun keramahan terlihat dari dirinya.
"Jadi ini menantuku. Halo Archi. Senang berjumpa denganmu." ucap ayah Yoongi tersenyum ramah menjabat tangan Archi yang malah dicium Archi.
"Adat istiadat." tutur Agust melihat ayahnya sedikit terkejut.
Archi ingin meraih tangan Ibu Yoongi. Namun wanita sombong itu menyembunyikan tangannya dan tersenyum palsu.
Archi ciut dan merasa sedih. Agust yang menyadari nya mengusap punggung Archi perlahan dan memberi senyumnya.
"Kita duduk dulu." kata Ibu Yoongi mengalihkan pembicaraan.
"Ibu rasa pernikahan saat kamu amnesia tidak bisa disahkan, Yoongi." lontar Ibu Yoongi mengejutkan semua yang sudah duduk di sofa.
Aura permusuhan dan peperangan terlihat diantara Ibu Yoongi dan Archi. Akankah Archi sanggup menghadapi ketidaksukaan ibu Yoongi kepada dirinya.
__ADS_1
...~ bersambung ~...