
"Archi!" mata Agust terbelalak mendengarkan-nya. Jantungnya bergemuruh. Rasa sakit dan patah seperti dimimpinya kini terasa begitu nyata. Bahkan terlalu nyata.
Langit di atasnya dan bumi yang dia pijak terasa runtuh menenggelamkankan nya pada rasa kecewa yang teramat. Istrinya dengan lantang mengungkapkan perasaan hatinya untuk pria lain. Bukan dirinya.
"Kamu kenapa Agust?" tanya Irene.
"Nggak Nona. Aku nggak apa-apa." jawab Agust terselip kesedihan dalam nada suarnya.
"Kamu yakin?" tanya Irene.
"Iya Nona." jawab Agust.
Kemudian....Di kantor Archi...
Archi tengah bersiap untuk pulang.
"Seneng banget masalah di kantor bisa cepet selesai. Dan aku nggak dituding selingkuh lagi." gumam Archi terlihat sumringah.
"Archi...kita ke mall, yuk!" ajak Andini.
"Ng...gimana ya?"
"Hayo atuh, temenin aku. Aku mau belanja." susul Susan.
"Belanja buat acara tunangan dia," timpal Icha.
"Cie...dah mau tunangan aja!" goda Archi.
"Iya, makanya. Ayo, ikut kita. Nanti aku traktir deh!" kata Susan.
"Tumben ya, madam pelit mau keluar duit." gurau Andini disambut tawa semuanya.
"Mau kemana sih?" tanya Ridwan dengan lengan kemeja yang telah tergulung dan jas tersampir di lengan nya yang bertato.
"Mau nganterin Susan belanja Pak. Dia mau tunangan." jawab Andini.
"Wah...selamat Susan!" seru Ridwan menyalami Susan.
"Iya pak, terimakasih." sahut Susan.
"Ya udah ayo berangkat! Naik mobil aku!" kata Ridwan berjalan duluan.
"Asyiiik..., nggak capek jalan!" seru kawan-kawan Archi. Sementara Archi berjalan di paling belakang.
Di Mall...
Susan dan yang lain memilih pakaian yang akan digunakan Susan di acara pentingnya. Sementara Archi berjalan berdua Ridwan mengekori dari belakang. Archi nggak tahu mode, dan selera fashionnya nggak bagus, jadi dia nggak bisa berpendapat soal seperti itu.
"Maaf ya, kalau aku membuat kamu repot dengan masalah kemarin." ucap Archi lirih dengan pandangan mata nanar ke lantai.
"Nggak apa-apa Archi. Jangan dipikirin lagi, yang penting masalahnya sudah selesai sekarang." jawab Ridwan.
"Maaf juga kalau aku membuat kamu jadi salah paham dengan pernyataan aku."
"Aku nggak salah paham, aku udah tahu kamu nggak mungkin serius ngomong gitu." Ridwan tersenyum berat. Archi menoleh, mendongak, menatap Ridwan.
"Aku tahu kamu udah punya suami. Dan kamu orang yang paling menjaga komitmen." Ridwan balas menatap Archi dan tersenyum kepadanya. Membuat Archi terenyuh dengan segala sikap Ridwan yang selalu bisa menyentuh hatinya.
__ADS_1
"Archi, ini cocok kan sama aku?" tanya Susan karena berdebat dengan dua sahabatnya yang lain. Dia meminta dukungan Archi karena menurutnya itu bagus, sementara yg lain bilang tidak.
"Cocok!" jawab Archi tersenyum.
"Cocok sama kamu Susan. Kamu kan cantik, pakai apa aja cantik." puji Ridwan membuat wajah Susan dan yang lain memerah.
"Dasar playboy kelas dunia." goda Archi.
"Playboy tuh ceweknya dimana-mana, buktinya aku masih setia sama seseorang," ucapnya tanpa memandang Archi tetapi menyunggingkan senyuman indahnya untuk Archi.
Dalam perjalanan pulang, Agust melamun memikirkan video yang dia dapatkan entah darimana. Pernyataan cinta Archi yang seolah menjawab keresahan dan keingin tahuannya tentang perasaan Archi sebenarnya.
"Apa ini jawaban dari doa-doaku tentang perasaan Archi. Allah mengirimkan jawabannya melalui video ini?" pikir Agust.
"Apa sebaiknya aku bertanya langsung kepada Archi? Walau aku bertanya apa dia akan mengatakan yang sebenarnya? Bisa aja dia berbohong?"
"Hah...aku pusing!" Agust mengacak-acak rambutnya.
"Stt...sttt!" sebuah suara suitan memanggilnya dari belakang.
Agust menolehkan wajahnya. Dia melihat Archi berlari ke arahnya.
"Kamu baru pulang?" tanya Archi.
"Iya," jawab Agust dengan nada rendah, menundukkan wajahnya. "Aku lembur," sambungnya.
"Kamu baru pulang kerja juga?" tanya Agust.
"Udah jam segini, paling juga habis jalan-jalan sama si Ridwan." terka Agust dengan benar.
"Aku habis mengantar Susan belanja keperluan tunangannya. Dia akan tunangan Sabtu ini," jelas Archi semangat.
"Apa punggung kamu masih sakit?" tanya Archi.
"Nggak, udah lebih baik setelah kamu pijat semalam." jawab Agust ekpresinya sangat datar.
Mereka pun sampai di rumah. Di ruang tamu ada Ayah dan Ibu yang sedang menonton sambil berangkulan mesra.
"Assalamualaikum!" salam mereka memasuki rumah.
"Wa'alaikumsalam!" sahut Ayah dan Ibu.
"Kalian pulang bareng?"
"Ketemu di jalan tadi." jawab Archi mencium tangan kedua orang tuanya diikuti Agust kemudian.
"Kalau belum makan, makan dulu sana. Masih di atas meja makan makanannya." kata Ibu.
"Ya bu!" jawab Archi.
Agust dan Archi pergi ke kamar mereka.
"Ibu gemes sama mereka berdua." kata Ibu berbisik kepada Ayah.
"Gemes kenapa?" tanya Ayah yang heran memiringkan kepalanya sambil menyipitkan matanya.
"Iya, kayanya mereka belum ada kemajuan dalam hubungan mereka." jawab Ibu.
__ADS_1
"Kemajuan bagaimana?" Ayah tersenyum nakal.
"Mereka belum juga melakukan itu."
"Hahahaha....!" Ayah tertawa ngakak mengerti maksud istrinya.
"Memangnya kenapa sih, Bu? Kok jadi ibu yang gemes, mereka belum begituan."
"Kalau belum, gimana ibu bisa dapat cucu Ayah. Nyuruh kakak nikah juga ya nggak mungkin dadakan, kan!"
Ayah memasang wajah berpikir, "Mungkin harus diberikan penjelasan sama Ibu kepada Archi."
"Archi kan bukan anak kecil Ayah. Masa harus dijelaskan juga. Mereka berduan di kamar tapi kok seperti nggak ada ketertarikan secara sek*ual? Jangan-jangan mereka nggak normal ya, Yah?"
"Hahaha...si Ibu ini jadi ngaco. Ya mungkin belum aja, Bu."
"Mereka nikah sudah berbulan-bulan Ayah."
"Ibu kasih tahu aja dulu Archi nya pelan-pelan. Nanti kalau ada kesempatan ayah ngobrol sama Agust, Ayah juga akan ngasih tahu mereka." kata Ayah.
Archi yang selesai mandi segera mengerjakan shalat Isya. Selesai shalat isya, gantian Agust yang baru selesai mandi untuk shalat. Selesai menunaikan shalat.
"Yuk, makan!" ajak Archi kepada Agust. Padahal Archi sudah merasa kenyang karena traktiran Susan tetapi demi menemani sang suami makan, Archi rela menemaninya.
Agust mengangguk pelan dan bangkit berdiri. Mereka sama-sama pergi ke dapur dan makan malam bersama. Sepanjang makan, Agust lebih banyak fokus kepada makanan nya, mereka nyaris nggak berbicara ketika makan. Membuat Archi merasa aneh, dan khawatir.
"Ada apa sama ni kucing? Dari kemarin aku lihat murung terus." tanya hati Archi.
Keesokan harinya...
"Susan belum datang?" tanya Archi kepada Andini.
"Belum?" jawab Andini sambil memainkan handphone-nya.
"Kenapa? Tumben. Udah mulai jam kerja sebentar lagi," Archi memandang jam dinding.
"Aku WA juga nggak di balas. Di baca juga nggak."
"Kenapa ya? Aku kok jadi khawatir gini. Nggak biasanya." kata Archi.
"Iya. Si Icha juga nggak tahu si Susan kenapa."
Susan benar-benar nggak datang ke kantor hari ini dan tanpa keterangan.
"Susan kemana Archi?" tanya Ridwan.
"Kurang tahu Pak. Pesan kami juga nggak ada yang dibalas. Di telepon juga nggak diangkat." jawab Archi.
"Nanti saya coba telepon ke anggota keluarganya Pak." jawab Archi.
"Ya udah. Tolong kabari saya kalau ada kabar ya." pinta Ridwan.
"Baik Pak!" jawab Archi.
Archi mencoba menghubungi nomor telepon Ibu Susan di jam istirahat sekolah. Ibu Susan masih aktif mengajar di sekolah dasar.
"Assalamualaikum, Bu. Iya...Archi Bu....Susan nggak masuk ke kantor, kenapa ya Bu?" tanya Archi saat panggilan tersambung dan Ibu Susan berbicara di sebrang sana.
__ADS_1
"Apa Bu?" suara Archi menampakkan keterkejutannya, matanya membesar dan air wajahnya menampakkan kekhawatiran.
...~ bersambung ~...