
Iya...iya maaf. Makanya cepet digoyang suamimu. Buat dia kelepek-kelepek sama kamu."
"Ih...ibu...parno. Males aku." Archi berjalan.
"Heh...Archi. Ibu serius!" kata Ibu sebelum Archi meninggalkan dapur.
"Dasar anak itu. Sudah dewasa tapi masih kayak anak-anak." Ibu menggeleng.
"Ibu benar-benar harus turun tangan. Kalau nggak anak itu nggak akan mau bergerak untuk bikinin aku cucu." pikir Ibu.
Archi pun datang dari dapur dengan suguhan untuk Irene. Dengan sopan dan tersenyum manis Archi menaruh minuman di meja di hadapan Irene dan Agust.
Dia pun menaruh piring makanan dekat gelas minum Irene. Setelah menaruh nampan di bawah meja, Archi duduk disebelah Agust dan bergelendot mesra di tangan Agust.
"Terimakasih loh Nona Irene sudah mau nengokin Agust. Tapi dia masih sakit rusuknya." kata Archi memegang bagian dada tempat rusuk Agust yang terasa sakit.
Agust tersenyum canggung, menggenggam jemari Archi untuk turun dari dadanya.
Irene nampak jengkel. Rencana Archi berhasil, dia menyembunyikan senyum puas-nya.
"Panas nggak tuh hati kamu." kelakar Archi di dalam hatinya.
Irene tersenyum, "Iya sudah seharusnya saya sebagai atasan memberikan perhatian kepada anak buah saya." dalih Irene.
"Oh begitu, syukurlah. Saya pikir hanya Agust yang mendapatkan perhatian lebih dari Nona Irene. Oh...maaf, maksud saya ternyata Nona Irene adalah atasan yang sangat perhatian," kelit Archi.
"Terimakasih." sahut Irene tersenyum tak ikhlas. "Aku harap Agust bisa segera sembuh dan kembali bekerja." sambungnya.
"Mudah-mudahan."
"Kira-kira apa besok kamu sudah bisa masuk bekerja?" tanya Irene.
"InsyaAllah," jawab Agust.
"Oh iya, boleh saya minta surat dokter dan hasil rontgen untuk keabsahan izin sakit mu?" tanya Irene kepada Agust.
"Tentu, akan saya ambilkan." jawab Agust seraya berdiri.
"Biar aku aja yang ambil." kata Archi memegang pergelangan tangan Agust.
"Nggak apa-apa, aku saja." jawab Agust lalu berjalan ke lantai dua, ke kamar Archi.
"Silahkan diminum Nona Irene!" ucap Archi dengan sangat ramah.
"Terimakasih." Irene mengambil cangkir tehnya dengan anggun dan elegan. Dengan gerakan smoth dia meminun tehnya.
"Walau kamu menjaganya sekuat tenaga, aku bisa merebutnya dengan mudah." ucap Irene tiba-tiba seraya menaruh cangkir tehnya kembali di atas meja.
__ADS_1
Archi mengernyitkan dahinya, menatap skeptis kepada Irene.
"Apa maksud wanita ini?" pikir Archi.
"Mungkin kamu nggak tahu. Tetapi, aku seperti memiliki keterikatan saat bertemu Agust untuk pertama kalinya. Dan aku lebih tahu apa yang pria inginkan. Terutama Agust, dia lebih menyukai wanita lembut dan keibuan seperti aku, bukan wanita urakan seperti kamu."
"Kurang ajar ni cewek! Di rumah gua berani-beraninya dia ngomong kaya gitu. Ngajakin ribut ya!" inner Archi menaikan alis kirinya dengan emosi.
"Oh ya, kamu pikir kaya gitu? Aku suka kepercayaan diri kamu. Tetapi nggak selalu cowok itu melihat wanitanya hanya dari sikapnya. Tetapi dari hatinya," sahut Archi penuh keyakinan.
"Hihihi..., hatinya. Aku bahkan jauh lebih baik dari dirimu!" ejek Irene.
"Ni cewek lama-lama kurang ajar ya!" Archi menubruk Irene dan menarik rambut Irene kuat-kuat. Adu tarik rambut pun mereka lakukan di atas sofa. Archi menguncj Irene dibawahnya.
Irene bersikap lemah, dia seolah pasrah menerima perlakuan kasar Archi. Hingga Agust datang.
"Hey...! Apa-apan kalian! Hentikan!" Agust melerai Archi dan Irene.
"Archi!" gumam Ibu yang baru datang.
Dalam rangkulan Agust Archi mendorong ingin menghajar Irene sekali lagi namun dihalangi Agust.
"Archi sudah hentikan!" bentak Agust. Mengejutkan Archi.
"Kenapa kamu begitu kepada tamu kita!" omel Agust.
"Tetap saja seharusnya kamu bisa menahan diri." kata Agust menurunkan nada suaranya.
Archi melirik ke arah Irene yang sedikit menunjukkan senyum penuh kemanangan.
"Wanita licik!" Archi menerobos Agust dan sekuat tenaga Agust menahannya.
"Archila!" tarik Agust.
"Lepas! Bela saja wanitamu itu!" Archi memberontak membebaskan diri dari kungkungan Agust.
"Kalian memang lebih cocok bersama!" ketus Archi pergi keluar rumah.
"Archi!" Agust mengejar Archi.
"Archi..., kamu mau kemana?" tanya Agust menggenggam lengan Archi.
"Lepas!" bentak Archi menghempaskan tangan Agust kuat-kuat. "Aku mau ke tempat yang selalu membuatku nyaman!" teriak Archi.
"Jangan seperti ini. Jangan bersikap seperti anak-anak. Kalau kamu kesal kita bicara di rumah jangan selalu kabur."
"Oh..., iya betul kata wanita itu!" acung Archi ke arah rumahnya. "Kamu lebih nyaman dengan yang bersikap keibuan seperti Irene. Bukan wanita kekanak-kanakan seperti aku!"
__ADS_1
"Apa?" Agust mengernyitkan matanya.
"Pergi saja sama dia. Jangan pedulikan aku!" Archi kembali berjalan.
"Berhenti!" Agust menarik tangan Archi. "Kamu mau ke rumah cowok bertatoo itu kan. Nggak akan aku biarkan. Kamu istriku dan hanya aku yang boleh membuatmu merasa nyaman." Agust menarik tangan Archi.
"Heh...lepasin!" kata Archi mencoba melepaskan genggaman tangan Agust.
"Heh..heh...aku suami kamu." kata Agust terus berjalan.
"Suamiku harusnya membelaku, bukan orang lain!" Agust berhenti berjalan dan menarik Archi yang tak siap kedalam pelukan Agust. Archi terkesiap, terpaku dalam dekapan Agust yang erat dan hangat.
"Maafkan aku." bisik Agust begitu lembut. "Bukan maksudku lebih membelanya dan menyalahkanmu. Hanya saja aku sedikit kecewa kepadamu, yang harus terpancing dengan omong kosong wanita itu. Seharusnya kamu lebih percaya hatimu dan diriku." ungkap Agust.
"Agust,"
"Mungkin caraku salah. Aku minta maaf!" kata Agust mengecup kepala Archi.
Irene yang keluar rumah begitu marah melihat adegan mesra pria yang dia sukai bersama Archi.
"Aku bikin keributan tadi biar Agust marah dengan sikap urakan cewek itu, tetapi kenapa malah bikin mereka tambah mesra!" dumel hati Irene kesal.
Dengan kesal dia masuk ke dalam mobilnya dan pergi meninggalkan rumah Archi.
"Kamu mau memaafkan aku kan?" tanya Agust.
"Hmm!" Archi mengangguk.
Mereka pun berjalan bersama memasuki rumah mereka. Sesampainya di kamar mereka.
"Katanya aku adalah tempat ternyaman tetapi kamu bilang tadi, cowok bertatoo itu tempat ternyamanmu." sindir Agust.
"Aku kan bilang begitu karena kesal sama kamu. Irene terus yang dibela sampai dia jadi besar kepala dan merasa menang dari aku." ucap Archi sambil manyun.
"Haha...jadi itu yang menyulut emosi kamu?" tanya Agust. Archi mengangguk.
"Kamu selalu tahu siapa pemenang dihatiku untuk apa masih marah melihat dia begitu." sahut Agust.
"Benarkah aku pemenang dihatimu?"
"Iyalah." jawab Agust memeluk Archi.
"Aku sedikit tenang mendengarnya. Karena sepertinya wanita itu begitu terobsesi sama Agust. Ini menakutkan." batin Archi bergidik ngeri.
"Dia lebih parah dari Ridwan yang laki-laki. Ridwan bisa lebih menjaga perasaannya dari wanita itu. Aku ingin tahu apa yang melatarbelakangi wanita itu hingga menjadi se-obsesi itu sama Agust." pikir Archi.
...~ bersambung ~...
__ADS_1