
"Karena bekerja di sana kamu jadi bersama Irene. Dan aku jadi tahu kalau Irene itu tunangannya Yoongi, tunangan KAMU!!!" Archi mengatakannya dengan air mata beruraian di pipinya.
"Archi," bisik Agust ikut sedih seraya memeluk Archi yang menangis tersedu-sedu. "Dia kan tunangannya Yoongi, bukan tunangan aku Archi. Lagipula sekarang kita sudah menikah, nggak akan ada yang bisa memisahkan kita." jawab Agust dengan nada lembut mengusap rambut halus Archi
Archi menarik tubuhnya, berjarak dengan tubuh Agust. "Kita sama-sama tahu, entah bagaimana, tetapi kamu terhubung dengan Yoongi. Saat ini mungkin kamu belum mengingat Irene, tetapi saat hatimu mengingatnya? Saat kamu menyadari cintamu kepadanya, bagaimana?" tanya Archi dengan nada tinggi yang diselimuti oleh ketakutannya.
Agust menelan salivanya, karena kenyataannya dia sudah melihat kebersamaannya dengan Irene dalam pandangannya sebelum ini.
"Dimana posisiku nanti? Apa kamu bisa menjamin rasamu akan sama kepadaku?" tanya Archi.
"Sttt!" Agust memeluk Archi kembali. "Aku akan menjamin, aku akan tetap Agust yang sama yang mencintaimu Archi. Tolong jangan khawatirkan hal itu lagi." Agust mencium puncak kepala Archi dengan lembut.
"Aku nggak tahu Agust, tetapi hatiku begitu berat untuk bisa merasa tenang. Kenyataan ini, membuatku semakin takut kehilangan dirimu." kata Archi di dalam hati. Hatinya yang terasa tercengkram kuat oleh rasa sakit.
"Bahkan status ku sebagai istrinya tak membuat perasaanku lega. Karena yang aku nikahi adalah Agust. Bukan Yoongi. Bagaimana kalau Agust menjadi Yoongi kembali?" tambah pikirannya yang semakin kalut.
Meski dalam pelukan Agust, Archi sama sekali tidak dapat tidur dengan tenang. Walau matanya terpejam, pikirannya terus melayang tak tentu arah.
Agust melepaskan pelukannya dan turun dari tempat tidur. Archi membuka sedikit matanya untuk mengintip. Agust duduk ditepi tempat tidur, membelakangi Archi. Membungkuk dan membenamkan wajahnya dalam kedua telapak tangannya. Dia terlihat frustasi.
Agust berjalan keluar kamar, menuju ke dapur.
"Maafkan aku Archi. Aku nggak mengatakan pandanganku tentang Irene. Karena ini yang aku takutkan. Kamu akan merasa cemas." pikir Agust.
"Aku nggak tahu pasti yang kamu pikirkan tetapi aku bisa merasakan yang sedang kamu rasakan saat ini."
Agust kembali ke kamar dengan membawa segelas susu hangat. Dengan lembut dia membangunkan Archi. Meski sebenarnya Archi nggak benar-benar tidur. Archi membuka matanya menatap suaminya yang tersenyum kepadanya.
"Ini susu hangat. Ini mungkin bisa menenangkan pikiranmu dan membuatmu tidur nyenyak." kata Agust duduk di sebelah Archi.
"Terimakasih." Archi menerima gelas susu dari Agust lalu meminumnya hingga tandas.
__ADS_1
"Aku tahu tidurmu gelisah. Tak tenang. Aku khawatir kepadamu Archi." Agust merangkul Archi.
Archi menghembuskan nafasnya, "Maaf selalu membuat mu cemas.
"Ini bukan salahmu Archi. Ini jelas salahku. Aku yang selalu menciptakan masalah untukmu. Maafkan aku Archi."
"Aku sebenarnya tak ingin memikirkan ini. Aku juga ingin tenang saja dan cukup percaya kepadamu. Tetapi aku nggak bisa. Aku takut." Archi kembali menangis.
"Aku mengerti Archi. Aku mengerti."
"Dalam kehidupanmu yang sebelumnya, aku seperti nggak memiliki hak apapun. Aku hanya orang asing yang tiba-tiba memasuki hidup mu. Aku takut tak memiliki tempat saat kamu harus kembali menjadi Yoongi."
"Aku tidak tahu kedepannya akan seperti apa. Dan aku pun takut untuk menjanjikan sesuatu kepadamu karena segalanya belum pasti. Tetapi Archi yang aku yakini, kemanapun aku akan melangkah, hatiku akan selalu mencari dirimu. Hatiku akan selalu mengenali dirimu sebagai orang yang paling aku cintai." jawab Agust dengan lembut. Dan dapat menyentuh hati Archi yang bergejolak pilu.
Rasa tenang perlahan merasuki dirinya. Dalam pelukan Agust, Archi pun kembali tidur.
Malam berganti pagi dengan cepat. Di meja makan, semua telah berkumpul. Wajah ayah tak lagi menunjukkan kelembutan. Wajahnya nampak masam dan marah.
"Ayah sepertinya masih marah." kata Archi.
"Yah beberapa hal memang sedang membuat dia kesal. Karena di pabrik pun sedang ada masalah." jawab Ibu.
Di pabrik, gonjang ganjing terjadi karena pemberitaan yang mulai mengusut obat anak yang berbahaya untuk ginjal viral di sebuah lini pemberitaan. Masyarakat menjadi resah dan gelisah mengenai obat yang tidak aman dikonsumsi. Salah satu produsen yang terseret kasus ini adalah Genilab Farma. Salah satu produk obat untuk anak miliknya ditarik izin edarnya.
"Ini jelas nggak bisa dibiarkan. Karena masalah ini telah mencoreng nama baik perusahaan kita." kata Tuan Nicholas dalam rapat darurat yang dihadiri bagian-bagian yang terkait dan jajarannya. "Seharusnya ini menjadi tanggung jawab pengawas dan pemastian mutu." sambung Tuan Nicholas menatap licik kepada Ayah.
"Saya sudah bilang kepada anda, menggunakan bahan itu tak aman untuk dikonsumsi apalagi ini obat untuk anak-anak, tetapi anda bersikeras menggunakannya hanya karena akan mengurangi biaya bahan." pungkas Ayah kepada Tuan Nicholas tak terima selalu disudutkan atas yang telah terjadi.
"Jadi kamu ingin melimpahkan kesalahan kepada saya. Sebagai bagian dari pengawasan mutu kamu yang lebih bertanggung jawab."
"Saya akan bertanggung jawab seandainya saya yang memerintahkan untuk menggunakanan bahan berbahaya itu. Tetapi yang memaksa untuk mengganti bahan yang telah saya tentukan, itu anda." sahut Ayah.
__ADS_1
"Tetap saja, anda yang lebih bertanggung jawab." jawab Tuan Nicholas lagi.
"Tenang semua...tenang." pinta Agust sebagai pimpinan rapat. "Perdebatan seperti ini tidak akan ada habisnya. Sekarang yang harus lebih difokuskan adalah perbaikan dari produk yang ditarik izin edarnya. Bukan saling menyalahkan." ucap Agust mencoba menangahi.
"Untuk itu saya meminta untuk Tuan dan Nyonya yang lebih berkompeten dalam penentuan bahan produksi obat, tolong diperbaiki dengan bahan yang aman dan sesuai BPOM." pinta Agust dengan hormat memandang Ayah dan jajarannya.
"Kalau seperti itu, itu akan meningkatkan biaya produksi." sanggah Tuan Nicholas lagi.
"Lihatkan! Tuan Nicholas yang selalu menentang dengan alasan biaya." lontar Ayah dengan kesal menunjuk Tuan Nicholas.
"Kita ini perusahaan yang menjual mutu dan memang sudah seharusnya seperti itu. Jadi jangan pertaruhkan mutu hanya demi biaya." tegur Agust kepada Tuan Nicholas.
"Bila mutu kita tetap dipercaya masyarakat, itu akan lebih baik untuk meningkatkan penjualan. Jadi jangan khawatirkan itu, kepada kepala bagian pengawasan dan jaminan mutu. Lakukan yang menurut anda terbaik untuk produk jual kita."
Rapat pun ditutup dengan keputusan akhir yang diucapkan Agust.
"Anak sok pintar!" gerutu Tuan Nicholas dibelakang Agust. "Anak bau kencur yang baru saja menjabat, sudah sok tahu. Apa yang dia mengerti tentang bisnis." sambung Tuan Nicholas.
Sementara itu di ruang kerja Ridwan.
Ridwan menyeruput kopi panasnya duduk di sofa, "Apa kamu tahu tentang kehidupan Irene dan Yoongi?" tanya Archi mendekati Ridwan.
Mendelik tak percaya, "Kenapa tiba-tiba menanyakan itu?"
"Aku hanya ingin tahu kenapa Irene bisa terobsesi seperti itu kepada Agust?" ungkap Archi dengan malas seraya duduk di sofa lain.
Ridwan menyuruk sambil tersenyum lebar, "Benarkah? Tapi nggak aneh sih untukku. Karena suamimu itu memang mirip tunangannya itu. Kehidupan Irene dan Yoongi sebelumnya sangat bahagia. Mereka terbiasa bersama." jawab Ridwan.
"Yoongi hyung nggak pernah dekat dengan wanita manapun selain Irene." dengan senang hati Ridwan bercerita untuk Archi. Tanpa dia menyadari yang mendengarkan ceritanya tengah menahan rasa gejolak di hati nya yang terasa sesak oleh kesedihan.
...~ bersambung ~...
__ADS_1