Cinta Agusd Si Kucing Tampan

Cinta Agusd Si Kucing Tampan
123. Kembali Bekerja


__ADS_3

"Bekerja?" Agust nampak antusias, lebih tepatnya bersemangat dengan usul itu. "Bekerja di mana? Sebagai apa? Tetapi...," wajah antusias Agust berubah muram saat dia teringat sesuatu.


Tuan Ludwig memandang penuh tanda tanya dengan yang ada dalam pikiran Agust.


"Saya nggak punya izajah dan dokumen lainnya. Yang tersisa dalam hidupku hanya KTP, Kartu Keluarga dan Buka Nikah." jawab Agust dengan polosnya.


"Bagaimana bisa?" tanya Tuan Ludwig.


"Semua dokumen terbakar saat kebakaran rumah dulu. Dan saya belum sempat mengurusnya lagi."


"Baiklah. Nggak masalah. Aku bisa mengaturnya. Persiapkan saja dirimu untuk bekerja." titah Tuan Ludwig dengan yakinnya. Agust mengembangkan senyum bahagianya.


"Besok berpakaian rapih datanglah ke kantorku." suruh Tuan Ludwig lagi.


"Kantor anda berarti kantor yang sama dengan Archi?"


"Iya."


Setelah dari restoran Kakek Ludwig membawa Agust berbelanja pakaian untuk bekerja besok. Sedikit banyak kakek memilihkan pakaian kerja dengan style yang biasa Yoongi kenakan. Tuan Ludwig semakin takjub tatkala Yoongi mencoba salah satu pakaiannya, menyisir rambutnya klimis ke belakang.


Sosok Yoongi yang hidup kembali di hadapannya. Walau sulit dipercaya tetapi dia tetap saja orang yang berbeda pikir Tuan Ludwig. Mata Tuan Ludwig pun berkaca-kaca karena berharap Agust adalah Yoongi cucunya.


Di kantor, Archi beristirahat bersama tiga kawannya. Bisik-bisik terdengar membicarakan Archi yang menjadi korban pemerkosaan atasan mereka. Namun yang terdengar bukan ucapan simpati untuk Archi melainkan,


"Gadis nggak tahu malu! Sudah menggoda Pak Jeremy, menuduh Pak Jeremy mau memperkosanya dan sekarang masih dengan tenangnya tetap bekerja di perusahaan ini." nyinyir para karyawan yang suka gosip.


"Kasihan Pak Jeremy, sekarang mendekam di penjara karena ulahnya."


"Kalau dipikir-pikir mana mau Pak Jeremy sama gadis kaya gitu kan. Kalau bukan dia duluan yang mancing."


Meski pembicaraan seperti itu sampai di telinganya, Archi tetap mencoba sabar dan tidak memperdulikan nya.


Malam harinya saat Archi baru pulang bekerja, Agust menceritakan yang terjadi kepadanya hari ini. Dengan antusias Archi menyambut Agust yang akan bekerja di perusahaan Tuan Ludwig.


"Asyik kita akan kerja bersama-sama Agust." seru Archi sangat senang.


"Tetapi aku nggak percaya diri Archi. Kamu tahukan aku amnesia. Apa aku bisa bekerja?" tanya Agust murung.


"Tenang aja. Kamu itu pintar, lihat saja walau amnesia keahlianmu di masa lalu masih melekat pada dirimu. Untuk urusan kerja kantor pasti sama saja."


"Menurutmu Kakek itu mempekerjakan aku apa karena wajahku mirip Yoongi?"


"Kurang lebih sih seperti itu. Apa lagi coba alasannya, ya kan?"


Di rumah Tuan Ludwig...

__ADS_1


"Apa Kakek bercanda? Aku harus mempekerjakan suami Archi di kantor?" pekik Ridwan tak setuju. Satu-satunya alasan dia tidak setuju hanya karena nggak ingin Archi berdekatan dengan suaminya saat di kantor dan mengganggu dirinya saat bersama Archi.


"Nggak bisa Kek. Apalagi dia nggak memiliki dokumen penunjang untuk menjadi karyawan." sambung Ridwan tetap menolak.


"Jangan begitu Ridwan. Dia harus bekerja di perusahaan." tegas Kakek memaksa.


"Kenapa ayah harus terlalu berobsesi kepada pria yang mirip Yoongi itu?" tanya Tuan Nicholas yang baru datang. "Dia bukan Yoongi yah."


"Aku nggak peduli. Bila aku bisa bekerja dengannya. Aku bisa mengobati rasa rinduku kepada Yoongi. Itu sudah cukup." pungkas Tuan Ludwig seraya berlalu.


Tuan Nicholas dan Ridwan saling pandang.


Keesokan paginya, Archi dan Agust bersiap pergi ke kantor. Mengenakan pakaian yang kemarin dibelikan Tuan Ludwig Agust tampak tampan.



"Kamu mau kemana Agust? Berdandan rapih begitu?" tanya Ayah di meja makan.


"Aku mau bekerja ayah."


Ayah menyipitkan mata, "bekerja?" tanyanya heran.


"Tuan Ludwig meminta Agust untuk bekerja di perusahaannya Ayah." jelas Archi membuka piring yang tertangkup di hadapannya.


"Kenapa? Apa salahnya menerima tawaran pekerjaan nya, Ayah?"


"Kalian tahu kan siapa keluarga Ludwig itu. Mereka satu keluarga dengan Jeremy. Apa yang telah Jeremy lakukan padamu? dan sekarang putra mereka sedang dalam proses persidangan. Apa kalian nggak takut mereka akan menjadikan itu senjata untuk membebaskan putra mereka?" nada suara meninggi satu oktaf. Nada keberatannya terdengar masuk akal.


"Tetapi aku rasa Tuan Ludwig orang yang baik." jawab Archi.


"Bagaimana dengan Tuan Nicholas?" tantang Ayah sinis.


"Kami perlu mengantisipasi itu. Tetapi bukan berarti kami harus menghindari nya kan, ayah?"


"Terserah kalian saja lah. Ayah lelah dengan drama yang kalian buat sendiri. Ayah sudah cukup mengingatkan kalian." tukas Ayah berdiri seraya menaruh kencang sendok dan garpu di atas piringnya.


"Sepertinya ayah marah." kata Ibu.


"Bagaimana Ibu? Apa Agust nggak usah kerja aja?" tanya Archi jadi bimbang.


"Tetapi aku ingin bekerja. Dan aku ingin mengetahui satu hal setelah aku berada di sana." Agust nampak bertekad dengan pandangan menerawangnya.


Archi dan Ibu saling pandang memberi isyarat akan jawaban yang harus diberikan untuk Agust.


Di luar dapur, Ayah yang mendengarkan menghembuskan nafas keras. Dengan ekspresi tak terbaca dia pergi ke kamarnya.

__ADS_1


Archi dan Agust berangkat bersama ke kantor. Dengan rasa bangga dan cintanya Agust merangkul lengan Archi. bersamaan itu, sesuatu hal yang menarik perhatian mereka terjadi ketika mereka berdua memasuki lobi kantor. Karyawan yang mereka lewati dengan wajah terperangah memberikan salam hormat kepada Agust.


"Pagi Pak!" sapa mereka seolah percaya tidak percaya memandang Agust.


Archi yang merasa heran memandang Agust dengan wajah ceria. Agust yang juga merasa heran tetap membalas sapaan mereka dengan senyuman hangat dan ramah.


"Wah...mereka semua menghormatimu Agust." kata Archi berbisik.


"Iya, aku juga nggak mengerti kenapa mereka seperti itu." sahut Agust sambil tersenyum membalas sapaan karyawan.


di lantai tempat ruangan Tuan Ludwig dan Ridwan berada, Tuan Ludwig berdiri menyambut kedatangan Agust.


"Selamat datang Agust!" sapa Tuan Ludwig yang kali ini nampak berbeda karena dia mengenakan setelan kemeja rapih.


Wajahnya yang ditekuk Ridwan pun berdiri di samping Tuan Ludwig menyambut kedatangan Agust.


"Saya akan bekerja di mana Tuan?" tanya Agust.


"Ruanganmu dahulu, maksudku ruangan mu. Ruangan CEO."


Archi dan Agust sama-sama terperangah mendengar nya.


"Agust jadi CEO?" tanya Archi tak percaya.


"Kenapa saya mendapatkan jabatan tinggi Tuan. Saya merasa belum pantas." jawab Agust merendah.


"Tetapi saya merasa kamu cocok di sana."


"Dia bukan Yoongi kakek, dia nggak akan memiliki kemampuan sehebat Yoongi. Kenapa kakek bersikeras menempatakannya di sana." protes Ridwan yang terlihat belum bisa terima dengan keinginan kakeknya.


"Diam kamu Ridwan. Semua kakek yang memutuskan."


"Tetapi Tuan karena saya baru di sini, saya perlu pendampingan. Apa saya bisa meminta Archi untuk bekerja bersama saya?" tanya Agust meminta.


Ridwan terbelalak dengan mulut terbuka lebar,


"Nggak bisa!" tukas Ridwan, menolak keras.


"Archi asisten ku. Nggak bisa diambil begitu saja." protes Ridwan.


"Jabatanku lebih tinggi darimu, jadi aku bisa meminta yang aku inginkan." sahut Agust mengambil keuntungan dari posisinya untuk memperebutkan Archi. "Ini juga demi kebaikan, agar pekerjaanku dapat terarah."


Perebutan Archi oleh kedua orang pria itu pun terjadi. Dengan siapakah Archi akhirnya akan bekerja? Bersama Agust atau bersama Ridwan? Selanjutnya dalam kisah Cinta AgusD si 🐈 Tampan. Dan nantikan terbongkarnya misteri lain dalam kisah ini ya 😹


...~ bersambung ~...

__ADS_1


__ADS_2